Magical Flower

Magical Flower
BAB 71 - Ramuan Pelupa Cinta (Part 6)


__ADS_3

Pagi harinya ayah Jade sedang menunggu Mario di loby perusahaan tetapi Mario yang telah datang bersama Celine hanya berlalu tanpa ingin melihat mantan calon mertuanya itu.


"Mario, ayah Jade datang sebaiknya kita temui dulu." Ucap Celine tapi Mario tetap diam sambil terus berjalan ke lift menuju ruangannya dia atas.


Ayah Jade menghembuskan nafasnya berat, karena dia tau pasti akan sulit bertemu Mario yang bukan dari kalangan biasa. Setelah 3 jam menunggu di loby akhirnya Celine yang turun untuk bertemu dengannya.


"Om Agung, masih ingat Celine tidak?" Tanya Celine setelah berdiri di depan Agung yang menatapnya dengan lekat lalu Agung menggeleng pelan.


"Celine temannya Mario dan juga Jade waktu SMA." Lanjut Celine sambil tersenyum.


"Ah iya, aku ingat. Kamu anak cantik itu kan?" Tanya Agung memastikan dan Celine mengangguk sambil tersenyum.


"Om mau bertemu Mario?" Tanya Celine lagi.


"Iya tapi sepertinya sulit, om hanya ingin menceritakan semuanya. Mungkin Mario tidak akan bisa menerima sakit hati yang diberikan Jade tapi.. ada hal lain yang ingin kami ceritakan." Jelas Agung dan Celine tampak mengerti.


"Baiklah, Mario sudah pasti tidak akan bertemu tapi om bisa ceritakan ke Celine saja nanti pelan-pelan akan Celine jelaskan ke Mario."


"Baiklah."


"Tapi apakah bisa nanti sore saja om? Ini, kita bertemu saja disini." Celine mengeluarkan kartu nama Magical Flower dan Agung setuju untuk berbicara dengan Celine jam 6 sore nanti.


.


.


.


Dari jam 5 sore Agung sudah menunggu Celine di Magical Flower seperti janji mereka pagi tadi. Agung dengan sabar duduk meminum tehnya dengan wajah sendu, sesekali melihat arah pintu cafe jika ada orang yang membuka pintu itu.

__ADS_1


Beberapa kali pelayan menawarkan memesan makanan tapi Agung terus memesan teh yang yang sudah ke tiga kalinya. Akhirnya Celine sampai dan Agung tersenyum tipis dan ada perasaan lega melihatnya.


"Sore om, maaf telah 10 menit." Ucap Celine sambil menarik kursi di depan Agung.


"Tidak apa-apa, om tetap akan menunggu kok. Dan ini..." Agung mengangkat sebuah tas ransel dan mengeluarkan isinya. Ada 2 buku lumayan tebal dan 1 buku cukup besar yang biasanya di pakai untuk menulis buku besar keuangan.


"Apa ini om?" Tanya Celine karena dia juga melihat ada 3 setifikat rumah dan 3 buku hitam mobil beserta kunci-kunci.


"Ini semua harta kami yang diperoleh dari modal yang di ambil oleh Jade dari Mario, semuanya kami kembalikan. Dan buku besar ini adalah seluruh pembukuan dan keuangan kami sejak 5 tahun lalu, semuanya ada disana. Kami hanya mengambil rumah yang memang dibeli oleh uang kami sendiri, semua juga di catat di sana." Jelas Agung sambil membuka satu per satu buku dan memperlhatkannya kepada Celine.


"Tapi.. kenapa om kembalikan? Mario.."


Ucapan Celine terhenti karena Agung memberikan sebuah foto, itu adalah foto Jade dengan Robin.


"Dia Robin, dulu tetangga kami dan sangat dekat dengan Jade. Robin adalah cinta pertama Jade dan dia sangat mencintai lelaki itu sampai Jade rela melakukan ini semua. Mohon sampaikan maaf dari keluarga kami sebesar-besarnya karena Jade telah menyakiti Mario begitu dalam."


Celine tidak bisa berkata apapun karena semua aset ini juga bukan miliknya dan bukan haknya mengambil atau menolaknya, Celine bingung.


"Baiklah, om juga tidak mau berurusan dengan aset itu lagi, om juga sudah tidak kuat. Dan sampaikan salam maaf kami yang sebesar-besarnya pada Mario ya.." Jawab Agung pasrah dan iklas dengan semuanya.


"Baiklah om.. nanti Celine kabarin lagi, sekarang kita makan dulu karena Celine sangat lapar." Ucap Celine dan Agung hanya mengangguk.


.


.


Celine telah tiba di rumah Mario dan seperti biasanya Mario malam itu baru membuka botol minuman keras tapi melihat Celine masuk ke ruang kerjanya dia memasukkan kembali botol itu dan melihat Celine yang langsung duduk di sofa dan membongkar sebuah tas ransel.


"Apa itu?" Tanya Mario begitu melihat Celine membuka buku dengan ukuran besar.

__ADS_1


"Ayahnya Jade yang berikan, dan ini semua catatan harta mereka yang berhasil dikumpulkan, ini kunci rumah, mobil beserta surat-surat semuanya dia kembalikan." Jawab Celine sambil membongkar semuanya.


"Jangan marah dulu, sebaiknya kau bantu aku, sepertinya ada yang tidak beres dengan semua ini." Sambung Celine lagi karena dia sempat membaca beberapa lembar tadi.


"Maksudmu?" Tanya Mario yang kini duduk di depan dan berhadapan dengan Celine.


"Kau pernah bilang kalau memberikan seratus lima puluh juta pada Jade karena dia sangat ingin membuka usaha untuk ayahnya tapi lihatlah." Celine memberikan buku itu dan Mario hanya meliriknya tapi dia sudah bisa menangkap maksud dari Celine.


"Tapi tulisan disana semua bisa di tulis asal oleh mereka." Seru Mario dengan datar.


"Baiklah ini." Celine memberikan tumpukan buku tabungan dan rekening koran yang telah diberi tanda.


"Sepertinya ayahnya Jade memang sangat disiplin dan rapi, semua tertulis dengan jelas." Sambung Celine barulah Mario sedikit memberikan respon dan melihat-lihat beberapa lembar disana.


Setelah 2 jam mereka membolak balik lembar demi lembar untuk mencari kejanggalan akhirnya Mario menghubungi seseorang.


"Bayu, besok berikan seluruh rekening Jade dan print out semua transaksinya sejak 5 tahun lalu." Perintah Mario pada seseorang bernama Bayu.


"Siapa Bayu?" Tanya Celine yang baru mendengar nama itu.


"Dia kepala cabang Bank XXX, Jade punya beberapa rekening disana dan 2 bank lainnya nanti akan dia yang sediakan juga." Jawab Mario dan Celine hanya ber oh ria.


"Sudah lah, tunggu saja data dari Bayu baru kita lanjutkan. kau menginap saja sudah tengah malam." Ujar Mario dan Celine juga setuju untuk menginap saja dan beberapa pakaiannya juga sengaja dia tinggalkan di kamar tamu tempatnya beristirahat.


"Kau juga langsung tidur, jangan minum!" Tegas Celine dan menatap Mario tajam.


"Iya ini mau ke kamar, dasar bawel!" Sahut Mario lalu keluar dari ruang kerjanya dengan meja masih berantakan tapi mereka biarkan saja karena sudah sangat lelah malam itu.


Celine juga telah berpesan untuk tidak menyentuh meja itu karena mereka akan menyambungnya besok malam.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2