
"Dia bahkan lupa bersama siapa malam itu, jadi aku pergi." Isak tangis Juni terdengar lagi, Flo memeluknya dan menenangkan Juni.
"Tapi bukan karna itu kan kau pergi?" Tanya Fano curiga, "Apa kau juga mencintai Zidan?"
"Iya.. aku pergi karena Aretha mencintai Zidan sejak kecil aku tidak tega melihat sahabatku patah hati karena aku. Aku mohon jangan katakan apapun pada Zidan." Ujar Juni dengan lirih, Fano mengusap wajahnya kasar. Dia kesal dengan Zidan yang tidak berusaha mencari Juni selama ini sampai membiarkan Juni dan calon anaknya sendirian sampai sekarang.
"Mungkin mereka akan menikah Jun, lalu bagaimana denganmu? Kau akan terus merawatnya sendirian?" Tanya Fano cemas karena bagaimana pun anak dalam kandungan Juni adalah anak dari sahabat baiknya.
"Iya aku akan merawatnya, dia anak pintar dan tidak menyusahkanku selama ini bahkan aku tidak ngidam, hanya mual saja sebulan diawal setelah itu aku biasa saja." Jelas Juni dan Fano terlihat lega. "Jadi tolong jangan berutau Zidan, kalo dia tau aku akan benar-benar pergi dari kota ini."
"Baik, tapi ada syaratnya.. kau tidak perlu bekerja, aku akan bantu biayamu dan anakmu. Bolehkan sayang.. nanti palingan kita tagih saja sama Zidan kalo masalah ini selesai." Fano menoleh dan meminta izin Imel yang masih duduk disebelahnya dengan baby J.
"Bole lah.. kita harus bantu Juni." Jawab Imel dan Fano mengecup pipinya sekilas.
"Tapi aku mau kerja, disini membuatku nyaman dan aman, lagian Flo tidak berikan kerjaan yang berat kok."
"Baik, tapi aku akan kirimkan pelayan untukmu setidaknya ada yang menemani dan membantumu, aku gak mau calon keponakanku itu kenapa-kenapa." Tegas Fano dan Juni akhirnya tidak bisa menolaknya.
"Tenang aja, Juni juga sekarang tetangganya Thika dan di sebelahnya lagi ada Gauri sahabatnya Thika yang sudah banyak membantunya." Flo
"Iya, tetap saja didalam rumah harus ada yang memperhatikanmu. Nanti aku suruh Bi Ratih aja yang kesini, dia sudah bantu mami sejak mami hamil jadi dia paham cara merawat ibu hamil dan bayi baru lahir nanti."
Juni mengangguk dan pembicaraan mereka selesai, Fano masih bingung apakah harus memberitaukan ke Zidan atau tidak? Karena perusahaan mereka juga baru pulih dan dia akan menikah dengan Aretha mungkin 6 bulan lagi, berarti setelah Juni melahirkan.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Zidan yang baru saja mendarat langsung pergi begitu saja meninggalkan Aretha sendiri, mereka memang sudah tunangan tapi sikap dingin Zidan tetap saja membuat Aretha sangat sedih. Zidan hanya berbicara seperlunya dan tidak pernah menghubungi Aretha sama sekali, selalu Aretha yang menanyakan kabar atau mengunjunginya.
Zidan saat ini tengah masuk ke lift untuk bertemu sahabat baiknya Fano, untuk kejutan karena dia sama sekali tidak bilang apa-apa tentang kepulangannya hari ini.
"Bro!" Teriak Zidan saat Fano sedang makan siang dengan Imel dikantornya.
"Uhuk uhuk hm.. " Fano terbatuk karna tersedak, membuat Zidan tertawa senang.
"B*ngsat!" Hardik Fano kesal. "Ehehehe.. sorry sayang.." Fano langsung tersadar dengan ucapan kasarnya dan disana juga ada baby J sehingga Imel meliriknya dengan tajam.
"Hahahah sorry bro, hai Imelda yang cantik.. baby J uda makin lucu aja kaya maminya." Goda Zidan.
"Jangan godain istriku hey! Kalau mau anak bikin sendiri." Hardik Fano kesal pada sahabatnya itu.
"Yah.. gimana mau bikin, pasangannya aja dah pergi." Keluh Zidan lalu duduk di depan suami istri dan baby J.
"Carilah cewe yang kamu tiduri malam itu, mungkin dia lagi hamil anakmu." Ujar Fano sengaja memancing penasaran Zidan.
"Kau jangan menakutiku Fan.. aku udah cari gadis itu tapi ga ketemu sama sekali bahkan cctv juga hilang." Zidan memucat dia sungguh menyesal karena malam itu dia tidak ingat sama sekali, yang dia ingat hanya dia melakukan itu dengan Juni tapi tak mungkin karena paginya Juni masuk kedalam setelah Zidan bangun dan terlihat marah.
"Yah aku cuma mengingatkan kemungkinan gadis itu hamil, kalo benar mungkin saat ini sudah 1 2 ah 5 bulanan lah.." Sambung Fano dan Zidan terdiam, dia tidak tau harus mencari dimana lagi.
__ADS_1
"Ck.. aku pusing, aku mau cari Juni lagi buat balik kerja tapi nomornya gak aktif. Tolong carikan sekretaris bro, yang cantik baik, perhatian, cekatan, mengerti apa kebutuhanku dan pekerjaanku, semualah, kaya Juni dulu."
"Kau itu mau cari sekretaris atau istri?"
"Heheheh kalo bisa Juni aja biar aku jadikan istri sekalian."
"Lalu Aretha? Gadis hamil itu?"
"Ck.. gadis itu belum tentu hamil kalo iya dia pasti mendatangiku dan minta pertanggungjawaban, kalo Aretha, ah.. aku ga suka dia, aku hanya menurut pada mama."
Fano terdiam, Imel terus melirik Fano dengan mengkerutkan keningnya. Fano mengelus punggung Imel dari belakang karena dia tau Imel sedang memikirkan nasib Juni kedepannya. Fano tidak akan mengatakan apapun karena telah berjanji.
"Sayang aku ga mau makan lagi, gara-gara teman laknat ini jadi ga selera makan." Ujar Fano lembut pada Imel yang masih asik bermain dengan baby J di pangkuannya.
"Jangan ngomong kasar ih di depan Jarred, nanti dia ikutin gimana.."
"oh iya, lupa heheh.."
Fano mengelus lembut pipi baby J dan sesekali mengecup pipi Imel gemas karena semenjak jadi ibu Imel makin cantik dan membuatnya tidak tahan untuk selalu menciumnya dimanapun dia mau.
"Ck! Jangan pamer di depanku.. ah aku pergi aja lah.." Keluh Zidan dan dia berdiri ingin segera pergi dari kantor Fano.
"Nanti aku kasih tau kalo nemu sekretaris yang ngerangkap istri ya.." Teriak Fano menggoda Zidan dan temannya itu hanya mengacungkan jari tengah sambil jalan pergi.
+//+
"Anak mama, baik-baik ya.. kamu hebat dan mama juga akan jadi orangtua yang hebat buat kamu." Ucap Juni sambil mengelus perutnya yang semakin membulat.
"Non Juni, ada kiriman lagi dari Den Fano." Ujar Bi Ratih sambil menenteng 2 bungkusan di tangannya.
"Oh iya.. Bi makasih ya." Juni membantu Bi Ratih membawa barang itu dan menyusunnya. Ada 2 kotak susu hamil, buah-buhan dan 1 rantang makanan sehat lainnya. Sudah sebulan ini Fano dan Imel membantu Juni dalam merawat kandungannya, dia sangat bersyukur bertemu Flo, Fano dan yang lainnya.
"Nak.. kalau kamu sudah besar nanti harus jadi orang baik seperti tante Flo dan om Fano, ada juga tante Gauri dan Om Shanka, tante Thika semua teman mama deh.." Ucap Juni lagi.
"Hahaha pasti Non Juni anak non pasti baik kok." Timpal Bi Ratih senang melihat Juni yang juga bahagia dengan anaknya.
"Bi.. Juni mau ke toko ya." Pamit Juni yang sudah dari dan mobil taxi online juga sudah ada di depan menunggunya.
"Loh non kan libur hari ini." Bi Ratih berlari kecil menyusul Juni yang sudah ada di depan pintu.
"Iya Bi, cuma mau jalan-jalan sama Imel nanti, ketemuannya di toko." Jawab Juni dan dia pamit lagi untuk pergi.
"Loh jadi perginya?" Tanya Flo begitu melihat Juni yang masuk melalui pintu toko bunga.
"Iya Flo, aku kecepetan sih.. kata Imel cuma undur sejam kok. Aku boleh ya ke ruangan bunga yang dingin itu."
"Boleh kok masuk aja."
__ADS_1
"Makasih.."
Juni berjalan perlahan dan masuk kedalam ruangan penyimpanan luas dan dipenuhi bunga-bunga cantik dan segar, ruangan dingin ini sangat menenangkannya. Sesekali dia mengintip dari balik kaca melihat apakah Imel sudah datang atau belum.
Setelah 1 jam lebih akhirnya Imel masuk sendirian ke toko dan menyapa semua orang, saat Juni hendak keluar dia melihat 2 orang yang masuk setelah Imel dan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu itu.
"Loh.. si cantik kok disini sendirian? Mana Fano dan baby J?" Tanya Zidan yang kebetulan ada disana.
"Ah kamu rupanya, Fano di kantor, baby J lagi sama oma nya dirumah. kamu ngapain dan ini siapa?" Imel balas bertanya dan melihat ada gadis cantik dan modis berada di belakang Zidan.
"oh ini Aretha." Jawab Zidan dengan nada cuek dan dingin sambil melirik Aretha yang tersenyum gugup, Zidan selalu bersikap digin padanya tapi dengan wanita didepannya dia sangat hangat dan Aretha mulai tidak nyaman dengan itu.
Imel dan Flo yang mendengar nama Aretha menjadi diam dan tidak bertanya lebih lanjut lagi tentang gadis itu.
"Nah kesini mau ngapain?" Tanya Imel lagi untuk mencairkan suasana yang berubah tegang.
"Oh ini mba, kami akan menikah 2 bulan lagi dan mau tanya tentang dekorasi bunga, apakah bisa?" Aretha yang bersuara dan Zidan dengan wajah dinginnya tetap diam, Flo yang sadar kalau dia harus tetap tenang dan melayani pelanggannya dengan senang hati membantu Aretha meskipun dia cemas dengan keadaan Juni didalam sana.
Setelah melihat-lihat beberapa contoh yang diperlihatkan oleh Flo, sesekali Aretha menanyakannya pada Zidan yang hanya duduk dan bermain hape, tapi Zidan tetap dingin dalam menanggapai semua pertanyaan Aretha. Flo kasihan juga melihat gadis ini begitu sabar menghadapi Zidan yang menurutnya sangat terlihat tidak menyukai Aretha.
"Zidan.. coba lihat ini, suka ga?"
"Terserah."
Hanya itu jawaban Zidan jika Aretha bertanya. Sedangkan Imel telah meninggalkan mereka berdua untuk bertemu Juni didalam.
"Jun, kau ga papa?" Tanya Imel, Juni berdiri di kaca jendela yang bisa melihat dari dalam tapi gelap dari luar.
"Iya, gak apa-apa, kami kuat kok.. " Juni mengelus perutnya karena anaknya di dalam begitu aktif sekarang membuatnya tidak nyaman.
"Ini dia gerak terus loh, mungkin mau ketemu papanya Jun." Imel ikut mengelus perut Juni dan berharap gadis itu menurunkan sedikit egonya dan mau bertemu Zidan.
"Anak mama yang baik, kita gak apa-apa kok cuma berdua." Setelah Juni berkata begitu, anaknya diam dan sudah tenang, Juni tesenyum melihat Imel yang masih khawatir dengannya, kandungannya sudah 6 bulan dan Juni masih bertahan sendirian.
Setelah Zidan dan Aretha pergi barulah mereka keluar dan pamit juga untuk melanjutkan rencana ke mall untuk membeli baju hamil yang sesuai ukuran Juni saat ini. Imel membantu memlilihkan 5 buah gaun untu ibu hamil yang cantik.
"Terlalu banyak Imel ini mahal lagi.." Juni tidak enak menerima baju mahal itu.
"Aku juga sampai sekarang masih ga enak beli baju mahal gini, kau tau sendiri aku juga hanya gadis miskin tapi Fano dan mami maksa terus, katanya kalo bukan aku yang nikmatin ini semua siapa lagi. Nah jadi aku akan berbagi sedikit keberuntunganku padamu." Jelas Imel membuat Juni tertawa geli, padahal Imel adalah menantu keluarga Hastanta tapi masih belum bisa menyesuaikan diri.
"Ternyata gak mudah juga ya jadi menantu keluarga kaya." Goda Juni padanya.
"Nah itu.. aku lama sih sampai sekarang masih gini aja ga bisa beli barang mahal mewah tapi kata mami harus, duh padahal aku juga ga suka shopping kalau ga perlu."
"Iya aku juga mel, mungkin karna kita lahir di keluarga sederhana jadi udah terbiasa hidup hemat yah.."
Kedua wanita itu jalan-jalan sampai puas hari itu, dan untung saja Juni memang kuat dan tidak terlalu cepat lelah, setelah membeli beberapa baju bayi dan keperluan lainnya mereka menunggu Fano menjemput untuk pulang bersama.
__ADS_1
TBC~