
Yana dan Jason sedang melihat beberapa gaun pengantin yang akan mereka gunakan 1 bulan lagi diacara pernikahan mereka.
"Jas, liat gaun ini cantik kan?" Tanya Yana dan Jason hanya mengangguk karena dia sebenarnya malas tetapi harus untuk melancarkan aksi balas dendamnya.
"Atau pilih yang ini aja ya?" Tanya Yana lagi tapi Jason yang melihat gaun kedua yang di pegang Yana malah tidak suka.
"Gak, bagusan yang tadi." Ujar Jason jadinya Yana memilih gaun pertama tadi.
"kenapa gak ini aja." Ujar Damian yang baru saja datang dan dia menunjuk kesalah satu gaun yang ada disana.
"Dami.. akhirnya kau datang juga." Ujar Yana dan Jason memeluk sahabatnya itu yang sejak tadi mereka tunggu.
"Jadi yang mana? ini atau ini?" Tanya Yana pada kedua pria yang duduk di depannya.
"Aku sih suka yang dipilih Dami tadi." Jawab Jason dan Yana memutuskan untuk pilih gaun yang dipilih Damian. Setelah itu mereka ke salah satu toko perhiasan, mereka memilih 1 set cincin cantik dan itu adalah hadiah dari Damian untuk kedua mempelai, jadi dia tidak perlu memikirkan hadiah lagi.
"Thanks Dami, tapi apa ini tidak terlalu mahal sebagai hadiah?" Tanya Jason merasa tidak enak karena cicin itu adalah keluaran terbaru dan hanya ada 1.
"Gak lah, untuk sahabatku 10 kali lipat harga itu juga masih belum cukup." Ujar Dami, Yana langsung memeluk sahabatnya itu dan Damian akhirnya berpisah dengan mereka dan akan ketemu lagi pas di hari pernikahan sederhana di restoran Yana.
Damian juga akan pergi ke luar negri untuk perjalanan bisnisnya selama 1 bulan jadi pas hari H pernikahan Jason dan Yana dia harus sudah sampai disana.
"Dami.. apa perlu sampai sebulan di sana?" Tanya Lusia yang menghampiri Damian di kamarnya.
"Iya mami, Dami kan sudah janji ke Mr. Sean untuk pantau langsung disana selama produksi." Ujar Damian pada maminya, Damian harus memantau sendiri produk elektronik baru yang akan perusahaan keluarkan dan produksinya ada di Cina.
"Kamu bukannya mau menghindari Jason dan Yana kan?" Damian terdiam karena alasannya juga itu, tapi dia tidak ingin membuat keluarganya khawatir akan perasaannya.
"Sedikit mi tapi jangan cemaskan Dami, tadi juga sudah ketemu mereka dan Dami sudah iklaskan mi, kalau sepulang dari Cina nanti mami mau kenalin Dami ke wanita pilihan mami Dami akan terima." Ujar Damian tapi Lusia tidak tega juga menjodohkan Damian jika hatinya masih ada wanita lain. Lusia memeluk anak sulungnya yang paling baik itu tetapi kenapa kisah cinta anaknya tidak berjalan mulus?
Hari-hari dilalui Damian dengan perasaan sepi, di negara tirai bambu itu dia hidup sendirian di salah satu apartemen mewah disana. Setiap harinya dia hanya bekerja dan bekerja sambil mengobati rasa luka dihati dan rindu yang semakin dalam.
Bukan melupakan, bahkan Damian makin merindukan Yana yang hanya tinggal 2 hari lagi dia akan menjadi istri Jason. Damian juga sudah siap-siap untuk kembali karena pesawatnya akan berangkat besok pagi.
Sedangkan Jason saat ini sedang membentak Yana di restoran karena berani mengganggu istirahatnya bersama Riana dirumah hanya untuk memilih menu makanan yang akan mereka hidangkan pas pesta nanti.
"Kau ini tidak punya otak hah? Kau bisa kan menentukan sendiri tanpa harus aku! kau mengganggu istirahatku Yana." Bentak Jason membuat hati Yana sakit mendengarnya. Ini bukan pesta biasa, memang sederhana tapi ini pernikahan mereka.
"Aku cuma ingin kau juga ikut membantu Jas, bukan maksud mengganggumu." Ujar Yana pelan takut menyulut emosi Jason lagi.
"Dasar ga berguna, hal begini saja harus bantuanku, kau urus sendiri. Aku tidak mau tau!" Teriak Jason lagi dan Yana sudah menangis saat itu, dia bingung kenapa hal sepele begini saja Jason harus membentaknya dihadapan chef.
Jason langsung pergi lagi dan untungnya ada salah satu kelopak Lion di Yana yang mengikuti Jason dan terkuaklah rahasia Jason yang diketahui oleh Flo.
"Riana.. kau sudah makan berapa banyak ini?" Tanya Jason lembut sambil mengecup kening Riana yang sedang makan dimsum, dia sedang ngidam dimsum sejak tadi malam dan hari ini Jason menyuruh anaknya Bi Inah, Bagas untuk membelinya dan Riana sudah makan lebih dari 10.
"Anak-anak ayah makan yang banyak yah tapi jangan bikin bunda capek atau lelah ok..." Ucap Jason sambil mengelus dan mengecup perut Riana yang sangat besar di usia kehamilan ke 7 bulan.
"Kak.. apakah beneran akan nikah hari sabtu ini?" Tanya Riana dengan nada sedih.
Dia sangat ingin membuat Jason membatalkan pernikahan ini tetapi itu percuma, sudah berkali-kali dia memintanya tapi Jason tetap pada pendiriannya. Jason memperlakukan Riana dengan lembut dan penuh dengan cinta, Lion melihat semuanya dan langsung memberitahukan ke Flo.
"GILA!! Benarkah itu?" Pekik Flo dan membuat Imel dan Fano terkejut saat itu karena kebetulan mereka sedang bersama untuk makan malam di cafe.
"Kenapa Flo?" Tanya Imel dan Flo tampak terdiam dan mendengarkan semua laporan Lion.
__ADS_1
"Aku harap ini berjalan baik tapi.. Jason sudah punya kekasih yang sekarang hamil 7 bulan dan mereka terlihat bahagia." Ucap Flo dan Fano langsung berhenti memakan makanannya, dia tak percaya.
"Gak mungkin, selama ini dia tidak terlihat begitu dan dia setia Flo." Ujar Fano dan Flo menggeleng.
"Bukan gitu, kata Lion dia memang mencintai kekasihnya yang hamil itu dan Yana hanya alat untuk balas dendam." Sambung Flo karena saat itu Riana sedang membujuk Jason lagi tapi dia tetap akan menikah dengan Yana.
"Kita harus batalkan pernikahan mereka tapi gimana caranya? Gak mungkin Lion jadi saksi dan Yana juga Damian ga akan percaya." Ujar Flo lagi dan Fano juga Imel juga sedang memikirkan caranya. Jason yang sangat tertutup sangat sulit dibuntuti karena dia sangat hati-hati.
"Cepat catat nomor ini.. XXXXXXXXX. itu nomor telepon anak Bi Inah, entah siapa itu tapi bisa kita hubungi dia dulu dan nama wanita hamil itu Riana." Sambung Flo lagi setelah dapat info dari Lion.
"Riana? Kalau dia sepertinya aku kenal.. coba aku cek dulu." Ujar Imel kemudian membuka laptopnya dan benar saja ada pembayaran ke perusahaan pengangkutan dan rekeningnya atas nama Riana, Imel kenal nama itu karena setiap pembayaran ke pengangkutan itu semua dana masuk ke rekening atas nama Riana. Kebetulan rekap keuangan pabrik di kota B dikerjakan oleh Imel.
"Oh benar, mungkin wanita itu Riana yang kerja di kantor pengangkutan milik Jason di kota B." Sahut Fano dan akhirnya Imel mendapatkan nomor hp Riana di rekap laporannya.
"Baiklah biar aku saja yang menghubunginya besok pagi. Kalau sekarang pasti ada Jason disana." Sambung Flo dan Fano setuju akan hal itu.
Pagi ini Flora masih tidak bisa menghubungi Riana karena Jason masih ada disana dan akan pergi saat akan melangsungkan pernikahannya, Flo dengan sabar menunggu.
Sampai Hari H pernikahan Flo baru menghubungi Riana dan membujuknya agar mau menggagalkan pernikahan Jason dan Yana karena bukan hanya mereka berdua yang akan menderita tapi juga Riana dan Damian, juga seluruh keluarga mereka.
Akhirnya Riana mau dan akan menyusul Jason ke pernikahannya. Jika Jason tidak mau batalkan pernikahan itu dipastikan ayah Yana yang akan batalkan karena Riana sudah hami 7 bulan anaknya dan Jason.
"Baiklah selesai dan aku akan menghadiri pernikahan Yana." Flo pagi itu bersiap dan membawa undangan yang diberikan Yana untuknya dan menyetir mobilnya sendiri untuk hadir di pernikahan nanti.
"Yana sudah selesai dengan makeup nya dan saat ini dia akan memakai baju pengentin pilihan Damian dan Jason, gaun sederhana tapi sangat cantik dan cocok untuknya.
"Yana.." Panggil Damian setelah Yana selesai dan Yana langsung berdiri dan memeluk Damian, sahabat baiknya. Damian kerumah Yana untuk mengantarkan Yana ke restorannya dan ayahnya sudah menunggu mereka dibawah.
"Putriku sangat cantik.." Ucap Darma dan Yana tersenyum senang mendengarnya, dia sudah tidak sabar bertemu dengan Jason karena 2 hari ini dia tidak bisa dihubungi.
Yana sedang ada di kantor restorannya yang telah disulap menjadi ruang tunggu, dia sedang bersama beberapa teman wanitanya disana.
Darma ada di luar bersama beberapa keluarga, kerabat dan teman bisnisnya yang paling dekat saja karena acara ini sangat sederhana. Para tamu itu juga sedikit penasaran siapa yang menikahi putri tunggal Darma dan sepertinya Darma belum mengakatakanya.
Damian sedang diluar menunggu Jason datang dan setelah 15 menit menunggu akhirnya mobil Jason terlihat sedang memasuki area parkir, Damian senang melihat sahabatnya sudah siap menikah.
"Pengantin pria, kenapa kau begitu lama?" Tanya Damian begitu Jason berjalan mendekatinya, Jason tersenyum dan Damian langsung menepuk punggung Jason yang sangat gagah hari ini.
"Hahahah aku bangun kesiangan tadi.." Jawab Jason berpohong karena dia sedang menikmati waktu bersama Riana dan calon anak kembarnya.
"Eh angkat itu Hp mu bunyi dari tadi.." Titah Damian dan Jason dengan malas melihat siapa yang meneleponnya dan dia sedikit terkejut melihat nomor yang ada disana, itu nomor Riana yang memang tidak pernah dia simpan. Jason menjauh sedikit dari Damian dan mengangkat telepon itu.
"Apakah benar ini bapak Jason?" Tanya suara wanita dari sana.
"Iya , siapa ini?" Tanya Jason mulai cemas karena bukan suara Riana yang dia dengar.
"Nona Riana mengalami kecelakaan dan saat ini dia sedang ada di IGD RS XXX dan sejak tadi memanggil nama Jason...." Belum selesai wanita disana Jason sudah menjatuhkan Hpnya dan Damian yang melihat gelagatnya yang tidak beres langsung menghampirinya.
"Kenapa Jas?" Tanya Damian dan Jason langsung berlari pergi tapi Damian berhasil mengejarnya dan mencegahnya.
"Kau mau kemana? Sebentar lagi acara pernikahanmu Jas." Ujar Damian dan tampak Jason sangat panik.
"Gak.. Dami aku ga bisa menikah, gak bisa. Aku akan pergi aku ga akan menikahi Dayana." Ujar Jason panik dan berlari kedalam mobilnya.
Damian tak berhasil mengejarnya dan kembali ke restoran dengan perasaan kacau. Damian mengambil Hp Jason yang jatuh tadi dan menyimpannya lalu masuk kedalam untuk menemui Darma yang sudah dia tarik ke dalam ruangan tunggu Yana.
__ADS_1
"Jadi dia pergi? Kurang ajar, sudah aku duga dia itu buka pria baik, brengsek!!" Umpat Darma begitu Damian memberitahunya. Sedangkan Yana sudah terduduk lemas, Jason pergi saat pernikahannya, dia menangis tersedu-sedu. Damian tidak tega melihatnya dan mengusap lembut punggungnya agar Yana sedikit tenang.
"Tidak bisa, pernikahan ini tidak boleh batal, kau tetap harus menikah Yana." Ucap Darma dan Yana menatap tak percaya pada ayahnya.
"Apa maksud ayah? Jason sudah pergi aku tidak bisa menikah ayah.. dia sudah pergi meninggalkanku." Isak tangis Yana terdengar lagi.
"Ayah akan carikan pengantin pria mu, jika kamu tidak jadi nikah apa yang akan orang-orang katakan, ayah sangat malu Yana dan kamu... AAHHHKKK" Darma berteriak kesal karen dia bingung harus menikahkan Yana dengan siapa.
"Ayah akan carikan anak dari teman ayah untuk menikah denganmu, mereka pasti mau." Ujar Darma lalu pergi dari ruangan itu. Damian mengejar Darma untuk membatalkan niatnya untuk menikahkan Yana dengan pria lain yang tidak dia kenal.
"Om, tunggu om.. jangan." Damian menarik lengan Darma untuk menghentikannya. "Jangan lakukan itu Om kasian Yana." Ucap Damian tapi Darma tetap kekeh Yana harus menikah dengan siapapun itu.
"Kalau begitu biar Dami yang menikah dengan Yana, lebih baik ketimbang pria yang tidak di kenal oleh Yana om." Ujar Damian memberanikan diri.
"Benarkah?" Tanya Darma tidak percaya, memang dia sangat ingin Damian lah yang menjadi menantunya tapi Yana malah memilih Jason.
"Benar, Dami akan mejaga Yana om. Kami sudah kenal dari kecil dan om juga sudah kenal keluarga kami." Jawab Damian yakin.
"Baik, om sangat setuju jika itu kamu Damian. Terima kasih." Darma memeluk dan menepuk punggung Damian dan segera melakukan rencana pernikahan ini.
"Om tolong undur acaranya 1 jam, Dami akan hubungi mami dan papi dulu." Ujar Damian dan Darma setuju, kedua orang tua mempelai harus hadir. Damian segera menghubungi Ken dan seluruh keluarga sangat terkejut.
"Kau benar mau menikah Dami?" Tanya Ken dari sana.
"Iya papi, jadi tolong segera ke restoran Yana dan Fano tau kok alamatnya dan tidak perlu dandan heboh karena acaranya sederhana saja.
Setelah menutup teleponnya Damian segera menemui Yana yang masih saja menangis, dia membujuk Yana agar berhenti menangis dan semuanya akan baik-baik saja.
"Aku gak akan bisa menikah lagi Dami.." Ucap Yana dengan lirih.
"Gak Yana, kamu akan menikah, aku janji." Ucap Damian dan memeluk Yana erat.
"Gak akan ada pria yang mau menerimaku Dami, hanya Jason yang mau. Aku sudah tidak perawan dan.. dan... mana ada pria yang mau denganku." Lirihnya lagi dan Damian sangat terkejut mendengar kejujuran Yana, dia tau Yana wanita baik dan selalu menjaga dirinya.
"Apakah Jason..." Yana menggeleng begitu Damian melepaskan pelukannya dan menatap Yana.
"Bukan Jason tapi mantanku yang waktu kelulusan itu.. Aku tak pernah melakukannya lagi." Potong Yana dan Damian tampak sangat marah mengingat bagaimana sedih dan hancurnya Yana saat itu ketika putus dengan mantannya, ternyata karena ini.
"Sudah.. perawan itu tidak penting, yang penting adalah saling percaya dan jujur pada pasangan, jika pasanganmu mau menerimamu apa yang salah? Kau sudah menjaga dirimu sampai saat ini Yana." Ucap Damian tapi Yana tetap menangis dan dia percaya kata-kata Jason sebelumnya bahwa tidak akan ada yang mau dengan Yana yang sudah tidak suci lagi.
"Gak akan ada pria yang mau denganku kecuali Jason.. aku tidak akan menklah lagi Dami..." Tangis Yana
"Ada Yana, aku akan bersamamu selamanya, aku akan menikah denganmu." Ucap Damian dan Yana yang terkejut kangsung berhenti menangis.
"Jangan melihatku begitu, aku akan menikah denganmu, aku sudah bilang ke ayahmu tadi." Lanjut Damian tetapi Yana malah menggeleng dan menolak.
"Gak Dami, kau bisa dapat wanita yang lebih baik dan masih suci, aku tidak cocok denganmu." Tolak Yana tapi Damian tetap pada pendiriannya.
"Aku tidak perduli dengan masa lalu, aku hanya mau kau yang sekarang dan kau tidak bisa menolak Yana, orang tuaku sedang dalam perjalanan kemari, cepat hapus air matamu ini. Atau kau mau menikah dengan pria pilihan ayahmu yang tidak kau kenal?" Yana menggeleng kuat.
"Makanya jangan menangis lagi, ayo bersihkan air matamu dan kita mulai hari bahagia kita." Sambung Damian.
"Lalu gimana dengan wanita yang kau cintai itu, apa kau bisa merelakan perasaanmu?" Tanya Yana dan Damian tersenyum.
"Wanita yang aku cintai hari ini akan menjadi istriku, dia ada di depanku dan sedang menangis karena di tinggal pergi calon suaminya di hari pernikahannya." Ucap Damian dan kini dia tidak mau menyimpan apapun lagi, Yana terbengong mendengarnya.
__ADS_1
TBC~