
Mario yang sedang bosan dan lelah memilih pulang untuk istirahat karena dia sungguh lelah dengan semua keadaan ini, berbeda dengan Celine di jam istirahatnya untuk makan siang dia memilih untuk ke restoran Florian untuk berbincang lagi dengannya.
"Eh.. kau tidak menemani kekasihmu Cel?" Tanya Florian di akhir pembicaraan mereka dan di tengah makan siang.
"Dia sahabatku bukan kekasihku." Jawab Celine tegas.
"Tapi kau mencintainya." Seru Florian. Celine berhenti makan dan meletakkan sendok dan garpunya. Tiba-tiba selera makannya hilang, bukan karena perkataan Florian tapi karena seseorang yang tengah dia lihat.
"Lihat apa sih?" Florian menoleh kearah mata Celine tertuju.
"Oh.. dia memang langganan restoranku, kau kenal?" Tanya Florian tapi Celine menggeleng.
"Hanya tau nama dan foto, dia kekasih Jade, lebih tepatnya selingkuhan Jade." Jawab Celine dan perhatiannya masih tertuju pada Robin dan kini makin penasaran sebab Robin sedang menggandeng seorang gadis cantik.
"Cepat sekali dia mendapatkan pasangan baru." Celetuk Celine tidak suka.
"Pasangan baru? Tidak, dari dulu dia memang selalu menggandeng wanita itu, istrinya." Ucap Florian yang memang kenal dengan wanita itu.
"Dia Lola, putri dari temanku juga yang berasal dari pegunungan tempat villaku dan mereka nikah sudah setahun lebih kalau tidak salah." Jelas Florian lagi dan Celine membulatkan matanya tanda tak percaya.
"Jadi.. diantara hubungan mereka siapa yang selingkuh dan di selingkuhi, hubungan yang rumit. Sepertinya aku harus selidiki lagi." Gumam Celine yang kini menatap kearah Florian.
"Sepertinya benar, harus selidiki lagi. Lola itu anak yang baik dan sangat berbakti. Mungkin itu yang buat dia menikah dengan Robin? Setauku Lola hanya kuliah dan bekerja tidak pernah berhubungan dengan lawan jenis hingga lulus kuliah lalu di jodohkan dengan Robin itu."
"Lalu disini peran antagonisnya itu sebenarnya siapa?"
"Kau ini.. ini bukan film atau drama."
"Iya tau, aku pusing. Om aku akan pulang dulu untuk sambung pengecekan data yang di berikan ayahnya Jade. Om yang bayar ya.. lain kali aku traktir."
Celine segera berlari kecil dengan menenteng tasnya untuk kembali ke rumah Mario.
.
.
__ADS_1
"Kau kemana saja?" Tanya Mario begitu Celine membuka pintu ruang kerjanya.
"Aku makan siang dengan teman, kau sudah makan?" Tanya Celine dan duduk di sofa depan Mario.
"Sudah tapi sudah di sediakan oleh pelayan dan mami juga baru pulang." Jawab Mario sambil tetap melihat ke arah laptopnya.
"Kau sudah dapat data dari rekening Jade?" Tanya Celine dan Mario mengangguk. Dia bangkit dari duduknya dan pindah ke sofa juga duduk di sebelah Celine dengan memberikan laptonya.
"Semua ada di sana." Ucap Mario.
Bola mata Celine bergulir cantik memperhatikan layar laptop, dia membaca semua yang ada disana dan menemukan nama Robin.
"Tujuh puluh persen uang yang kau berikan berakhir di rekening Robin, sisanya ke panti asuhan, panti jompo, dan sedikit ke keluarganya. See! kau paham sekerang? Om Agung juga tidak menikmati pemberianmu dengan foya-foya dan mereka berusaha sendiri sampai berhasil dengan modal sedikit dari Jade, yang perlu kita selidiki itu adalah Robin ini." Ucap Celine panjang lebar dengan nada sedikit meninggi meluapkan kekesalannya.
"Dan.. tadi aku melihat Robin dengan istrinya, mereka sudah menikah setahun lebih. Berati Jade juga di selingkuhi. Betapa bodohnya dia." Geram Celine dan jika bisa melihat aura, aura Celine begitu gelap karena marah dan kesal oleh pria bernama Robin itu.
"Kenapa kau diam saja Mario!" Pekik Celine kesal.
"kenapa jadi kau yang marah? Seharusnya aku yang marah melihat semua ini." Balas Mario juga dengan kesalnya.
"Aku marah karena kau yang bodoh, berbulan-bulan kau terpuruk dan STOP! Hentikan semua ini dan mari kita fokus ke pria ini saja!" Bentak Celine dengan amarahnya yang memuncak.
"Aku saja yang selidiki dia, karena dia belum mengenalku dan kau fokus pada pekerjaanmu, besok siang ada pertemuan dengan H&S Group dan jangan sia-siakan kesempatan untuk bergabung dengan mereka." Ujar Celine dan Mario hanya bisa mengangguk.
Celine pun menceritakan semuanya pada Lia dan meminta bantuannya untuk menyelidiki Robin dan tentu saja Lia setuju. Mereka bersama menemui detektif yang disewa oleh Lia dan menceritakan semuanya.
"Baiklah.. jangan cemas, tante yang akan menunggu hasilnya dan kau tetap disamping Mario saja, tante takut hasilnya akan diluar eskpektasi Mario lagi. Hah.. seandainya tante menyelidikinya dengan baik.." Ujar Lia sedikit menyesal karena dia hanya stop di Jade saja tidak melanjutkan ke siapa sebenarnya kekasih lain dari Jade.
"Tidak tante, kita semua juga tidak menyangka akan serumit ini. Tunggu hasilnya saja, aku tau Jade juga bukan orang jahat, dia selalu menjadi gadis cerita dan baik hati. Sebenarnya dia sangat polos dan aku takut kalau Robin inilah penyebab semuanya." Balas Celine agar Lia tidak terlalu menyalahkan diri sendiri.
Setelah berbicara dengan Lia dan kembali ke ruang kerja Mario, Celine melanjutkan pekerjaannya. Bukan dengan data dari Agung tapi pekerjaan sebenarnya menjadi sekretaris atau asisten? Celine juga tidak tau apa jabatan pastinya di perusahaan Mario ini.
"Yang penting aku bisa di sampingnya, membantu dan menemaninya. Dan.. memastikan Mario mendapat pasangan yang baik." Ucapnya lirih dalam hati.
"Ah, hampir lupa. harus pesan bunga buat PT Jaya Abadi besok, aduhh.. Mario tidur lagi." Ucap Celine pelan sambil melihat Mario yang ketiduran di sofa. Celine memilih untuk keluar saja sendiri karena hari masih sore.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Nah Flo, sudah dengar semuanya kan? Jadi kalau mau bantu cari tau tentang Robin, orang yang dipukul Mario waktu itu." ucap Lion dan Flo hanya mendengar saja karena dia sedang melayani pelanggan bunganya sambil mendengarkan semua cerita dari Lion.
"Terima kasih." Ucap Flo pada pelanggannya lalu kembali fokus ke Lion.
"Jadi dimana mau cari si Robin itu?" Bisik Flo, belum sempat Lion jawab FLo sudah berdiri lagi dan ternyata Florian lah yang datang.
"Hai Flo." Sapa Florian.
"Hai juga Flo." Balas Flo sambil tertawa kecil.
"Ada apa? Tumben datang sendiri, pasti bukan untuk pesan bunga." Tebak Flo karena jika bunga pasti akan chat dulu ke dia.
"Hahahha iya lah.. mau bicara serius." Jawab Florian dan Flo memicingkan matanya melihat kearah Florian.
"Pasti sangat serius." Ujarnya lagi.
"Aku mau tanya tentang ramuan pelupa cinta." Ucap Florian dan Flora terbelalak kaget.
"untuk apa kau tau tentang ramuan itu? Jangan bilang kau sednag jatuh cinta ya, tapi ramuan itu tidak sesederhana itu loh." Pekik Flo namun dia berhasil menahan suaranya agar tidak berteriak kencang.
"Bukan aku tapi teman, dan belum saatnya untuk dia tau lebih dalam tentang ini." Jawab Florian akhirnya Flora bernafas lega.
Ting...
"Selamat sore." Sapa Flo melihat seorang wanita yang masuk.
"Loh om Florian juga disini?" Tanya Celine begitu melihat Florian.
"Iya, Flo ini kan temanku dan kau tidak lihat di retoran dan hotelku semua bunga dari sini?"
"Oh iya.. semuanya Magical Flower yah. heheheh."
"Eh.. mba Flo, saya mau pesan bunga seperti ini." Celine memberikan ponselnya dan Flo mencatat segala pesanan ke buku kecilnya.
__ADS_1
"Baik besok akan segera di kirim jam 11 siang ya." Balas Flo danĀ selesai bertransaksi akhirnya mereka bertiga duduk bersama untuk mengobrol.
TBC~