Magical Flower

Magical Flower
BAB 47 - Juniper (Part 5)


__ADS_3

Sudah 2 hari Zidan terus membujuk Juni untuk memaafkannya tapi Juni yang keras kepala tetap tidak mau bicara padanya sampai Zidan nekad dan akan mengambil anaknya jika terbukti tes DNA menyatakan bayi itu anak kandungnya barulah Juni mau bicara.


"Kau gak boleh mengambil anakku!" Bentak Juni, lalu Fano masuk ke dalam kamar itu untuk beritahukan kalau Juni sudah boleh pulang. Kali ini Bi Ratih ikut untuk membantu Juni dan Zidan yang melihat Bi Ratih menjadi kesal dengan Fano tapi juga berterimakasih karena telah menjaga Juni dan anaknya selama ini. Zidan terus mengikuti mobil Fano dari belakang untuk tau dimana Juni tinggal.


Setelah sampai Zidan melihat sekeliling rumah mungil yang di tempati Juni selama ini lalu ada tetangganya yang terlihat sangat baik dan perhatian, Juni tersenyum menyapa mereka yang dengan hangat menyambut kepulangan Juni dan baby boy nya. Sudah lama Zidan tidak melihat senyum tulus itu, bahkan selama jadi sekretarisnya dia jarang tersenyum tulus untuknya, hanya ada senyum profesional ramah.


Zidan menunggu sampai rumah itu sepi dan hanya ada mereka barulah Zidan masuk ke kamar Juni, dia menatap baby boy yang belum diberi nama itu dan mengecupnya berkali-kali, Juni tidak melarang karena memang Zidan adalah ayahnya. Selagi Zidan bermain dengan baby boy nya, Juni berbaring karena merasa lelah dan akhirnya ketiduran, Zidan mendekat dan duduk di tepi ranjang besar itu lalu mengecup kening Juni yang sedang tertidur.


"Kalau lagi tidur aja sangat manis begini, kalau dah bangun galak." Gumam Zidan lalu keluar lagi.


"Loh Fan, belum pulang?" Fano ternyata masih ada di rumah itu dan sedang membawa beberapa barang keperluan lainnya.


"Belum, tadi ke mobil mau bawa ini." Fano meletakkan 2 bungkusan yang entah apa isinya Zidan tidak tau.


"Makasih Fan, aku sebenarnya marah kau sembunyikan Juni dariku apalagi kau tau dia mengandung anakku, tapi kau udah jaga mereka seperti ini, padahal itu kewajibanku." Ujar Zidan dengan wajah sendunya, Fano menepuk pundaknya dan menyuruhnya duduk dan bicara.


"Jangan menyerah, Juni juga cinta tapi benci juga sih padamu bro.. dia marah karena malam itu kau sangat kasar meskipun kau meracau menyebutkan namanya dan terus bilang kau cinta padanya tapi kelakuanmu kasar apalagi paginya kau lupa semuanya." Jelas Fano, mereka duduk bersama di sofa ruang tamu didepan kamar Juni.


Zidan menghela napasnya kasar, kalau bukan karna mabuk dia tidak mungkin melakukan itu. "Aku kesal dengan Aretha, tapi berkat perbuatannya aku punya seorang anak sekarang jadi aku ingin marah tapi gak bisa juga hanya bisa menyalahkan diri sendiri." Ujar Zidan penuh penyesalan, juga terlihat dari wajahnya.


"Terus berjuang dan Juni juga belum memberi nama pada anak kalian kan.. mungkin dia menunggumu yang memberikannya nama jadi teruslah memberi perhatian pada mereka." Saran Fano dan Zidan seketika tersenyum mendengarnya.


"Benar juga.. baiklah, thanks Fan kau memang sahabat ku." Zidan lalu berdiri dan kembali masuk ke kamar Juni sedangkan Fano pamit pulang karna sudah rindu dengan istri tercintanya dan baby J.


Zidan melihat Juni masih tidur, karena dirinya juga sangat lelah karena 2 hari ini tak bisa tidur dia berbaring di sebelah Juni dan tidur menyamping dengan lengannya melingkar di perut Juni.


Juni terbangun karena tidak nyaman ada sesuatu yang hangat terasa di wajahnya, dia baru sadar kalau tangan Zidan melingkar erat di atas perutnya dan wajah Zidan sangat dekat dengannya sampai hembusan napasnya terasa begitu hangat menyentuh kulit wajahnya. Juni tidak tega juga membangunkan pria ini yang sudah 2 hari ini sudah menemaninya.


Juni menggerser lengan Zidan dengan perlahan lalu turun dari tempat tidurnya untuk ke toilet, dia masih merasa sedikit sakit dibagian bawahnya tetapi itu setimpal saat melihat baby boy nya yang sangat menggemaskan. Juni sedikit meringis sambil mencari pembalut yang telah disediakan Imel untuknya di bagian bawah laci nakasnya sehingga membuat Zidan terbangun.


"Jun, kamu kenapa.. sakit?" Zidan melompat dari ranjang lalu mendekat ke Juni yang masih mencari tapi tidak menemukannya.

__ADS_1


"Kau cari ini?" Zidan telah memegang sebuah pembalut yang dia ambil dari lemari laci paling atas.


"Kenapa ada disitu?" Tanya Juni sembari mengambilnya dari tangan Zidan, dia sedikit meringis karena sedikit berjongkok tadi.


"Kata Bi Ratih kalau dibawah situ kau akan susah setiap kali mengambilnya jadi dia pindah ke sini dan dibawah ini semua keperluan baby kita." Jawab Zidan dan Juni mengangguk lalu jalan masuk ke dalam kamar mandi.


Juni masih mendiamkan Zidan, tidak sepenuhnya tapi dia hanya menjawab seadanya saja sampai tiba-tiba Aretha datang bersama ibu Zidan membuat mereka berdua sangat terkejut.


"Mom!!" Pekik Zidan yang sedang menunggu Bi Ratih menyiapkan makanan dan Juni terpaku saat dia baru keluar dari kamar ingin menuju dapur.


"Dasar anak bodoh!! Kau..." Ibunya terdiam saat mendengar suara bayi menangis. Juni langsung masuk kembali ke kamar dan menggendong baby boy nya, Zidan juga panik dan berlalri masuk kedalam.


"Ini cucuku.. aahh cucuku tampan sekali, Juni boleh ibu memeluknya?"


"Boleh Bu."


Juni memberikan baby boy nya dan Ibu tampak sangat bahagia sampai mengeluarkan air matanya, lalu mencium kening cucunya tak lama bayi itu tenang dan tidak menangis lagi.


"Namanya Hansel Junien Adhitama." Zidan bersuara dan Juni melihatnya dengan mengerutkan dahinya.


"Hansel.. oh cucuku.." Ibu menemani Hansel sampai tertidur lagi sampai tenang baru keluar dari kamar Juni dan mereka semua duduk bersama di ruang tamu untuk membicarakan hubungan Zidan, Juni dan Aretha untuk kedepannya. Sedangkan Bi Ratih memilih masuk ke kamar Juni untuk menjaga Hansel.


"Aretha sudah menceritakan semuanya, Juni maafkan anak Ibu yang bodoh itu telah membuatmu menderita selama ini dan kau sudah sendirian hampir 9 bulan." Ujar Ibu tapi Juni tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak apa-apa bu, aku menikmati setiap moment berharga ini apalagi dengan anakku jadi aku tidak sendirian dan banyak teman yang telah menjagaku." Ujar Juni membuat Ibu menangis lagi dan memukul Zidan yang duduk disebelahnya berkali-kali.


"Zidan, jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Ibu dengan tegas.


"Tentu aku akan menikah dengan Juni mom.." Jawab Zidan cepat sambil mengelus lengannya yang sejak tadi dipukul oleh ibunya.


"Lalu Aretha gimana?"

__ADS_1


"Aku.. maaf aku gak bisa menikah dengan Aretha, dari dulu aku hanya mencintai Juni, hanya Juni." Tegas Zidan, Juni tampak cemas dan memandang ke arah Aretha yang masih diam dan sambil menunduk.


"Tapi kalian 2 minggu lagi menikah, undangan juga sudah di cetak tinggal disebarkan."


"Gak mom, batalkan semuanya aku gak mau Juni dan Hansel sendirian seperti ini."


"Kau harus minta maaf sama Aretha juga, selama ini dia yang telah menemanimu saat perusahaan kacau dan kau masih cuek padanya dan kalau kau mencintai Juni kenapa selama ini kau tidak mencarinya dan setuju menikah dengan Aretha?"


"Baik mom, aku jelaskan sekarang, kalian dengar baik-baik. Pertama, aku hanya mencintai Juni sejak 2 tahun lalu, kami berhubungan baik bukan hanya sebatas atasan dan bawahan tapi juga teman, kedua setelah aku menyatakan perasaanku Juni jadi berubah, dia menjauh dan seakan sengaja memberi batasan, ketiga aku tidak mencarinya karena perusahaan sedang kacau dan aku merasa bersalah karena Juni tau aku telah tidur dengan wanita lain yang tidak aku kenal. Ketiga mom yang memaksaku untuk dekat dengan Aretha dan terus saja mendekatkanku dengannya, ke empat, aku pikir Aretha dan Juni itu sahabat jadi kalau di samping Aretha aku akan mendengar tentang Juni tapi tidak ada hasilnya sampai mom sekali lagi memaksaku menikahinya. Jelas?"


Semuanya terdiam setelah mendengar penjelasan Zidan, Juni masih menatap penuh tanda tanya pada Aretha yang sedari tadi menunduk seperti sedang membuat kesalahan, dia terus meremas tangannya sendiri. Juni tau kalau Aretha sedang memikirkan sesuatu.


"Aku minta maaf... " Tangis Aretha meledak, Juni yang paham kondisi Aretha langsung pindah duduk di samping Aretha dan memeluknya, sejak kecil mereka sahabatan dan Juni tau dari raut wajah Aretha kalau dia sangat tertekan.


"Sudah Are.. kau tidak salah.." Juni mengelus punggung Aretha dan terus menenangkannya.


"Ini salahku, ayahku yang melakukan semuanya agar aku bisa menikah dengan Zidan. Dia yang membuat perusahaan Adhitama jatuh kemudian datang menolong agar mommy menikahkan kami demi perusahaan." Jelas Aretha, Ibu dan Zidan sangat terkejut dengan pengakuan Aretha.


"Aku sudah bilang ke ayah untuk batalkan pernikahan ini, kalian tenang saja, aku gak akan mengganggu kalian lagi mulai sekarang. Kau sahabatku Jun.. aku gak mau kehilangan sahabat, aku bisa membuang 10 Zidan yang penting aku tidak kehilanganmu Jun." Sambung Aretha.


Dia memang sangat sayang pada Juni yang telah menemaninya sejak kecil menjadi pengganti ibunya yang telah tidak ada. Juni bagai penolongnya kala itu, saat dia masih kecil dan baru pindah ke kota ini sambil menjaga adiknya, Ibunya Juni adalah pengasuh adik Aretha yang masih bayi sekaligus mengasuh Juni yang masih TK dan Juni adalah sahabat baiknya sejak itu.


"Sudah Are.. jangan nangis terus ya.." Tapi Aretha terus menangis, dia tidak sanggup menahan semua kesedihannya yang telah dia simpan selama ini, Zidan yang tidak pernah melihatnya sama sekali, kejahatan ayahnya, kehilangan Juni selama 8 bulan ini, semua dia tumpahkan disana.


Zidan dan Ibu menjadi iba dengan Aretha yang begitu menyayangi Zidan dan juga Juni, Zidan merasa bersalah tapi dia juga tidak bisa melupakan cintanya pada Juni apalagi sekarang sudah ada Hansel diantara mereka, Zidan tetap akan menikahi Juni meskipun wanita itu menolaknya.


 "Mommy pulanglah, aku akan bicara lagi pada Juni, aku akan membujuknya terus menerus mom sampai dia luluh." Bisik Zidan dan Ibu setuju.


"Baiklah, ibu sebenarnya sudah suka pada Juni saat dia masih jadi sekretarismu. Hanya dia yang bisa membuatmu serius bekerja dulu kan.. kau itu sangat bandel dan susah diatur tapi semenjak ada Juni kau jadi anak penurut sampai sekarang." Ujar Ibu, Zidan terkekeh karena memang benar karena Juni lah dia jadi baik, kalau tidak dia hanya tau main dan menghabiskan uang, tidak mau tau soal perusahaan peninggalan ayahnya itu.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2