
Calla bergerak ingin menggeliat seperti yang biasa dia lakukan setiap bagun tidur, tetapi saat dia buka mata malah melihat dada bidang tak berpakaian, dia yang masih belum sadar sepenuhnya memicingkan matanya melihat dengan jelas.
"AH sepertinya aku mimpi lagi." Ucapnya pelan. Calla masih mengelus dada itu dan mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan pria blasteran yang dia peluk.
"Kenapa kamu sangat tampan Alister? Aku gak mau bangun dari mimpi ini, hanya dalam mimpi aku berani menyentuhmu.. aku gak mau bangun." Ucap Calla lagi kini tangannya sudah mengelus lembut wajah tampan itu, lalu kembali memeluknya dan membenamkan kepalanya di dada kokoh Alister.
"Kau boleh bangun dan tetap memelukku seperti ini kapanpun Calla sayang.." Ucap Alister lalu memeluk erat tubuh Calla dan dia terkejut, ternyata ini bukan mimpi.
Calla menggeliat dan ingin melepaskan diri dari pelukannya tapi Alister makin mendekapnya kuat dan malah membalikkan tubuh Calla saat ini terbenam tertimpa tubuh besarnya, Calla seakan hilang dibawah tubuhnya.
"Tuan kau sangat berat.." Calla mendorong Alister tetapi dia sama sekali tidak bergerak dan malah Alister ******* bibirnya penuh gairah.
"Sekali lagi kau panggil Tuan aku akan menghamilimu disini." Ancam Alister membuat Calla ketakuan.
"Maaf Alister.." Lirih Calla, "Panggil aku Tuan saja kalau begitu.. biar kita buat anak segera agar aku dapat menikahimu." Bisik Alister tapi Calla tetap berontak dan ingin melepaskan diri.
"Sebentar lagi, aku ingin memelukmu terus, bukankah kau suka dan selalu bermimpi seperti ini?" Alister kembali mendekap tubuh Calla dan memeluknya sampai puas.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Flo dan Lion sedang mengobrol pagi ini sebelum ada yang datang. Lion telah ceritakan segala hal tentang Lidia setelah mengikutinya dan sampai sekarang masih menempel pada tas Lidia dan mendengar segala hal yang dia bicarakan.
"Dia tuh cewe nyebelin Flo, jahatnya lebih dari peri kegelapan. Calla itu baik dan selalu dijahati olehnya. Sekarang dia sedang susun rencana untuk menjebak Calla agar terlibat korupsi karena Calla bekerja di bagian umum dan stock barang semua gedung itu dalam pengawasan Calla. Untungnya dia belum menemukan apapun karena atasannya Calla sedang cuti." Jelas Lion dan Flo terlihat berpikir dan bagaimana caranya memberitahukan ke Calla tau Alister.
"Dia bicarakan hal ingin menjebak Calla di mana Lion?"
"Di tempat dia kerja, saat diruangan bersama temannya yang namanya Anita."
"Hm.. aku punya ide, sebentar." Flo mengetik pesan untuk Alister.
"Alister, mohon maaf jika aku ikut campur tapi karena kamu dan Calla adalah langganan tokoku jadi ada sedikit info, kemarin saat pegawaiku membagikan kartu nama ke kantor Calla dia mendengar kalau seseorang ingin menjebak Calla dengan menuduhnya korupsi. Hanya ini yang pegawaiku dengar. Mohon beritahu ke Calla agar dia hati-hati."
Flo mengirimkan pesan itu, "Biarlah jika dibilang kepo, aku ga tega liat Calla di jahatin terus. Duh moga dia baik-baik saja." Ucap Flo pelan.
"Pagi Flo.. kenapa belum buka toko?" Tanya Thika yang baru datang dan itu sudah hampir jam 9 seharusnya Flo sudah bersiap buka toko bunganya tapi sejak tadi Flo selalu memikirkan Calla hingga tidak ingat waktu.
"Ah iya, aku sedang mikir seuatu jadi lupa deh.." Flo membantu Thika membereskan sedikit bunga yang menghalangi jalan ke depan toko lalu membuka lebar pintu besi depan dan mengubah tanda closed menjadi open.
"Oh iya.. kemaren sore yang aku pulang, aku liat mba Maira di depan rumahnya sedang jongkok dan menangis sambil pegang bunga yang dia beli kemarin, kasian banget sampai segitunya tapi aku gak berani nyamperin."
Ujar Thika yang sedang memberekan tempat kerjanya dan Flo langsung teringat wajah sendu Maira yang terlihat sangat sedih kemarin.
Maira sudah sebulan ini selalu datang dan membeli buket bunga cantik tetapi saat diatanya untuk siapa dan acara apa dia selalu menjawab dengan senyum yang dipaksakan hingga Flo tidak bisa bertanya lebih lanjut.
"Flo aku punya ide, minta aja sama Lilem buat bikin orang-orang mabuk dan bisa ngomong jujur." Tiba-tiba suara Lion terdengar membuat Flo berjalan mendekatinya.
"Siapa Lilem?" Tanya FLo berbisik pelan mendekat pada Lion.
"Si Lili Lembah, Lily of the valley, harumnya dia kan beracun tuh tapi suruh jangan banyak ngeracunin kita, dia bisa ditanam disini loh dengan kekuatan perimu." Jelas Lion dan Flo baru ingat kalau Lily of the valley itu wangi banget dan memabukkan kalau terlalu terlena dengan aromanya.
"Kamu pintar Lion, ok aku cari bunga itu dulu.." Bisik Flo lagi.
"Ngapain cari, kamu itu peri Floraaaaa...." Lion mengingatkan Flo yang terkadang lupa dengan kekuatan perinya karena terlalu banyak bergaul dengan manusia.
"Hihihi maaf lupa.."
"Thika, aku keatas bentar yaaa...." Ujar Flo lalu berjalan cepat menuju tangga dan dia sekarang ada di lantai 3 untuk menumbuhkan si Lilem. Dengan sihir perinya dengan mudah dia sudah menumbuhkan Lily of the valley 1 pot dengan subur dan seukuran dengan Lion agar bisa di tanam di meja kerjanya.
"Hai Lilem, aku butuh bantuan." Kata Flo begitu Lilem sudah tumbuh subur.
"Siapa Lilem?" Tanya bunga kecil nan imut itu.
"Kamu sekarang namanya Lilem, dari pada kepanjangan Lily of the valley, jadi Lilem aja singkatan dari Lili Lembah." Jelas Flo dan bunga itu terima saja nama apapun yang diberikan peri cantik ini.
"Namamu siapa peri cantik?" Tanya Lilem, "Aku Flora dan panggil saja Flo, aku butuh bantuanu." Ujar Flo dan menceritakan dirinya secara singkat dan bantuan apa saja yang dia perlukan.
__ADS_1
"Jadi kalau aku ketuk 3 kali berarti kau harus keluarkan aroma memabukkan itu, kalau aku ketuk 1x berarti berhenti ya."
"Ok bos, aku siap membantu asal rawat aku dengan baik karena ini bukan di lembah."
"Siap!"
"Eh bunga apa itu Flo, cantik banget dan imut." Tanya Thika begitu dia membawa Lilem turun dan meletakkan di mejanya. Bunga putih kecil seperti lonceng mengarah kebawah dan sangat banyak, Flo sengaja menumbuhkannya sangat mini tapi subur agar bisa mengelabui orang-orang, karena bunga ini hanya mekar di tempat dingin dan musim tertentu.
"Oh ini namanya Lili Lembah, teman baruku biar si Lion disana ada teman hehehe... cantik kan." Canda Flo dan Thika tau kalau Flo memang menganggap semua tanaman sebagai temannya.
"Iya lucu banget... suka deh mana bunganya putih kecil mirip lonceng." Thika mendekat dan mencium aroma wangi dari si Lilem.
Sementara di apartemen Calla, dia sedang dipeluk dan tidak dilepaskan sama sekali oleh Alister. Sejak tadi Alister menggodanya untuk mengakui perasaannya tapi Calla tetap tidak mau dan terus mengelak. Sampai Alister menyerah dan membiarkannya lolos dari pelukannya tapi setelah dia puas mencuri ciuman dari Calla.
Waktu Calla sedang mandi, Alister membuka Hnya dan membaca chat dari Magic Flower, dia lega ada orang lain yang memperhatikan Calla dan memberinya informasi penting, lalu membuka pesan dari Tama yang ingin bertemu dan meminta waktu dan tempat di tentukan oleh Alister hari ini dan harus bawa Calla. Alister akan bertemu Tama di Cafe Magical Flower 1 jam dari sekarang.
"Calla.. ini sudah hampir siang, kita belum sarapan jadi keluar aja yuk.." Ajak Alister begitu selesai mandi, Calla mengangguk karena dia juga malas masak, Alister yang melihat Calla sedang mengganti balutan dan obat di pergelangan tangannya pun membantunya. Setelah selesai mereka pergi menuju Magical Flower, Alister pernah mencoba teh mawar dan nasi goreng ikan terinya sangat enak.
"Loh kita kesini?" Tanya Calla begitu sampai di Magical Flower dan Alister mengangguk, mereka jalan masuk dari pintu cafe karena memang tujuannya adalah sarapan menjelang siang.
"Hai Alister, mau pesan bunga?" Tanya Flo yang melihat Alister yang sudah ada di hadapannya.
"Bukan aku datang untuk konfirmasi pesan mu tadi, apakah nama orang yang mau menjebak Calla itu namanya Lidia?" Tanya Alister dan Flo terlihat bingung.
"Gak sih, pegawaiku gatau namanya tapi dia sebut nama temannya yang diajak bicara yaitu Anita." Jawab Flo dan Alister mengangguk pelan.
"berati benar itu Lidia dan Anita. Baiklah.. terima kasih atas infonya, itu sangat membantu." Ucap Alister.
"Tak masalah, apa sudah ada kemajuan dengan hubungan kalian." Tanya Flo yang melihat ada Calla yang duduk di meja cafe.
"Sudah, tapi dia masih belum mau mengakui kalau sudah mulai jatuh cinta padaku." Jawab Alister meskipun dia tersenyum, Flo dapat melihat raut sedih dari wajahnya.
"Mau aku bantu?" Tanya Flo.
"Caranya?" Alister mengerutkan keningnya bingung.
"Hmm.. kalo gitu nanti suruh Calla kemari dan lihat magic apa yang akan aku lakukan." Ujar Flo dan Alister tidak yakin.
"Sana, nikmati makanan kalian dulu setelah itu suruh Calla kesini." Alister mengikuti saran Flo, dia kembali ke meja dan menikmati makanannya. Tak lama Calla sudah ada di depan Flo untuk menyapanya.
"Hai mba Flo.." Sapa Calla dan Flo terlihat senang melihat Calla meskipun tangannya dibalut tapi wajahnya lebih ceria dari terakhir kali dia kesini.
"Halo Calla, Flo saja.. aku mau pendapatmu tentang bungaku ini." Lalu Flo mengetuk 3 x dan si Lilem beraksi, sambil Flo memberi tanda agar Alister mendekat tapi diam-diam. Calla mencium aroma wangi menenangkan dari bunga imut itu dan dia langsung tersenyum bahagia.
"Bunga ini cantik, lucu dan imut, aromanya juga wangi dan bikin tenang Flo." Tutur Calla dan Flo akan mencoba kekuatan si Lilem.
"Jadi bagaimana perasaanmu pada Alister Calla?" Tanya Flo dan Calla terdiam sejenak, namun dia langsung bicara saat tercium lagi aroma si Lilem.
"Aku senang saat melihatnya Flo, dia bikin jantungku tidak tenang dan hatiku bahagia saat bersamaan, sama seperti dulu saat aku jatuh cinta pada cinta pertamaku." Jawab Calla dengan wajah berbinar bahagia. Flo melirik sejenak ke Alister yang mendengarnya.
"Berarti kau mulai menyukainya? Sejak kapan?" Tanya Flo lagi dan dia takjub akan kekuatan Lilem.
"Sebenarnya aku sudah suka padanya saat pertama melihatnya, tapi jangan bilang-bilang yah.." Ujar Calla terlihat malu.
"Loh kenapa? Kau sudah mencintainya belum?" Lanjut Flo dan Calla mengangguk.
"Aku sudah jatuh cinta saat dia menciumku waktu itu, terus bunga Calla itu bikin aku senang karena hanya papiku yang selama ini sadar kalau aku sama seperti bunga Calla, jadi waktu dia mengirim bunga hatiku juga sudah jatuh padanya." Jujur Calla membuat Alister sangat bahagia.
"Lalu kenapa kau tidak menerimanya Calla?" Tanya Flo lagi dan wajah Calla berubah sedih.
"Aku sudah janda 2x meskipun masih perawan, tapi orang kan tidak tau dan lagi aku tidak mau dia tertimpa sialku Flo.. suamiku meninggal karna aku. Karena dendam masa lalu tante dan ibuku, aku tidak mau mereka menyakiti Alister. Sudah cukup 2 pria itu jadi korban."
Jelas Calla membuat Flo dan Alister begitu terkejut, ini bukan hal biasa yang bisa mereka tanyakan saat ini. Alister memberi tanda untuk tidak menceritakan itu lalu Flo mengganti pertanyaannya.
"Kalau Alister bisa mengatasi semuanya kau mau ga nikah sama dia?" Tannya Flo sedikit menggodanya.
__ADS_1
"Tentu Flo, dia pria sempurna tapi aku tidak.. jadi aku takut." Jawab Calla dan kini tertunduk lesu.
"Jadi maukan nikah sama aku?" Tanya Alister dan Calla kaget mendengar suaranya dan menoleh.
"Ah.. kau..." Calla tidak sempat mengatakan apapun Tama sudah terlihat masuk dari pintu toko bunga itu.
"Tama..." Lirih Calla dan Alister berbalik. Menyapa Tama dan menyuruh mereka bersua menunggunya di meja tempat duduk tadi.
"Kenapa dia jadi sejujur itu?" Tanya Alister dan Flo hanya tersenym.
"Ini rahasia, aku punya ilmu sihir." Jawab Flo terkekeh.
"Hahahah ada-ada saja, tapi terima kasih, apakah dia masih bisa jujur gitu? Soal yang tadi harus didengarkan oleh mantannya yang polisi itu baru bisa kami selidiki." Jelas Alister dan Flo tampak bingung.
"Bisa tapi aku ikut kesana mendengarkan, apa boleh?" Tawar Flo.
"Baiklah, ayo.."
Flo ikut di pembicaraan mereka dan dia membawa serta Lilem setelah berbisik dengannya, tapi Lilem di letakkan diatas bersama Pansy.
"Loh kenapa bunganya diatas Flo?" Tanya Calla, "Oh memang mau diletakkan disitu cuma tadi aku malas." Jawab FLo berbohong arena Lilem akan melancarkan rencananya.
"Jadi Tama bisa mulai dulu kami akan dengar." Ucap Alister dan Tama mulai dengan ceritanya.
Tama sudah mempelajari berkas yang diberikan Andy padanya dan dia menemukan kejanggalan pada penyelidikan pada saat kejadian dan polisi detektif yang menangani kasus ini adalah Sucipto, om dari Lidia dari pihak ayahnya itu sebabnya kasus ini sangat cepat selesai dan ditutup dengan baik, setelah Tama selidiki mobil yang ditumpangi Calla dan suami pertamanya saat itu mengantar pulang keluarga tantenya dan baru kembali lagi mengantar Calla dan suaminya, tapi kecelakaan tunggal terjadi akibat rem blong.
Semua disalahkan ke supirnya yang saat itu meninggal ditempat. Lalu kasus ini ditutup dengan kasus kecelakaan dan supir yang lalai.
Kasus ke 2, rumah suami kedua dari Calla mempunyai banyak cctv yang aktif selama 24 jam karena suaminya hidup sendiri dan memantau rumahnya dari cctv jika dia tidak ada, tapi kenapa dihari itu semua cctv dirumah mati? Belum ada penyelidikan menyeluruh saat itu dan kasus ditutup oleh Sucipto dengan kecelakaan karena mabuk.
"Jadi sekarang, jika ingin buka kasus ini kembali bisa dengan Calla dan keluarga supir yang mengajukannya. Aku tidak yakin dengan kasus ke 2 karena rumah itu sudah direnovasi dan tidak bisa dilakukan penyelidikan ulang." Selesai Tama menjelaskan membuat Calla semakin gelisah. Dia sebenarnya tau tentang apa yang terjadi pada suami ke 2 nya.
"Suami kedua ku meninggal bukan karena kecelakaan itu, dia sempat sadar dan dokter bilang dia baik-baik saja karena telah melewati masa kritis. Saat dia bangun, dia menyuruhku mencari atm dan buku tabungan di lemari rahasianya. Dia ada sedikit uang yang disimpan atas nama orang lain dan menyuruhku ambil lalu pergi dari keluargaku, makanya aku pindah dari rumah tante dan tidak ingin bertemu mereka lagi." jelas Calla dan dia menceritakan ini karena mencium aroma dari Lilem.
"Suamimu sepertinya orang baik." Gumam Tama, Calla lalu menatapnya dan menghela napasnya panjang.
"Mereka baik, hanya dimanfaatkan oleh tanteku saja. Aku menikah dengan suami pertamaku karena emosi kau selingkuh dengan Lidia sehingga aku menerima perjodohan itu." Ketus Calla menatap tajam ke Tama yang sudah gugup melirik ke Alister.
"Maksudmu dia selingkuh? Kalian..." Timpal Flo karena dia belum mengerti.
"Dia mantanku Flo dan saat itu aku akhirnya bisa melupakan cinta pertamaku yang tidak bisa aku dapatkan lalu aku tersentuh dengan usahanya mendekatiku bertahun-tahun tapi baru 2 bulan pacaran dia sudah tidur dengan Lidia sepupuku." Uangkap Calla membuat Flo terkejut.
"Lalu aku menikah saja, mungkin bisa melupakan semua pria dalam hidupku tapi malah nasibku buruk, saat tau dari suami keduaku kalau tante dan sepupuku yang merencanakan semuanya aku baru tau kalau suamiku dibunuh oleh mereka. Tapi aku tidak punya bukti jadi aku pergi." Lanjut Calla yang sudah ingin menangis sejak tadi.
"Jadi kamu tau selama ini mereka sangat jahat? Kenapa kau terima saja saat mereka bilang kau pembawa sial?" Tanya Alister yang heran melihat Calla.
"Aku memang pembawa sial, sejak awal memang seharusnya aku tidak dilahirkan. Saat ibuku melahirkanku dia sudah sering sakit, padahal dokter sudah bilang dia tidak akan kuat melahirkanku tapi ibu memaksa sampai ayahku menjual semuanya untuk mengobati ibuku dan aku juga yang menyebabkan mereka meninggal." Calla sudah menangis mengingat hal buruk yang menimpanya.
"Jangan menangis Calla, aku bukan pembawa sial.. kau dilahirkan hanya untukku, kau harus percaya itu saja." Ujar Alister menenangkannya sambil mengelus punggungnya lembut.
"Kalau aku punya pacar lagi pasti Lidia akan merebutnya atau jika aku menikah lagi, suamiku akan mereka celakai lagi.." Ujar Calla kini menatap Alister dengan airmatanya yang masih mengalir deras, mereka telah menjadi tontonan beberapa pengunjung cafe disana dan Flo juga bingung harus berbuat apa.
"Gak Calla, mereka berdua disini untuk membantumu menyelesaikan semuanya, jadi kau harus kuat dan lawan mereka balik, jangan takut.. banyak yang mendukungmu." Ujar Flo untuk memberi kekuatan dan menenangkan Calla, dia mulai tenang dan melankutkan pembicaraan.
"Tapi yang aku bingung, kenapa tantemu dan anaknya begitu benci padamu? Soalnya dulu saat Lidia mendekatiku dia sangat berusaha membuatmu jelek dimataku Calla, tapi jujur aku tidak pernah berbuat apa yang kau tuduhkan padaku." Ujar Tama dan Calla menatapnya, untuk apa dia menjelaskan itu sekarang, semua telah terlambat.
"Karena aku mirip mami, dia benci mami karena papi lebih milih menikah dengan mami waktu mereka mau dijodohkan dulu dan akhirnya dia punya kesempatan untuk membalas sejak aku tinggal disana. Kakakku benci padaku dan tidak ada yang bisa menolongku. Aku hanya diam agar mereka tidak terlalu menyiksaku, pernah satu kali aku berontak, hasilnya ini." Calla membuka sedikit bajunya dan di bahunya ada luka yang membekas, sepertinya luka yang sangat dalam.
"Ini kenapa?" Tanya Alister panik melihat bekas luka yang mengerikan itu, dia mengelusnya dan rasa nyeri dihatinya sangat terasa sesak.
"Waktu SMA kelas 2, sebenarnya aku sudah mau dijual oleh tante untuk menikahi pria tua untuk dijadikan istri ke 3, aku tidak mau dan berontak akhirnya aku dikurung 3 hari tanpa makan dan minum saat itu kak Andy yang selalu diam-diam melempar botol minum dan roti dari jendela kamar kami yang bersebelahan. Lalu saat tanteku Lidia dan Lina lengah aku kabur tapi langsung ketahuan dan ditarik oleh mereka lagi. Aku langsung di tusuk dengan pulpen yang saat itu dipengang Lidia, aku hanya di rawat dengan kotak P3K seadanya sampai lukaku ini membusuk baru diantar ke puskesmas, pria tua itu tidak jadi menikahiku karena luka ini membusuk dan membuatnya jijik. Sejak itu kak Andy lah yang melindungiku dan mengancam mereka akan lapor ke polisi kalau sesuatu terjadi padaku." Jelas Calla, dia semakin sedih, Flo sudah menggenggam tangannya memberi kekuatan.
Alister menggeram kesal sambil memukul meja. "Jangan hancurkan meja lagi." Protes Calla karena dia mengingat bagaimana meja Edo sampai retak.
Setelah mendengarkan cerita Calla mereka semua terdiam, tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan kehidupan wanita yang sangat cantik ini, kenapa dia begitu menderita?
__ADS_1
TBC~