Magical Flower

Magical Flower
BAB 87 - Aster dan Iris


__ADS_3

"Iris, bermakna kesetiaan, persahabatan, kebijaksanaan dan harapan." Ucap Flo menatap pada putri keduanya yang adalah peri penjaga hutan.


"Iris, aku suka ibu." Jawab Iris lalu memeluk Flo dengan erat. Dia tau setelah ini dia akan jarang bertemu orang tuanya.


"Lalu kakakku yang lucu dan cantik ini namanya belum diberikan." Lanjutnya lagi sambil mengelus pipi bayi yang masih tidur di samping Florian yang juga tidur.


"Nanti kita tunggu ayah saja ya.. pasti ayah juga ingin memberikan nama untuk salah satu dari kalian." Jawab Flo dengan senyum tulusnya sembari menggenggam tangan Iris, dia masih tidak percaya sudah memiliki dua putri padahal baru 2 hari dia menikah.


"Baik ibu.. sebentar lagi ayah akan bangun tapi.. mungkin ayah akan susah menggerakkan tubuhnya karena kekuatannya yang hilang begitu banyak dalam satu waktu. Ibu yang sabar ya.. aku akan kembali ke lembah untuk membantu peri lainnya menumbuhkan tanaman disana."


Setelah Iris pergi, Flo menghela nafas dalam-dalam karena sedikit lelah dengan keadaan saat ini. Bayinya tidak bisa mengkonsumsi asi karena Flo tidak melewati proses kelahiran layaknya manusia biasa sehingga hanya bisa memberikan susu formula yang sudah disiapkan Florian yang entah kapan dia menyiapkan semuanya.


Kamar yang terkunci sudah dibuka dan isinya sungguh membuat Flo tercengang, memang benar suaminya itu bisa melihat masa depan dan telah menyiapkan segalanya. Sudah ada berbagai perlengkapan bayi perempuan beserta pakaian lengkap, susu dan mainan.


.


.


.


Florian terbangun dengan tubuh yang tidak bisa dia gerakkan, hanya tangan itu pun lengannya tidak bisa dia angkat. Florian menoleh dan melihat Flora dan bayinya sedang tertidur di sampingnya dan akhirnya dia tersenyum.


"Kalian adalah hidupku, aku akan cepat pulih agar bisa menjaga kalian." Ucapnya pelan.


Flora yang memang sedang dalam mode was-was terbangun hanya mendengar suara pelannya Florian.


"Maaf mengganggu tidurmu Flo." Ucap FLorian merasa bersalah.


"Tidak.. aku memang harus bangun karena kau belum makan siang dan ini sudah sore." Jawabnya lalu beranjak bangun untuk mengambilkan bubur yang telah dia masak.


"Tadi ada seseorang yang datang dan membawa kulkas yang begitu besar. Aku terkejut bahwa kau yang menyuruhnya." Ucap Flo lagi setelah dia kembali dari dapur mungil mereka.


"Iya.. dan aku juga sengaja membangun rumah ini jauh dari tempat tinggal peri agar asistenku itu bisa keluar masuk tanpa mengganggu atau menakuti mereka." Jawab Florian lalu Flo dengan sabar menyuapinya makan sampai bubur itu habis.


"Katanya akan seminggu sekali datang untuk menyiapkan persediaan makanan kita. Apakah dia memang orang kepercayaanmu dan dia tau tentang kita yang sebenanrnya?" Tanya Flo lagi yang memang sedikit penasaran.


"Hem.. dia sudah generasi ke 4 yang menemaniku, sebelumnya ada kakek buyut, buyut, kakek ayah.. aku tak tau apa sebutannya hehehe.." Jawab Florian sedikit terkekeh.


"Sekarang dia cukup tua, apakah nanti anaknya akan bersama kita lagi?"

__ADS_1


"Mungkin, dia sudah 57 tahun dan anaknya sekarang sedang menggantikanku mengurus perusahaan. Nanti dia juga akan menemani kita dan anak-anak kita sampai cucu kita mungkin."


"kenapa bisa begitu?"


"Aku menolong kakek buyut mereka saat menjadi budak dulu di China dan sejak itu dia dan keturunannya bersumpah akan setia padaku padahal aku sudah menolaknya tapi dia tetap mengikutiku, ya sudah aku izinkan saja. Sampai saat ini mereka setia padaku."


"Ohh begitu..."


"Florian.. bayi kita yang cantik ini belum ada nama, kalau peri penjaga kita aku sudah beri nama Iris, bagaimana?"


"Ehm.. Iris.. kalau begitu bayi cantik kita aku berinama Aster bagaimana?"


"Bagus, Aster dan Iris."


Flo lalu membantu Florian untuk membersihkan diri, mengelap seluruh tubuhnya agar lebih segar. Setelah itu Florian juga melatih kaki dan tangannya dengan gerakan kecil berulang-ulang ditemani oleh Flo yang kini sambil menjaga Aster yang sudah bangun.


# # # # # # #


1 tahun berlalu,


Kini Florian masih duduk di kursi rodanya, meskipun dia sudah bisa berdiri tapi tidak lama. Jika mereka akan jalan-jalan maka Florian akan memakai kursi roda agar tidak menyulitkan Flo yang harus menjaganya. Karena tempat ini yang mempunyai tanah yang tidak rata.


"Aku sangat ingin membantu tapi sudah tidak bisa berbuat apapun." Ucap Flo dengan lirih sambil melihat para peri bekerja.


"Siapa bilang? Itu.. bunga-bunga itu kau rawat dengan baik kan dengan tangan ajaibmu." Ujar Florian yang tau kalau Flo sedang sedih.


"Ehm.. iya, aku akan berusaha." Balas Flo kini mengembangkan senyumnya.


"Tuan Florian.." Panggil seorang pria tua yang baru saja menghampiri mereka.


"Oh kau sudah datang Oliver." Balas Floria dan asistennya itu mengangguk.


"Semuanya sudah dipersiapkan dan sesuai dengan permintaan nyonya, ayunan juga sudah di buat." Lapor Oliver dan Florian mengangguk.


"Terima kasih Oliver." Ucap Flo dan Oliver hanya menunduk sedikit lalu pamit pergi.


"Ayo putri ayah yang cantik, kita main ayunan." Ajak Florian dan Flo yang mengerti keinginan suaminya langsung memutar kursi roda itu dan kembali ke halaman rumah mungil mereka.


Aster yang memang sudah bisa berjalan dengan kaki mungilnya langsung ke arah ayunan itu. Tanpa di duga, ayunan dari kayu sederhana itu tiba-tiba berubah di penuhi bunga beraneka jenis dan warna begitu di sentuh oleh Aster.

__ADS_1


"Aster!" Pekik Florian dan Flo secara bersamaan, tak percaya dengan penglihatan mereka.


Sementara Iris yang tengah bersama dengan para peri berhenti dan tersenyum sambil melihat ke arah rumah mungil itu dari jauh.


"Kau sudah tumbuh kakak kecilku." Gumam Iris lalu segera terbang ke rumah orang tuanya.


"Iris, Aster dia..." Flo langsung memanggil Iris begitu tau dia datang.


"Tenang ibu.. kakak ku sudah tumbuh. Dia terlahir dari peri dan manusia dengan kekuatan peri penjaga pastinya dia akan jadi manusia yang hebat." Ucap Iris dengan senyum manisnya lalu mendekat ke Aster yang masih dengan tidak sadar menumbuhkan banyak bunga disana.


"Aku akan membawnaya dan dia bisa menumbuhkan bunga di lembah yang sudah hijau. Ibu dan ayah mau ikut?" Tanya Iris dan tentu saja mereka mengangguk tanpa menunggu lagi.


Iris menerbangkan mereka untuk segera menuju ke area lembah yang sudah menghijau dengan rumput dan ilalang yang sengaja mereka tanam sebab tanama itu yang sangat cepat tumbuh dengan cuaca seperti apapun.


"HUaaaa sudah lama tidak terbang... yuhuuuu..." Flo melambai kebawah karena melihat Petunia dan Bud dalam wujud besar mereka dan Petunia membalas lambaian tangan Flo dari bawah, entah apa yang mereka lakukan.


"Ya ampun Flo.. jangan terus-terusan bergerak nanti jatuh." Tegur Florian yang masih duduk di kursi rodanya yang terbang bersama mereka. Sedangkan Aster berada dalam pelukan Iris.


"Hai FLo..."


"Flora, akhirnya datang."


"Selamat siang Flo.."


Beberapa peri menyapanya dan Flora langsung mengikuti mereka dan terbang bersama meskipun tanpa sayapnya, Flo sangat lincah.


Iris mendaratkan mereka di tengah padang rumput hijau dan luas, disana dia meletakkan Aster yang senang dan tertawa, lalu bunga-bunga berbagai jenis hidup di sekelilingnya.


"Sepertinya kalian akan lama tinggal disini." Flo terkejut dengan suara itu.


"Petunia!" Pekik Flo tanpa sadar.


"Aster, dia mempunyai tangan ajaib peri dan tugas kita untuk mengontrol kekuatannya Flo.. lihat." Petunia menunjuk kearah Aster yang telah menumbuhkan dengan asal begitu banyak bunga sesuka hatinya.


"Dia cocok di lembah ini, setelah semua penghijauan selesai pastikan Aster sering bermain disini hahaha." Ujar Bud diakhiri tawa senangnya.


"Pasti.. Aster juga sangat senang." Balas Florian yang masih menatap putri kecilnya sambil tersenyum.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2