
Jason dan Riana bersiap untuk pulang setelah beberapa hari di RS, Imel sejak tadi memberingan pesan untuk Jason dan Riana bagaimana menjauhkan Poppy dari para lelaki seperti yang dulu dia lakukan, dia sangat takut jika Poppy mengalami hal yang sama seperti dirinya.
"Sudahlah sayang.. mereka tau cara menjaga Poppy dengan baik." Ucap Fano sejak tadi menengkan Imel.
"Kau punya usaha pengangkutan kan? jangan biarkan Poppy mendekati wilayah yang banyak supir itu seperti dulu ayahku menjauhkan ku dari para pekerja di perkebunanya, itu sangat berbahaya." Ujar Imel dan Jason langsung memucat.
"Iya juga, itu bahaya.. kita harus pindah Riana, nanti setelah mereka agak besar aku akan beli rumah di sekitar kota saja dan aku akan bekerja keras agar bisa membeli rumah baru untuk kita." Ujar Jason dan Riana hanya mengikuti saja.
"Benar, carilah rumah yang dekat dengan kita." Ujar Damian dan Jason juga setuju agar lebih banyak yang akan mejaga putri cantiknya ini.
Damian dan Yana pulang kerumah, setelah Yana membawa barang-barang dari rumah ayahnya pindah ke rumah Damian, sedangkan Fano dan Imel sudah sejak tadi ada dirumah dan sedang minum teh bersama Lusia dan Ken sore itu.
"Udah ya mami papi, kami mau tidur dulu.. Imel dah 2 malam gak tidur." Pamit Fano tapi di cegah oleh Lusia.
"Mau tidur dimana?" Tanya Lusia menatap curiga pada Fano.
"Yah di kamar Fano lah.." Jawabnya.
"Gak boleh, kalian belum nikah.." Larang Lusia dan menarik Imel yang sudah sangat mengantuk.
"Ih mami, dulu bang Dami dan kak Yana aja dibiarin tidur bermalam di kamar berdua, kenapa Fano gak boleh?" Lusia nyengir mendengarnya.
"Iya sih.. tapi kan dulu tuh Yana gada perasaan sama Dami, kalian beda.. nanti tiba-tiba mami punya cucu gimana?" Tanya Lusia sembari menggoda Fano dan Imel sudah terkejut dan sadar dari ngantuknya.
"Biar aja peri kecil, biar kita cepat punya cucu." Kata Ken dan Fano setuju.
"Lah, kan kita bisa punya cucu dari Dami dan Yana duluan." Ujar Lusia dan Damian yang sedang baru sampai dengan Yana hanya tersenyum canggung mendengar ocehan Lusia.
"Nah tu dia pengantin barunya." Ujar Ken menunjuk ke Damian dan Yana yang baru sampai disana.
"Kalian istirhahat saja, dan malam ini buatkan cucu untuk papi dan mami." Kata Ken dan Yana langsung tertunduk malu, sedangkan Damian sudah menarik lengan Yana dan membawanya ke kamarnya.
Fano juga sama, membawa Imel ke kamarnya agar bisa istrirahat, Imel yang melihat kasur besar dan empuk Fano untuk pertama kali tidak malu-malu lagi dan langsung menaiki kasur itu dan merebahkan dirinya dan langsung terletap, bahkan dia masih mengalungkan tas di pundaknya.
Kembali ke kamar Damian, Yana merasa malu dan hanya duduk di tepi kasur Damian membuat suaminya itu heran melihatnya.
"Kenapa? Biasanya kau akan lompat dan langsung mengacak kasurku begitu kemari." Tanya Damian dan Yana menatapnya kesal.
"Sekarang kan status kita sudah beda Dami, aku malu kalau harus begitu lagi." Jujur Yana membuat Damian tertawa keras.
"Hei.. kau tetaplah jadi Yana yang biasa, aku suka dengan Yana yang apa adanya, kenapa malu sih.. aku sudah tau baik burukmu Yana yang bahkan tidak kau tau." Ucap Damian yang langsung mendapatkan pelototan oleh Yana.
"Maksudmu yang aku gak tau?" Tanya Yana penasaran.
"Kau itu kalau tidur suka ngigau dan marahin orang yang membuatmu kesal hari itu dan mengumpatnya." Kata Damian dan Yana tidak percaya.
"Dami, kau jangan asal bicara." Kesal Yana dan memukul lengan Damian.
"Duh pedasnya.. itu benar, sudahlah istirahat dan nanti kita makan malam bersama seluruh keluarga." Kata Dami dan Yana menjadi sedikit gugup, padahal biasanya juga dia makan malam bersama semuanya tapi kali ini statusnya berbeda.
"Em... Dami, kenapa kau mau menikah denganku?" Tanya Yana dengan suara gugupnya.
"Karena aku mencintaimu Yana." Jawab Damian dan kini dia sudah duduk di samping Yana di tepi tempat tidur.
"Sejak kapan?" Tanyanya lagi.
"Sejak pertama kali aku melihatmu." Jawaban Damian membuat Yana sangat terkejut.
"Kenapa gak bilang?" Yana membulatkan matanya dan melihat Dami dengan dekat.
"Karena kau sangat menyebalkan, selalu berganti pacar makanya aku susah untuk mengatakannya." Damin menoyor kening Yana dengan pelan karena gemas dengannya.
Yana tertunduk malu karena memang dia selalu bergonta ganti pacar saat masih remaja dulu tapi hanya sekedar status, gaya pacaran mereka hanya sebatas pegangan tangan tidak lebih.
"Kalau kau katakan aku bisa berhenti mencari pacar waktu itu." Balas Yana dan Damian menghembuskan napasnya pelan.
__ADS_1
"Kau tidak pernah melihatku sebagai pria, aku hanya teman bagimu." Sambung Damian dan Yana baru sadar sesuatu.
"Gak kok, aku pernah menyukaimu sebagai seorang lelaki. Tapi saat itu kau sedang dekat dengan si wakil osis yang genit itu jadinya aku mundur, aku kira kau pacaran dengan dia. Saat aku sudah mengubur perasaanku datanglah Jason membuatku terpesona." Jelas Yana yang membuat Damian sangat terkejut,
"Jadi waktu itu kau menghindar dariku karena kau kira aku dan dia pacaran?" Tanya Damian dan Yana mengangguk.
"Oh Tuhan.. aku ga ada hubungan apapun dengan dia, siapa sih namanya aku lupa. Dia memang selalu mengerjarku dan karena aku ketua osis makanya sering bersama.. seandainya waktu itu, ah sudahlah..." Damian menghentikan ucapannya, dia sangat frustasi, banyak kata seandainya di kepalanya saat ini.
"Lalu bagaimana perasaanmu padaku sekarang?" Tanya Damian dan Yana merebahkan dirinya dikasur, Damian melihatnya dan ikut merebahkan dirinya disamping Yana seperti dulu.
"Aku selalu menempatkanmu dihatiku, di tempat khusus tapi aku tidak tau tempat apa itu, kau selalu di hatiku Dami. Tapi aku capek dan lelah mencintai tanpa dicintai, Aku ingin menikmati diriku dicintai saja dan menerima cinta itu." Jawab Yana dan Damian senang mendengarnya, setidaknya ada dirinya dihati Yana.
"Aku akan memberikan seluruh cintaku, kau percaya?" Ucap Damian dan Yana mengangguk.
"Aku percaya, saat Flo bilang kau tulus dan buktinya bunga itu tumbuh dengan cepat. Tapi aku yang tidak bisa menerima diriku yang kurang ini dihadapanmu, aku sudah..." Damian membungkam Yana dengan menciumnya agar dia tidak membicarakan hal itu lagi. Bagi Damian, Yana menerimanya saja itu sudah cukup, yang lainnya tidak penting baginya.
"Jangan bicarakan itu lagi, kau cuma boleh merasakan cintaku saja dan menerimaku dengan iklas. Kau mengerti Yana?" Ucap Damian dan Yana mengangguk pelan.
"Kenapa kau sangat kaku saat ciuman?" Tanya Damian dan Yana memukulnya karena kesal.
"Aku tidak pernah ciuman, kalau dalam keadaan tidak sadar aku tidak tau, lalu kau tidak pernah punya pacar kenapa jago ciuman?" Yana balik bertanya karena ciuman yang diberikan Damian membuatnya terlena.
"Yang benar? Wah kau sangat polos ternyata, kalau aku jago sendiri karena itu kau, istriku..." Jawab Damian membuat Yana malu mendengar kata istriku.
.
.
Imel makan yang banyak ya.. besok kita akan lanjut syuting lagi." Ucap Ken dan Imel mengangguk tapi Fano yang mencebik kesal.
"Bidadari.. seneng deh bisa makan malam sama bidadari ini." Kata Morgan dan dia sudah duduk di samping Imel membuat Fano makin kesal.
"Ganti panggilanmu itu Morgan, Imel calon kakak iparmu." Tegur Lusia tapi Morgan malah tambah ingin menggoda Fano yang terlihat sebal malam ini.
Pletak!
"Aduh bang Fano, Morgan cuma canda bang, masa langsung di getok ni kepala." Keluh Morgan karena jitakan Fano sudah mendarat mulus di kepalanya.
"Makanya janga iseng, kena kan.." Ejek Tatiana yang sejak tadi terkikik geli.
"Kak Ana juga sama aja, kapan nikah? Jangan nanti cuma jagain jodoh orang loh.." Morgan berulah lagi sebab Tatiana juga sedang dalam masa menjalani keretakan hubungan dengan pacarnya.
"Morgan sudah.. jangan godain kakakmu. Kamu sendiri jangan main terus.. kasian anak gadis orang kamu pacarin tapi ga ada ujungnya." Lusia menasehati dan Morgan terkekeh.
"Tenang mami.. Morgan udah putusin semua pacar-pacar Mogan dan hanya akan fokus ke 1 wanita saja." Ucap Morgan dengan serius.
"Halah.. nanti juga putus trus cari yang baru lagi." Ujar Damian yang baru turun bersama Yana dan duduk di depan Morgan dan di samping Tatiana.
Lusia sedang mengatur para pelayan untuk segera menyiapkan makan malam mereka dan kali ini Lusia masak bebek peking lagi kesukaan Ken dan Imel, juga ada sup herbal ayam kampung kesukaan Tatiana, telur kukusnya Damian, sup tahu dan bakso ikannya Fano, sapo tahu kesukaan Yana dan beberapa jenis sayuran lainnya.
"Loh mami, punya Morgan mana? Mami pilih kasih ih.." Protes Morgan karena makanan kesukaannya tidak ada.
"Lah anak mami yang paling bontot bukannya pemakan segala? Mami mana tau makanan kesukaan kamu." Jawab Lusia dan Morgan mencebik kesal.
"Morgan tuh sukanya.. apa yah? Iya sih Morgan makan semuanya." Ujar Morgan dan Damian sudah menyendokan semua makanan ke piring Morgan karena dia pasti akan memakannya.
"Tapi kamu yakin udah putusin semua pacar kamu?" Tanya Damian dan Morgan mengangguk cepat, "Iya.."
"Trus jomblo dong..." tukas Tatiana dan dijawab "Iya..."
"Wah berarti udah gak ada gadis di luar sana yang tersakiti lagi nanti.." Sambung Yana yang tau sepak terjang si bungsu ini.
"Em.. iya, soalnya Morgan lagi ngejer seseorang." Ujar Morgan dan Lusia kembali menatapnya tajam, sedangkan Ken hanya tertawa, dia tau anak bungsunya tidak mungkin kosong.
"Morgan, kamu itu jangan bikin anak gadis orang nangis lagi.. kasian mereka." Lusia kembali menasehati dan Morgan masih dengan santai menikmati makan malamnya.
__ADS_1
"Tapi mami, dia bukan gadis... tapi istri orang." Jawab Morgan dengan cuek.
"APA?" Semua orang terkejut, bahkan Imel sampai batuk-batuk dan Fano dengan cepat memberikannya minum.
Damian dan Yana memandanginya dengan tak percaya. Lusia menepuk dadanya dan Ken mengelus punggung istrinya yang terkejut.
"Morgan!! Mami gak mau kamu jadi pebinor ya!" Bentak Lusia pada anaknya.
"Tenang mami, Morgan lagi tunggu jandanya kok.. dia sedang galau dan Morgan cuma masuk untuk cari celah dan kesempatan agar dia gak bebelok ke pria lain jadi Morgan hanya bertindak cepat. Gak mau kaya bang Dami dan bang Fano, lama." Jelas Morgan dan getokan sendok mendarat lagi dikepalanya hadiah dari Damian dan Fano.
"Duh, kak.. gimana anakmu itu, liat 2 abangnya setia banget kenapa dia gitu sih!" Keluh Lusia ke Ken dan suaminya itu juga bingung dengan kelakuan anak bungsunya. Sedangkan Tatiana sepertinya tau siapa yang dikejar oleh Morgan.
"Jangan bilang kalau dia..."
"Yup betul."
Morgan sudah memotong dan Tatiana tampak menghela napasnya.
"Kenapa Ana? kamu kenal siapa wanita itu?" Tanya Lusia dan Tatiana mengangguk.
"Dia sangat kasihan mi.. Morgan kalau kamu main-main jangan ganggu dia, mereka sudah sangat menderita dan jangan tambahin lagi." Tegas Tatiana dan Morgan malah tersenyum lebar mendengar nasihat kakak perempuan satu-satunya itu.
"Mereka? apa lagi ini?" Lusia bingung dan makan malam itu terasa hambar.
"Duh mami, dia teman model Ana dan kasihan sekali dia. Diperkosa dan sekarang nikah sama suami kejam." Ujar Tatiana dan Imel langsung menjatuhkan sendoknya membuat suara gaduh dan Fano mengelus punggungnya.
"Gak papa kok.. cuma kaget aja." Ucap Imel pelan dan semua baru sadar kalau Imel juga menghadapi hal yang sama.
"Terus kak?" Tanya Imel pada Tatiana, semua memandang ke arah Imel yang wajahnya sudah cemas.
"Yang pertama saat dia mabuk..." Kali ini Yana yang menjatuhkan sendoknya, dia menginat dirinya sendiri dan Damian menggenggam tangannya.
"Maaf, tenganku licin." Ucap Yana lirih.
Tatiana melanjutkan, "Dia dijebak oleh pacarnya sendiri mi, karna dia cantik banget dan 2 tahun kemudian nikah sama suami kejamnya kasihan deh mi dia sama anaknya." Jelas Tatiana dan Lusia tampak menghela napasnya panjang.
"Kenapa kisah cinta anak-anakku gak ada yang normal." Batinnya lalu dia menatap Morgan dari jauh, yang ditatap hanya santai menikamati makannya hingga habis.
"Morgan.. mami gak melarang kamu mau cari pasangan yang bagaimana, tapi tolong jangan rusak rumah tangga orang nak." Ujar Lusia yang tampak lesu.
"Mami.. Morgan ga rusak rumah tangga orang tapi memang dari sananya sudah rusak mi, Morgan cuma ambil kesempatan aja." Jelas Morgan dan Damian memberinya tanda agar diam saja karena dia melihat maminya sudah lemas mendengarnya.
"Papi juga ga masalah dia janda atau apapun, yang penting jangan rebut istri orang. Biar dia cerai dulu baru kamu dekati." Tegas Ken dan kali ini Morgan menurut.
"iya papi.."
"Sudah biacarain rumah tangga orangnya, sekarang Fano mau papi cepat selesaikan film itu karena Fano mau nikah sama Imel." Ujar Fano kesal karena makan malam mereka jadi hancur.
"Sabar dong Fan.. kan abang mau resepsi lagi, kamu tunggu giliran atau mau bareng aja?" tanya Damian dan Fano menggeleng.
"Gak! aku mau pernikahanku special, iya kan sayang?" Tanya Fano pada Imel yang sejak tadi diam memperhatikan dan dia hanya menaikkan bahunya tanda tidak tau.
Makan malam berakhir dan Damian membawa Yana kembali ke kamar mereka untuk kembali istirahat. "Kamu udah mandi?" Tanya Damian dan Yana menggeleng sambil nyengir.
"Mandi dulu, kamu nih cantik-cantik tapi jarang mandi. Ingat ini akan jadi malam pertama kita jadi kamu harus bersih dan wangi." Bisik Damian dan Yana segera menghindar dan masuk kedalam kamar mandi.
Di dalam dia sudah gugup karena tidak tau harus bagaimana menghadapi Damian. Sebagai istri dia harus melayani suami dengan baik tapi dia belum siap.
Yana keluar sehabis mandi dan Damian sudah duduk selonjoran ditempat tidur menunggu Yana, "Kemarilah Yana.." Panggil Damian dan Yana menurut dan duduk di sebelah Damian.
"Aku gak akan melakukannya jika kau belum siap, jadi jangan takut, bersikaplah seperti biasa saja.. aku akan membuatmu jatuh cinta padaku Yana.." Ucap Damian dan Yana sedikit lega mendengarnya.
"Makasih Dami, kau yang terbaik." Yana memeluk Damian dan malam itu mereka hanya tidur bersama.
TBC~
__ADS_1