Magical Flower

Magical Flower
BAB 48 - Juniper (Part 6 - End)


__ADS_3

Hampir 2 bulan Zidan terus saja berada di rumah Juni bahkan sampai tidur disana, sofa ruang tamu itu telah berubah menjadi tempat tidur Zidan, tapi dia juga suka curi-curi waktu malam hari dan tidur disamping Juni jika dia sudah terlelap. Juni tau, bahkan terkadang dia pura-pura tidur cepat agar Zidan bisa istirahat dengan nyaman di tempat tidur.


Alasan Juni masih keras kepala adalah dia ingin tau bagaimana usaha Zidan untuk membujuknya dan sebenarnya dia tidak tega tapi demi membalas perlakukan Zidan pada Aretha yang masih saja dingin sampai sekarang, Fano juga mendukungnya untuk memberi pelajaran pada Zidan.


"Anaknya papa.. udah bangun yah.." Zidan masuk ke dalam rumah kontrakan itu dan melihat Hansel yang sejak tadi tidur tapi begitu Zidan datang baby lucu itu langsung terbangun.


"Juni pada Bi?" Tanya Zidan sambil melihat sekeliling tapi Juni tidak ada di sana.


"Non Juni ada di kamar belakang cari kopernya mau ambil baju lamanya, baju yang sekarang udah makin longgar katanya, ada non Imel juga den.." Jawab Bi Ratih dan Zidan segera ke kamar belakang untuk menemui 2 wanita itu.


"Jadi mau sampai kapan Jun kau mengerjai Zidan? Kasian loh dia tidur disofa mulu." Ujar Imel dan suaranya terdengar oleh Zidan yang masih berjarak beberapa langkah sebelum sampai pintu, dia berhenti dan ingin mendengar jawaban Juni.


"Gak juga Mel, dia sering kok tidur dikamar kalau aku dah tidur. Yah sebenarnya dari semenjak Ibu datang pertama kali dan dengar penjelasannya uda ga marah sih, tapi rasanya belum puas aja, gara-gara dia Aretha sampai begitu menderita. Lagian salahkan suamimu yang menyuruhku kerjain Zidan minimal sampai 2 bulan." Jelas Juni dan Zidan merasa kesal mendengar nama Fano yang ternyata ada kaitannya.


"Jadi selama ini kamu cuma pura-pura?" Ujar Zidan setelah masuk kedalam kamar itu, Juni yang terkejut menjauhkan koper berat yang telah dia temukan, untung saja Zidan dengan cepat berhasil menangkap koper itu.


"Kamu ngagetin sih haduhh..." Juni mengelus dadanya pelan karena terkejut, koper itu ada di bagian atas kepalanya kalau jatuh maka kepala Juni yang akan tertimpa duluan.


"Iya maaf.. aku mau bicara." Zidan menarik Juni lalu masuk kedalam kamarnya dan mengunci kamar itu. Imel yang bengong hanya bisa menunggu mereka sambil menunggu Fano dengan baby J yang sedang jalan-jalan di sekitar sini karena baby J rewel sejak tadi.


"Jelaskan.." Ujar Zidan dengan nada memerintah tapi Juni malah diam, Juni duduk di tepi ranjang dan Zidan berdiri tepat didepannya. "Juniper, jelaskan semuanya.."


Karena kesal Zidan mencium Juni, tidak tidak peduli dengan penolakan dan pukulan Juni di dadanya.


"Kalau ga mau ngomong aku cium terus." Zidan terus-terusan menciumnya sampai Juni menyerah dan mengangguk di sela ******* bibirnya.


"Iya.. sabar." Kesal Juni sambil mengusap bibirnya yang sudah merah. "Gimana? Enak gak di cuekin?" Tanya Juni kemudian Zidan menggeleng.


"Nah itu yang dirasakan Aretha selama ini bahkan dari kecil dia menyukaimu dan kau tidak bisa tegas menolaknya." Ujar Juni dengan nada ketus.


"Tapi harusnya dia tau kalau aku gak suka padanya, memangnya dia itu bodoh?" Sanggah Zidan, Juni berdecak, Zidan malah kini sudah duduk disamping Juni dan mengelus lembut rambutnya yang tergerai indah.


"Cinta membuat orang jadi bodoh, kau tidak tau?"

__ADS_1


"Iya aku juga jadi bodoh karena terlalu mencintaimu."


"Nah itu tau, makanya kau harusnya tegas kalau memang gak suka tegaskan ke Aretha agar dia bisa berhenti, karena kau diam dia merasa ada peluang karna kau gak nolak atau gak juga luluh. Apalagi waktu disuruh tunangan dan nikah, gak ada penolakan sama sekali kan?"


"Maaf, aku gak nolak karena aku pikir kau sudah kecewa padaku dan pergi dariku, lagipula aku gak bisa mencarimu karna aku di singapura dan Aretha juga terus mencarimu tapi kata ayahnya kau tidak ditemukan, ternyata itu bohong."


"Aku memang kecewa karena kau lupa setelah memperkosaku, padahal pagi itu aku berharap kau setidaknya minta maaf, aku menunggu tanggungjawabmu tapi malah kau tidak ingat sama sekali, tubuhku sakit tapi hatiku lebih sakit lagi."


Zidan memeluk Juni dengan erat, dia tidak akan melepaskan wanita ini lagi, kata maaf dan cinta terus keluar dari bibirnya,  seorang Zidan Adhitama menangis dihadapan wanita yang sangat dia cintai, pria dingin dan arogan itu tunduk dan memang menjadi bodoh di hadapan Juni.


"Semua udah terjadi Zidan.. jangan sesali apapun, kau harus janji, pergi dan minta maaf pada Aretha setelah ini."


"Iya aku janji."


Selesai berbicara, mereka keluar dan mendapati Imel, Fano dan baby J sudah ada di ruang tamu dengan baby Hansel.


"Dasar teman gak ada akhlak! Semua idemu kan!" Ujar Zidan begitu melihat Fano.


"Ada alasannya bro, itu butuh 2 bulan lagian tinggal 4 hari kok.." Jawab Fano terkekeh geli melihat wajah Zidan yang sudah ditekuk kesal.


"Hahahaha alasannya karena ini."


Fano melemparkan sebuah undangan ke meja depan mereka, Zidan mengambilnya dan, "Ini.. beneran?" Zidan melihat ke Juni yang duduk di sebelahnya.


"Gak mau? kalo ga mau ya.."


"Eh, mau lah.. sangat mau."


Zidan mengecup pipi Juni lalu memeluknya dengan erat dan menciumnya lagi berkali-kali sampai Juni kesal dan mendorong wajahnya untuk menjauh.


"Nah alasannya juga karna itu..Kalau Juni dari awal maafin kamu, hasilnya..seorang Zidan Adithama gak akan tahan kalo ga nyentuh sang wanita pujaan, emang bisa tahan? Makanya aku usulkan 2 bulan agar setelah nikah bisa jebol gawang lagi? Juni baru melahirkan jadi ga mungkin bisa." Jelas Fano dan Juni sudah menunduk malu, kalau Zidan sudah pasti dia tertawa bahagia mendengarnya.


"Bener juga bro, emang yang udah pengalaman beda ya.. "

__ADS_1


"Iya lah, sebenarnya kata dokter cuma 40 hari tapi kemaren Imel sampai sakit lagi makanya lebih baik sampai 2 bulan sekalian." Jelas Fano lagi dan Zidan akhirnya mengerti.


"Berarti kalian semua sudah sekongkol untuk hal ini, wah.. trus itu juga alasanmu mulai olahraga dan makan sehat?" Tanya Zidan dan Juni mengangguk. Tentu saja, dia habis melahirkan dan akan membentuk tubuhnya lagi untuk menyenangkan suaminya nanti.


"Tapi bagaimana dengan orangtuamu Jun?" Tanya Zidan yang tau betapa marahnya ayah Juni saat dia pertama kali kesana setelah kembali dari singapura.


"Ayah sudah ga marah lagi, awalnya marah sampai ingin membunuhmu." Ujar Juni dan Zidan terlihat memucat dan menelan air liurnya dengan susah payah. "Tapi setelah Aretha menjelaskan semuanya ayah paham kok, kamu gak sengaja dan dalam keadaan mabuk."


"Aku harus ketemu ayah kalau gitu, aku takut dia akan murka lagi Jun." Ujar Zidan tapi Juni melarangnya dan Fano juga menyuruhnya tunggu saja sampai 4 hari lagi di acara pernikahan mereka nanti.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Ayah.. maafkan aku." Ucap Zidan sambil berlutut pada ayah dan ibunya Juni, disana juga ada adik-adiknya dan Aretha, Zidan meminta maaf pada semua orang dan mereka akhirnya saling memaafkan sebelum memulai pemberkatan pernikahan.


Semua berjalan lancar dan yang paling terlihat bahagia tentu saja Zidan, akhirnya dia bisa menikahi Juni sekretarisnya dan temannya yang telah dicintainya sekian lama.


"Akhirnya kau jadi milikku Jun." Bisik Zidan ketika mereka selesai menyalami beberapa tamu undangan, Juni tersenyum malu dan Zidan mengecup pipinya sekilas membuat beberapa tamu undangan tertawa melihatnya.


"Dah jadi suami istri, sabar bro.. tar malam kami bantu deh jagain Hansel biar kalian puas-puasin berduanya." Ujar Fano disana, dia menggandeng Imel dan Jarred ada di gendongannya.


"Thanks bro udah siapin ini semua, aku hutang banyak nih.."


"Ah.. gitu aja, bayar pake bikinin adek buat Hansel aja klo bisa cewe."


"Jangan dulu.. itu Hansel baru 2 bulan bro kasian Juni."


"Iya juga ya.. klo gitu aku aja deh mau bikin anak cewe hehehe..."


Akhir bahagia buat Juniper dan Zidan, Aretha memandang mereka dari tempatnya berdiri, dia lega meskipun cinta pertamanya harus dimiliki sahabatnya tapi inilah yang terbaik, tak ada yang tersakiti lagi.


"Kalian memang pasangan serasi, aku pasti akan menemukan pria yang akan mencintaiku dengan tulus." Gumam Aretha sambil tersenyum melihat Juni dan Zidan.


~Juniper (Juniper - Zidan - Arheta) - END~

__ADS_1


TBC~


__ADS_2