
"Maira!" Teriak Intan siang itu dan Maira yang kebetulan belum pergi ke konveksi segera menghampiri mertuanya yang sedang makan siang.
"Ada apa mih? Butuh sesuatu?" Tanya Maira begitu ada disebelah Intan yang sedang menikmati makanannya.
"Kamu pergi ke toko bunga di komplek depan dan beli bunga untuk Hendra, dia akan kencan dengan Gita malam ini." Perintah Intan membuat Maira membeku, tega sekali mertuanya menyuruhnya membeli bunga untuk calon madunya.
"Tapi mih.."
"Cepat.. jangan lelet jadi istri, ini demi masa depan Hendra yang telah kamu rusak." Bentak Intan dan Maira pun keluar setelah mengambil dompetnya. Maira memilih menyetir mobilnya agar bisa menangis di dalam mobil karena dadanya begitu sesak. Setelah puas menangis dia turun di Magical Flower yang selama ini membuatnya penasaran.
"Selamat siang mba, ada yang bisa saya bantu?" Sapa Flo ramah melihat Maira masuk saat pintu depan terbuka.
"Siang mba, mau pesen bunga mawarnya 1 buket ya yang ukuran sedang yang biasa saja ya..isi 8 tangkai." Ujar Maira dan Flo segera membuatkan buket cantik untuknya.
"Selesai." Ucap Flo memberikan bunganya dan membuat Maira tersenyum karena cantiknya bunga ini.
"Berapa ya?"
"200ribu mba.." Jawab Flo dan Maira memberikan uangnya lalu pergi lagi dari sana. Flo melihat gurat kesedihan dari wajahnya seperti habis menangis.
Maia kembali ke rumah dan sudah ada Hendra yang pulang cepat karena ternyata dia ada dinas keluar kota dan akan segera berangkat, "Mas berangkat sekarang?" Tanya Maira dan Hendra sedang menyiapkan sendiri kebutuhannya dengan berantakan.
"Maira, cepat bereskan bajuku aku akan ke Surabaya 3 hari." Maira lalu menusun kepeluan Hendra sampai selesai Hendra mengecup keningnya dan pamit pergi.
"Mami, ini bunganya bagaimana?" Tanya Maira sambil memegang bunga mawar itu.
"Kenapa jelek sekali buketnya? Kau sengaja beli yang murah? Buang itu, Hendra juga tidak ada percuma saja beli bunga." Hardik Intan dan Maira melihat bunga itu dan memilih menyimpannya saja di vas bunga miliknya di kamar.
Setelah 3 hari Hendra pulang dan dia akan bertemu Gita untuk kencan, Maira menahan tangisnya dan segera pergi membeli bunga lagi untuk Gita sang calon madunya.
"Mba pesen bunganya 1 tapi buketnya yang cantik yah, mirip itu saja..tapi banyakin mawarnya." Pinta Maira begitu masuk bertemu Flo yang dengan senang hati merangkaikan bunganya. Setelah membeli bunga Maira kembali dan melihat Hendra sudah rapi untuk bersiap pergi. Maira hanya memandangnya dengan air mata yang terus mengalir.
Hampir 1 bulan ini rutinitas Maira adalah membeli bunga seminggu dua kali untuk kencan suaminya, hari ini dia sudah tidak tahan dan dia berjongkok di luar rumahnya menangis pilu dan terisak tak sanggup lagi bertahan.
Setelah puas menangis Maira menghapus air matanya dan mencoba tegar, dia akan tetap berusaha menjadi istri yang baik, Hendra yang biasanya akan bersikap baik meskipun sedikit cuek, semakin tidak menganggap Maira lagi. Dia terang-terangan menceritakan kisah kencannya pada Intan saat sarapan pagi bersama.
"Aku harus bertahan beberapa bulan lagi setelah semuanya selesai aku akan minta cerai." Ujar Maira pelan setelah kembali ke kamarnya.
Maira mengambil surat rumah mereka dan menyimpannya di safety box bank atas namanya, emas dan perhiasan miliknya semua dia jual dan masuk ke rekening adiknya untuk sementara dan dia sedang menunggu hasil mengalihan nama konveksi dan beberapa kontrakan miliknya ke nama adiknya agar setetelah cerai hasil kerja kerasnya tidak dibagi ke suaminya. Dia tidak rela membagi hasil jerih payahnya untuk wanita lain.
"Mas, apa kamu masih mencintai istrimu yang mandul itu?" Tanya Gita yang sedang bergelayut manja diranjang dengan peluh masih membasahi tubuh mereka.
"Sudah gak lagi sih semenjak ada kamu." Jawab Hendra dan Gita tersenyum bahagia.
"Lalu kenapa ga segera ceraikan dia mas?" Tanya Gita yang sudah kembali menindih Hendra dan mendudukinya sambil menggoyang.
"Aaahh kamu hebat, inilah yang bikin aku begitu cepat jatuh cinta padamu sayang..." Desah Hendra yang sedang menikmati pelayanan Gita.
"Jawab dulu dong.. aku berhenti nih. kapan mas ceraikan dia?" Tanya Gita lagi yang sudah menghentikan goyangannya.
"Lanjut sayang, mas akan cari dulu harta-harta dia dan mas akan ceraikan segera setelah tau berapa jumlah harta yang bisa kita dapatkan karena mas curiga dia ada bisnis lain." Jawab Hendra dan Gita semakin mempercepat goyangannya membuat Hendra puas.
__ADS_1
"Kalau begitu cepatlah.. tapi kenapa mas curiga?" Tanyanya lagi yang sudah kembali kepelukan Hendra.
"Mas cuma kasih dia awalnya 3 juta dan dia cukup hebat mengatur uang bulanan itu, lalu saat pindah ke rumah dinas yang mewah mas cuma kasih tambahan 2 juta lalu dia bisa sewa asisten rumah tangga dan biaya rumah saja lebih dari itu, makanya mami dan mas sudah bicarakan ini." Jelas Hendra lagi dan Gita tersenyum merasakan kemenangan dan dia akan hidup enak setelah menikah dengan Hendra serta meninggalkan pacarnya yang miskin itu.
Sebulan lagi berlalu dan Maira tetap pada rutinitasnya membeli bunga di Magical Flower dan kali ini Flo tidak tahan lagi dan akan mencari tau tentang Maira saat dia kembali lagi nanti.
"Ah maaf.." Ujar Maira saat menabrak seorang pemuda tampan yang baru masuk ke toko, pria tampan itu terus saja memandangi Maira sampai dia masuk ke mobilnya tanpa berkedip.
"EHEM.." Flo sengaja berdehem keras untuk menyadarkan pria itu.
"Hehehe cantik yah dia..tapi kaya kenal deh." Ucap pria itu sambil terkekeh.
"Nah mas Raka mau pesan bunga atau liatin wanita cantik?" Tanya Flo pada langganannya ini.
"Pesen bunga, bentar aku kirim dulu ada banyak soalnya." Raka membuka Hpnya dan mengirim semua nama yang akan menerima bunga ucapan itu.
"banyak juga mas ada 9 loh ini, untuk 3 hari lagi.. untung aja. Soalnya bungaku lagi terbatas gara-gara hujan deras di gunung." Keluh Flo yang cemas pak Ramses seminggu ini baru datang 1 kali itu juga sudah 5 hari lalu.
"Oh, iya 3 hari lagi aku kesini deh karena ada 1 yang aku harus bawa sendiri buat temen deket yang baru buka cabang." Ujarnya dan Flo mengangguk dan menyuruhnya memilih bunga untuk kolega dan clientnya 3 hari lagi.
"Oh iya, kalau 3 hari lagi berati sabtu kan ya? Nah kalo mas Raka mau bisa ketemu tuh sama mba yang tadi, kalau sabtu siang jam seperti ini dia pasti datang udah beberapa bulan ini." Jelas Flo dan dari matanya Raka terlihat berbinar.
"Baiklah aku datang sabtu lebih cepat setengah jam deh." Ujarnya.
"Tapi gak janji loh ya dia masih single atau uda bersuami." Tambah Flo, "Gak apa, janda juga ga masalah, cantik begitu.. wajahnya mirip ibu baik dan bersahaja gitu calon istri idaman deh." Puji Raka membuat Flo ngakak mendengarnya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sabtu tiba dengan cepat, Flo sudah mengirim 8 bunga milik Raka dan tinggal 1 yang sudah ditungguin olehnya. Raka tengah duduk di salah satu meja cafe meminum kopi dan cemilannya. Jam 3 pas, Maira masuk dan memesan bunga lagi, Flo melihat mata wanita itu sembab.
"Ayo mba Maira cerita saja, sini ikut saya." Flo menuntunnya menuju salah satu meja cafe dekat dengan Raka agar pria itu bisa mendengarnya.
"Aku.. kesini beli bunga untuk suamiku.." Lirihnya dan sudah menangis terisak.
"Maksudnya?" Flo mulai bingung begitu juga Raka yang tengah menajamkan telinganya.
"Dia sedang merayu wanita dan akan dijadikan istri kedua dan mertuaku yang menyuruhku menyiapkan bunga ini." Lanjutnya lagi membaut Flo ternganga menutup mulutnya. "Sakit sekali mba Flo.. hatiku hancur." Lanjut Maira lagi.
"Mba, kenapa masih bertahan dan kenapa mereka tega?" Tanya Flo yang sudah menggenggam tangannya erat dan mengelus lembut untuk menenangkannya.
"Aku sudah 5 tahun nikah tapi gak bisa hamil, dokter bilang aku sehat tapi suamiku tidak mau diperiksa, setiap aku menyinggung untuk ke dokter dia pasti marah dan kami bertengkar. Ibu mertuaku selalu bilang aku mandul dan menantu tidak becus, makanya dia ingin suamiku nikah lagi."
Maira menguatkan hatinya dan tidak lagi menangis, seorang pelayan membawakan minuman untuk mereka atas permintaan Raka yang masih duduk tenang mendengarkan. Setelah Maira minum dan lebih tenang dia melanjutkan ceritanya,
"Tadi sebelum aku kesini, aku mendengar pembicaraan mereka kalau Gita pacar suamiku itu sudah hamil 1 bulan padahal mereka baru bertemu 1 setengah bulan lalu, berarti mereka sudah berhubungan dari awal bertemu."
"Mba Maira cerai saja kalau begitu." Ujar Flo sudah tersulut emosi.
"Belum bisa mba Flo, aku masih harus mengumpulkan hasil kerja kerasku dan membalikan nama ke adikku agar tidak diperebutkan saat cerai nanti karena hartaku ini aku dapatkan setelah menikah dengan suamiku jadi aku takut dia minta bagi harta gono gini, lagi pula aku tidak mengerti tentang hal begitu. Aku ada konveksi kecil hasil warisan orang tuaku dan selama menikah aku sudah kembangkan menjadi beberapa dan makin sukses, lalu ada beberapa kontrakan dan rumah kecil sebagai investasi belum semua aku urus mba, soalnya aku pernah dengar suamiku bilang akan melacak semua hartaku untuk dia ambil dan baru ceraikan aku." Jelas Maira membuat Flo menggebrak meja membuat pelayan cafe disana terkejut. Flo menghembuskan napasnya dan mengatur hatinya agar tidak emosi.
"Suamimu kerja apa sih? Kesel kan jadinya." Tanya Flo tanpa rasa hormat lagi.
__ADS_1
"Dia awalnya cuma karyawan biasa dan sekarang jadi manajer divisi di PT Mujur Abadi, gajinya juga tak seberapa mba makanya selama nikah aku yang mencukupi jika kurang itu yang buat mas Hendra curiga." Flo tidak asing mendengar nama perusahaan itu.
"Tunggu, itu perusahaan kayanya milik H&S Group bukan?" Tanya Flo dan maira mengangguk. "Berapa gaji suamimu itu?" Tanyanya lagi.
"Mas Hendra gak bilang tapi sebelum pindah kesini dia kasih aku 3 juta per bulan, setelah pindah ke komplek ini jadi 5 juta dan itu sebenarnya sudah habis untuk biaya rumah dan makan belum yang lain-lain." Keluh Maira, Flo langsung menelepon seseorang untuk menanyakannya.
"Fano.. coba kau tanyakan pada temanmu yang asisten bos H&S Group, berapa gaji staff biasa di PT Mujur Abadi dan manajer divisi juga ya, segera kasih tau." Ujar Flo dan langsung menutup hpnya. Baru 2 menit sudah masuk list gaji karyawan baru untuk tahun ini biar Flo lihat sendiri.
"Nah, ini listnya kalau baru masuk, staff biasa di grade paling rendah adalah bersih 5,5 juta belum uang kerajinan, makan dan lembur. Suamimu di bagian apa dan sudah berapa tahun?" Tanya Flo.
"Sekitar 6 tahun jadi staff."
"Staff ada 4 grade berati kalau 7 tahun kita ambil tengahnya aja deh, pertengahan aja udah 13 juta Maira.. dan manajer divisi baru itu 27 juta Mairaaaa.... dan dia cuma kasih kamu 5 juta? Keterlaluan!" Bentak Flo lagi dan dia tidak pernah seheboh itu mengurus masalah pelanggannya.
"Fix kamu harus cerai Mba.." Tegas Flo dan Maira mengangguk.
"Tapi aku harus cari pengacara dulu dan aku tidak terlalu mengerti, kemarin sudah dapat tapi mereka minta biaya besar dan aku tidak sanggup." Ujar Maira dan Flo langsung melirik Raka yang duduk disamping meja mereka.
"Ehem.. Bapak Raka yang terhormat, anda sudah menguping sejak tadi kan?" Tanya Flo langsung membuat Raka merasa tidak enak.
"Eh.. hmm maaf mba-mba saya tidak bermaksud hanya kebetulan duduk disini dan mendengar." Jawab Raka sambil mengusap tenguknya.
"Mas Raka ini pengacara mba Maira." Ujar Flo dan Raka sudah berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat memberikan kartu namanya.
"Wah, ini kan firma hukum paling top di negara kita." Ucap Maira membaca nama kantor pengacara itu.
"Nah iya, banyak juga yang masuk tv kan, nah ini lah salah satunya." Ucap FLo dan Maira terlihat menelan sesuatu yang tidak ada.
"Pasti mahal mba.." Bisik Maira dan Raka tersenyum kecut mendengarnya. Raka menggeser salah satu kursi dan duduk sisi meja antara Flo dan Maira.
"Jadi masalahnya adalah Mba Maira ini ingin cerai tapi mau alihkan sementara seluruh harta mba sendiri ke nama adik mba?" Tanya Raka dan Maira mengangguk. Boleh tau nama konveksi mba dan usaha lainnya?"
Maira mengambil kartu nama konveksinya dan juga terdapat nama dan data dirinya disana, memberikan kepada Raka.
"Maira Kusuma Gurudatta, Gurudatta?" Raka membaca berulang ulang dan baru mengingatnya. "Jangan-jangan kau anaknya Pak Guru Datta, guru di SDN 46 di bogor?" Tanya Raka terkejut.
"Iya, kok tau?" Tanya Maira bingung dan Raka malah mengusap wajahnya kasar.
"Baca namaku baik-baik Maira.." Suruh Raka gemas dan Maira membacanya dengan perlahan "Raka Chandrika, Raka Chandrika Chanrika rika... Kak RIKA!" Pekiknya dan mulai tersenyum menyebut nama Rika.
"Huss... Raka, jangan Rika." Kesal Raka dan menjitak kepala Maira membuat Flo menatap heran keduanya.
"Kalian saling kenal?" Tanya Flo dan mereka berdua menjawab bersama "iya."
"Ternyata dia Maira anak guruku temannya papa, anak nakal tomboi sukanya main kelereng dan layangan bareng aku dan adikku." kenang Raka dan Maira mulai malu mengingat semuanya.
"Iya, kakak juga senangnya main bareng aku yang anak cewe trus dulunya kan kakak sering marah-marah kaya ibu-ibu, makanya kami panggilnya Rika bukan Raka dan dulunya kakak gendut dan pendek sekarang kenapa jadi ganteng dan tinggi ya?" Balas Maira seakan melupakan masalahnya sejenak. Mereka akhirnya ngobrol dan mengenang masa lalu sebelum kembali ke persoalan utama.
"Jadi aku akan bantu dan papi juga pasti bantu kamu, nanti aku ceritakan ke papi deh.. besok siapkan semua berkas dan data kamu biar aku dan tim ku periksa." Ujar Raka dan Maira setuju.
"Tapi apakah bisa yang mendampingiku itu pengacawa wanita? Biar tidak ada fitnah, soalnya kalau kemana-mana bareng pria kan tidak baik, aku masih seorang istri." Pinta Maira dan Flo setuju.
__ADS_1
"Baiklah aku akan suruh salah satu anggotaku yang wanita saja." Jawab Raka dan mereka akhirnya berpisah di hari itu dan akan bertemu besok.
TBC~