
Edward sangat ingin bertemu dengan Fany dan pagi ini dia berdandan rapi dan senyum tak pernah hilang dari wajah tampannya, saat berjalan di koridor kampus semua mata mahasiswi juga tak pernh lepas darinya. Tapi Edward menelan kekecewaan karena Fany tidak masuk, dia bertanya pada beberapa mahasiswa disana dan sangat terkejut dengan jawaban mereka.
"Mungkin dia malu pak, dia bekerja sebagai wanita malam dan sepupunya yang bocorin kemarin."
Edward langsung ke bagian akademik melihat daftar nama Fany mencari data lengkap disana dan setelah menemukannya dia menelepon Fany tapi nomornya tidak aktif, alamat yang dia berikan pun adalah alamat rumahnya sesuai KTP dan rumah itu telah kosong sangat lama.
"Mr. Edward cari Fany Yakira? Dia sudah mengajukan kuliah online selama 6 bulan kedepan, minimal 1 semester ini." Edward mengernyit lagi dan dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sudah di setujui?" Tanya Edward dan staff itu menggeleng, "Belum Mr. karena pengajuannya baru masuk tadi malam dan saya baru buka pagi ini."
"Tolak dan suruh dia tetap masuk kuliah." Titah Edward dan mereka mengangguk tanda mengerti.
Ditempat lain Fany sangat kesal karena pengajuan kuliah onlinenya di tolak dan dia besok harus datang untuk kuliah lagi, "Huh.. baiklah jangan sedih jangan takut, kau bisa Fany!" Teriaknya optimis di ruang tamu apartemennya.
Dia sangat bosan hanya tiduran saja dari siang kerena ini memang hari liburnya setelah 6 hari bekerja dan akhirnya dia mencoba menggambar baju yang sangat ingin dia buat, dalam waktu 4 jam tanpa terasa dia sudah mencorat-coret buku catatannya dengan hasil 3 jenis baju berbeda, 1 gaun selutut yang manis, 1 gaun yang terlihat seperti gaun pengantin dan kemeja dengan aksen cantik dibagian lehernya.
"Wah sangat bagus ternyata gambarku.. oke aku akan gambar beberapa lagi kalau ada waktu." Fany memuji dirinya sendiri karena dia memang pandai menggambar sejak kecil yang telah menjadi hobinya. Fany lanjut menggambar dan entah sudah berapa banyak baju yang coba dia bayangkan dan dituangkan dalam bentuk coretan di buku tulis itu sampai dia ketiduran tanpa makan malam.
Krucukk...
Fany terbangun dari tidurnya dan dia ternyata baru sadar kalau sedang tiduran di sofa yang mengakibatkan lehernya kaku dan perutnya sangat lapar.
"Ah.. aku telat!" teriaknya langsung dengan cepat mandi dan pergi ke kampus. Saat sampai banyak yang meliriknya tapi tidak mengatakan apapun dan Fany dengan santai dan cuek masuk ke kelasnya yang sudah ramai bahkan dosen killer Mr. Edward ada dibelakangnya dengan berdehem.
"Maaf Mr. Ed." Ucap Fany dan langsung berlari mencari tempat duduknya, Edward sangat senang melihat Fany masuk hari ini.
Setelah selesai 1 mata kuliah Fany telah diperintah untuk menghadap Mr. Edward karena bolos kuliah kemarin, dengan berat hati dan langkah gontai, wajah lesu dia menghadap.
"Aku lapar.. dasar dosen killer tak punya hati!" Rutuk Fany kesal dalam hati. Memang hari ini hanya ada 1 mata kuliah.
tok tok tok "Masuk." terdengar suara Edward dengan nada rendah dan tegas, Fany sedikit merinding mendengarnya, dia takut dosen killer mantan pelanggannya ini marah karena dia bolos kemarin.
"Kenapa kau bolos?" Tanya Edward tanpa basa-basi.
"Saya.. mm... saya.." Fany tak bisa menjawab karena memang dia tidak mau membicarakannya. Edward berdiri dan menghampiri Fany yang berdiri di depan meja kerjanya. Setelah sampai, dia berdiri pas di depan Fany dan sangat dekat membuat Fany melangkah mundur.
Edward memeluk Fany sangat erat seakan takut Fany lari darinya, "Lepas Mr. Edward." Fany mendorong tubuh pria bule itu tapi dia sama sekali tak bergerak, tubuh kecil Fany tidak berkutik.
__ADS_1
"Aku merindukanmu Fay.." Bisik Edward membuat Fany diam dan kaku, dia hanya bisa gemetar mendengar nama Fay disebut.
"Kau adalah Fay, aku sudah tau jangan berkelit." Ucapnya lagi dengan pelan, Fany tiba-tiba menangis sesegukan.
"Jangan menangis.. kau tak senang bertemu denganku?" Tanya Edward setelah melepas pelukannya dan mengusap airmata Fany.
"Aku ingin melupakanmu.. melupakan semua dan hidup normal, tolong jangan ganggu aku." Ucapnya lirih sambil terus menangis.
"Tidak bisa Fay aku tidak bisa, kau telah mencuri dariku." Tolak Edward, mendengar kata mencuri membuat Fany sangat emosi dia mendorong kuat Edward dan menatapnya tajam.
"Aku tidak mencuri apapun darimu Mr. Edward jangan sembarang menuduhku." Bentak Fany tapi Edward malah terkekeh melihat kemarahan Fany yang menurutnya sangat lucu dan imut.
"Kau tidak sadar? Dari pertama kita bertemu kau sudah mencuri dariku."
"Apa yang aku curi? Aku bahkan tak pernah mau mendekat padamu."
"Kau telah mencuri sebagian hatiku Fay, lalu malam itu kau mencurinya lagi dan sekarang hatiku habis kau curi tak bersisa."
Ucapan Edward sangat lembut, bahkan sampai berhasil masuk ke hati dan jantung Fany yang saat ini berdetak kencang tak karuan.
"A..ak aku.. tidak tau, itu urusanmu." Fany terbata-bata dan wajahnya memerah karena malu dan panas sekali, suhu tubuhnya meningkat dan dia menjadi salah tingkah.
"Kau fedofil ya?" Tanya Fany dengan spontan dan Edward akhirnya melepaskannya dan menuntunnya duduk di sofa.
"Hei.. aku ini bukan fedofil dan kau itu yang terlalu imut padahal sudah 18 tahun, tapi tubuhmu sexy seperti wanita dewasa." Bisik Edward di telinga Fany.
"Aku memang sudah dewasa Mr. dan..."
krucccuukk..
"Aduh.." Fany memegang perutnya yang terasa sangat lapar sampai sakit, Edward yang sadar lalu menyuruh Kris untuk membelikan makanan.
"Tunggulah Kris akan datang membawa makanan untuk kita." Ucapnya lembut dan Fany mengangguk karena dia juga sangat lapar.
15 menit Kris datang membawa 2 bungkus nasi hainan kesukaan Edward dan "Tuan, anda menggoda gadis remaja? Jangan berbuat aneh Tuan." Ucap kris cemas karena melihat Fany ada disana.
"Dia Fay, sudah pergi sana jangan ganggu kami." Usir Edward tapi Kris hanya melongo melihat Fany gadis remaja itu dan mengingat Fay yang terlihat dewasa. Lalu kris melihat kearah Tuannya lagi, "Iya benar, dia Fay-ku memang masih 18 tahun, sana pergi." Kris akhirya sadar dan segera melangkah mundur masih menatap Fany tak percaya.
__ADS_1
Fany makan dengan lahap dan tidak peduli dengan Edward yang sejak tadi memandangnya dan tersenyum, "Aku senang melihatmu seperti ini, kau terlihat hidup dan tidak ada beban." Ucap Edward pelan dan Fany tetap diam.
"Iya lah.. kan karna uangmu yang menyelamatkanku, makanya aku masih berbaik hati duduk disini." Ucapnya dalam hati lalu selesai makan dia meminum air dari cangkir Edward tanpa sadar.
Edward masih tidak membiarkan Fany pergi dari ruangannya sampai dia selesai memeriksa tugas yang dia berikan kemarin karena itu Fany harus mengerjakan tugas itu di depannya. Sambil membuka hapenya Edward tersenyum melihat beberapa foto.
"Lihatlah.. ini temanmu." Edward memberikan hapenya dan Fany melihat, "Leah.." Fany tersenyum membaca pesan Leah untuk Edward.
"Terima kasih Mr. Ed, aku sudah ada di kampung halamanku dan akan memulai hidup baru disini bersama adiku berkat bantuan kalian. Tolong sampaikan salamku pada Fay atau Fany jika kau telah bertemu dengannya. Katakan aku menyayanginya."
"Apa yang terjadi dengan Leah?" tanya Fany penasaran tapi juga terlihat bahagia.
"Nama aslinya Leony dan adiknya Lilian, aku memberinya hadiah dengan membebaskanya karena telah memberiku informasi tentangmu jadi mereka bisa hidup normal disana." Jawab Edward membuat mata Fany kembali berair, tapi dia tersenyum.
"Terima kasih Mr. Ed kau memang baik, telah menyelamatkanku dan temanku." Balas Fany tapi Edward malah terlihat sedih.
"Aku bukan orang baik, jika aku baik aku tidak akan mengambil kesucianmu." Balasnya pelan.
"Tidak apa-apa, itu harga yang harus aku bayar karena nasib burukku dan aku tidak menyesal memberikannya pada orang baik seperti anda." Ucapan dari Fany sangat menusuk relung hatinya, rasa berasalah makin dalam.
"Aku minta maaf telah menyakitimu Fany.. aku benar-benar mencintaimu, jadi aku harus tunggu sampai umurmu berapa baru bisa menikahimu?" Tanya Edward menatap matanya dalam.
"Hah? hm.. tidak perlu, aku tidak apa-apa jika itu hanyalah rasa bersalahmu." Tolak Fany tapi Edward malah menarik tengkuknya lalu maju mencium bibir Fany dengan lembut dan mengul*m bibir manis itu begitu lama dan penuh perasaan cinta dan rindu.
"Ini bukan rasa bersalah, ini cintaku padamu.. kalau kau menolak aku akan melakukannya lagi." Ancam Edward setelah melepaskan Fany.
"Kau mengancamku? Dasar, dosen tua mesum. Ini aku sudah selesai dengan tugasku dan permisi." Fany berdiri lalu berjalan mendekati pintu.
"Aku belum tua, hei.. aku masih 27 tahun." Teriak Edward tapi Fany tidak peduli dan membuka pintu itu.
"Wah.. wanita malam sedang apa kau didalam ruangan Mr. Ed? Ingin menggodanya?" Tanya Putri yang tanpa sengaja lewat disana saat Fany keluar.
"Minggir.. aku tidak ada urusan denganmu." Ketus Fany dan Putri malah mendorongnya dan menghimpitnya di dinding.
"Kau ******.. jangan menggoda Mr. Ed, aku tegaskan padamu kau tidak akan bisa merayunya ******! Aku wanita terhormat yang pantas bersamanya." Ucap Putri lalu Fany balas mendorongnya hingga dia mundur beberapa langkah.
"Baiklah, kita buktikan siapa yang bisa menggodanya duluan aku atau kau!" Tantang Fany lalu pergi meninggalkan Putri yang sangat kesal.
__ADS_1
"Gadisku sangat hebat." Gumam Edward di balik pintu itu, dia tidak jadi menolong Fany karena gadisnya ternyata tidak lemah.
TBC~