Magical Flower

Magical Flower
BAB 6 - Pekerja Part Time (Part 5)


__ADS_3

Hari Valentine tiba, sejak jam 6 pagi semua yang ada di Magic Flower sudah tiba disana memulai pekerjaan mereka. Gio dan Vero yang seharusnya masuk siang juga sudah datang karena hari ini mereka harus melakukan pekerjaan dengan baik dan cepat.


Flo dan Imel sedang merangkai bunga segar sejak jam 4 dini hari, Thika masih merangkai sisa 5 buket balon dan snack beserta boneka dan coklat yang baru dipesan tadi malam.


Vero dan Reyhan mengecek data nama dan alamat agar tidak salah pengiriman, Mala sibuk membungkus coklat yag baru saja jadi oleh koki di cafe yang juga sudah sejak 2 hari lalu bersiap membuat pesanan karena cafe juga menjual coklat khusus di hari Valentine dan lumayan banyak yang memesannya di 2 hari sebelum hari H.


Gio sedang menyusun buket untuk bisa dia antar sepagi mungkin, beruntung karena hari sabtu jadi jalanan tidak akan macet, 10 pengantaran sampai siang harus dia selesaikan, 10 untuknya 10 untuk Reyhan. Barulah siangnya mengantar bunga segar.


"Gio, Reyhan sudah hampir jam 8 antar saja dulu yang snack ya.. nanti kembali lagi."Titah Flo yang masih berkutat dengan mawar-mawar indah yang dihias cantik.


"Nanti bunga itu gimana?" Tanya Reyhan menunjuk buket mawar segar yang sudah jadi.


"Nanti Imel yang antar sama Fano pake mobil ku, kan buketnya tidak terlalu besar jadi pakai mobilku sudah bisa." Jawab Flo dan Reyhan mengangguk dan segera pegi menjalankan tugasnya.


Kalau mobil yang dipakai Rey dan Gio memang sudah dibuka temat duduk belakang menjadi luas untuk mengantar buket besar.


"Ini 8 buket nya sudah selesai, tolong antar ya Fano.." Ucap Flo dan Fano segera membantu Imel membawakan buket bunga ke dalam mobil dengan bolak balik beberapa kali dengan hati gembira, beberapa jam kedepan dia akan bersama gadis pujaan hatinya yang masih susah untuk didekati meskipun Fano sudah 2 kali menyatakan perasaannya.


"Semuanya selesai!" Pekik Thika sambil memegang pinggangnya yang sudah encok.


"Tinggal ini nih.. Robin, katanya tidak jadi diambil sendiri untung aja kita nanti memang mau makan di resto ini yah.." Lirik Flo pada Fano dan dia tersnyum mengangguk.


.


.


"Masih ada 1 jam lagi dan Gio juga belum kembali tunggu saja deh.." Lanjut Flo tapi Gio sudah muncul dibalik pintu dengan wajah lelah.


"Kamu kenapa Gio?" Tanya Mala yang melihat wajah Gio seperti habis di kejar anjing.


"Aku habis di kejar anjing di komplek sebelah itu, gila aja anjingnya 3 ganas-ganas di lepas gitu aja." Jawab Gio yang langsung duduk di salah satu kursi tunggu pengunjung.


"Emangnya anjing apa sih bikin kamu lemas gitu." Mala meliriknya aneh karena Gio masih terlihat pucat.


"Anjing top itu yang ada filmnya warna coklat besar." Jawabnya karena memang tidak mengerti dan tidak mau tau dengan yang namanya anjing.


"Ohh Golden ya? itu anjing pintar tau, ga mungkin bisa ganas." Ujar Mala sedikit tertawa.


"Kak Gio memang takut anjing sih, dulu waktu SD pernah di gigit anjing sampe masuk rumah sakit makanya dia trauma." Sambung Vero yang sudah membawakan air minum untuk Gio.


"Makasih.." Ujarnya dan meneguk habis air minumnya. Sementara yang lain hanya terkikik lucu melihatnya.


"Istirahat dulu dan kalau bisa ganti baju deh soalnya bajumu basah keringatan gitu, kita mau makan di resto mahal lo.." Ujar Flo dan Gio segera pergi ke toilet dan Fano mengikutinya.


"Ini ganti, dan diam saja ya tentang resto itu." Ujar Fano segera berlalu membuat Gio sedikit bingung.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Mereka telah sampai di Akasuki tepat jam 6 sore dan Gio terbengong melihat resto itu, dia sudah tau dan beberapa kali memesan tempat disini untuk bos dan kolega bisnis bosnya dan ini bukan tempat murah. Plate Sushi dengan ukuran edium isi 8 potong saja sudah 1,1jt dan sukinya? Wah gila sih...


"Kita makan disini?" Tanya Gio masih tidak bisa percaya.


"Iya, Fano yang pesankan ruangan VIP yuk masuk.." Ajak Flo dan Gio masih mematung.


VIP... itu mahal banget, 1 ruangan saja harganya 8 juta dan kalau tidak pesan sampai 8 juta ya harus bayar segitu dan ini berapa orang bisa-bisa cara makan bar-bar mereka bisa habis 10 jutaan, ini yang dimaksud Fano tadi?. Gio membatin dan hampir tak bisa bernapas.


"Wah bagus banget yah tempatnya.. aku mau selfie ah.." Mala sudah berpose dan memotret dirinya sendiri membuat Thika menjewernya pelan. "Jangan katrok." Tegurnya hingga Mala terkekeh dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Baru saja mereka duduk 10 menit makanan sudah dihidangkan di meja dan pelayan yang datang silih berganti sambil membawa makanan yang berbeda.


"Fan, kamu yang pesan semua ini?" Tanya Flo yang masih belum memalingkan wajahnya dari bebek panggang didepannya, dia paling suka bebek peking ini.


"Loh kok bisa ada chinese food juga? Ini kan restoran Jepang." Tanya Thika bingung melihat bebek peking panggang, beberapa dimsum dan ikan steam.


"Iya mereka kan sama yang sebelah punya bos yang sama jadi bisa saja pesan begini dan kalau sushi dan sashimi kalian pesan sendiri ya, aku ga tau kalian suka apa ngga ikan mentah itu." Jelas Fano dan Imel yang duduk di sebelahnya sudah tau maksud dari Fano dan dia juga tau kalau ini semua Fano yang pesan untuknya.


"Ini aja uda banyak loh, tapi bener juga sih pengen coba sushi dan sashimi yang kata orang enak dan sehat." Ujar Flo dan dia sudah menekan menu di tablet yang diberikan Fano untuk memesan. Setelah itu mereka mulai makan dengan tenang sambil berbincang ringan dan tertawa bersama menikmati malam Valentine bersama.


"Eh Gio, kau tidak merayakan Valentine sama pacarmu?" Tanya Rey yang sejak tadi mencomot ikan mentah didepannya dan dia sangat suka.


"Gak lah, dia ga suka hal-hal romantis dan sepertinya dia sedang pergi jalan sama temannya." Jawab gio santai karena beberapa tahun pacaran dia tak pernah merayakan Valentine, sebab Susan tidak mau.


Flo sedang melirik Fano dan dia pun tau apa yang akan dia lakukan sekarang, Fano dan Imel keluar dengan membawa kotak hadiah Robin untuk dia serahkan pas waktunya tiba, mereka ada di ruangan VIP di sisi sebelahnya yang sengaja di pesan juga oleh Fano. Lalu dia meminta pelayan untuk membuka sedikit sekat antara dua ruangan itu agar bisa mendengar pembicaraan mereka.


Fano mengetik dan mengirim pesan untuk Gio agar datang menemuinya di ruangan itu juga seorang pria yang baru saja masuk kedalam. Kini Fano, Imel, Gio dan Santo sudah ada di ruangan itu dan membuat Gio dan Santo bingung dan menatap semuanya.


"Aku pergi dulu ya.." Pamit Imel yang membawa kado untuk diberikan pada Robin tepat jam 8 malam.


"Kalian dengar saja dulu tapi aku mohon untuk tenang dan jangan buat keributan sebelum aku izinkan." Titahnya tegas tidak seperti Fano yang ramah dan lembut di Magic Flower, dia berubah menjadi Stefano yang sebenarnya, yang membuat Gio dan Santo mengangguk patuh.


"Permisi, saya dari Magic Flower dan mengantarkan pesanan Pak Robin." Sapa Imel ramah setelah mengetuk dan masuk ke ruangan itu. Tampak Robin sudah berdiri dan jalan menghampirinya. Sedangkan disana ada sepasang suami istri paruh baya dan juga Susan sedang duduk selesai menghabiskan makan malam.


"Oh terima kasih mba." Sahut Robin dan mengambil kado indah itu. Imel berlalu dari sana kembali ke ruangan sebelah.


"Sudah ayo kita pergi biar nanti setelah kacau dia tidak tau kalau Magical Flower dalangnya." Bisik Imel pelan di dekat teliga Fano membuatnya merinding dan menahan hasratnya. Ingin sekali Fano mendekap dan mencium gadis itu yang berada begitu dekat dengannya.


"Kamu pergi saja kembali kesana, mereka tidak mengenalku." Jawab Fano sedikit gugup dan Imel mengangguk dan keluar untuk kembali ke tempat Flora berada.


"Loh itu kan suara..." Belum sempat Santo menyelesaikan perkataannya Fano sudah menyuruhnya diam dan mereka mendengar dengan seksama.


"Hm, iya aku buka ya." Susan buka kado itu dan melihat isinya seperti kadi Valentine pada umumnya dan dia sudah tau.


"Buka lagi dalamnya masih ada surprise." Ujar Robin lagi. Susan membuka lagi kotak kecil dibawah tumpukan sabun mawar pink itu dan terbelalak kaget melihat isinya.


"Maukah kamu menikah denganku sayang.. ini adalah tanda cintaku untuk mengikatmu di hadapan orang tuaku." Ucap Robin yang kini berlulut dengan satu kakinya, sedangkan orangtuanya tampak biasa saja karena sang ayah tidak suka dengan Susan tetapi anaknya memaksa dan dia terpaksa menerimanya.


"A..aku.. ehmm.. aku mau Robin." Jawab Susan terbata, hatinya sangat senang dan kini saatnya memilih antara Robin atau Santo yang akan dijadikan suaminya, kalau Gio hanya sebagai pesuruh selama ini.


Gio dan Santo yang mendengar semua percakapan itu begitu terkejut dan dengan izin Fano mereka menggeser sekat penghubung 2 ruangan itu dan menatap marah dan kecewa pada Susan yang begitu terkejut saat melihat 2 pria itu disana.


"Santo Gio!" Pekiknya membuat Robin mengerutkan keningnya bingung.


"Ada apa ini dan kenapa kalian menerobos kesini?" Tanya Robin yang sudah emosi mereka mengganggu moment bahagianya tetapt sebelum menyematkan cincin di jari Susan.


"Susan! Kau jelaskan sekarang juga." Bentak Santo dengan wajah sedih dan marah.


"San.. kau membuatku kecewa." Tambah Gio dengan lirih penuh kekecewaan.


"Kalian kenapa bisa.."


"Siapa kalian? Jelaskan?" Kini ayahnya Robin yang berbicara.


"Maaf Tuan tapi saya calon suaminya dan baru 3 hari lalu saya melamarnya di hadapan ibu saya dan dia menerima." Jelas Santo sambil melirik ke arah Susan.


"Kamu?" Tunjuknya pada Gio.

__ADS_1


"Saya pacarnya dan sudah berhubungan selama 4 tahun." Jawab Gio yang masih memandang Susan dengan raut sedih.


"4 tahun!?" Ujar Santo dan Robin  bersamaan.


"Kau bilang sudah putus dengan pacar lamamu karena dia tidak bisa membahagiakanmu?" Tanya Robin dan Susan masih membisu dan memucat.


"Tidak bahagia? Susan.. kau menyuruhku melamarmu setelah aku punya mobil, aku kerja keras untuk membeli mobil lalu kau tolak dan mau nikah setelah ada rumah mewah, aku banting tulang mengusahakan beli rumah mewah meskipun itu mencekik leherku, kau menyuruhku kesana kemari mengantarmu dan biaya kuliahmu juga aku yang bayar, kau bilang tidak bahagia?" Tanya Gio yang sudah lelah dan terlihat begitu rapuh.


"Dasar wanita murahan! Sudah ayah bilang kalau dia tidak cocok jadi pasanganmu Robin!" Bentak ayahnya dan Robin terlihat marah dan sama kecewanya dengan Gio dan Santo.


PLaakkk


Tamparan keras didapatkan susan dari ibunya Robin yang sejak tadi menahan emosinya, "Kau jangan mendekati putraku lagi." Ucapnya dan berbalik melangkah pergi.


"Kita selesai!" Tegas Robin dan membuang kado dan cicin itu ke sembarang arah dan pergi mengikuti orang tuanya.


"Kita juga selesai Susan.. aku tidak mau berhubungan dengan wanita yang tidak jujur dan suka selingkuh." Geram Santo yang mengepalkan tangannya menahan emosi dan berlalu pergi setelah menepuk bahu Fano dan mengucapkan terima kasih. Tinggal Gio yang masih ada disana terduduk lesu dan tidak berdaya mendapati kenyataan ini.


"Kak Gio.." Lirih Vero yang baru saja masuk kesana, dia mengelus punggung Gio memberikan kekuatan.


"Kenapa kau lakukan ini Susan? Apa kurangku, apaaaa..." Lirihnya lagi dan dia menangis. Susan yang sudah geram juga karena baru saja kehilangan pria kelas kakap pun langsung melirik sinis pada Gio.


"Kurangmu?? Kau itu miskin, tidak punya apa-apa dan syukur aku mau jadi pacarmu selama 4 tahun, kau hanya jadi anjing pesuruhku Giovani." Ucap Susan tanpa perasaan yang membuat Vero benar-benar emosi, Vero melayangkan 1 tamparan di pipi Susan.


"Kau wanita murahan, kau yang harusnya bersyukur kak Gio mau sama kamu yang seperti ****** berkeliaran di kampus mencari pria." Bentak Vero geram.


"Apa maksudmu Vero?" Tanya Gio.


"Aku tau kak, dia ini tidak sepolos yang kakak kira selam ini. Dia seenaknya merangkul dan berciuman dengan banyak pria di kampus, aku lihat sendiri." Jelas Vero tanpa menutupi apapun lagi membuat Gio makin mencelos, dadanya sakit dan kepalanya serasa mau pecah mendengarnya.


"Aku hanya menikmati hidup yang tidak bisa diberikan olehnya, cih..pacaran sehat apaan. Kau kira kita anak SD yang hanya berpegangan tangan. Kau itu munafik Gio." Cibir Susan tanpa rasa bersalah, Gio lalu berdiri dan memandang sedih ke arah Susan.


"Baiklah.. kita juga selesai. Aku lelah dengan semua ini, kau tidak menghargai sedikitpun usahaku. Selamat tinggal." Ucap Gio lalu berbalik dan berjalan gontai keluar dari ruangan itu.


Dia begitu kecewa, semua impiannya hancur dalam sekejap dan tak bersisa. Untuk apa dan untuk siapa dia bekerja dan mengorbankan masa mudanya. Vero mengikutinya dari belakang untuk menjada Gio, dia takut Gio berbuat sesuatu hal yang nekad tapi ternyata Gio hanya pergi kembali ke mobilnya di parkiran dan Vero mengikutinya sampai naik ke mobil dan Gio hanya diam menyetir sampai ke rumahnya.


"Kak Gio..." Panggil Vero dnegan lirih dia terduduk di lantai menemani Gio yang merabahkan dirinya di sofa.


"Aku lelah Vero.. selama ini aku sangat semangat cari uang, tidak pernah merasakan lelah dan capek. Tadi setelah mendengar semua kata-kata yang Susan ucapkan, badanku lemas dan sangat lelah.." Gio masih memejamkan matanya dia sangat kelelahan itu terlihat dari wajah lesunya.


"Aku tau kakak sedih, tapi Vero mohon jangan berlarut-larut ya, masih banyak wanita baik diluar sana yang bisa mendampingi kakak." Ucap Vero degan nada sedih.


"Nah, anehnya kenapa aku gak sedih karena pisah dari Susan ya? Aku sedih dan kecewa karena usahaku gak dihargai sama sekali olehnya." Tanya Gio bingung dengan perasaannya karena memang selama ini gaya pacaran mereka juga normal tetapi tidak menggebuu-gebu seperti yang lainnya, selain Susan memang dari awal terlihat biasa saja ketika Gio mengejarnya sampai akhirnya berpacaran membuat Gio berpikir kalau Susan memang tidak suka gaya berpacaran seperti lainnya yang selalu melakukan hal romantis.


"Mungkin karena kakak sudah lama bersamanya tapi hubungan kalian gak seperti sepasang kekasih lagi, lebih seperti terbiasa dengannya sebagai status pacar." Jelas Vero membuat Gio mengerutkan keningnya bingung.


"Sudahlah kak, cari aja cewe lain yang akan mencintai kakak dengan tulus tanpa mandang materi." Sambung Vero lagi yang sudah duduk di samping Gio yang masih merebahkan dirinya.


"Haha mana ada wanita seperti itu, kau terlalu kecil buat pacaran dan tidak akan mengerti." Ejek Gio membuat Vero kesal.


"Ada! aku akan mencintai kakak dengan tulus bahkan sejak aku kecil sudah sangat menyukaimu, kau saja yang terlalu bucin sama si Susan itu jadi gak perhatikan hal lain." Ceplos Vero membuat Gio segera bangkit dari tidurnya dan menatap Vero dengan terkejut, Vero yang baru sadar akan ucapannya langsung terdiam dan menunduk.


"Hei, kau itu.. kuliah dulu yang benar baru mikirin cinta." Tegur Gio karena dia merasa aneh mendengar curahan hati Vero.


"Kak Gio nyebelin.. aku benaran cinta sama kakak dan umurku sudah 19 tahun bukan anak kecil lagi." Tegas Vero yang tidak mau tau lagi akan malunya dirinya mengatakan hal itu.


"Hahahah aku tidak percaya kau it.." Gio terdiam saat Vero tiba-tiba mendekat dan mencium bibirnya, lumayan lama.

__ADS_1


"Nah itu buktinya aku berikan ciuman pertamaku untukmu." Ucap Vero lalu di bangkit dan berlari ke arah tangga menuju kamarnya. Gio masih mematung, ini juga ciuman pertamanya.


TBC~


__ADS_2