
Florian dan Flo kembali ke rumah mereka, rumah mungil dan cantik itu masih belum bisa terlihat hangat meskipun pasangan baru itu tinggal disana.
"Ini masih aneh Florian.. aku tidak tau kalau peri dan manusia mempunnyai anak prosesnya seperti itu. Aku kira akan hamil dulu seperti yang lainnya. Aku juga tidak tau proses lahirnya peri seperti apa, tau-tau aku sudah keluar dari kelopak bunga seperti tidur panjang yang nyaman." Ucap Flo setelah mereka duduk bersama di ruang tamu sekaligus dapur itu.
Sementara Florian masih sibuk di dapur, dia memasak air lalu membuat susu untuk Flo dan dirinya, lalu membuatkan sarapan sekaligus makan siang mereka.
"kita jalani saja, setelah ini kau yang harus merawatku Flo." Floran mendekat dengan nampan berisi 2 gelas susu dan 2 omelet sayur untuk mereka makan pagi menjelang siang itu.
"Merawatmu?" Tanya Flo dengan bingung.
"Iya, setelah anak kita lahir dia akan mengambil kembali kekuatannya dari diriku dan aku akan kembali lemah sebelum tubuhku pulih seperti manusia biasa. Kata River mungkin butuh waktu berbulan-bulan. Dan aku sudah melihat itu, di ruangan sana sudah ada semua keperluanku yang akan aku butuhkan nantinya." Jelas Florian lalu menunjuk ke arah sebuah pintu yang adalah sebuah kamar ukuran kecil.
Setelah makan, Flo membuka pintu yang ditunjuk lalu melihat isi kamar itu. Ada sebuah kursi roda dan segala macam kebutuhan medis untuk orang lumpuh. Karena memang Florian menyiapkan semuanya menurut penglihatannya di masa depan.
Flo juga berjalan ke arah pintu sebelah kamar mereka tetapi terkunci.
"Belum waktunya membuka pintu itu sayang.." Ujar FLorian.
"Ha? Sayang?"
"Iya kau kan istriku dan sayangku.."
"Tapi.. ini masih terasa aneh Florian."
"Tidak apa-apa, kita jalani bersama ya.."
Florian mendekap tubuh Flora yang terasa hangat, mereka saling memeluk membagikan rasa hangat di tubuh.
"Ternyata berpelukan dengan pria itu sangat hangat yah.. biasanya aku hanya memeluk Imel atau dulu teman baikku Miranda."
"ehm... ini berbeda, aku bahkan belum pernah memeluk siapapun setelah kejadian itu, dan aku sangat suka memelukmu Flo."
"Aku jadi tidak bisa menumbuhkan tanaman lagi, lihat.." Beberapa kali Flo memutas dan menjentikkan jarinya tapi tak ada yang terjadi.
"Kau sekarang manusia, kalau mau menanam yah gunakan tangan cantik ini pakai sarung tangan, disana ada pot dan tanah, sekop kecil dan siram pakai air, kita tunggu tanaman itu tumbuh dengan sendirinya dengan merawatnya dengan baik. Ini juga bagus untuk melatih kesabaran."
"Ehm, bagus juga usulmu. Aku akan coba dengan cara manual itu saja."
.
.
__ADS_1
.
Tanpa terasa delapan hari berlalu, Florian dan Flo di temani Petunia masuk ke dalam aula besar tempat anak-anak mereka berada. Masih sama, 2 bunga putih itu bercahaya putih yang menyilaukan.
"Waktunya sebentar lagi." Ucap Petunia sambil tersenyum. Di luar, semua peri sedang berlindung karena hujan lebat dan peti menyambar dimana saja. Bahkan lembah kegelapan mulai terasa makin mencekam, tanaman terakhir yang mereka rawat perlahan layu dan kering.
"HAHAHAHAHA.. Kalian akan mati, mati!!" Terdengar suara menggelegar dan smeua peri tau itu adalah suara dari Rosseta yang selama ini selalu menghantui kaum peri. Bahkan aula itu juga bergetar karena suara Rosseta terdengar ke segala pentuju arah.
Bersamaan petir yang sangat besar menyambar salah satu pohon tertinggi mereka lalu 2 bunga putih itu bergetar hebat dan mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan sampai tidak ada yang bisa melihatnya.
Flo masuk ke dalam dekapan Florian yang menariknya karena takut Flo terkula, mereka saling memeluk sambil memicingkan mata karena silau, melihat anak-anak mereka akhirnya keluar dari kelopak itu.
oeeekk...!
oeeekkk..!
Bunga pertama telah mekar dan di sana ada seorang bayi menangis dengan kencang, bayi perempuan itu begitu cantik.
"Tidak... tidak mungkin, bukan seperti ini." Pekik Bud histeris, karena bukan seperti ini seharusnya peri lahir, bukan bayi!
Semua orang tampak kalut, ketakutan, di luar angin, hujan dan petir bersahutan, Rosseta juga mulai berjalan pelan mendekat ke hutan peri dari lembah kegelapan, dia sengaja meneror menyebarkan ketakutan. Rosseta saat ini berada di dalam sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, dengan gaun hitam panjang mencetak lekuk tubuh sempurnanya. Rambut hitam bergelombang di biarkan terurai, senyum tipis yang cantik tapi menakutkan.
"Ratu, bagaimana ini? Rosseta semakin mendekat dan peri penjaga belum lahir dan malah bayi manusia." Pekik salah satu tetua peri disana.
Sedangkan Florian dan Flo mendekat ke arah bayi perempuan itu kemudian di halangi oleh salah satu peri. Mereka belum bisa mendekat sebelum bunga kedua mekar.
Tidak butuh waktu lama, bunga kedua bergetar dan dengan cepat kelopaknya melebar mekar sempurna dan cahaya putih dan biru bercampur menyilaukan mata. Munculkan sosok gadis muda yang terbang keatas mengikuti sorot cahaya itu yang menyinari jauh ke atas menembus langit.
"Sungguh luar biasa, kekuatan ini sangat besar dan kuat." Gumam River dengan matanya membulat sempurna melihat peri penjaga hutan telah lahir dengan sosok cantik mengagumkan dan kekuatan yang sangat besar.
Petunia membawa kotak yang dititipkan Lilac dulu dan kotak itu dengan sendirinya melayang mendekati peri penjaga hutan yang baru dan masuk kedalam dadanya, seketika sayap muncul di punggungnya dan matanya terbuka dengan perlahan.
"Salam yang mulia Ratu Peri Petunia, saya adalah penerus, peri penjaga hutan yang akan meneruskan tugas dari peri penjaga terdahulu." Ucapnya setelah kakinya menyentuh tanah dan dengan membungkuk hormat dengan anggun.
"Selamat datang peri penjaga hutan, kami telah menunggumu." Balas Petunia. Peri penjaga itu tersenyum dan berjalan dengan anggun menuju bunga pertama, tempat saudarinya di lahirkan lalu menggendong bayi mungil itu.
"Ini kakakku.. ayah ibu." Dia memberikan bayi itu kepada Florian dan Flora yang masih memandang takjub pada anak mereka.
Anak pertama, bayi perempuan normal seperti manusia biasa, anak kedua, sosok cantik dan menawan, adalah peri penjaga hutan. Betapa mereka sangat bahagia, senang, haru jadi satu.
Flo mengambil bayi itu lalu Florian perlahan menggenggam tangan anaknya yang adalah peri penjaga hutan, air mata mereka mengalir, tapi senyum tak lepas dari wajah mereka.
__ADS_1
Sementara, hujan dan petir telah berhenti tapi tidak dengan Rosseta. Dengan cepat dia terbang karena melihat cahaya silau luar biasa dan dia tau dari mana sinar itu berasal.
"Keparat! Siapa yang mereka lahirkan? Tidak mungkin peri punya sinar begitu kuat." Ujar Rosseta dengan geram. Belum sempat dia sampai ke tempat itu dia sudah terhalang oleh beberapa peri cahaya yang menyinarinya agar menyingkir dari tempat itu.
Rosseta mundur beberapa jarak tetapi tak lama datanglah peri penjaga hutan yang langsung berhadapan dengannya.
"Kau.. tidak mungkin!" Hardik Rosseta yang baru sadar siapa yang ada di hadapannya, dia bisa melihat ada Lilac dan semua peri penjaga yang terdahulu dalam gadis yang ada di depannya.
"Selamat datang Rosseta." Sapa peri penjaga tapi tidak lama Rosseta telah menghunuskan pedang hitamnya bertubi-tubi dengan serangan cepat hampir tak terlihat.
"Gawat.. Rosseta semakin kuat." Ucap Bud pada Petunia, mereka telah keluar dari aula untuk mendampingi peri penjaga, begitu juga Florian dan Flo dengan bayi di lengan Flo mereka berlari keluar untuk melihat apa yang akan terjadi.
Meskipun gerakan dan serangan Rosseta begitu cepat tapi dengan mudah dan santai peri penjaga hutan mengelak. Dengan gerakan anggun, lemah lembut tapi cepat dia menghindar semuanya sampai Rosseta yang geram mengerahkan seluruh kekuatannya mengeluarkan banyak pedang dari besar hingga kecil sampai seukuran jarum menyerang kesegala arah berharap banyak korban berjatuhan.
Dengan sigap, peri penjaga juga mengeluarkan cahaya biru yang berubah menjadi air menyelimuti seluruh pedang hitam lalu membeku dan secara ajaib menguap seperti asap.
Rosseta yang tidak terima dengan kekalahan jurusnya itu kembali meneluarkan lebih banyak lagi dengan cepat tanpa henti, peri penjaga juga tidak berhenti dan terus menggagalkan semua pedang itu.
"SIAL!" Pekik Rosseta saat peri penjaga dengan cepat mengubah airnya menjadi beku membentuk balok runcinf yang mengenai perut Rosseta tapi dengan cepat luka itu menutup kembali.
"Baiklah.. sepertinya dengan ini kau baru bisa berhenti." peri penjaga membekukan tangan dan kaki Rosseta, karena merka masih di udara, maka peri penjaga menurunkan Rosseta ketanah dan mengikatnya dengan air lalu membekukannya lagi sampai batas leher. Rosseta yang tidak bisa bergerak hanya berteriak dan merutukinya tapi peri penjaga segera membekukan mulut Rosseta juga agar dia tidak merapalkan kembali kutukan lainnya untuk kaum peri.
"Aku butuh bantuan, dia tidak bisa di bunuh karena jiwanya akan kembali mencari wadah untuk dipergunakan." Ujar peri penjaga pada Petunia.
"Kami siap membantu peri penjaga." Jawab Petunia dan mereka mulai dengan rencananya.
"Siapkan beberapa peri dan tumbuhkan tanaman ini untuk menidurkan Rosseta, aku akan menarik kekuatan lebih dari ayah untuk bisa melumpuhkannya. Setelah itu peri penjaga pergi meninggalkan Petunia dengan tugasnya dan dia menghampiri orang tuanya.
"Ayah.. aku harus mengambil kekuatanmu tapi ini akan sakit." Ucap peri penjaga pada Florian.
"Ambilah, ini memang punyamu. Ayah akan menahannya." Ucap Florian lembut menatap ke wajah putrinya yang sangat cantik.
"Terima kasih ayah..." Peri penjaga mulai menyentuh dahi Florian dengan telapak tangannya dan menarik kekuatan dari dalam Florian. Saat itu juga Florian berteriak kesakitan hanya beberapa detik tapi sakit luar biasa dirasakannya lalu Florian terjatuh tak sadarkan diri.
"Florian.." Pekik Flora yang menangis sedih. Lalu peri penjaga meneteskan beberapa tetesan air di kening Florian.
"Tak apa ibu, ayah baik-baik saja dan akan pulih. Aku tidak menarik semua kekuatan itu." Ucap peri penjaga sambil mengulas senyumnya.
"Tunggulah disini aku akan segera kembali." Dengan cepat peri penjaga terbang dan di tempat Rosseta para peri utusan Petunia berhasil menidurkannya.
Peri penjaga meminta mereka menjauh lalu dengan sekali tarikan nafas dia kembali menenggelamkan Rosseta dengan air lalu membekukannya.
__ADS_1
Dengan mengayunkan tangannya dia membelah gunung hutan peri itu sampai terlihat dasar didalam yang berisikan air, Rosseta di bawa dan di tenggelamkan di sadar gunung dalam keadaan membeku sempurna. Setelah selesai peri penjaga kembali keatas dan menutup gunung itu.
TBC~