
1 minggu berlalu dan kini Edward yang menjadi dosen killer tiba-tiba berubah ramah seakan jiwanya kembali dan pagi ini dia masuk dengan penampilan baru yang terlihat lebih fresh dan muda.
"Mr. Ed kenapa tidak dari dulu kau berdandan seperti ini, kau sangat tampan." teriak salah satu mahasiswi di kelas yang sama dengan Fany.
"Jangan ribut.. nanti mengganggu yang lain, aku bercukur karena minggu lalu ada yang menyebutku dosen tua, aku masih cukup muda, iya kan?" Tanya Edward dan seluruh mahasiswi bersorak setuju dengannya tapi tidak dengan Fany yang terlihat kesal dengan keramahan Edward.
"Baiklah, karena mata kuliahku sudah bertambah dan sepertinya yang masuk ke kelasku jadi bertambah juga, jadi butuh asisten dari kelas kalian. Aku akan memilih dari hasil test minggu lalu dan yang nilainya tertingi akan terpilih."
Seluruh kelas jadi ricuh ada yang bersorak ada yang mendesah lemah karena tau nilainya pasti jelek.
"Ada 2 orang yang memiliki nilai tertinggi, Dylan dan Fany, diantara kalian berdua siapa yang akan menjadi asistenku?" Tanya Edward dengan menatap bergantian mereka berdua.
"Aku tidak bisa Mr. aku sudah masuk ke club olahraga kampus jadi tidak punya waktu. Fany saja, dia sepertinya selalu senggang." Jawab Dylan dan Edward tersenyum senang tapi Fany malah kesal dibuatnya.
"Baik jadi Fany mulai hari ini kau bertugas untuk membawa semua hasil test dan setiap pengumuman akan kuberikan padamu, kalian silakan buat group kelas dan Fany yang akan jadi wakilku. Permisi, ayo Fany."
.
.
"Kau sengaja kan?" Bentak Fany segitu sampai di ruangan Edward. Fany meliriknya tajam tapi Edward malah tertawa melihat kemarahan Fany yang dianggapnya lucu.
"Jangan marah-marah, aku jadi tambah gemas sama kamu Fany.." Edward kembali mengecup bibir Fany yang tengah manyun karena kesal.
"Ck.. aku mau pulang, selesaikan itu sendiri." Fany pergi meninggalkan Edward yang masih harus berkutat dengan pekerjaannya sedangkan Fany langsung pergi kerja di tempat Flo.
"Siang mba Flo.. " Sapa Fany begitu masuk ke toko dan melihat Flo yang selalu anteng ada di tempatnya. Dia masuk kedalam dan menemui Thika untuk berbagi pekerjaan yang terlihat banyak siang itu.
"Siang-siang gini panasnya parah banget." Keluh Fany lalu segera meneguk air dingin yang tersedia di dispenser belakang. Setelah itu dia bantu Thika untuk mengerjakan buket uang dengan sangat telaten hingga selesai. Tak terasa sudah sore menjelang malam dan Thika sudah pulang, kini tinggal Fany sendirian dan dia tengah menyelesaikan buket balon terakhir hari ini untuk diantar besok pagi. Fany masih sibuk membersihkan sisa pekerjaannya dan akhirnya dia duduk di meja samping membelakangi pintu depan dan mengerjakan tugas kuliahnya.
"Selamat malam, saya ingin pesan bunga." Ujar pria bule pada Flo yang masih memotong kertas wrapping.
"Oh iya Mister, mau bunga seperti apa dan untuk acara apa?" Tanya Flo ramah pada bule itu.
__ADS_1
"Untuk seorang gadis imut, sok tegar, galak, cerewet dan... eh.. itu orangnya." Ujar bule itu sedikit berbisik akhirnya. Flo yang bingung langsung melihat ke belakang dan ternyata yang ditunjuk itu Fany.
"Hah.. Fany?" Flo bertanya lagi.
"Iya, tolong buatkan bunga yang cantik seperti dia dan berikan padanya ya, aku akan duduk disana menunggunya, karna dia pasti sebal nanti." Pinta pria bule itu yang bernama Edward.
"Baik Mister, aku akan buatkan khusus untuknya." Jawab Flo tersenyum peuh arti.
Flo berjalan melewati Fany yang dengan rajin mengerjakan tugas kuliahnya dan Flo meminta sarannya untuk memilihkan bunga sesuai dengan yang dia inginkan, Fany dengan senang hati memilihkan dan mengatakan jenis bunga seperti apa yang dia mau.
"Oke berarti bunga matahari dan di kelilingi bunga warna lembut ya.. hem, boleh juga." Flo mengambil jenis bunga yang disarankan oleh Fany dan merangkainya dengan indah.
"Fany, ini buatmu." Flo menyerahkan buket bunga cantik itu dan tak lupa dia selipkan lilem didalamnya agar Fany lebih jujur dengan perasaannya saat ini. Entah Fany suka atau tidak pada pria itu yang pasti Flo ingin Fany jujur dan tidak larut dalam hubungan rumit nantinya.
"Eh.. untukku?" Tanya Fany bingung tapi dia tetap mengambil bunga itu dan tersenyum lembut.
"Bunga untukmu dari pria yang duduk disana." Flo menunjuk kearah cafe dan kebetulan hanya ada Edward yang duduk disana dan tersenyum melihat Fany yang menatap kearahnya.
"Kalau baik tidak mungkin mencari wanita malam di club." Balas Fany kesal dan sepertinya ini adalah efek dari lilem yang dia hirup sejak tadi.
"Kita bicara di tempat lain saja." Ujar Fany saat sudah mendekat ke arah Edward yang sedang menunggu pesanannya.
"Tunggu ya.. aku sedang lapar karena belum makan sejak siang tadi." Edward tetap menunggu pesanannya.
"Mau kemana?" tanya Edward begitu Fany melangkah pergi, "Mau selesaikan tugas kuliah, dosennya killer dan mesum jadi jangan ganggu aku sebelum selesai." Jawab Fany lalu pergi begitu saja, sementara Edward hanya tersenyum lucu melihat tingkah Fany yang sangat imut meskipun terlihat kesal. Flo yang melihat mereka dari jauh hanya bisa menghela napas karena Fany yang masih ketus padahal Edward sangat tampan dan gagah.
"Nanti kalau diambil orang rugi loh.. pria tampan, gagah kelihatannya juga bukan pria sembarangan." Ujar Flo sengaja memanas-manasi Fany.
"Hehhh... mba Flo gak tau sih aku nih lagi galau, apakah dia serius? Apakah keluarganya akan bisa menerimaku yang bekas wanita malam?" Keluh Fany dan Flo tampak sedih mendengarnya.
"Benar juga ya.. kalau begitu jujur saja padanya, katakan semua keraguanmu agar kalian berdua juga bisa tenang menjalani hubungan."
"Iya mba.. nanti aku akan perjelas semuanya."
__ADS_1
Setelah selesai dengan tugasnya Fany kembali mendatangi Edward yang juga sudah selesai dengan makan malamnya.
"Ayo kita pergi cari tempat." Ajak Fany kemudian dia keluar, menitipkan motornya pada kang parkir disana dan pergi dengan mobil bersama Edward.
"Stop aja di taman sebelah sana dan kita bicara didalam saja, diluar banyak nyamuk." Ujar Fany lagi dan Edward menuruti semua perintahnya.
"Jadi bisakah kau jelaskan maksud dan tujuanmu?" Tanya Fany tanpa mau berbasa basi lagi.
"Fany, kau adalah Fay ku. Wanita yang sudah mencuri semua hatiku dan aku butuh tanggungjawabmu." Jawab Edward dan Fany mengernyitkan keningnya, matanya menyipit melihat Edward tak percaya.
"Kau gila.. harusnya aku yang minta tang.. ah gak juga sih kan aku sudah terima uangmu. huh.. kenapa sulit sih." Ucap Fany pelan.
"Hehehe.. Fany, aku ingin menjadikanmu pendampingku, waktu itu aku pernah bilang pada Kris kalau aku ingin menjadikanmu istriku sayangnya kau adalah wanita malam, tapi setelah malam itu aku meyakinkan diriku kalau aku akan menikahimu, tapi setelah aku bangun kau malah pergi. Selama beberapa bulan itu aku terus mencarimu dan sangat frustasi, begitu merindukanmu, kau tau.. bahkan aku setiap hari ke club agar bisa menemuimu lagi." Jelas Edward, Fany menggeleng.
"Aku benar wanita malam dan kebetulan saja kau yang menjamahku duluan Mr. Ed dan aku memanfaatkanmu agar bisa bebas dari sana." Balas Fany.
"Bukan, kau bukan wanita malam, kau dijual dan itu bukan maumu. Aku tetap akan menikahimu dan jika kau menolak, aku akan menghamilimu sekarang juga." Ancam Edward membuat Fany sedikit takut.
"Kau jangan gila.." Ketus Fany tapi Edward malah tertawa melihat Fany yang marah begitu lucu baginya.
"Kita belum saling kenal, belum tau sapa dirimu sebenarnya dan bagaimana jika keluargamu menolakku?" Tanya Fany lalu Edward mengelus wajahnya dengan lembut.
"Aku Edward Wilmer umurku baru 27 tahun, ibuku dulu adalah gadis yatim piatu yang berjuang hidup dari 0 dan berhasil membuka sekolah dan universitas yang sekarang tempatku mengajar, dia dan temannya berhasil membangun cita-cita mereka lalu lahirlah aku, anak tanpa ayah ini. Aku tidak tau siapa ayahku dan tak pernah bertanya, yang pasti aku tau ayahku itu bule hahaha dan ibu akhirnya pindah membawaku ke Australia untuk hidup berdua, tapi ibu sudah menikah lagi dan bahagia jadi dia tidak akan mempermasalahkan apapun. Aku juga punya perusahaan sendiri di bidang telekomunikasi dan saat ini sudah maju pesat disini. Jadi apalagi yang ingin kau tanyakan?"
Fany begitu tercengang mendengar penjelasan Edward tentang siapa dirinya, pemilik kampus tempat dia kuliah dan punya perusahaan telekomunikasi?
"Kalau begitu aku gak bisa berhubungan denganmu." Tolak Fany tanpa berpikir panjang.
"Kenapa Fany? Apa yang kurang dariku?" Tanya Edward bingung.
"Justru itu Mr. Ed, kau begitu sempurna dan apalah aku ini? Aku tidak mau namamu jelek nantinya dan yang pasti aku tidak pantas untukmu." Jawab Fany dengan yakin.
TBC~
__ADS_1