
"Bunda..." Panggil Imel sedikit terkejut melihat Julia sudah ada di dapur villa bersama Julian adiknya.
"Kenapa pagi sekali bunda datang? Ada apa?" Tanya Imel sambil memeluk Julia dan mencium pipi adiknya.
"Fano yang minta ibu datang buat bantu jaga cucu, katanya kalian mau ke air terjun." Jawab Julia yang dengan santai masih memasak buburnya J dan Fio sambil mmebantu beberapa pelayan yang menyiapkan sarapan untuk semua orang.
"Tapi ini masih jam 6 pagi, yang lain juga belum bangun." Ucap Imel sembari ikut membantu dan tak lama Flo juga sudah bersama mereka.
"Flo, kau ikut kan? Jangan bilang kau malas ya.." Tanya Imel.
"Ikut lah.. permainan seru begitu rugi kalau tidak ikut Mel hehehe..." Jawab Flo dan otaknya sudah traveling ke masalalu saat dia masih menjadi peri di dunia peri juga sering main di air terjun bahkan lebih seru lagi karena tubuh kecilnya mengeksplor lebih luas, terbang kemanapun dan hari ini dia akan kembali bermain tapi dalam bentuk manusia.
"Ha.. aku tidak sabar lagi ingin bermain air, itu sangat menyegarkan tau." Sambung Flo dan akhirnya Imel juga sangat tidak sabar ingin juga merasakan yang namanya bermain di air terjun.
.
.
Rombongan telah masuk ke dalam hutan, menyusuri jalan setapak yang telah terbuat secara alami oleh anak-anak warga disana saat bermain ke lokasi air terjun. Belum ada nama untuk sungai dan air terjun ini karena memang belum terlalu banyak yang tau sehingga warga disana hanya menyebutnya sungai kaca dan air terjun kaca.
Menit pertama perjalanan mereka sangat antusias, bermain, ngobrol, ada yang baru jalan sudah ngos-ngosan karena jarang olahraga, setengah jam perjalanan sudah banyak yang duduk di dahan pohon tumbang atau mencari spot nyaman sendiri untuk istirahat. Sambil beberapa pemuda desa yang sudah biasa melakukan perjalanan seperti ini membagikan minuman. Mereka sengaja di bayar untuk menemani orang-orang kota ini untuk menyusuri hutan dan bermian di sungai nantinya.
Sepuluh menit istirahat mereka kembali jalan dalam diam agar tidak terlalu menguras tenaga, apalagi Mala yang cerewet sudah tidak berkutik lagi bahkan dia diam seribu bahasa karena lelah.
"Woaahhh aku dengar suara air!" Teriak Bambang yang memang suka berpetualang di alam dan dialah yang berada paling depan. Karena teriakannya itu semua jadi semangat lagi dan mulai menerbitkan senyum di bibir mereka.
"Iya memang sebentar lagi sampai kok, hanya di balik gundukan besar ini." Ucap salah satu pemuda desa menunjuk ke sebuah bukit.
"Kau kuat Flo?" Tanya Thika dan Flo masih dengan santai berjalan.
__ADS_1
"Kuat dong.. Flo gitu loh." Jawab Flo dengan nada ringan dan gembira. "Bahkan aku bisa berlari kalau cuma segini saja." Ucap Flo dalam hati.
"Masih kuat Imel?" Tanya Fano yang melihat keringat Imel sudah mengucur indah di wajah cantiknya, sesekali Fano menyekanya.
"Masih.. tenang saja, ini olahraga." Ucap Imel sambil tersenyum. Lelah, tapi Imel senang lagi pula dulu dia sering berjalan kaki waktu masih sekolah.
"Kita sampaaaaiiii...!" Teriak Bambang dan semuanya berhamburan mempercepat langkah kaki yang sejak tadi sudah terasa berat tapi begitu sampai mereka terkagum dengan indahnya air terjun di depan mata.
"Belum bisa main air, kita harus mutar kesana dulu trus ada tangga curam, kita harus turun lagi satu persatu dan jalan lupa pasang pelampung." Ujar salah satu pemuda yang ditunjuk sebagai guide oleh Bian.
Dengan serentak semua memakai pelampung dan Bian juga memberikan beberapa tas anti air agar barang elektronik dikumpulkan saja untuk di jaga oleh 2 pengawal yang dibawanya ikut dalam perjalanan ini.
"Kumpulin saja HP dan elektronik lainnya, kalau foto-foto sudah ada yang ditugaskan." teriak Bian dan semuanya menurut untuk mengumpulkan barang.
Satu persatu anggota Magical Flower di tuntun untuk menuruni tangga curam 90 derajat itu yang terbuat dari kayu yang di ikat kuat, jangan khawatir, tangga kayu itu sangat kokoh dan bisa di lewati oleh 5 orang sekaligus. Panjang tangga curam itu mencapai 11meter. Sebenarnya air terjun yang mereka datangi juga tidak terlalu tinggi tapi tebing di sekelilingnya lah yang sangat tinggi seperti melindungi keindahan alam itu.
"Apakah ada jalan lain selain tangga ini?" Tanya Bian pada guide nya karena dia melihat dari jauh ada beberapa anak kecil yang bermain di sekitar air terjun dan berada di seberang tebing tempat mereka datang.
"Ohh.. berarti gak bisa pakai mobil atau motor?" Sambung Flo bertanya.
"Bisa sih tapi sama gak bisa langsung ke sini, tetap harus jalan 1 jam juga dan perjalanannya sama seperti tadi naik turun bukit." Jawab Agus lagi dan mereka mengangguk.
"Dari sini kita manjat ya... hati-hati dan antri." Teriak Agus dan para wanita hanya melongo melihat apa yang harus mereka panjat.
"Yakin ini bisa kita panjat?" Tanya Mala melihat mereka seperti akan manjat tebing yang memang cuma 2 meter tapi cukup membuatnya pucat melihatnya.
"Sudah lah Mala, coba dulu pasti bisa." Ujar Thika mendorongnya pelan untuk manjat lebih dulu.
"Hiiaaakk..." Teriak Mala begitu kaki kanannya naik dan bok*ngnya di dorong oleh Thika dan 2 tangannya menggenggam kait besi dan juga tali yang dibuat manual di batu besar yang sedang dia panjat. 4 kali tarikan napas panjang akhirnya Mala berhasil naik dan disusul oleh Thika, Flo dan lainnya sampai Imel dan Fano yang terakhir.
__ADS_1
"Huft capek juga yah.. masih jauh gak?" Tanya Mala yang sudah habis-habisan dan Agus tidak menjawabnya dan malah menunjuk ke depan.
"Wah.. cantiknya, trus ini masih kemana lagi?" Tanya Mala karena dia sudah melihat air terjun itu tapi tidak ada jalan lagi di batu atau tebing yang dia injak.
"Ada non, itu." Jawab Agus menunjuk ke belakangnya.
"Astaga.. itu kalau jatuh gimana?" Tanya Mala dan dibalas tertawaan oleh Agus
"Tenang non, kan sudah pakai pelampung, lihat dibawah." Agus menunjuk lagi dan Mala baru tau kalau di bawah mereka ternyata adalah sungai jernih bahkan dasarnya dapat dia lihat dengan jelas.
"Dari sini kita lewat tangga itu, jangan ada yang melompat ya.. terlalu tinggi dan airnya kurang dalam takut cedera." Teriak Agus dan dibalas terikan oleh yang lain yang sudah tidak sabar ingin merasakan kesegaran air jerih di bawah mereka.
Setelah jalan kira-kira lima ratus meter barulah mereka sampai lagi ke tebing yang lebih rendah tetapi tetap terhitung tinggi karena jika diukur tebing itu setinggi 3 meter lebih.
"Nah dari sini kalau ada yang mau lompat sudah boleh, kedalaman air sekitar 2 setengah sampai 3 meter dan tebing ini juga 3 meteran lah." Teriak Agus lagi dan bagi beberapa orang yang tidak takut mereka langsung lompat tanpa aba-aba karena sudah lelah dan tidak sabar. Apalagi si Bambang yang memang anak hutan.
"Yang gak berani boleh jalan lagi disana lebih rendah." Ucap Agus melihat para wanita yang masih ragu. Tidak bagi Flo yang memilih langsung lompat ke dalam air jernih itu dan seketika dia mendapatkan kekuatannya kembali. Ibarat baterai HP yang sudah tinggal 35%, setelah terkena air gunung itu langsung fast charging menuju 100%. Wajahnya berbinar sempurna dan makin terlihat cantik seperti peri hutan.
"Flo kau sepertinya peri hutan ini......." Goda Mala yang sedang ragu tapi ingin tapi takut juga sampai Thika tidak sabar langsung mendorongnya.
"AAHHH SIALAN KAU THI......"
BYUURR
Mala jatuh sempurna dan mendapatkan gelak tawa dari semuanya dan Thika juga langsung melompat tanpa menunggu lama.
"Gimana sayang mau lompat atau turun lagi?" Tanya Fano dan Imel juga ingin lompat seperti yang lainnya.
"Mau lompat tapi kamu duluan trus tungguin disana." Jawab Imel dan Fano langsung melompat dan menunggu Imel yang juga segera menjatuhkan dirinya. Dia tidak takut karena percaya pada Fano dan juga ada peri cantiknya Flo.
__ADS_1
TBC~