Magical Flower

Magical Flower
BAB 76 - Ramuan Pelupa Cinta (Part 11)


__ADS_3

Jika Florian dan Flo sedang berusaha mencari lokasi yang cocok untuk menumbuhkan bunga untuk ramuan maka Celine sedang bersama Suja di kantor polisi untuk melaporkan tindak kejahatan Robin.


Dalam 3 jam saja polisi sudah memburu Robin yang saat itu sedang berada di rumah mertuanya di desa kaki pegunungan dekat dengan Villa Florian. Tidak sulit untuk menangkap Robin karena bukti yang diberikan Suja sangat detail dan dapat di pastikan pria itu akan mendekam lama di penjara. Saksi dan bukti semua lengkap dan tinggal menunggu persidangan.


Robin juga tidak melawan karena dia sangat malu pada mertua dan istrinya yang memang benar-benar dia cintai meskipun mendapatkannya secara licik juga dengan menekan ayahnya Lola dengan hutang yang besar lalu menikahi anaknya.


Lola juga akan bercerai dengan Robin yang telah menipu ayahnya, dia bahkan membantu Suja untuk mencari beberapa bukti yang ada di rumah mereka.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Florian dan Flo telah sampai di kaki gunung AA, Florian membawa mobilnya yang telah di modifikasi untuk bisa masuk ke daerah gunung yang cukup rimbun itu.


"Kau sudah siapkan tenda kan? Minuman, makanan dan lainnya?" Tanya Flo yang sedikit cemas melihat keadaan hutan rimba itu.


"Hei, kau ini peri yang biasa hidup di hutan, kenapa jadi takut?" Tanya Florian sesekali melirik kearah Flo yang duduk di sampingnya.


"Ck.. iya memang tapi kan aku sudah lama hidup seperti manusia." Jawab Flo tidak terima.


"Hahahaha kau nyaman jadi manusia? Baguslah..."


"Apa yang bagus? Nanti saatnya tiba aku juga kembali jadi peri. Kau kira Petunia akan tetap membiarkanku di dunia manusia?"

__ADS_1


"Bisa saja kan..."


"Tidak mungkin, aku ini tetap peri meskipun pembangkang dan tidak bisa diam."


"Kau sadar juga kalau dirimu itu pembangkang? Hahahah"


"Jangan tertawa, aku memang seperti ini. Salahkan ratu jika aku terlahir seperti ini."


"Sudah.. aku rasa tempat ini cocok. Ayo..."


Florian menghentikan mobilnya dan membuka pintu untuk turun melihat keadaan, setelah dia rasa aman barulah Florian berjalan ke arah sungai untuk mencari mata air yang paling bagus.


"Flo disini bagus." Teriak Florian dan akhirnya FLo ikut turun.


Setelah menandai tempat yang akan dia gunakan untuk menumbuhkan bunganya FLo kembali ke tempat dimana Florian mendirikan tenda, ada 1 diatas mobil dan 1 di belakang mobil. Masih di area dekat sungai agar mereka mudah mendapatkan air.


"Flo, tidur di tenda atas dan aku di tenda bawah. Untuk mandi dan ganti baju sesukamu sajalah. Aku akan siapkan makanan dan setelah makan langsung istirahat. Besok pagi kau harus menggunakan banyak kekuatanmu kan."


Flo hanya mendengar tanpa menjawab, tumben saja Florian begitu cerewet, itu pikirnya.


Setelah mandi dan berganti pakaian FLo mendekati Florian yang sedang memasak, makanan siap saji di kaleng dan ada beberapa sayuran yang sepertinya dia dapat dari sekitar hutan.

__ADS_1


"Makanlah, ini ada teh juga dan air minum di dalam tenda." Ucap Forian sambil memberikan sepiring makan malamnya.


"Makasih Flo.." Ucap Flo lalu mereka makan bersama dalam diam. Karena Flo juga sedang memikirkan bagaimana cara agar bunganya besok akan tumbuh dengan cepat. Flo tidak bisa meninggalkan toko terlalu lama meskipun dia sudah minta tolong pada Imel untuk membantunya.


"Kau memikirkan toko?" Tanya Florian setelah mereka selesai makan.


"Ehm.." Flo mengangguk tapi dia masih tidak habis pikir kenapa Florian selalu tau apa yang ada di otaknya.


"Aku tau segala hal tentangmu setelah kita bertemu pertama kali, tentang jantungmu yang berdebar jika melihatku juga." ucap Florian yang menjawab pertanyaan di otak Flo.


"Kau! Sebenarnya siapa sih?" Bentak Flo tak terima karena pikiran dan hatinya di ketahui pria tampan di sampingnya ini.


"Aku memang tampan dan jangan berpikir hal lain, fokuslah pada tugasmu saat ini. Pergilah tidur, besok jam 5 pagi aku akan membangunkanmu." Ucap Florian tapi Flo tetap kesal karena dia tidak bisa mengetahui siapa sebenarnya Florian ini. Bahkan Lion pun tidak bisa tau, Lilem juga jadi tak berguna bila di dekatnya.


Flo akhirnya naik ke atas mobil dimana tendanya berada, cukup nyaman dan udara juga sangat dikit karena ini di tengah gunung.


"Ahhh selimut bulu yang hangat, aku suka." Ucap Flo seraya memeluk selimutnya dan akhirnya dalam sekejab dia tertidur.


Florian masih duduk di depan api unggun yang sejak tadi menyala dalam gelap, dia masih memikirkan bagaimana memberitahukan ke Flo permintaan Petunia saat mereka bertemu beberapa waktu lalu.


"Hah.. aku tidak bisa mengatakannya, bagaimana hidup Flo tanpa dunianya yang sekarang?" Ucap Florian dengan lirih dan pelan.

__ADS_1


"Mulai besok aku akan pelan-pelan menanyakan pada Flo saja tentang keinginannya dan kapan dia menyelesaikan hukumannya, aku juga tidak bisa menunggu terlalu lama." Gumam Florian lagi lalu dia mematikan api unggun lalu ikut masuk ke tendanya sendiri.


TBC~


__ADS_2