
Flora sedang merangkai buket bunga untuk Calla sesuai pesanan Alister pagi ini, dia menyatukan beberapa gerbera daisy kuning dan Calla kuning dan menyelipkan irish ungu kecil untuk kesan manis. Sempurna! Buket cerah ceria ini siap untuk diantarkan sebentar lagi.
"Lion, kamu ikutlah dengan bunga ini dan disana cari wanita benama Lidia dan ikuti dia terus jangan sampai lepas ya.." Pesan Flo pada Lion yang sudah siap dengan tugas barunya sebagai detektif. "Siap bos!" Flo langsung meminta Rey mengantarkan pesanan khusus ini.
"Siang Nona Calla, seperti biasa.." Rey sudah menyerahkan buket cantik itu dan terlihat Calla sangat menyukainya. Kuning dan ungu perpaduan cocok untuk hari yang cerah ini.
"Terima kasih mas Rey.." Ujar Calla saar sadar Rey sudah berjalan cukup jauh.
"Kau suka bunganya?"
"Suka."
"Cantik ya?"
"Iya."
"Suka orang yang kirim bunganya?"
"Suka."
"Mau menikah dengannya."
"Ma.. eh.."
Calla tersadar, dia menatap wajah Alister yang sudah tersenyum bahagia di depannya, dia menunduk mensejajarkan wajahnya pada Calla dan mengecup bibirnya sekilas lalu pergi meninggalkannya yang masih mematung.
"Calla bodoh.. kenapa bisa gak sadar sih.." Cala merutuki dirinya sendiri sambil memukul pelan kepalanya.
"Kenapa kau? Senyum-senyum begitu?" Tanya Edo heran melihat Alister semakin hari semakin aneh. Alister tidak menjawab hanya tetap tersenyum dan memilih duduk di sofa besar depan meja kerja Edo sambil menunggu kopinya datang.
Hanya 15 menit kopi dan Calla sudah ada di hadapannya. Alister menarik Calla hingga jatuh terduduk di pangkuannya, dia melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Calla.
"Lepaskan, ada Pak Edo nanti aku di pecat." Bisik Calla yang menggeliat minta dilepaskan tapi Alister tetap mengeratkan lilitan tangannya.
"Hei jangan mesum di kantorku." Tegur Edo. Calla makin berontak dan akhirnya dilepaskan.
"Maaf Pak saya permisi." Ucap Calla dengan nada takut lalu berjalan dengan cepat ke arah pintu dan keluar.
"Kau yah.. itu termasuk pelecehan, kalau dia lapor habislah kau." Ucap Edo dan Alister malah tertawa.
"Kalau mau lapor sudah dari awal Edo.. aku setiap hari mencuri ciuman dari bibir manisnya." Ucap Alister bangga, Edo hanya menggeleng pasrah.
"Dia hanya ragu karena takut membuatku sial karena kematian 2 mantan suaminya. Bantu aku untuk bisa buka kembali kasus itu." Ujar Alister.
"Cari adik kelasku saja, dia detektif polisi hebat dan sekarang kebetulan lagi tugas di kota ini." Ujar Edo dan mencari kontak diponselnya karena kemarin mereka tidak sengaja bertemu di salah satu minimarket dekat rumahnya.
"Boleh suruh kesini sekarang kalau bisa." Edo mengirim pesan karena adik kelasnya itu lumayan sibuk jadi tidak mengganggunya.
"Ok katanya dia akan datang jam 4 sore ini. Kau mau tunggu, sekarang masih jam 3." Tanya Edo dan Alister yang memang sering mangkir dari kerjaannya sudah merencanakan sesuatu.
"Aku mau pinjam Calla, jangan ganggu ya..." Ujarnya dan keluar dari ruangan Edo untuk turun kebawah mencari Calla yang sudah sedikit senggang di sore hari.
"Calla-ku yang cantik.." Bisik Alister sambil mendekap Calla dari belakang, dia mencium aroma rambut Calla yang menyegarkan pikiran dan menenangkan hati sementara Calla sangat risih di peluk seperti itu.
"Lepas..." Tolak Calla dan tangannya sudah menarik tangan Alister agar lepas dari pinggangnya.
"Aku tak mau lepas kalau kau belum panggil aku sayang." Bisik Alister lagi tapi kesenangannya terganggu karena datangnya seseorang.
"Ehem!" Dehem Andy yang sejak tadi mencari Alister dan sontak membuatnya melepaskan pelukannya dengan malas.
"Kau sangat mengganggu." Ujar Alister dengan nada kesal.
"Kak Andy.." Panggil Calla dan dia mulai tersenyum melihat Andy ada disana.
__ADS_1
"Hai Calla.. uda lama ga ketemu, kamu makin cantik aja." Goda Andy membuat Alister sedikit cemburu karena Calla memberikan senyuman pada Andy yang belum pernah dia dapatkan dan sepertinya mereka cukup dekat.
"Kak Andy ngapain disini?" Tanya Calla dan senyumnya masih menghiasi wajah cantiknya.
"Cari bos yang sedang bucin parah ini, bos ayo balik." Ajak Andy tapi Alister menolak.
"Gak.. aku akan tetap disini menemani calon istriku." Tegas Alister sedikit cemburu.
"Emang kau sudah menerimanya Calla?" Tanya Andy dan Calla menggeleng kuat membuat Andy tertawa terbahak-bahak dan Alister mendengus kesal, dia mendekat ke arah Calla dan sekali lagi mencuri ciumannya.
"Ayo ke ruang Edo lagi.." Ajak Alister begitu selesai dengan aksi mencurinya. Andy begitu terkejut melihat keberanian bos sekaligus temannya. Sedangkan Calla? Dia hanya tertunduk malu.
"Tenang mabro.. dia tidak menolak ciumanmu berarti itu lampu hijau, dulu mantannya saja ga bisa pegang tangannya, calon suaminya mau dekat aja dia kabur terus. Kau hebat mabro." Ujar Andy membuat Alister begitu bahagia mendengarnya.
"Makanya kau bantu aku nanti, sekarang kita kerja dulu, meetingnya dari jauh aja, aku malas balik ke kantor."
Andy sudah menduganya dan dia telah menyiapkan semua berkas dan sekarang mereka meminjam ruang meeting di dalam ruang kantor Edo untuk bekerja, sampai 1 jam kemudian adik kelas Edo datang dan mereka duduk bersama.
"Kau tau dia siapa?"Tanya Andy dan Alister menggeleng pelan.
"Dia mantannya Calla yang aku ceritakan waktu itu." Sambung Andy membuat Alister terkejut.
"Benar kau mantannya Calla?" Tanya Alister ke pemuda yang duduk di samping Edo.
"Iya, memangnya kenapa Tuan? Anda kenal Calla?" Tanyanya.
"Duh.. kau lupa padaku Tama?" Tanya Andy dan Tama menyipitkan matanya dan menggeleng pelan tanda tidak ingat.
"Sudalah tidak apa-apa." Sambung Andy malas mengingatkannya.
"Jadi mau di lanjut ga ini? Dia udah datang loh." Tanya Edo melihat gelagat kurang baik dari Alister.
"Memangnya ada apa ya?" Tanya Tama karena dia juga belum diberitahu apapun.
"Aku tau dan saat ini juga aku sudah menikah dan sedang menunggu anakku lahir 3 bulan lagi, jadi tak perlu cemas. Sekarang ceritakan ada apa dengan Calla?" Tama menjelaskan dan dia sudah duduk tegak dan serius untuk memulai pembicaraan mereka.
"Aku ingin membuka dan menyelidiki kasus kematian 2 suami Calla yang aneh." Ujar Alister dan Tama terlihat terkejut.
"Calla sudah menikah 2 kali? Suaminya meninggal?" Tanyanya tak percaya.
"Iya dan sejak dia putus darimu 4 bulan setelahnya dia dijodohkan 2 kali dan suaminya meninggal saat malam pernikahan." Jelas Andy membuat Tama tercengang.
"Tidak mungkin seorang Calla mau dijodohkan, aku kenal betul karakternya. Sepertinya ada yang tidak beres dengan keluarganya." Ujar Tama memikirkan beberapa kejanggalan di rumah mereka saat dulu dia berkunjung.
"Tapi ini luar biasa kita bertiga bisa duduk bersama, 3 pria yang berhubungan dengan Calla dari masa lalu maupun sekarang." Sambung Tama.
"Maksudmu?" Tanya Alister.
"Mantan pacar." Tama menunjuk dirinya.
"Calon suami." Tama menunjuk Alister.
"Cinta pertama." Tama menunjuk Andy.
"APA?" Pekik Andy dan Alister bersama tak percaya, Alister menatap Andy dengan tatapan ingin membunuhnya, dan Andy menatap Alister dengan raut wajah takut.
"Kau jangan sembarangan, tadi kau bilang tidak ingat aku." Bentak Andy dia tak mau kehilangan sahabat dan pekerjaan sekaligus.
"Aku sudah ingat, kau Andy kakak tetangganya yang baik dan selalu perhatian padanya saat dia masih remaja dan itu yang menjadikanmu cinta pertama saat kedua kakak lelakinya sibuk dengan urusan mereka masing-masing." Jelas Tama jadinya Alister makin emosi lagi, pantas saja Calla memberikan senyum indahnya pada Andy.
"Tapi kenapa dia tidak bilang apapun?" Tanya Andy bingung.
"Karena saat itu teman baiknya menyukaimu juga jadi dia diam em.. siapa namanya yah.." Tama berpikir karena lupa dengan teman baik Calla saat itu.
__ADS_1
"Viola." Ujar Alister dan Andy terbelalak kaget lagi.
"Kok tau?" Tanya Edo yang sejak tadi diam.
"Yah Vio apalagi yang dia kerjakan selain ngikutin ini manusia sampai rela kerja di kantorku." Jelas Alister kesal dan Andy sangat terkejut sebab dia juga punya rasa kepada Viola yang terpendam selama ini.
"Baiklah sekarang kasus suaminya Calla, dia tak mau menikah denganku karena merasa dia pembawa sial makanya aku harus tuntaskan ini." Jelas Alister lagi kembali fokus ke kasus Calla.
"Pembawa sial? Dia masih percaya itu? Sejak dulu memang tante dan sepuppunya menyebutnya pembawa sial. Bahkan kematian orangtuanya juga disangkut pautkan dengannya karena saat itu dia masih kecil dan merengek untuk dibelikan mainan. Tapi sebenarnya Lidia yang memaksanya menangis dan merengek ke ayahnya dan itu jugalah yang membuat 2 kakaknya membencinya karena jadi penyebab kematian orangtuanya adalah kecelakaan hari itu karena hujan deras." Tama menceritakan dan Andy juga terkejut karena dia tidak tau sama sekali.
"kenapa kau tau sebanyak itu, padahal kau hanya jadian dengannya 2 bulan kan??" Tanya Andy dan Tama tersenyum meremehkan.
"Karena aku sudah mengejarnya selama 2 tahun waktu itu dan dia masih mencintaimu." Jawab Tama membuat Alister makin emosi dan dia menatap sinis pada Andy yang sudah berkeringat karena gugup.
"Pak Edo, permisi pak.. sedang ada kegaduhan di lobi." Lapor seorang pengawal membuat Edo mendekat padanya karena selama ini tidak pernah ada kekacauan atau kegaduahn di gedung kantornya.
"Kenapa?" Tanya Edo.
"Itu Pak, Calla dia di labrak sama istri Pak Jordi karena selingkuh." Jawab Pengawal itu takut-takut karena ada Alister yang dia tau kalau punya hubungan special dengan Calla dari cctv yang dia pantau setiap hari.
"Gak mungkin, Calla-ku.." Lirih Alister dan segera lari keluar diikuti Andy, Edo dan Tama.
Mereka sampai dibobi dan saat itu seorang wanita sedang menjambak rambutnya dan menamparnya, sementara Jordi berusaha melerai tetapi kekuatan sang istri menjadi lebih besar darinya.
Calla di dorong kuat dan jatuh terjerembab. Semua orang terkesima saat kacamatanya jatuh dan cepolan rambutnya lepas, ternyata Calla sangat cantik.
"Calla..." Teriak Alister melihat kejadian itu dari jauh dan segera berlari menghampiri dan merangkul Calla yang sudah syok sambil memegang pipinya, dari sudut bibirnya sudah mengalir darah segar.
Alister sangat marah dan segera membopong Calla menuju ruang kesehatan di gedung itu yang telah dipersiapkan Edo untuk karyawannya.
"Apa yang terjadi, ada yang bisa jelaskan?" Tanya Edo dengan tegas membuat semua orang terdiam melihat bos mereka begitu tegas dan tampak marah.
"Karena wanita ****** itu telah menggoda suamiku." Jawab Istri Jordi nyalang membuat Jordi sangat malu dan berusaha menjelaskan tetapi istrinya tetap menggunakan emosinya.
"Pak Jordi, ikut keruanganku bersama istrimu." Titah Edo dan mereka menurut jalan dibelakang Edo yang masih murka.
"Calla.. tahan sedikit ya..." Kata Alister melihat Calla meringis perih saat suster jaga memberikan obat ke sudut bibirnya yang luka.
"Selesai nona, apa ada yang sakit di daerah tubuh lain?" Tanya suster itu dan Calla mengangkat tangan kanannya.
"Pergelangan tanganku sakit dan susah di gerakkan." Ujar Calla dan suster memeriksanya.
"Ini terkilir nona, apa tadi anda jatuh dan menopang tubuh anda dengan tangan ini."
Calla mengangguk,
"Ini tidak parah tapi tolong jangan digerakkan dulu saya akan membalutnya dan sebisa mungkin pagi dan malam ganti obat salepnya ya."
Calla mengangguk lagi dan setelah selesai, Alister masih membiarkannya tiduran di ranjang ruang kesehatan itu.
"Calla-ku, apa yang terjadi?" Tanya Alister dengan lembut membuat hati Calla sangat tenang mendengarnya.
"Wanita tadi sepertinya istri Pak Jordi dan bilang aku pelakor." Jawab Calla singkat membuat Alister mengeratkan kepalan tangannya.
"Ayo kita keatas lagi, Edo suruh kita kesana." Ajak Alister dan Calla menjadi takut. "Apa aku akan dipecat?" Tanyanya membuat Alister tersenyum geli mendengarnya.
"Kau ini bodoh atau apa sih? Dia gak mungkin pecat kamu, kalaupun iya baguslah tinggal menikah denganku kau akan jadi nyonya pemilik hotel dan resort mewah." Ujar Alister, Calla jadinya kembali cemberut.
Setelah Alister dan Calla sampai di ruangan Edo dia sangat terkejut melihat ada Tama disana dan dia terlihat mundur bersembunyi di belakang Alister yang memiliki tubuh besar dan tinggi.
"Hei Calla-ku kenapa takut?" Kau tidak salah disini.
Calla maju lagi dan duduk di depan Jordi dan istrinya yang masih emosi dan menatap benci pada Calla yang terlihat sangat cantik tanpa kacamata dan cepolan rambutnya, bahkan Jordi juga terkesima melihatnya.
__ADS_1
TBC~