
Maira masih berkutat didapur padahal dia sudah masak sejak jam 5 subuh tadi sehabis shalat subuh, dia memang tidak full menjalankan ibadah 5 waktunya tetapi sebisa mungkin akan dia lakukan meskipun masih tidak penuh. Dia sekarang tidak pernah lagi ibadah bersama suaminya karena suaminya selalu pulang tengah malam dengan alasan lembur.
Pagi ini Maira memasak soto ayam dan harus dengan ayam kampung dan komplit dengan perkedel kentang juga ati ampela permintaan mertuanya. Maira yang tidak memiliki aisten rumah tangga harus menyelesaikan semuanya sendiri dari memasak, membersihkan rumah dan memcuci. Belum lagi suami manjanya tidak bisa mengurus diri sendiri dan segala kebutuhan harus di sediakan olehnya.
Suaminya, Hendra adalah pegawai kantoran dan suaminya memberikan 3 juta setiap bulannya, bagi Maira itu sudah cukup untuk kebutuhan rumah tangganya yang masih belum dikaruniai anak setelah 5 tahun menikah.
Maira juga punya usaha sendiri dan rumah yang mereka tempati juga setengahnya dibeli dari hasil usaha Maira yaitu konveksi yang diwariskan oleh orangtuanya yang kini dia jalani dan semakin maju, tetapi tanpa sepengetahuan suami dan mertuanya, mereka hanya tau kalau Maira menjalankan toko jahit kecil-kecilan di pasar kain.
"Mas, besok kita periksa lagi yuk ke dokter. Tapi Maira mohon mas ikut diperiksa juga biar tahu salahnya dimana." Pinta Maira pada suaminya sehabis mereka bergulat panas di ranjang. Suaminya selalu puas dengan Maira karena memang bodi montok Maira merupakan tipe idelanya meskipun permainannya biasa saja menurutnya.
"Gak ah, kamu aja. Mas ga ada masalah kok." Tolak Hendra karena dia malu harus periksa begituan, itu artinya dia tidak jantan.
"Mas, Maira mohon, mas juga jaga pola hidup dan makan sehat, olahraga jangan merokok dan minum lagi, mungkin itu juga bisa jadi penyebabnya mas." Ucap Maira lagi tetapi Hendra mendengus kesal mendengar ocehan istrinya. Dia bangkit dari tidurnya dan menatap Maira yang masih polos hanya berbalut selimut.
"Kau itu, cerewet! Kau saja yang mandul dan tidak bisa kasih anak untukku dan jangan salahkan suamimu kalau kau yang tidak becus jadi istri." Hardik Hendra lalu memakai boxernya kembali dan keluar kamar untuk merokok di teras rumah seperti biasanya.
Hati Maira sangat sakit mendengar ucapan yang dilontarkan suaminya, "Aku tidak mandul.. kata dokter aku sehat..."Lirihnya dengan isak tangis. Sejak malam itu, Hendra berubah dan semakin pemarah.
Dua bulan berlalu dan Maira masih dengan tugasnya tetapi kali ini mereka akan pindah rumah ke rumah dinas yang diberikan oleh perusahaan Hendra, dia naik jabatan menjadi manajer dan difasilitasi rumah di komplek yang dekat dengan kantor dan Maira juga senang karena daerah sana dekat dengan pasar kain tempat konveksinya. Persiapan selesai dan mereka akan menyewakan rumah ini untuk tabungan saja.
Maira masuk kedalam rumah dinas dan mertuanya yang tinggal 1 itu begitu senang dengan rumah mewah di dalam komplek dan ada taman untuk dia bersantai dan mulai arisan di bulan depan.
__ADS_1
"Nah gini kan gak malu-maluin mami untuk arisan, tamannya luas dan ruang tamunya besar banget cukup untuk 10 orang." Ujar Mertuanya senang, wanita tua berumur 53 tahun itu memang sedikit mata duitan kalau menurut Maira tapi karena dia adalah mertuanya jadi tidak pantas dia menghakiminya.
"Mami, bolehkah pakai asisten rumah tangga? Soalnya rumah ini terlalu besar untuk Maira bersihkan sendiri." Pinta Maira dan Intan mertuanya berpikir sejenak, benar juga yah.. kalo rumah segede ini gak ada pembantu nanti apa kata teman arisanku. Batinnya.
"Baiklah cari saja tapi jangan usik jatah mami dari Hendra, kamu urus sendiri." Ujar Intan memberi izin.
"Terima kasih mi, nanti Maira yang urus untuk biayanya." Ucap Maira senang karena dia bisa punya banyak waktu di konveksinya yang makin besar.
Telah 3 bulan Maira tinggal disini dan dia sempat melihat toko bunga dan cafe Magic Flower di depan komplek, dia sangat ingin masuk tetapi untuk apa? Tidak ada yang mau dia beli disana selain dia harus hemat untuk biaya tambahan pelayan.
Rumah ini punya 4 kamar dan 1 kamar pelayan membuat rumah terasa sepi tanpa kehadiran anak, apalagi 2 bulan lalu banyak ibu-ibu arisan teman dari mertuanya yang menyindirnya karena sudah 5 tahun nikah tapi belum ada anak membuatnya semakin terpuruk. Berbagai cara dia membujuk suaminya untuk ikut diperiksa tetapi pasti akhirnya akan bertengkar bahkan setelah pindah rumah, Hendra tak lagi menyentuhnya.
"Hendraaaa.... !" Teriak Intan memanggil anaknya yang masih dikamar menunggu makan malam, Intan juga baru saja kembali dari arisan.
"Kamu ini.. kenapa istri kamu tidak hamil juga? Kalau dalam 2 bulan ini dia belum hamil mami akan jodohkan kamu dengan anak temen mami, tidak ada bantahan." Bentak Intan dan Hendra hanya bedecak kesal dan melirik Maira yang sudah menghapiri mereka.
"Apa maksud mami? Mas Hendra nikah lagi?" Tanya Maira karena dia tidak mau diduakan.
"Terserah, pokoknya dalam 2 bulan ini kamu harus hamil, kalau tidak berarti kamu wanita mandul dan Hendra akan nikah dengan anak teman mami." Hardik Indah lalu masuk kekamarnya di lantai 1.
Hendra lalu menarik Maira menuju lantai atas ke kamar mereka dan memulai pergulatan di ranjang, berharap akan segera membuat Maira hamil.
__ADS_1
Setelah 2 bulan, Maira masih belum ada tanda kehamilan padahal hampir setiap hari mereka melakukannya, bahkan saat ini Maira sedang datang bulan. Pupus sudah harapan Hendra dan dia akhirnya setuju untuk dijodohkan dengan anak teman Intan.
Tetapi tak disangka, Hendra dan Gita sudah kenal karena mereka 1 kantor dan memang sedang dekat, tetapi Gita ragu untuk menerima Hendra sebagai istri kedua.
"Aku gak mau jadi istri kedua." Ketus Gita dan membuat Intan begitu sedih karena dia berharap cucu dari Gita.
"Nak Gita, kita perlu si Maira itu untuk menunjang kehidupan kita. Lumayan loh dia kerja dan Hendra cuma kasih dia 5 juta per bulan setelah Hendra naik pangkat dan dia nombokin semua biaya tambahan dirumah, kamu tau kan gaji Hendra berapa?" Rayu Intan dan membuat Gita sedikit tergiur karena setara dia saja gajinya sudah 10 juta, apalagi manajer divisi. Kira-kira gaji Hendra setara 25 juta dong.
Hendra masih bingung karena dia masih mencintai Maira tetapi dia juga ingin anak, terpaksa dia harus bisa menikahi Gita yang juga cantik dan semok sesuai dengan seleranya, bahkan lebih terlihat ranum si Gita karena masih 22 tahun sedangkan Maira sudah 27 tahun hanya berbeda 2 tahun darinya.
"Kamu itu harus pinter-pinter rayu Gita, beli bunga lah apalah berhiasan biar dia ga batalin perjodohan ini." Ucap Intan begitu mereka sampai diruang tamu rumah, Intan sengaja untuk didengar Maira yang sedang menunggu mereka pulang.
"Mas, kamu beneran akan nikah lagi?" Tanya Maira yang hampir memangis.
"Kalau kamu bisa kasih aku cucu, Hendra juga gak akan nikah lagi. Ini semua salahmu dan kamu harus mau dimadu atau cerai saja sekalian." Teriak Intan yang menyalahkan Maira yang sudah terduduk lemas dilantai.
"Mas... aku gak mau di madu." Lirih Maira yang sudah menangis.
"Aku gak akan ceraikan Maira mih, Hendra masih cinta sama Maira dan kamu bertahanlah, ini semua juga salah kamu gak bisa kasih aku anak." Setelah berkata begitu Hendra berjalan naik ke atas meningalkan Maira yang masih menagis pilu.
"Dasar menantu tak berguna, lahirkan anak saja tidak bisa." Cibir Intan dan berlalu juga meninggalkan Maira yang masih terisak sedih.
__ADS_1
"Sakit sekali ya Tuhan.. apakah aku kuat.. " tangisnya lirih dan sudah terduduk dilantai karena lemas.
TBC~