
Gauri duduk di depan Shanka yang terus saja memandangnya tanpa berkedip, 6 tahun lamanya dia pergi untuk melupakan wanita didepannya ini, begitu juga Gauri yang selama ini terus berusaha melupakan cintanya pada Shanka, tapi takdir mempertemukan mereka kembali dan mereka harus bertemu setiap hari.
"Gauri.. apa kabar?" Tanya Shanka berbasa basi karena dia tidak tau harus bicara apa pada Gauri, jantungnya berpacu cepat dan rasa itu masih ada, sangat, dia sangat merindukan wanita ini.
"Aku baik, kamu bagaimana?" Gauri tak berani menatapnya lama-lama untuk menjaga perasaanya agar tidak terlena dengan cinta masa lalu.
"Sama aku juga baik..." Mereka terdiam lama, tidak tau apa yang harus mereka bicarakan sampai seseorang mengetuk pintu dan memberikan jadwal kerja agar diperiksa oleh Shanka.
Jika dibanding dengan Shanka, Gauri lebih paham tentang bekerja di hotel ini karena dulu dia bekerja disini sangat lama, Shanka juga tau itu sehingga dia tidak terlalu banyak mengajari apa yang harus dilakukan olehnya. Mereka akhirnya bekerja secara profesional meskipun banyak yang ingin Shanka tanyakan padanya, bagaimana kehidupannya selama ini, bahagiakah dia setelah menikah, anaknya dan keluarganya. Shanka sangat penasaran tapi dia pendam karena melihat Gauri sedikit tidak nyaman dengannya.
Jam 6 sore Gauri baru selesai kerja dan dia akan pergi menjemput Arjun di rumah Thika tapi setelah sampai disana Arjun sedang bermain dengan Shanka yang memang telah pulang duluan.
"Mami... lihat ini, om itu yang belikan tadi." Arjun berlari menghampiri Gauri saat dia berada di pintu rumah itu, Gauri terenyum dan mengelus lembut kepala Arjun yang sedang bahagia.
"Arjun anakmu? Pantas saja aku lihat wajahnya mirip seseorang." Ujar Shanka yang sedang menunggu Thika pulang kerja untuk bersama membersihkan rumah Shanka yang telah selesai dibangun.
"Iya, Arjun anakku." Jawab Gauri singkat dan langsung pergi mencari nenek yang ada di dapur belakang rumahnya.
Hanya itu pembicaraan mereka dan Gauri menggandeng tangan Arjun untuk segera pergi dari sana setelah pamit dengan nenek yang sudah menjaga Arjun dari pagi.
Gauri sampai dirumah tapi dia bingung kenapa semua barang-barang sudah ada di depan dan mertuanya sedang jalan mondar mandir didepan rumah yang terkunci dari luar.
"Ibu ada apa? Kenapa barang kita semua ada diluar?" Tanya Gauri dan mertuanya menatapnya dengan marah.
"Kenapa hapemu gak aktif? Aku sudah dari 1 jam lalu telepon tidak bisa dan Aditya juga gak angkat teleponnya." Anju marah-marah pada Gauri yang bingung melihat kondisi barang mereka yang berserakan.
"Ibu ada apa ini?" Tanya Gauri lagi dan raut wajahnya sangat cemas dan dia juga mencoba membuka pintu tapi tidak bisa.
"Rumah kita disita karena ibu gak bisa bayar hutang, cepat bereskan ini dan pindah ke rumahmu yang lama saja." Ujar Anju tanpa rasa bersalah.
"Rumahku? Tapi bu.. rumah itu juga sudah di gadaikan bulan lalu kan dan belum ada uang untuk bayarnya." Jelas Gauri dan Anju mendengus kesal. Iya, rumah Gauri juga sudah dia jadikan jaminan untuk usaha Aditya bulan lalu seharga 100juta dan sampai saat ini belum ada pelunasan sedikitpun. Anju mendengus kesal dan dia juga bingung karena sudah tidak ada uang sepeserpun di dompetnya apalagi tabungan, sama sekali tidak ada.
"Coba telepon saja temanmu itu, manatau dia bisa bantu." Ujar Anju dan akhirnya Aditya juga baru pulang dan bingung atas kekacauan ini, apalagi Arjun juga sudah merengek lapar.
"Apa ada ini?" Tanya Aditya begitu berada di depan rumahnya. Anju akhirnya menceritakan apa yang terjadi dan Aditya benar-benar marah. Memang rumah itu adalah milik ibunya yang akan diwariskan padanya kelak tapi sekarang semua hanya mimpi belaka, ibunya malah menggadaikan rumah ini untuk hidup sosialitanya.
"Coba kamu hubungi temanmu dulu, manatau dia mau bantu untuk tinggal beberapa hari dirumahmu itu." Titah Anju dan Gauri mau tidak mau harus menghubunginya.
"............"
"Thika.. aku mau minta tolong."
__ADS_1
"............"
"Bisa tanya temanmu apakah boleh kami tinggal di rumahku sementara beberapa hari atau seminggu?"
"............"
"Tolonglah Thika, nanti aku ceritakan kalau sudah sampai sana, ini sangat mendadak."
"............"
"Bisa? Iya, aku segera kesana ya... makasih Thika."
"............"
"Ayo bu temenku bilang boleh sementara sampai seminggu saja." Ujar Gauri dan Aditya malah pergi dari sana karena kesal. Gauri tidak bisa mencegahnya karena Arjun juga sudah menangis karena lapar.
+//+
Thika sedang merapikan perabotan di rumah Shanka dan tiba-tiba Gauri meneleponnya dan dia memanggil Shanka untuk sama-sama mendengarkan,
"Ya Gauri ada apa?"
"............"
"............"
"Ehm.. bagaimana ya?" Thika merilik Shanka, dia mengangguk.
"............"
"Ok, mungkin bisa karena dia juga sedang ke luar negri semingguan ini."
"............"
"Iya, nanti kuncinya aku antar ya..."
"Sepertinya ada masalah serius lagi deh." Ujar Thika dan Shanka juga mulai cemas karena baru bulan lalu Gauri membutuhkan uang 100jt dan kini mau pindah tiba-tiba.
Untung saja waktu itu Thika memutuskan untuk bicara pada Shanka untuk membantu Gauri, dari pada Gauri pinjam ke rentenir yang ujung-ujungnya dia akan semakin menderita. Jadilah Shanka yang membantunya dengan uang 100juta Shanka masih sanggup karena selama 6 tahun bekerja dia sama sekali tidak menggunakan gajinya, hanya tip saja itu sudah cukup menghidupi dirinya di kapal yang telah tersedia semua kebutuhannya.
Hampir 1 jam Gauri baru sampai ke rumah karena menyusun barang dan baju yang berserakan di depan rumah, setelah sampai Thika sudah menunggunya dan Gauri baru sadar kalau rumah di sebelahnya yang dulunya hampir roboh sekarang sudah dibangun menjadi 3 lantai dan sangat bagus.
__ADS_1
"Kenapa Gauri, apa yang terjadi?" Tanya Thika yang sangat khawatir melihat Gauri dan Arjun, kalau Anju dia 'bodo amat'.
"Nanti aku ceritakan, gak enak ada ibu." Gauri mengambil kunci dari Thika dan membuka pintu, Anju langsung masuk dan tanpa permisi dia langsung masuk begitu saja dan memilih kamar untuknya sendiri. Barang-barang yang sangat banyak itu dia biarkan Gauri yang mengurusnya bahkan Arjun yang menangis pun dia biarkan. Thika mendengus kesal melihat mertua dari temannya itu yang sangat menyebalkan.
"Arjun, sebentar ya.. duduk disini jangan kemana-mana, momi beli makanan dulu." Arjun patuh dan mengangguk, Gauri mengajak Thika keluar mencari makanan sekalian menceritakan apa yang terjadi.
"Gila ya mertuamu itu, dosa gak sih kalau aku harap dia cepat dipanggil Tuhan?" Kesal Thika yang sudah berapi-api mendengar kenapa mereka pindah tiba-tiba dan malam begini.
"Aku sudah bersabar Thika, tapi ibu mertuaku itu masih berpikir kalau dia itu nyonya kaya raya dan bisa membeli apapun dengan uang. Padahal uang warisan suaminya juga sudah habis dari beberapa tahun lalu." Gauri mendesah pelan.
"Itu semua salah orang tuamu juga, kenapa dia memaksamu menikah dengan keluarga itu, hanya tergiur sisa warisan yang tidak seberapa dan menggadaikan anak satu-satunya demi harta." Thika sudah emosi mengingat bagaimana dulu Gauri dipaksa menikah dengan Aditya hanya karena mereka memiliki rumah bagus dan mobil, juga Aditya yang kerja di bank dengan gaji lumayan tinggi.
Gauri hanya bisa terdiam, memang benar ini semua karena orang tuanya bahkan Gauri sampai saat ini belum bisa mencintai Aditya dan hanya menjalankan tugasnya sebagai istri yang baik tanpa rasa cinta.
Mereka sampaiĀ pada warung depan jalan rumah mereka dan membeli 2 bungkus nasi komplit dengan lauk ayam goreng untuk ibu mertuanya yang pemilih dalam hal makanan sedangkan dia sendiri dan Arjun hanya nasi dengan telur dan tahu untuk berdua. Thika hanya bisa menggeleng melihat Gauri yang begitu sabar menghadapi mertua tak tau diri itu.
"Trus mana suamimu?" Tanya Thika karena sejak tadi tidak melihat Aditya.
"Gak tau, tadi dia langsung pergi karena marah sama ibu."
"Dia udah kerja kan? Kalau sudah bilang bayar hutang yang 100juta itu dengan cara cicil saja. Temanku mau kok dicicil."
"Benarkah? Kalau gitu boleh cicil sekaligus aku sewa tiap bulan ga? Dari pada aku cari rumah kontrakan baru kan tambah pusing."
"Hm, nanti aku tanya deh..'
"Makasih ya Thika, kalau ga ada kamu habislah aku malam ini.. sulit juga cuma sisa untuk ongkos ojek sebulan ini, makan nanti pakai kartu kredit aja beli beras dan lainnya."
Thika mengangguk, dia sangat kasihan dengan Gauri saat ini, dengan kecantikannya dia bisa mendapatkan pria seperti apapun yang dia mau. Bahkan dulu saat sekolah banyak keluarga kaya yang ingin melamarnya tapi dia malah memilih Shanka yang miskin sampai orangtuanya memaksanya putus dan menikahkan dirinya dengan Aditya. Sekarang Shanka sudah memiliki segalanya dan Gauri malah terpuruk, takdir apa yang akan mereka dapatkan setelah ini.
Sementara Arjun yang tengah menangis kini duduk di depan rumahnya sambil menunggu Gauri pulang membeli makanan, Shanka yang adalah tetangganya memanggil Arjun dan memberikan donat dengan taburan coklat meses yang menggugah selera bocah 4 tahun itu.
"Arjun... makan pelan-pelan." Shanka mengelus kepala bocah lucu itu sambil tersenyum melihatnya. Arjun yang memang sangat lapar dengan cepat menghabiskan 1 donat dan malah minta lagi. Shanka yang sudah tau menaikkan 1 box donat berbagai macam warna yang dia beli tadi untuk cemilannya dengan Thika yang belum sempat mereka makan.
"Wuah.. om ini tuk Ajun cemua?" Ucap bocah itu.
"Iya.. tapi jangan makan semua, bagi ke tante Thika nanti, kalau gak dia ngambek loh." Jawab Shanka dan Arjun menganguk tanda mengerti lalu dia mengambil 1 donat lagi yang berwarna kuning dan melahapnya.
Rumah mereka memang tidak ada pagar, dengan halaman terbuka dan menyatu dengan tetangga lainnya, ada juga yang mempunyai pagar tapi Shanka tidak membuatnya karena berpikir kalau rumah Gauri yang pas di sebelahnya tidak akan ada yang menempai, dia tidak menyangka kalau Gauri akan kembali kesini.
TBC~
__ADS_1