
Hubungan Joddy dan Kana semakin dekat dari hari ke hari. Orangtua Kana pun setuju dengan hubungan keduanya. Tapi untuk orangtua Joddy, sampai sekarang Kana belum bertemu. Hampir setiap hari Joddy membujuk Kana untuk bertemu kedua orangtuanya tapi Kana selalu beralasan, belum saatnya. Kana masih takut, dia takut reaksi orangtua Joddy jika tahu anaknya berhubungan dengan Kana seorang janda beranak satu. Kana menggeleng kuat-kuat, untuk saat ini dia tidak mau memikirkan itu dulu. Dia sudah lelah hari ini.
Kana tersenyum saat melihat Joddy sedang menidurkan Ken digendongannya. Apapun yang dilakukan Joddy tak luput dari pandangannya sedikitpun. Joddy dengan lembut menepuk-nepuk pantat Ken sambil bersenandung lagu lullaby. Suaranya tidak buruk, karena waktu SMA Joddy pernah jadi anak band, sebagai vokalis itu yang dibilang Kanda dulu.
Kana menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Ken yang terbuka. Dia baru saja pulang dari lembur karena akhir bulan. Mendapati pemandangan ini hati Kana terasa menghangat. Joddy memang sayang pada Ken, jika pulang awal di selalu menemani Ken. Mandi, makan dan tidur Joddy bisa meng-handle semua itu. Anehnya Ken selalu menurut dengan apa yang dikatakan oleh Om Oddy kesayangannya itu.
Menyadari kehadiran Kana, Joddy memberi kode untuk mendekat yang langsung dituruti Kana. Joddy mengecup kening Kana membuat darah Kana berdesir.
"Aku baringkan Ken dulu ya?" Joddy berkata tanpa suara lalu membaringkan Ken dengan lembut. Tak lupa dia mengecup kening dan memerapikan selimut Ken. Semua itu tak lepas dari pengamatan Kana.
"Kamu mau ditepuk-tepuk juga pantatnya biar tidur?" goda Joddy di telinga Kana.
"Apaan sih!" Kana mendelik lalu mendorong dada Joddy pelan. Joddy hanya terkekeh lalu mengajak Kana keluar dari kamar Ken.
"Mama mana? Aku mau pamit pulang," tanyanya.
"Ada di dapur lagi nyiapin makan malam. Gak mau makan dulu?"
Joddy melirik jam di pergelangan tangannya. "Ada janji sama temen."
"Oh, temen apa demen?" sindir Kana. Joddy tersenyum lalu merangkul bahu Kana, mencium pucuk kepala Kana sedikit. Rambut Kana wangi dan Joddy suka wanginya.
"Cemburu?"
"Enggak. PD banget."
Joddy tertawa lalu melepas rangkulannya saat melihat mama menghampiri mereka.
"Nak Joddy makan dulu yuk, tadi dari kantor langsung ke sini kan?" Mama tersenyum menyuruh Joddy ke ruang makan.
" Duh, gimana ya Tante, ada janji sama temen." Joddy membenarkan letak kacamatanya lalu tersenyum sopan.
"Yah, Tante udah masak banyak tuh!" Mama kelihatan sangat kecewa membuat Joddy merasa serba salah.
"Jangan dipaksa Ma. TEMENNYA udah nunggu." Kana menekankan kata 'temen' lalu melangkah menuju ruang makan. Tanpa mempedulikan mama dan Joddy yang menatapnya heran.
"Kana kenapa?"
"Gak tau Tante. " Joddy mengangkat bahu. Mama tersenyum lalu menepuk pundak Joddy.
"Tante temeni Ken dulu. Sana susul Kana sebelum pulang." Mama tersenyum penuh arti lalu meninggalkan Joddy yang berdiri binggung.
Joddy berjalan mendekati Kana yang asik menyuapkan makanannya.
"Wow, ada gurameh asam pedas. Enak nih!"
Joddy melirik Kana sekilas lalu duduk di samping Kana, mengambil piring dan mulai menyendoki makanan yang mama sediakan di meja.
"Nanti temennya kelamaan nunggu lho," sindir Kana melirik Joddy tajam.
"Dia bisa." Joddy mulai menikmati makanannya.
"Dek, kamu kenapa? Gak rela ya aku pulang? Masih mau aku di sini? Makanya nikah yuk, biar bisa berdua terus?" Joddy mengedipkan matanya membuat Kana terbatuk-batuk mendengarnya lalu buru-buru mengambil gelas berisi air putih di dekatnya.
__ADS_1
"Apaan sih! " Kana salah tingkah.
"Terus kenapa tiba-tiba sinis gitu denger aku mau ketemuan sama temen?" tanya Joddy lagi. Kana tak menyahut dia juga heran kenapa dia tidak suka mendengar Joddy akan bertemu dengan temannya yang entah laki-laki atau perempuan itu. Apa karena dia ingin lebih lama dengan Joddy? Atau karena komentar Siska yang memanggil 'beib' ? Tapi kemarin Joddy sudah menjelaskan jika.dia sudah tidak ada hubungan apa-apa dan kenapa Sisca menyebut dirinya 'beib' dia juga tidak tahu alasan dan tujuannyAma apa.
"Aku mau ketemu temen dan dia berkumis alias laki-laki, ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Joddy seperti tahu apa yang ada di pikiran Kana membuat wanita berhidung mancung itu menahan senyum.
"Ya udah sana, ngapain ngasih tahu aku segala?" Gengsi memang kadang membuat orang lebih egois dibandingkan biasanya.
"Ya udah lain kali gak akan ngasih tahu kalau ketemuan sama orang."
"Gak boleh!!" seru Kana lalu buru-buru menutup mulutnya. "Harus ngasih tahu." Kana mencoba bersikap masa bodoh hanya untuk menutupi kegugupannya.
Joddy mencibir sambil asik mengunyah. Wanita memang mahkluk paling superior sulit
"Hati-hati." Kana menunduk wajahnya merah menahan malu.
"Mau ikut? Biar kamu percaya."
Kana menggeleng, kenapa dia kesannya jadi seperti seorang pacar yang pencemburu ya? Pacar? Boleh gak sih Kana ketawa menyebut dirinya sendiri pacar Joddy?
"Aku percaya," sambar Kana. " Cuma tadi khawatir, ini kan sudah malam."
Ah, alibi. Bilang saja takut Joddy ketemu wanita lain.
"Cieee, yang khawatir. Makanya ke KUA dong biar kemana-mana bisa ikut." Lagi-lagi Joddy memberi kode pada Kana. Sayangnya, hanya ditanggapi senyuman oleh Kana. Mau bagaimana lagi? Jangankan menikah, bertemu orangtua Joddy saja Kana belum siap.
"Ya udah buruan makan, kasian temennya kelamaan nunggu." Dan lihatlah dengan gampangnya Kana mengalihkan topik pembicaraan membuat Joddy tersenyum tipis.
****
"Kalian udah jadian?" Key menatap Kana tak percaya.
"Bukan jadian, kayak ABG aja," balas Kana.
Saat ini Kana dan Key sedang berada di Starbucks. Kebetulan mereka ditugaskan untuk meeting di perusahaan asuransi yang akan bekerjasama dengan bank di mana mereka bekerja, selesai meeting masih ada waktu untuk makan siang. Jadi, mereka memutuskan pergi ke mall untuk sekedar melepas lelah.
"Halah anggap aja begitu. Kalau bukan jadian apa dong? Tunangan? Soklah segera disahkan biar Si Mulut Ember Nurul tahu kalau janda juga berhak bahagia, bisa dapat yang single." Key terlihat berapi-api saat mengucapkannya membuat Kanaterheran-heran sepertinya Key punya masalah pribadi dengan anak kemarin sore itu.
"Kamu kayaknya dendam banget sama anak itu?" Kana menyesap caramel macchiato-nya.
"Aku kesel aja, Na. Dia itu mulutnya ember banget dari dulu. Aku malah curiga lho dia itu jangan-jangan lagi nyoba gaet petinggi di kantor. Pak Gio misalnya."
"Ih, kamu suudzon!"
"Alah, anak zaman sekarang. Tergiur sama gemerlap barang-barang branded say," seru Key dengan gaya centilnya.
"Haha, kirain anak zaman sekarang tergiur sama gemerlap filter di tik tok." Kana terkekeh geli. Mendengar kata 'tik-tok' membuat Key teringat sesuatu dia lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi yang sedang digilai banyak orang saat ini.
"Ngomong-ngomong soal tik tok aku jadi keinget ada yang lagi trend ." Jari-jari Key menscroll layar ponselnya.
"Apa?" Kana penasaran juga dia sedikit mengintip ke arah ponsel Kana.
"Jadi kita ngetes cowok kita, seberapa sayang dia sama kita."
__ADS_1
"Oh, dengan cara?" Kana tidak terlalu tertarik dia cuma penasaran saja.
"Chat pasangan kita dengan kata-kata 'Sayang, maaf ya aku gak cantik kayak cewek-cewek lain'. Nah, kalau pasangan kita jawabnya 'Iya, gak papa.' Itu tandanya dia suka sama kita secara fisik."
Kana mengernyit binggung." Kamu udah coba ke cowok kamu?" tanyanya kemudian.
Key mengangguk. "Udah, dan kamu tahu jawabannya apa?"
"Apa?"
" 'Iya gak papa sayang' Kampret gak tuh!" seru Key membuat Kana tertawa terpingkal-pingkal.
"Eh, jangan ketawa dulu kamu, Na. 95% pria akan menjawab begitu, itu berarti mereka golongan pencinta fisik bukan innerbeauty."
"Oh gitu." Kalau saja Adrian yang ditanya seperti itu pasti dia memilih gak akan menjawab.
"Coba aja Joddy kamu kirim chat begitu, pasti jawabannya sama."
"Gak mau, ah!"
"Alah bilang aja takut!" Key menarik turunkan alisnya.
"Enggak!" sambar Kana.
"Ya udah coba.gih!" tantang Key. Kana terdiam sejenak, gimana kalau ternyata Joddy menjawab seperti kebanyakan pria, berarti dia.cuma.mencintai fisik Kana saja dong.
"Oke aku coba." Dengan ragu Kana membuka password ponselnya lalu mulai mengirimkan pesan
Kana tersenyum saat membaca balasan dari Joddy yang terlihat panik, karena ada kata yang dia ulang-ulang terus.
"Kak Joddy golongan 5% ."Kana menunjukkan layar ponselnya. Key membulatkan matanya saat membaca balasa dari Joddy.
"Wah, akuuu mau! Tukeran cowok yuk, Na"
"Idih, gak mau!" seru Kana lalu tersentak kaget saat ponselnya berdering dan menampilkan nama.Joddy.di layarnya.
"Eh, dia telepon." Kana memberi isyarat pada Key untuk diam.
"Hallo Kak?"
"Hallo kamu di mana? kenapa pesanku tidak di balas?"
"Aku ada di starbucks depan kampus aku dulu. Ak-"
"Oke, aku otw!" Dan pembicaraan terputus sepihak Kana menatap Key yang tak sabar menunggu.
"Kak Joddy otw ke sini."
"What??? Fix kita tukeran cowok!"
************
__ADS_1