Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Berhenti


__ADS_3

Tak banyak waktu yang dibutuhkan Kana untuk sampai ke apartemen Joddy. Jam menunjukan pukul 9 malam. Kana belum sempat berganti baju bahkan makan. Dia ingin semua cepat selesai. Walaupun berat dia harus melakukannya. Melepas Joddy.


Tangan Kana gemetar saat menekan bel rumah Joddy, dia berharap pintu itu tidak akan pernah terbuka dan dia tidak perlu bertemu dengan Joddy untuk melepaskannya. Tapi mustahil itu terjadi karena sebelum ke sini, Kana sempat mengirim pesan pada Joddy, mengabarkan dia akan datang dan ingin bertemu.


Kana sedikit tersentak saat pintu terbuka dan Joddy berdiri menjulang di depannya tersenyum hangat dengan mata yang menatapnya teduh. Kana suka ini, maka dia membiarkan matanya berlama-lama menatapnya merekam senyum dan tatapan itu lalu menyimpannya di memori yang bisa buka kapan saja.


"Masuk gih! Capek banget kayaknya." Joddy mengusap kepala Kana sebelum akhirnya membuka pintu lebar- lebar agar Kana bisa masuk.


"Makan mie lagi?" Kana menatap tajam ke arah Joddy saat melihat mangkuk bekas makan Joddy di depan ruang TV.


"Iya, Dek. Keburu lapar." Joddy mengelus perutnya lalu duduk di sofa.


"Akukan udah belanjain kemarin." Kana duduk di samping Joddy.


"Iya, aku belum sempat, Sayang. Makanya nikah yuk, biar aku ada yang ngurus,"ujar Joddy menaik turunkan alisnya. Jika dalam keadaan normal pasti Kana akan baper lalu tersipu malu dan langsung memeluknya. Tapi sekarang kata-kata Joddy itu terasa menusuk hatinya karena itu tidak akan pernah terjadi, mereka tidak akan pernah bersama.


"Jadi, apa gerangan yang membawa Tuan Putri ke sini?" Joddy mengecup pipi Kana lembut. Hal kecil yang selalu membuat hatinya menghangat.


Lidah Kana terasa kelu tangannya mendadak tremor. Dia tidak akan sanggup mengatakan pada Joddy. Tapi dia sudah berjanji bukan pada ibu Joddy untuk melepaskannya, karena Kana memang tidak pantas untuk pria baik seperti Joddy. Dia berhak mendapatkan yang jauh lebih baik.


"Kak, aku-" Kana menunduk, dia tidak bisa. Benar-benar tidak bisa. Kana mendongak menatap Joddy yang menunggu dia mengatakannya.


"Kana, apa ada yang kamu sembunyikan?"


Kana mengangguk. " Aku..aku.." Kana menarik napas dalam-dalam. "Aku mau kamu- kita berhenti, Kak. Kita putus saja." Kana menunggu reaksi Joddy yang sedikit kaget tapi kemudian tertawa.


"Apa sih, Dek?"


"Aku..aku mau kita akhiri hubungan ini." Kana meremas kuat ujung kemejanya yang sudah lusuh dan mungkin bau keringat karena seharian dia pakai.


"Kamu becanda, kan?" Joddy masih tak percaya dengan apa yang Kana katakan.


"Aku gak becanda, Kak!"


"Kamu nge-prank aku?"

__ADS_1


Kana mengeleng.


"Oke, ini April Mop?"


"ini sudah bulan November."


Joddy menarik kedua bahu Kana agar menghadapnya. "Apa maksud kamu Kana? Kalau kamu becanda, ini sama sekali gak lucu!" Nada bicara Joddy mulai meninggi.


"Aku sedang tidak becanda!" Kana menjauhkan tangan Joddy lalu menatapnya lebih serius.


"Berhenti berjuang untuk hubungan ini, Kak!"


Joddy tertawa hambar. " Maksud kamu apa Kana! Bicara yang jelas!"


"Apa semua kurang jelas? Aku mau kita putus! Berhenti mengejarku!" Kana berdiri menjauh dari Joddy menyembunyikan wajahnya dari pria itu. Kana tidak mau luluh lalu memeluk Joddy dan meminta maaf karena apa yang dia katakan, bohong.


"Kana! Kamu kenapa sih? Tiba-tiba datang dan bicara ngawur!"


"Ini bukan ngawur Kak!"


Kana tercekat, tenggorokannya terasa kering saat menangkap kemarahan di mata dan suara Joddy. Baru kali ini Joddy menatapnya penuh amarah.


"Kana, jelaskan sekar-"


"Aku mencintai pria lain!"sergah Kana cepat. Joddy terdiam matanya nyalang menatap Kana.


"Apa kamu bilang?" Joddy berharap dia salah dengar.


Tangan Kana mengepal di sisi tubuhnya. "Ada pria lain yang aku sukai. Dia terus menggodaku..dan aku luluh." Bohong! Tidak ada pria yang bisa merebut hatinya, kecuali Adrian dan saat ini Joddy.


Joddy menggeleng. " Gak mungkin! Bohong, kamu bohong kan Kana?" Joddy mengguncang-guncangkan kedua bahu Kana memaksanya agar mengakui yang sebenarnya.


"Aku gak bohong Kak! Aku gak benar-benar cinta sama kamu!" sentak Kana melepas cengkraman Joddy di kedua bahunya.


Mendengar itu hati Joddy merasa mencelos. Kana mengigit bibir bagian dalamnya, menahan agar dia tidak menangis.

__ADS_1


"Aku tidak percaya, Na. Aku tahu siapa kamu!"


"Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku Kak, kamu salah menilaiku." Kana mundur selangkah memberi jarak dengan Joddy.


"Aku gak sebaik yang kamu pikir." Aku murahan, gampangan dan suka menggoda sama persis apa yang ibu kamu bilang.


"Omong kosong macam apa ini, Na?" geram Joddy rahangnya memgeras, tatapan matanya menusuk sampai ke jantung Kana menimbulkan rasa sakit di sana.


"Ini bukan omong kosong, aku mencintai pria lain dan itu nyata. Jadi, mulai sekarang berhenti mengejarku, berhenti muncul di hadapanku dan berhenti menemuiku, juga Ken." Kana tahu apa yang dia katakan ini menyakiti hati Joddy pria berhati malaikat yang selalu ada buat dia, bahkan di saat Kana berada di kubangan kesedihan, Joddy mengulurkan tangan untuk memeluknya agar tetap kuat. Tapi apa yang Kana lakukan? Dia menyakiti hati Joddy, Si Malaikat Tanpa Sayapnya.


"Lihat aku Kana, lihat!" Joddy lagi-lagi menarik bahu Kana agar mendekatinya, memaksa Kana menatap ke dalam bola matanya yang hitam pekat.


"Tatap aku, dan bilang kalau kamu gak cinta sama aku." Paksa Joddy bahkan dia memengang dagu Kana menarik dan memaksanya menatap matanya.


"Aku gak pernah cinta sama kamu." Kana mengigit lidahnya keras-keras seolah sedang memberi hukuman karena sudah berbohong.


Mendengar kata-kata Kana, hati Joddy merasa tercabik-cabik. "Bohong! Na, apa yang sebenarnya terjadi, kemarin kita baik-baik saja-"


"Tuhan maha membolak-balikan hati Kak. Lupakan aku! Dan carilah wanita yang lebih baik dariku." Kana memotong omongan Joddy.


"Aku gak cinta sama kamu. Menjauh dariku dan juga Ken jangan pernah muncul di hadapan kami lagi." Kana mengambil tas lalu bersiap keluar.


"Siapa pria itu?"


Langkah Kana terhenti saat mendengar pertanyaaa Joddy .


"Beri aku satu nama, maka kamu boleh pergi dari sini." Joddy berdiri di depan Kana mencegahnya agar tidak kabur.


Kana terdiam. Nama? Untuk apa Joddy meminta sebuah nama? Apa untuk membuktikan kalau apa yang Kana katakan itu tidak bohong?


"Thomas. Nama pria itu Thomas." Sial. Entah kenapa nama yang terlintas di pikiran Kana adalah pria itu. Teman kerja Kanda yang bahkan sudah menikah dan punya tiga anak. Selesai bicara Kana bergegas keluar meninggalkan Joddy yang berdiri dengan wajah dingin. Namun setelah sampai di luar Kana mendengar suara benda-benda yang berjatuhan karena sengaja dilempar. Kana terduduk di depan pintu apartemenJoddy. Air mata sudah tidak dapat dia bendung lagi.


"Maafkan aku, Kak."


*****

__ADS_1


__ADS_2