Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Nasi padang


__ADS_3

Joddy tak henti-hentinya bersyukur saat pulang dari dokter kandungan, mereka memastikan apakah Kana benar-benar hamil atau tidak. Walaupun hasil testpack positif tapi mereka ingin lebih meyakinkan lagi. Dan ternyata di rahim Kana sudah bersemayam janin berusia 6 minggu.


Joddy sangat bahagia saat dokter mengatakan Kana benar-benar positif hamil. Bahkan sepanjang jalan pulang dari klinik tak henti-hentinya Joddy mengucap syukur karena kerja kerasnya tiap malam membuahkan hasil.


Berbeda dengan Joddy, Kana Si Ibu Hamil hanya diam sejak tadi, bahkan dia langsung masuk kamar begitu sampai di rumah. Membuat Joddy jadi binggung.


"Dek, kamu kenapa diam saja dari semalam? Apa kamu gak seneng sama kehamilan kamu?" tanya Joddy menghampiri Kana yang duduk termangu di balkon kamar mereka.


Kana menatap suaminya, jelas terlihat binar-binar kebahagiaan di mata suaminya itu. "Bukan gak seneng, aku cuma- kaget." Kana menunduk dengan jari jemari saling bertautan seperti menahan kegelisahan.


"Kaget atau takut?" tanya Joddy duduk di samping Kana.


Kana menatap sekali lagi suaminya. "Aku hanya takut, Kak. Takut kejadian sama akan terulang lagi." Kelebat kejadian di kehilangan janinnya berputar-putar di pikiran Kana sejak dia melihat hasil testpack yang positif ketika di rumah orangtuanya.


Sudah Joddy duga, kehilangan dua kehamilan kemarin sepertinya membuat Kana khawatir jika kali inipun dia akan mengalami hal yang sama, apalagi tadi dokter mewanti-wanti untuk menjaga kehamilan karena Kana pernah mengalami riwayat keguguran dua kali.


"Kana, kamu tidak perlu khawatir apalagi takut. Semua akan baik-baik saja. Kita pasti bisa menjaga dia


dengan baik. Kamu juga masih ingat yang dokter bilang kan? Kandungan kamu baik-baik saja kita hanya perlu menjaganya lebih hati-hati lagi." Joddy tersenyum lalu mengambil tangan Kana dan menggenggamnya erat.


"Aku sudah tidak sabar menantinya." Tangan Joddy terulur membelai perut Kana yang masih rata. Membuat hati Kana menghangat seketika.


" Mahkluk kecil ini adalah anugerah dari Tuhan untukku, untuk kita dan bisa jadi untuk Ibu, sebagai pengganti kebahagiaan yang sempat terenggut oleh luka. Kehadirannya membuatku bahagia, Na. Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk melihatnya lahir ke dunia." Wajah Joddy sedikit sedih tapi kemudian dia menutupinya dengan tersenyum manis ke arah Kana.


"Aku- kita pasti bisa menjaganya dengan baik. Dia akan tumbuh dengan baik. Kalau dia perempuan pasti akan secantik Ibunya, kalau dia laki-laki tentu saja akan seganteng Ayahnya." Joddy menaik turunkan alisnya di akhir kalimat. Mau tak mau Kana tersenyum mendengar semua yang diucapkan Joddy.


Rasa takut dan khawatir yang sejak semalam mengganggunya perlahan menghilang berganti dengan rasa tenang dan lega. Memang ketakutannya berlebihan, dia seharusnya percaya kalau dia dan Joddy bisa menjaga bayi mereka dengan baik seperti bagaimana dia menjaga Ken yang sekarang tumbuh menjadi anak yang menggemaskan.


"Maafkan aku ya, Kak. Harusnya aku gak pesimis." Kana membalas genggaman Joddy dengan erat.


"Kamu harus fokus pada dia dulu tanpa melupakan Ken. Jangan berpikir terlalu berat dan jangan kecapekan ya?"


Kana mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di bahu Joddy menghirup aroma minyak telon yang sudah menjadi satu dengan keringat menimbulkan feromon yang menggelitik hidung Kana. "Makasih ya, Kak. Selalu ada buat aku," bisik Kana lirih.


Joddy tersenyum lalu mengecup kepala Kana. "Segalanya buat kamu, Na."


****


Semenjak tahu Kana hamil Joddy berubah menjadi lebih posesif pada Kana. Dia akan berubah panik dan paranoid jika Kana tidak mengangkat telepon atau membalas pesannya jika mereka sedang tidak bersama.


Seperti Adrian dulu, Joddy meminta Kanda yang sudah resmi menjadi seorang duda itu untuk membantunya menjaga Kana. Tugas pokok Kanda adalah mengantar-jemput Ken ke sekolah dan mengantar Kana kemanapun dia mau jika Joddy tidak bisa mengantarnya. Awalnya, Kanda menolak tapi karena iming-iming Joddy akan memberikan apartemennya untuknya secara cuma-cuma. Kanda akhirnya setuju-setuju saja.


"Gue kenapa de Javu ya rasanya?" Kanda meletakkan sebungkus nasi padang di meja lalu dengan muka kesal menatap Kana yang asik bermain ponsel sambil memakan es krim.


"Kenapa?" tanya Kana tanpa menatap sang kakak yang meliriknya sebal.


"Dulu, waktu lo hamil yang pertama juga kayak gini kan?Adrian nyuruh gue jadi bodyguard dadakan lo!"


"Tapi lo kan dibayar! Sekarang malah mau dikasih apartemen!" balas Kana masih asik dengan ponsel dan es krimnya.

__ADS_1


Kanda mendecih lalu mulai membuka bungkus makanannya dan mulai makan. Sambil sesekali melirik ke arah adiknya yang sibuk bermain ponsel.


"Lo makan es krim sebanyak itu gak takut gemuk?"


"Enggak!" jawab Kana singkat.


"Lo dari tadi diajak ngomong gak ngehargain banget sih? Liatin, kek yang ngomong!" tegur Kanda sebal lalu mengunyah rendangnya kuat-kuat meluapkan emosinya.


"Bentar lagi, tanggung." Kana lalu melirik Kanda sekilas. "Sekarang, kenapa sejak resmi cerai dari Nea lo makin sensitif sih, Bang?"


Kanda menghentikan kunyahan lalu menatap Kana."Sensitif? Lo kira gue tespack? Ngawur aja lo! Gue biasa aja! Gak ada yang berubah sama diri gue!"


Kana mendecih,"Iya, gue percaya!" Nyatanya, disinggung dikit aja ngamuk!


"Terus kabar si Nea gimana Bang sekarang?"


Kanda mengangkat kedua bahunya acuh. "Bukan urusan gue lagi!" Sepertinya Kanda benar-benar merasa kecewa dengan apa yang sudah Nea lakukan padanya. Lihat saja, menyinggung soal kabar mantan istrinya itu saja Kanda terlihat ogah-ogahan.


"Jangan gitu, gimanapun dia pernah di hati lo, Bang!" Kana beranjak dari duduknya lalu menghampiri Kanda dan duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan kakaknya.


"Dulu, sebelum gue tahu semua palsu," gumam Kanda lirih, pandangannya mendadak menerawang. Seperti sedang memikirkan sesuatu hal.


Kana maklum atas sikap Kanda pada Nea. Luka yang sahabatnya itu torehkan di hati Kanda memang dalam. Wajar saja jika sekarang Kanda seperti mati rasa pada wanita itu.


"Dan lo trauma sama pernikahan?"


Kana hampir lupa jika Kanda memang bukan seperti orang kebanyakan. Dia memang bucin setengah mati pada orang yang dia sayang, tapi kalau sudah dilukai, jangan harap Kanda akan cinta lagi. Jangankan cinta, sayang saja ogah.


"Lagipula, spesies cewek sama cowok di dunia ini 2:1, yakali gue gak nikah lagi!"


Kana mendengus, lalu memperhatikan Kanda yang asik memakan makanannya. Kana menelan ludah saat melihat betapa lahapnya Kanda mengunyah. Terlebih sepotong rendang yang tinggal separuh dan telur dadar khas Padang yang sudah tersiram kuah sayur itu terlihat menggoda. Tanpa sadar tangan Kana yang masih mengenggam sendok es krim itu terulur ke arah telur dadar yang belum tersentuh Kanda.


"Eh, mau ngapain lo?!" Kanda menghadang sendok Kana dengan sendok yang sejak tadi berada di tangannya.


"Nyicip dikit!"


"Nyicip ya nyicip tapi pakai sendok lain dong! Sendok bekas es krim begitu mau lo pakai?" Kanda menatap jijik ke arah sendok yang terlihat masih terdapat bekas es krim.


"Emang kenapa? Gak papa lagi, kan lagi hits tuh makan es krim rasa nasi pandang!" Kana mengedik acuh, lalu mulai mengiris telur dadar dengan sendoknya dan menyuapkan ke mulutnya.


Kanda menatap Kana jijik saat adiknya itu mengunyah makanan dengan gaya yang dibuat-buat. "Rasanya enak sekali, Adik aku aja sukaaaa!" Kana menirukan kata-kata seorang influencer terkenal.


"Kenapa kalau yang ngomong begitu lo, gue mau muntah ya?" Kanda bergidik geli saat dengan santainya Kana makan dengan sendok bekas dia makan es krim. Kana acuh, lalu menyuapkan lagi makanan ke mulutnya.


"Itu bukan nyicip! Tapi makan!"Kanda menjauhkan kertas bungkus nasi padangnya. Membuat Kana menatapnya dengan wajah sendu siap menangis. Kanda jadi tidak enak saat melihat wajah Kana. Matanya udah merah mirip Ken yang akan menangis saat kena omel ibunya.


"Lo gofood aja sana! Gue yang bayar." Kanda mana mau membagi makanannya. Dia sudah sangat lapar. Lagipula nasi Padang yang dia makan ini warungnya jauh dia beli karena kebetulan lewat jadi sayang aja kalau dibagi ke ibu hamil yang napsu makannya sedang tinggi ini.


"Maunya itu," tunjuk Kana ke arah makanan yang ada di depan Kanda.

__ADS_1


"Enggak ah, ini belinya jauh deket kantor!" Kanda menjauhkan nasi padangnya lagi. Membuat Kana terlihat makin sedih tapi Kanda berusaha tidak peduli .


"Dikit ajalah, Bang!" rengek Kana bak anak kecil yang menangis minta dibelikan mainan.


"Gak! Apaan sih lo!"


"Bang, dikit aja.."


"Enggak! Kampret!"


"Bang.."


"Kalian kenapa ribut sih? Kedengaran sampai depan!" Joddy yang tiba-tiba datang menatap jengah ke arah kakak-beradik yang sedang bertengkar itu.


"Ini, nih.. Bang Kanda dimintain nasi Padang gak boleh ,pelit!" adu Kana pada suaminya yang terlihat sedikit berantakan karena lelah sepulang kerja.


"Cemen lo! Ngadu!" Kanda tak terima dikatakan pelit oleh adiknya.


Joddy membenarkan letak kacamatanya lalu menatap kakak-beradik itu bergantian. Sungguh, Joddy tidak percaya dua orang yang berusia dewasa itu bertingkah seperti anak kecil sedang berebut mainan. Untung saja, Ken masih di rumah kakek-neneknya. Kalau tidak, bocah itu pasti berpikir punya teman baru.


"Astaga, perkara nasi padang aja kalian ribut kayak anak kecil begini!" Joddy berkacak pinggang kesal .


"Kita beli ajalah, Dek. Aku mandi dulu nanti aku beliin." Joddy mencoba memberi solusi.


Kana tiba-tiba memeluk suaminya seperti anak kecil yang tengah mengadu pada ayahnya."Tapi Kak aku mau nasi padang itu, ini anak kamu yang minta!" Kana mengangkat kepala menengadah menatap suaminya yang kebetulan sedang menunduk menatapnya. Saat mata mereka bertemu, Joddy mengumpat dalam hati. Tatapan mata Kana itu mengingatkan pada gadis belia yang pertamakali dia lihat di rumah Kanda. Tatapan yang polos dan penuh binar. Tatapan yang selalu bisa membuat Joddy bertekuk lutut.


"Kasih ajalah, Nda. Nasi padang doang ini." Joddy akhirnya menyerah dan meminta iparnya itu untuk mengalah. Dia sudah lelah ingin segera beristirahat.


"Enak saja! Gak maulah! Ini nasi padang terenak di Jakarta. Para Food vlogger aja pada ngereview ini makanan." Kanda memengang erat nasi padangnya seolah lengah sedikit saja nasi padang itu raib dari tangannya.


"Lo mau anak gue ileran?" tanya Kana sebal menatap kakaknya kesal.


"Bodo amat! Itu kan anak kalian bukan anak gue!"


"Kak.."rengek Kana pada Joddy yang serba salah harus bagaimana. Semenjak hamil Kana memang berubah perangai. Lebih sensitif, manja dan cengeng.


"Kasih ajalah Nda atau apartemen gue gak jadi gue kasih ke lo!" ancam Joddy, Kanda mengumpat lirih lalu meletakkan kembali nasi Padang di meja dan mendorongnya ke arah Kana yang langsung bertepuk tangan dengan riangnya lalu tanpa basa-basi melahap makanan di depannya. Joddy tersenyum lalu mengacak rambut Kana gemas sebelum berlalu ke kamar untuk mandi.


"Ganti ya nasi padang gue!" seru Kanda pada Joddy.


"Iye, gue ganti sekalian warung-warungnya!" seru Joddy dari atas tangga sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Kanda.


"Huh, sok sultan!"seru Kanda tapi matanya melirik sebal ke arah Kana yang tanpa dosa melahap makanannya.


****


****hai, maafkan lama updatenya! Karena sedang banyak kerjaan di dunia nyata! Terimakash yang selalu mendukung cerita ini.


Gimana puasanya? Tetap semangat, kan? Sehat selalu ya. Iloveu!****

__ADS_1


__ADS_2