Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Apanya yang gede?


__ADS_3

Joddy memutar bola matanya bosan. 1 jam menunggu Kana mengobrol di video call dengan sahabatnya membuatnya jengah. Padahal Joddy sudah berekspektasi akan melakukan sesuatu yang 'mantap - mantap' tapi nyatanya semua itu hanyalah harapan. Rupanya Kana mengajaknya pulang ke apartemen hanya untuk bebas bicara dengan Moli sahabatnya yang sekarang berada di Jerman menunggu Ibu mertuanya yang sedang melakukan operasi.


"Jadi, benar kamu gak pernah pacaran sama suami aku?ji" tanya Kana sekali lagi. Wajah Moli terlihat geli di layar ponsel saat mendengar pertanyaan Kana itu.


"maunya begitu. Tapi suami kamu yang gak mau, Na. Lagi pula aku gak mau pacaran sama cowok yang belum bisa move on."


Kana melirik Joddy yang sibuk makan mie instan tak jauh darinya. Pria itu mengedipkan sebelah matanya dari balik kacamata yang makin membuatnya menawan, saat ikut mendengar suara Moli. Kana mendecih pura-pura kesal padahal dalam hati dia merasa lega luar biasa.


" Aku juga gak tahu kenapa Nea bisa ngomong kayak gitu. Aku memang sempat naksir Joddy. Tapi cuma sebatas itu."


"Nea udah berubah Li. Dia udah bukan Nea yang kita kenal dulu."


"Sebentar deh Na. Maksudnya dia berubah gimana?"


"Nea kayak orang yang punya kepribadian ganda. Dia bisa sangat baik di depan orang tapi begitu di depanku dia berubah jadi dingin dan... Jahat." Kana teringat wajah dingin Nea saat bicaranya dengannya dan itu membuatnya sedikit ngeri.


"Nea memang sedari dulu ambisus Na, tapi kayaknya kalau berkepribadian ganda, enggak deh!"


"Ambisus?"


"Kamu lupa dia kan selalu menang lomba waktu kita sekolah. Lomba apa aja dia ikut dan harus menang. Pokoknya apa yang dia inginkan harus dia dapat."


Kana jadi ingat, Nea bilang dia sakit hati karena Kana pacaran dengan Amar apa Moli juga tahu soal ini?


"Moli, apa-kamu juga tahu kal-au Nea suka sama Amar?" Kana sedikit ragu saat bertanya, matanya melirik Joddy yang menatapnya tajam seolah tak suka Kana menyebut nama mantannya itu.


"Iya, kayaknya. Tapi sejak tahu kalau ternyata Amar lebih milih kamu dia mundur deh!"


"Kok, kamu gak pernah cerita soal ini?"


"Aku kira kamu udah tahu. Emang kenapa?"


"Nea dendam sama aku, gara-gara aku pacaran sama Amar."


Moli mengerutkan keningnya kebingungan. "Masa sih? Oh, mungkin si Amar itu salah satu obsesi yang belum tercapai. Yang penting dia kan udah nikah sama kakak kamu."


"Justru itu, Moli. Dia nikah sama Kakak aku cuma buat balas sakit hati dia."


"Masa sih, Na? Kayaknya kalau cuma buat balas dendam soal Amar engga deh. Dia iri kali sama kamu. Yah, waktu kuliah aku emang sering liat dia marah gak jelas kalau kamu lagi jalan sama kakak kelas kita. Sama Kak Jerry, masih ingat gak? Kalian kan pernah nonton berdua kan sebelum kamu pacaran sama Kak Ian?"


"Masa sih?" Kana mengabaikan tatapan dan dengusan Joddy di ujung meja.


"Awalnya aku kira dia kesal karena sering ditinggal kamu. Tapi gegara apa yang kamu ceritain ini aku jadi mikir lain. Dia iri sama kamu, karena kamu lebih populer kali!"


Kana termenung, memikirkan semua yang dikatakan Nea. Apa iya Nea iri padanya padahal selama ini dia tidak pernah merasa populer.


" Dan serius ya, aku gak bisa datang ke nikahan kalian karena emang mertua aku sakit bukan karna gak bisa move on. Yakali! Suami aku lebih cakep, dan yang penting... Lebih gede, Na!" Moli terbahak-bahak di akhir kalimatnya. Membuat Kana mengernyit bingung.


" Apanya yang gede?" tanya Kana kebingungan, Joddy yang mendengar obrolan mereka bergegas menghampiri Kana lalu menyambar ponsel itu.


"Hai, Mol! Maaf ya, tapi kami harus segera pergi. Ken nungguin di rumah."


Kana mengernyit mendengar apa yang dikatakan suaminya itu. Terlebih Moli tertawa melihat reaksi Joddy yang panik entah karena apa Kana tidak tahu.


"Ya oke deh. Na, kita sambung bulan depan ya. Bulan depan aku liburan ke Indonesia nanti aku kasih tahu yang gede-ged-" Panggilan terputus begitu saja karena Joddy sengaja mematikan ponselnya.


"Ihh, kok dimatiin sih? Gak sopan lho, Kak!" protes Kana. Joddy mendengus lalu menyerahkan ponsel Kana kepada pemiliknya.


"Bodo amat!" seru Joddy sebal. Dia kesal saja dengan Moli, bisa - bisanya dia membandingkan dirinya dengan suami bulenya meskipun tidak secara langsung.


"Eh, mau kemana?" tanya Kana begitu melihat suaminya berjalan ke arah kamar.


"Tidur!"


"Dia kenapa? Seenaknya matiin telepon. Padahal aku penasaran sama yang gede-gede yang dimaksud Moli tadi. Apa ya?" gumam Kana dengan wajah bingung, mengabaikan bantingan pintu Joddy.


*


Joddy tersentak kaget begitu sadar hari sudah siang, matahari sudah tinggi terlihat dari sinarnya yang menyeruak menyilaukan matanya. Dia mencoba mengingat kejadian semalam. Harusnya semalam dia pulang ke rumah Kana tapi dia ketiduran karena kelelahan. Lalu apa Kana pulang sendirian? Mengingat Ken baru saja sembuh? Ah, lebih baik dia mandi dulu lalu menyusul Kana ke rumahnya.


Tapi Joddy kaget saat melihat istrinya ada di dapur tengah memasak sesuatu. Memakai kemeja kebesaran miliknya yang menenggelamkan tubuh mungil sang istri yang malah membuatnya terlihat seksi.



Tak tahan dia menghampiri Kana lalu memeluknya dari belakang membuat si wanita tersentak kaget, tapi kemudian tersenyum saat sadar sang suami yang sudah memeluknya.


"Udah bangun?" tanya Kana yang rupanya sedang menyeduhkan kopi.


"Hmmm," sahut Joddy memilih menyerukan kepalanya ke tengkuk Kana menikmati aroma peach yang menguar dari tubuh dan rambut istrinya itu. Seingatnya, dia tidak punya sampo atau sabun beraroma manis seperti ini? Apa Kana membelinya?

__ADS_1


"Masih marah?" tanya Kana asik mengaduk kopi.


"Aku? Marah kenapa?" Joddy balik tanya


"Aku juga bingung kamu tiba-tiba aja mutusin telepon Moli lalu masuk kamar terus tidur, aku bangunin gak bangun-bangun. Untung Mama telepon dan bilang Ken dijemput pulang kerumah Mama."


Joddy termenung, ingatannya akhirnya terkumpul semua, dia ingat sekarang, semalam dia kesal saja karena Moli membahas sesuatu yang sebenarnya Joddy sendiri tidak yakin apa yang Moli maksud sama dengan yang di pikirannya. Tapi rasa cemburunya lebih mendominasi, karena Kana begitu penasaran dengan apa yang dibahas Moli.


"Jadi, Ken nginep di rumah Mama?".


Kana membalikkan badannya lalu mendorong tubuh Joddy bermaksud membawa cangkir berisi kopi untuk sarapan mereka ke blakon ingin menikmati udara pagi hari yang masih sedikit segar.


"Iya, Mama nyuruh aku nginep di sini. Mama tahu kali menantunya lagi ngambek gara-gara aku sama Moli bahas yang gede-gede." Kana menahan tawa begitu ingat apa yang dimaksud Moli. Setelah Joddy tidur dia melanjutkan obrolannya dengan Moli karena terlalu penasaran apa yang dimaksud sahabatnya itu sehingga Joddy bisa sampai marah padanya.


Joddy membelalak lalu menyusul Kana yang sudah duduk manis dengan secangkir kopi di tangannya.


"Dek, jangan bilang kamu nanya ke Moli ya!"


Kana tergerak. "Aku nanya."


"What?"


"Lagian kamu kenapa sih, Kak. Kamu sendiri yang bilang jangan insecure sama diri sendiri. Tapi lihat, kamu sendiri sekarang yang begitu."


Joddy mengumpat dalam hati. Sial! Kenapa dia kesal hanya karena merasa dibandingkan dengan oranglain. Padahal harusnya dia percaya diri saja. Toh, dia berhasil membuat istrinya itu selalu tak berdaya di bawah kendali ya, itu tandanya dia memang luar biasa, kan?


"Ya, yaa gak gitu juga sih! Aku cuma gak suka saja kamu membayangkan punya pria lain." Joddy berjalan ke arah pagar pembatas menumpu kan kedua tangan menikmati pemandangan kota Jakarta. Kana tersenyum lalu memeluk suaminya dari belakang menyandarkan kepalanya kepunggung suaminya yang sandaranble itu.


" Gimana aku bisa ngebayangin pria lain, kalau suami aku aja udah bikin aku mabuk kepayang." Ah, sekali-kali gombalin suami gak papa lah daripada disuguhin muka kesel.


Mau tak mau Joddy tersenyum juga mendengar rayuan Kana itu.


"Tapi kamu gak pernah cerita pernah jalan sama Jerry atau siapa namanya, di cerita Moli semalam!" Joddy kembali saat diingatkan teman pria Kana.


"Ya, kami kan cuma jalan lagian kamu juga gak pernah cerita mantan-mantan kamu!" Kana melepas pelukannya lalu kembali duduk dan mengambil sepotong roti yang entah sejak kapan berada di meja depan Kana.


Joddy mendesah pasrah. Benar juga, kalau mau ungkit - ungkitan masalalu jelas Joddy akan kalah telak, pasalnya dia memang harus mengakui punya banyak mantan. Banyak sekali malah. Sampai kalau dihitung pakai jari 10 jarinya tak kan cukup.


"Damai deh, damai!" Joddy membanting tubuhnya di samping Kana merayu sang istri.


"Makanya jangan kayak anak kecil. Masak, masalah sepele aja ngambek."


"Iya, iya aku memang anak kecil yang lagi masa pertumbuhan dan butuh nutrisi," bisik Joddy penuh makna.


"Bukan nutrisi itu tapi nutrisi yang lain." Joddy menaikturunkan alisnya sambil menatap ke arah bawah leher Kana.


Kana mengikuti arah mata Joddy lalu mendecih. "Dasar mesum!"


"Tapi suka kan? Mama suruh jemput Ken jam berapa?"


"Jam 7 malam."


"Yuk, gas!"


"Kemana?" tanya Kana saat Joddy menarik tangannya.


"Anak kecil ini lagi butuh nutrisi susu!"


"Hah? Apa?!"


Joddy tidak menjawab pertanyaan Kana dia tetap menarik tangannya untuk masuk ke dalam kamar.


***


Joddy sudah ratusan kali datang ke rumah orangtua Kana. Sejak Kana belum menikah dengan Adrian pun, dia sudah sering sekali berkunjung ke rumah ini. Dulu, Joddy pernah berangan-angan bisa makan malam di rumah ini sebagai bagian dari keluarga Gufron. Makan malam sebagai menantu, sungguh Itu adalah hal yang paling diinginkan Joddy sejak mengenal Kana.


Namun, setelah semua angan-angan Joddy itu menjadi kenyataan rasanya malah tidak karuan. Joddy gugup sekali. Dia merasa canggung ketika harus berhadapan dengan Gufron karena hubungan mereka sebelumnya cukup rumit.


"Joddy, ayo dimakan Mama masak fungyuhai, ca ayam, sama udang asam manis semoga kamu suka ya!" Maya menunjuk makanan di meja makan yang terlihat menggugah selera.


"Jelas suka tinggal makan." Perkataan Kekanakan itu bukan berasal dari Kanda yang sibuk mengambil lauk, tapi justru dari kepala keluarga. Tuan Gufron Yang Terhormat.


Selera makan Joddy menguap entah ke mana saat mendengar sindiran 'menyakitkan' Gufron itu. Dia berharap Kana yang sedang pergi ke mini market bersama Ken itu segera muncul untuk mencairkan suasana yang panas ini.


"Papa sadis amat!" sahut Kanda menahan tawa saat melihat wajah salah tingkah Joddy.


"Ihh, udah makan duluan aja!"


Suara lembut bak malaikat itu akhirnya terdengar. Joddy bernapas lega saat Kana datang bersama Ken yang asik menjilat es krim berwarna pelangi itu.

__ADS_1


"Baru Abang kamu yang makan, tuh lihat aja nasi setengah bakul udah pindah ke piringnya," sahut Maya menyindir terang-terangan Kanda. Pria yang mengaku calon duda itu cuek, asik dengan makanannya.


"Ken, maem dulu ya sama Oma. Biar Bunda maem dulu sama Daddy." Maya menepuk kursi kosong di sebelahnya. Bocah tampan itu mengangguk.


"Kok, belum makan? Nunggu diambilin?" tanya Kana pada Joddy yang tersenyum lalu mengangguk itu. Gufron melengos saat melihat Kana mengambil piring untuk Joddy.


"Segini cukup?" tanya Kana menunjuk nasi yang baru saja dia ambilkan untuk suaminya.


"Itu kebanyakan, dia harus jaga kesehatan biar bisa jagain kamu sama Ken. Sini kasih Papa! Biar dia ambil sendiri. Jangan manja." Gufron tiba-tiba saja mengambil piring yang semula ada di tangan Kana. Membuat seisi ruangan melongo. Kanda bahkan sampai menjatuhkan sendoknya tanpa sengaja.


Joddy menghela napas. Salah apa sih dia sama mertuanya ini?Sedari tadi apapun yang dilakukan selalu salah di matanya? Bukannya beliau yang seharusnya lebih menjaga kesehatan? Joddy masih muda, dia masih bugar. Lihat saja sebulan lagi bakalan kasih cucu dia biar tahu rasa!


"Papa ini! Jangan diambil hati ya Joddy. Papanya Kana memang suka becanda!" Maya mencoba mencairkan suasana. Joddy hanya tersenyum maklum, walaupun dalam hati dia dongkol setengah mati.


"Becanda apaan. Ada yang ngerasa kesaing tuh!" sindir Kanda melirik Gufron yang cuek bebek dan tak peduli dengan sekelilingnya.


"Biar aku ambilin lagi," bisik Kana namun Joddy menggeleng pelan.


"Gak usah, biar aku ambil sendiri," tolak Joddy mencoba tersenyum manis dia tidak mau merusak makan malam Kana dan keluarganya ini.


Kana menepuk paha suaminya lalu tersenyum manis seakan menguatkannya. Melihat senyum Kana jantung Joddy berdegup kencang bahkan sesuatu di bawah sana bereaksi. Padahal sebelum ke sini tadi mereka sempat melakukannya sampai dua babak, bahkan Kana mengeluh sakit pinggang karena Joddy benar-benar membuatnya kelelahan. Astaga, seorang Kana benar-benar membuatnya mabuk kepayang.


"Ehem!" Sayangnya, deheman berat itu memutus kontak mata keduanya. Buru-buru Joddy memfokuskan kembali perhatiannya pada makanan di piring. 'Adik kecil' Joddy yang semula bereaksi pun memilih tidur kembali begitu mendengar suara Tuan Gufron Yang Terhormat itu.


" Jadi kapan kamu mau memberikan rumah untuk anak dan cucu saya?" Pertanyaan tiba-tiba dari Gufron ini membuat makanan yang sudah sampai di tenggorokan Joddy serasa sulit untuk ditelan.


"Papa kita lagi mak-"


"Kamu tidak akan menyuruh anak dan cucu saya tinggal di apartemen kamu, kan? Itu tidak baik untuk pertumbuhan Ken." Gufron menyela kata - kata Maya.


"Saya juga yakin kamu punya harga diri yang tinggi yang pasti akan terluka kalau tinggal di rumah peninggalan menantu saya."


Joddy mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja, kata-kata Gufron mau tidak mau membuatnya tersinggung. Gufron mengatakannya dengan tenang tapi tajam serasa menusuk jantung.


Joddy tahu, Adrian adalah sosok yang baik, terlalu baik malah. Jadi pantas saja sosoknya akan sulit dilupakan. Tapi dia sudah meninggal dan kenapa masih saja dibandingkan dengannya?


"Pa, jangan seperti itu," tegur Maya memperingatkan suaminya. Sungguh, Maya tidak mengerti mengapa suaminya berubah seperti ini. Dengan Adrian dulu mereka berdua sangat akrab dan hangat tapi kenapa sekarang berubah menjadi sosok yang dingin dan keras. Apa karena orangtua Joddy yang pernah melukai Kana?


"Saya kasih kamu waktu seminggu. Cari rumah untuk anak dan cucu saya, kalau tidak kalian tinggal di sini bersama kami!" putus Gufron membuat orang seisi ruangan menatapnya kaget.


Joddy ingin sekali mengumpulkan dalam hati. Enak saja dia tinggal seatap dengan pria tua yang dingin dan kaku, bisa tersiksa lahir batin dia.


"Papa, ini. Becanda terus!" Kana mencoba mengalihkan situasi, tangannya mengenggam tangan Joddy yang mengepal kuat di bawah meja. Joddy menoleh ke arah Kana yang tengah fokus pada Gufron. Perlahan kepalan tangan Joddy mengendur berbalik membalas genggaman tangan Kana, saling menguatkan satu sama lain.


"Apa Papa terlihat becanda, Sayang?" tanya Gufron balik. Kana menghela napas lalu tangan satunya yang bebas mengenggam tangan ayahnya.


"Tapi waktu seminggu itu terlalu mengada-ada untuk mencari rumah."


Gufron tersenyum sinis pada Joddy. "Papa dengar jabatan dia lebih tinggi dari Adrian dulu. Jadi, Adrian dulu yang jabatannya tidak setinggi dia saja, bisa membelikan kamu rumah yang bagus dan mewah pasti dia lebih bisalah karena logikanya dia lebih banyak uang." Gufron berkata dengan santai tak peduli apakah itu melukai Joddy atau tidak. Kana menggeleng pelan tak menyangka Gufron bisa sekeras kepala ini.


"Pa, Joddy tahu. Papa terlalu sayang sama Kana. Saya juga tahu Papa masih takut melepas Kana 'lagi' setelah semua hal yang sudah Kana alami. Adrian akan selalu di hati kita. Tapi sekarang Kana sudah menikah, Pa. Kana sudah ada yang melindungi walaupun saya tahu, Papa masih sedikit sakit tiap teringat kejadian sebelum kami menikah tapi semua sudah berlalu. Saya akan melanjutkan tugas Papa untuk melindungi Kana tanpa sedikitpun mengurangi kasih sayang Papa terhadapnya. "Setelah sekian menit bungkam akhirnya Joddy mampu mengutarakan kata-katanya.


Gufron terdiam sejenak seperti sedang memikirkan semua perkataan menantunya. Mau tak mau Gufron harus mengakui menantu ini cukup gigih.


" Jangan banyak bicara! Terima saja tantangan saya. Kalau tidak bisa, menyerah saja dan tinggal di sini bersama kami." Gufron mencoba terlihat tidak terlalu terpengaruh dengan kata-kata Joddy.


Joddy ingin sekali mengajak Gufron tanding di ring tinju kalau tidak ingat dia adalah penyebab istrinya lahir di dunia ini. Apa yang tadi Gufron bilang? Tinggal di sini bersamanya? Tidak akan! Baru makan malam bersama beberapa jam saja dia sudah seperti berhadapan dengan Kim Jong Un, apalagi harus tiap hari. Tidak akan! Terimakasih.


"Ingat seminggu batas waktu kamu!" Gufron mengingatkan.


"Bagaimana kalau tidak sampai satu minggu?" tantang Joddy.


Membuat semua mata mengarah padanya. Gufron terdiam sejenak dia seperti de javu mendengar itu. Mengingatkan Gufron ketika dia dulu memberi tantangan pada Joddy untuk menemukan pelaku yang mengunci Kana di toilet rumah sakit, dia bisa menemukan hanya dalam waktu beberapa jam. Apa kali ini akan sama?


"Apa maksud kamu?"


"Bagaimana jika rumah untuk istri dan anak saya sudah ada dalam waktu dua hari? Oh, tidak.. Bagaimana jika


, sehari?" Joddy tersenyum penuh percaya diri semua orang termasuk Gufron menatapnya tak percaya.


"Kak?!" Kana menatap suaminya khawatir, selama ini Joddy selalu bilang dia belum menemukan rumah yang cocok untuk mereka tapi kenapa dia malah menantang balik Gufron dengan menjanjikan waktu sehari?


Joddy mengeratkan genggaman tangannya tanpa menatap Kana.


" Baiklah, besok kita akan lihat rumah kalian." Gufron menatap Joddy meremehkan lalu melanjutkan makannya dengan santai.


"Baiklah," balas Joddy lalu menatap Kana dan tersenyum manis padahal Kana dan Maya sudah khawatir dengan Joddy tapi agaknya pria itu malah terlihat santai.


"Dan jangan biasakan bergenggaman tangan sepanjang makan, kalau tidak mau dikatakan, lebay!" sindir Gufron tanpa menatap pasangan suami istri itu. Kana dan Joddy spontan melepaskan tautan tangan mereka di bawah meja. Lalu tersenyum salah tingkah dan hanya saling lirik.

__ADS_1


" Dasar kalian! "seru Kanda nyaris tertawa.


*****


__ADS_2