
Rumah tangga Kana dan Joddy adem ayem saja ditambah kehadiran Queen di antara mereka. Usia Queen kini sudah menginjak 11 bulan. Bayi cantik itu sudah belajar berjalan walaupun tertatih. Dia juga bisa mengucapkan satu dua patah kata walaupun masih terdengar kurang jelas namun, Queen tumbuh lebih cepat untuk anak seusianya.
"Kak, itu dong beresin mainannya Queen, tadi kamu kan yang ngajakin dia main!"
"Baik, Nyonya!" seru Joddy dari arah ruang keluarga lalu terdengar kikikan di sana. Tentu saja Joddy dan kedua anaknya yang sudah pasti menertawakan Kana yang akhir-akhir ini lebih sering marah-marah.
"Bisa gak sih, Kak kalau habis makan, piring kotornya ditaruh di dapur. Bukan malah ditinggal!" omel Kana lagi sambil mencuci piring. Kebetulan Mbok Dar sedang pulang kampung jadi Kana sedikit kewalahan harus mengurus kedua anak dan rumahnya. Apalagi Joddy sekarang lebih sering pulang larut malam karena sedang menyelesaikan proyeknya.
"Iya, iya maaf, Sayang. Namanya juga keasikan main sama Queen dan Ken," sahut Joddy yang tahu-tahu sudah ada di dapur.
"Maaf, tapi diulangin terus!" gerutu Kana lalu melepas celemeknya.
"Iya, iya. Aku salah! Jangan ngambek dong! Nanti cantiknya ilang."
"Oh, jadi menurut kamu cantik aku cuma semi permanen?"
Joddy menelan ludah. 'Yah, salah aja terus'
"Bukan begitu, Sayang. Maksudnya-"
"Udah! Mending kamu beresin aja mainan Queen."
Joddy menghela napas lalu menuruti perintah Sang Istri membereskan ruang keluarga yang memang terlihat berantakan. Dia tidak mau terjadi pertengkaran hanya karena hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan.
"Dari tadi kek," gumam Kana begitu Joddy kembali ke ruang keluarga.
Kana tersenyum lelah lalu mengambil gelas, menuangkan air dan duduk untuk beristirahat sambil memperhatikan suami dan anak-anaknya yang sekarang sibuk merapikan mainan Queen. Lebih tepatnya Joddy dan Ken. Queen hanya duduk sambil menikmati snack bayinya.
Mau tak mau Kana tersenyum juga melihat Joddy yang begitu telaten mengajak Ken dan Queen bermain. Sebenarnya dia tidak tega untuk marah-marah tapi entah kenapa akhir-akhir ini dia merasa lebih mudah lelah. Padahal pekerjaan rumah yang dia kerjakan tidak terlalu berat. Bawaannya juga ingin marah-marah saja. Mungkin karena kelabakan mengurus semuanya sendiri.
Rupanya kekesalan Kana masih berlanjut ketika dia masuk ke dalam kamar Ken dan mendapati seekor kucing tetangga yang diam-diam Ken bawa masuk ke dalam kamarnya. Bermain di atas kasur yang sepreinya baru saja Kana ganti.
"Sayang, jangan marah-marah seperti itu. Ken hanya ingin bermain dengan kucing," Joddy menegur Kana dengan hati-hati. Dia tidak ingin bertengkar dengan Kana, tapi dia juga tidak tega melihat Ken yang menangis setelah Kana memarahinya karena bermain dengan kucing Anggora milik tetangga mereka.
Kana tak langsung menjawab dia memang tidak mengizinkan ada hewan peliharaan (kecuali ikan di dalam rumahnya) selain karena takut rumah jadi kotor juga takut mereka tidak mampu merawatnya karena kesibukan masing-masing.
"Kalau tidak dari sekarang nanti jadi kebiasaan. Hari ini kucing, besok entah apa yang dia bawa ke rumah. Kita kan gak tahu kucing itu dari mana saja, lagipula gimana kalau yang punya nyariin, bisa jadi masalah kalau tahu Ken sering membawanya ke rumah!"
"Iya, Dek. Aku tahu. Tapi jangan marah-marah seperti itu. Ken masih terlalu kecil untuk mengerti kemauan kita." Astaga, kenapa Kana bisa semarah ini pada Ken? Padahal Kana cenderung jarang memarahi Ken.
Joddy menghampiri Ken menenangkannya sejenak lalu menarik tangan Kana keluar dari kamar Ken dan mengajaknya masuk ke ruang kerja.
"Kakak selalu aja manjain anak-anak!" protes Kana tepat saat Joddy menutup pintu.
"Aku gak manjain, tapi memang usia Ken dan Queen belum bisa paham diberi pengertian, harus pelan-pelan. Usia mereka, usia bermain."
"Terus aja kamu belain mereka!"
Joddy mengacak rambutnya gemas. Dia binggung dengan sikap Kana beberapa hari ini. Sering marah-marah tak jelas dan emosian bahkan dengan Queen dan Ken yang masih kecil. Apa mungkin Kana sedang masa PMS?
"Wajarlah, Na. Mereka masih kecil, Queen bahkan belum genap satu tahun."
"Halah, kamu aja yang selalu manjain mereka. Nanti mereka jadi anak yang susah diatur!"
"Na, kamu kenapa sih? Masalah kecil aja jadi begini? Kita tinggal bilang dan minta maaf sama Winda." Joddy menyebutkan nama pemilik kucing.
"Oh, kucing itu punya Winda? Pantesan aja kamu bela-belain!" Winda adalah tetangga sebelah rumah mereka, seorang mahasiswi akhir yang mempunyai pekerjaan sampingan sebagai model. Maka tak heran dia cantik dan seksi.
__ADS_1
Lho..lho kenapa jadi ke mana- mana sih ini?
"Lho, kok kamu malah makin ngegas? Jangan kayak anak kecil gini dong, Na!" Joddy mulai hilang kesabaran.
"Nyatanya, kucing itu punya Winda, kan? Gadis yang masih muda dan cantik beda sama aku yang udah pernah melahirkan 4 kali!" Kana makin meluapkan emosinya dia tidak terima dikatakan anak kecil oleh suaminya.
"Kok, kamu jadi ngelantur gini sih? Aku belain Ken bawa kucing ke rumah bukan karena kucing itu punya Winda tapi-"
"Alah, kamu aja yang memang naksir perempuan itu! Semua pria sama aja!" sela Kana dengan amarah meledak-ledak.
"Kana!!" bentak Joddy tiba-tiba, membuat Kana terdiam seketika, selama berhubungan dengan Joddy baru sekali ini pria itu membentaknya.
Joddy pun sama terkejutnya dan dia tidak menyangka bisa membentak Kana. Lihat saja, wajah Kana berubah murung. Matanya bahkan berkaca-kaca.
"Dek aku minta ma-"
Kana hanya menatap Joddy tajam lalu keluar dari ruang kerjanya membanting pintu dengan keras tanpa menunggu Joddy menyelesaikan kata-katanya.
"Kenapa sih dia?!" desah Joddy mengacak rambutnya kesal.
**
"Bang, kenapa muka lo kusut?" Kevin menyodorkan satu cup kopi di depan meja kerja Joddy yang sedang melamun dengan wajah lelahnya. Pria itu tidak menyangka kemarahan Kana akan berlanjut sampai pagi.
"Gue lapar bukan haus!" Joddy menatap kopi di atas mejanya dengan malas.
"Lha, tumben? Lo gak sarapan? Bini lo gak bikinin sarapan?" Kevin menatap ke arah jam dinding di atas Joddy, jam 10 pagi. Biasanya jam segitu Joddy tidak pernah mengeluh lapar, karena Kana selalu membuatkannya sarapan. Biasanya kalau tidak sempat sarapan, Kana membawakannya bekal.
"Kana ngambek. Gue didiemin dari semalam," keluh Joddy mendesah pasrah membuat Kevin menahan tawanya.
"Gaklah, nauzubillah!" Mendapatkan Kana itu tidak mudah bahkan dia harus menunggu belasan tahun, gak akan tega Joddy menyakiti wanita itu.
"Lha terus?" kejar Kevin penasaran.
Joddy tak langsung menjawab, masih teringat jelas di pikirannya wajah Kana yang muram dari semalam, bahkan dia memilih tidur di kamar Queen dan Ken yang memang masih satu kamar itu, mengabaikan Joddy yang sudah puluhan kali meminta maaf padanya.
"Gue juga bingung. Beberapa hari ini Kana emosian dan marah-marah terus. Gue mikirnya dia lagi PMS tapi PMS dia kali ini lebih sadis. Dia nuduh gue naksir sama bocah sebelah rumah masa? Gara-gara gue belain Ken yang bawa kucing punya gadis itu ke rumah."
"Terus?"
"Gue bentak."
"Terus?"
"Gue katain anak kecil."
Kevin manggut-manggut. " Pantas ajalah, cewek baru PMS lo bentak-bentak. Kalau dia lagi PMS jangan lo ladenin kalau dia marah, soalnya kalau lagi begitu dia baru ada di mode 'selalu benar'. Sekali lo lawan, habis lo."
Joddy menatap Kevin kesal tapi dalam hati membenarkan setiap ucapannya." Tapi PMS kali ini horor banget. Apa karena dia kecapekan ya ngurus rumah sendiri? Mbok Dar, kan pulang kampung." Joddy berkata lirih.
"Lo yakin dia lagi PMS?" tanya Kevin.
"I-ya kayaknya," Joddy jadi tak yakin. Apa Kana sedang memendam masalahnya sendiri ya? Tapi masalah apa?
"Enggak PMS kali!"
"Terus apaan? Kurang uang belanja? Gak lah, gaji gue , gue transfer semua ke rekening dia." Joddy sedikit membanggakan dirinya sendiri membuat Kevin mencibir ke arahnya.
__ADS_1
"Iya, dan kayaknya transferan 'anak buah' lo juga ada yang nyangkut." Kevin memberi kode dengan membuat tanda kutip dengan jarinya sambil matanya mengarah ke bawah perut Joddy.
"Maksud lo apaan sih?"Joddy tidak paham dengan maksud Kevin.
"Istri lo ngisi kali!"
"Ngisi gimana? Ngisi bensin?"
"Aelah! Hamil, Bang!" Kevin gemas karena Joddy benar-benar lemot dan tak mengerti dengan apa yang dia maksud.
"Maksud lo hamil, apaan sih?" Joddy masih belum paham.
"Bunting, Bang, bunting!!" Kevin berseru dengan kesal membuat Joddy terdiam sejenak.
"Ngaco!!"
"Yee, gak percaya! Nih, gue yang udah pengalaman jadi bapak tiga kali berturut-turut!" Kevin ganti membanggakan dirinya sendiri.
"Masa sih? Queen belum genap setahun, gak mungkin deh!" Joddy masih tidak percaya.
"Lha itu ngamuk tanpa alasan yang jelas!" seru Kevin.
"Iya, tapi jangan lantas lo simpulin dia hamil. Bisa aja dia emang kecapekan ngurus rumah sama anak-anak. Korelasinya di mana?" Joddy masih saja tak terima.
"Sama kayak anak lo yang pertama. Bawaan bayi. Kalau si Queen penciuman bini lo lebih sensitif, kalau yang kali ini perasaannya yang lebih sensitif."
"Sok tahu, gaklah!" Tapi dalam hati Joddy jadi menduga-duga, jangan-jangan apa yang Kevin katakan benar. Kana hamil lagi, adik Queen.
"Si Kana KB kagak?"
Joddy mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ngingat. "KB suntik. Jadi, mustahil kalau dia hamil."
"Siapa bilang mustahil?"
"Gue yang bilang. Keberhasilan KB suntik itu 99%, Mbing!" Joddy masih membabil.
"Iya, tapi ingat masih ada 1% kegagalan yang artinya dari 100 pengguna ada 1 kehamilan yang terjadi dan bisa jadi Kana ada di posisi 1 dari 100 itu." Kevin tersenyum melihat wajah atasannya yang mulai pucat.
"Enggak. Mustahil!" Joddy membenarkan letak kacamatanya lalu menatap Kevin serius." Kana itu rutin banget suntik . Gue yang selalu ngingetin dan nganterin ke dokter dia tiap tiga bulan sekali dia bahkan selalu ngasih alarm di hp gue, buat ngingetin dia kalau anaknya lupa, Kana kan pelup-" Joddy terdiam sejenak, lalu dia buru-buru mengambil ponsel di meja.
"Gawat!" seru Joddy tanpa sadar.
"Gawat gimana?"
Joddy menatap Kevin lalu menelan ludahnya panik."Gue tiga bulan ini kayaknya belum nganterin dia ke klinik deh!"
"Lha?Lo lupa Bang?"
Joddy mengangguk lemah." Kana bisa ngamuk kalau dia hamil lagi, dia minta Queen umur 4 tahun baru mau hamil lagi."
Kevin menahan senyum."Ya, sudah. Lo tes aja susah amat. Berdoa aja emang dia cuma lagi sensitif hatinya."
Joddy menyandarkan tubuhnya di kursi dengan lemah. "Gawat," desahnya pelan.
********
Maaf ya, guys! Up-nya selalu kelamaan, maklum lah sedang hetic-heticnya. Terimakasih yang selalu baca dan ngikutin story ini. Semoga kita semua diberi kesehatan ya guys! Jogja banyak zona merahnya! semoga tempat kalian tidak ya. Jaga kesehan dan selalu terapkan prokes yaaa (Lhaaa jadi kayaak nakes๐๐)
__ADS_1