Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
my future


__ADS_3

Kana menatap ke atas langit biru, sinar matahari terasa hangat menerpa wajahnya, Kana memejamkan mata sejenak lalu tersenyum karena teringat kenangannya bersama Adrian beberapa tahun lalu. Bersama Adrian dia pernah datang ke kota ini. Mengunjungi beberapa tempat. Malioboro, pantai-pantai yang ada di Gunungkidul dan berburu kuliner. Kana masih ingat betul saat tangan dia dan Adrian saling bergandengan tangan menyusuri trotoar sepanjang Maliboro dengan celotehan Kana yang tak henti-henti mengomentari para pedagang yang menawarkan barang dagangannya. Sekarang Kana kembali ke kota ini tapi tidak bersama Adrian lagi melainkan...


"Unda, endong?" Suara mungil Ken membuyarkan lamunan Kana. kedua tangan gempal Ken terulur ke depan meminta Kana mengendongnya. Pria kecil duplikat Adrian, satu-satunya harta paling berharga yang Adrian tinggalkan sebagai penggantinya itu tersenyum manis pipinya yang putih menjadi kemerah-merahan karena terkena panas.


"Ken mau lihat monyet? Ayo, Om gendong!" Sebelum Kana menyambut uluran tangan Ken sebuah tangan sudah mendahuluinya.


Kanda tersenyum lalu membawa Ken ke kandang monyet salah satu koleksi hewan yang ada di kebun binatang dengan nama Gembiraloka itu. Kana hanya menggeleng pelan saat melihat Ken dan Kanda berteriak kegirangan tak peduli dengan tatapan para pengunjung kebun binatang yang menatap ke arah mereka.


"Na!" Sebuah tepukan mengalihkan pandangan Kana.


" Eh calon kakak ipar yang bergelar M.Pd!" Kana pura-pura kaget saat melihat Nea tersenyum di sampingnya.


"Apaan sih kamu!" Nea menyikut bahu Kana lalu memberi isyarat agar Kana berjalan bersamanya menyusul Kanda dan Ken.


"Udah berapa persen persiapan nikahan kamu?" tanya Kana pada Nea mereka berjalan beriringan.


"85%. Abang kamu tuh, ngotot banget mau bikin pawai sama temen-temen nongkrongnya. Ogah banget!" Nea cemberut menatap ke arah Kanda yang asik menjelaskan pada Ken tentang binatang yang sedang mereka lihat.


Kana tertawa lalu menatap Nea. "Gak nyangka deh, punya ipar sahabat sendiri. Anugerah banget buat Bang Kanda dapat daun muda," godanya. Nea hanya tertawa kecil menanggapi gurauan Kana itu. Dia juga senang punya adik ipar sahabat sendiri. Tidak perlu saling mengenal. Tidak perlu saling beradaptasi.


"Mau gimana lagi? Kakak kamu ngejar terus sih! Aku kan jadi kasian," sahut Nea. Tapi Kana tahu Nea tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia sudah jatuh terlalu dalam pada Kanda, walaupun usia mereka terpaut cukup jauh. Sama sepertinya dan Adrian dulu juga Joddy. Joddy? Bicara tentang pria itu, Kana belum bicara lagi dengannya. Mereka berpisah tanpa kata di bandara setelah pesawat mendarat. Joddy ada pekerjaan sendiri dan Kana harus pergi ke hotel untuk persiapan menghadiri wisuda Nea. Jika orangtua mereka memilih tinggal di hotel bisa jadi Joddy sekarang sudah kembali ke Jakarta, entahlah.


"Jadi gimana Na?" Nea menyadarkan Kana dari lamunannya.


"Apanya?" Kana menatap Nea heran.


"Yuk duduk di sana. Biarkan Om dan keponakan itu lebih saling mengenal." Nea menarik tangan Kana lalu mengajaknya duduk di bangku di bawah pohon perindang.


"Aku berharap banget deh Na, setelah aku dan Kanda nikah kamu menyusul." Nea mengenggam tangan Kana erat. "Aku tahu kamu dan Kak Joddy saling menyayangi, hanya kamu masih takut mengakuinya."


"Ne-"


"Kamu berhak bahagia. Kalau kamu mengira dengan kamu menikah lagi sama dengan mengkhianati Kak Ian, kamu salah. Ken butuh sosok ayah selain dari kakek dan omnya." Nea menyela Kana.


"Aku tahu Ne, tapi-"


"Tapi kamu takut penilaian orang terhadapmu?" Nea menarik kedua pundak Kana agar menghadapnya. "Jangan pernah dengarkan orang yang menilaimu negatif, Na. Mereka tidak berhak atas hidupmu. Jadi yang harus kamu lakukan adalah meneruskan hidup. Itu yang Kak Ian inginkan. Tidak harus dengan Joddy, tapi kamu bisa mempertimbangkannya. Joddy orangnya tulus. Dia sayang kamu dan Ken."


Kana hanya menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya, matanya menerawang jauh. "Aku-" Kana terdiam saat sebuket bunga tulip dari arah belakang tiba-tiba berada di depannya. Kana tersenyum bersiap mengambil bunga itu, sayangnya bunga itu langsung bergeser ke arah Nea. Pasti Bang Kanda! Siapa lagi kalau bukan dia yang jahil?


Kana menoleh ke belakang siap-siap menyembur kakak satu-satunya. Tapi mulutnya terkunci seketika saat dia melihat bukan Kanda yang berdiri di belakang Kana dan Nea tapi Joddy. Pria yang sudah berpakaian santai itu tersenyum ke arah Nea dengan tangam terulur ke depan dengan sebuket bunga tulip kesukaan Kana.


"Selamat ya, untuk kelulusannya. Maaf tadi gak bisa dateng ada kerjaan." Joddy tersenyum manis.


"Ini buat aku?" Nea menatap Joddy tak percaya. Kana mendecih dalam hati, maksud dia apa? Mau bikin dia cemburu? Ya, enggak lah! Jelas-jelas Nea adalah calon istri kakaknya.


"Iya buat kamu." Joddy tak menatap Kana sama sekali, kemarin saja di atas pesawat sikapnya manis. sok-sokan mau berjuang, nyatanya pacar teman sendiri diflitring.


"Aku nyusul Ken dulu ya." Kana tersenyum tipis ke arah Nea.lalu beranjak dari duduknya dan bergegas pergi dengan menggerutu.


"Dia bilang akan berjuang, buktinya apa? Pacar sahabat sendiri aja digodain. " Kana berjalan dengan sedikit menghentak-hentakkan kakinya. Entah kenapa dia menjadi kesal saat Joddy mengabaikannya begitu saja. Apa karena sikap Kana yang sedikit kasar pada Joddy saat di pesawat kemarin?


"Hei, kalau marah jangan ditahan sendiri."


Kana menghentikan langkahnya saat Joddy tahu-tahu sudah berada di depannya, tersenyum manis. Tatapan mata Joddy terasa teduh dari balik kacamata minus yang membingkai wajah tampannya.


"Siapa juga yang marah?" Kana mengalihkan pandangannya, lama-lama menatap Joddy tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


"Tetangga sebelah," balas Joddy mengedikkan bahu santai. Kana memdecih lalu berjalan melewati Joddy, tapi sesuatu yang hangat melingkupi jemarinya membuat langkahnya berhenti. Pandangan Kana terpaku pada genggaman tangan Joddy.

__ADS_1


"Jangan melangkah sendiri," bisik Joddy tersenyum lembut. "Masih ada waktu 35 menit sebelum kita kembali ke Jakarta."


"Lepasin Kak. Pergi sana cari bahan Flirting-an lainnya!" seru Kana masih kesal.


Joddy tersenyum lalu menarik tangan Kana dan membawanya ke depan dada.


"Dari dulu, sampai sekarang hanya kamu Kana yang ada di dalam sini." Joddy tersenyum, dia tidak peduli jika orang-orang melihatnya dengan tatapan muak. Joddy sudah tidak sabar, dia tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk mengungkapkan perasaannya pada Kana lebih dalam lagi.


"Jadi, maukah mencoba untuk bersamaku? Dan aku akan memberimu kesempatan untuk bisa menerimaku dan tinggal di hatimu."


Saat mata Kana bertemu dengan tatapan mata Joddy yang lembut Kana menemukan ketulusan di mata itu. Mata yang selalu teduh menatapnya.


Kana tahu dari dulu bahkan sampai sekarang Joddy selalu ada untuknya walaupun Kana sudah menikah pun diam-diam Joddy selalu menjaga Kana dengan caranya sendiri.


Kak Ian apa aku salah jika ingin mencobanya?


Kana tersenyum, tanpa memgucapkan sepatah katapun dan untuk Joddy senyum Kana adalah jawabannya.


Mata Kana terbelalak saat Joddy menarik tangannya sampai menabrak dada, memeluk Kana erat di tengah-tengah keramaian.


"Tetap duduk manis dan diam. Biarkan aku yang berjuang." Bisikan Joddy itu membuat senyum Kana melebar, dan Joddy tahu itu.


**


Key menyenggol bahu Kana saat melihat Joddy turun dari mobil menghampirinya dan Key yang baru saja akan keluar untuk makan siang di warung bakso sebrang jalan.


"Siang Pak Joddy, kami masih tutup nih. Bisa ditunggu 1 jam lagi." Key sengaja menggoda Kana. Karena Key tahu siapa Joddy dia bukan sekedar nasabah saja.


Joddy hanya terkekeh lalu menatap Kana sebentar. "Keberatan tidak kalau kamu makan siang sendiri?" tanyanya pada Key. Key yang bisa menangkap maksud Joddy itu mengangguk.


"Oke, Aku sudah biasa sendiri kok." Key pura-pura ngambek lalu menepuk pundak Kana dan berjalan pergi ke sebrang jalan setelah berpamitan dengan Joddy.


"Yuk, kita tinggal punya 55 menit." Joddy mengedikan dagu ke arah mobilnya memberi kode Kana untuk bergegas masuk.


"Sebuah tempat Kita akan bertemu orang penting." Joddy tersenyum, tiba-tiba dia mencondongkan tubuhnya ke arah Kana, refleks Kana memundurkan tubuhnya sampai menempel di kaca jendela mobil lalu menyilangkan kedua tangannya di depan sebagai bentuk proteksi diri.


Begitu tahu Joddy hanya berniat memasangkan sabuk pengaman, Kana kembali tenang.


"Emang kamu mikirnya aku mau ngapain, hem?" Joddy mengacak-acak rambut Kana lalu terkekeh melihat reaksi Kana yang berlebihan. Joddy tidak akan melakukan yang ada di pikiran Kana. Semua itu ada waktunya. Joddy masih kuat memahannya. Buktinya dia masih perjaka selama 36 tahun.


Kana meraba dadanya, kenapa hanya dengan perlakuan sederhana seperti itu jantung Kana terasa berdegup lebih kencang ya?


15 menit perjalanan, rupanya tempat yang dimaksud Joddy adalah makam Adrian. Tapi kenapa Joddy membawa Kana ke mari?


"Kenapa kita ke sini?" tanya Kana jantungnya berdegup kencang saat batu nisan Adrian mulai terlihat. Berbagai perasaan berkecamuk di benaknya.


"Hai Bro! Maaf ya 2 Jumat ini gue gak ke sini." Joddy berlutut di samping makam Adrian tangannya terulur menyentuh batu nisan.


Kana ikut berlutut di sisi yang lain menatap Joddy dan makam Adrian bergantian. Kana tadi tidak salah dengarkan? Joddy bilang dua Jumat ini tidak ke sini, itu berarti Joddy lah orang yang setiap Jumat berkunjung ke makam Adrian?


"Bro, gue kemari sama Kana. Kami- maksudnya gue kemari mau bilang sama lo, kalau gue akan njagain Kana dan jagoan lo." Joddy berkata dengan tangan yang sibuk membersihkan daun-daun kering yang ada di sekitar makam Adrian.


Kana menatap Joddy tak percaya, jadi Joddy mengajak Kana kemari untuk meminta izin di makam Adrian?


"Gue tahu, lo gak akan pernah terganti di hati Kana dan gue juga gak berniat buat gantiin lo di hati Kana kita. Tapi- gue minta izin sama lo, buat nerusin tugas lo, jagain Kana dan Ken. Gue janji akan jaga mereka dengan baik. Gue akan bikin Kana bahagia sampai dia lupa caranya bersedih. Lo izinin gue kan?" Joddy berkata dengan tenang. Mendadak suasana terasa sunyi, dan angin berhembus lembut dan hangat di sekitar mereka. Kana dan Joddy saling berpandangan. Mungkin kah itu Adrian?


"Kak, maafin Kana. Kana akan mencoba untuk membuka hati." Walaupun jujur saja kamu tidak akan pernah terganti Kak baik di hatiku maupun Ken. Kamu tetap ayah Ken. Kana meneruskan dalam hati. Joddy tersenyum ke arah Kana lalu menarik dan mengenggam tangan Kana di atas pusara Adrian.


"Lo akan selalu ada di hati Kana," lirih Joddy tangannya yang bebas mengusap-usap nisan Adrian. "Gue janji akan jaga Kana dan Ken, Ian."

__ADS_1


Kana tersenyum lalu ikut mengusap batu nisan Adrian lalu menciumnya seolah-olah Adrian masih di sana.


*


"Jadi kamu Kak yang setiap Jumat mengunjungi makam Kak Ian?" tanya Kana saat perjalanan kembali ke kantor. Joddy mengangguk. Tepat saat ponsel Kana berdering nyaring.


"Siapa?" Tanya Joddy cepat.


"Nea," jawab Kana menunjukkan nama yang tertera di layar ponselnya. Kana buru-buru mengangkatnya karena pasti ada hal yang penting.


"Iya,Ne ada apa?" tanya Kana .


"Kamu udah buka instagram belum?"


"Instagram? Belum, emang kenapa?" Kana menatap ke arah Joddy yang tiba-tiba berubah gugup itu.


"Mending kamu cek sekarang."


"Oke, aku tutup ya." Kana buru-buru mengakhiri teleponnya lalu.membuka aplikasi instagram. Matanya terbelalak lebar saat melihat apa yang dimaksud Nea.


"Kak, kamu posting foto aku yang ketiduran di mobil waktu pulang dari Jogja?" seru Kana menunjukkan layar ponselnya pada Joddy yang tersenyum salah tingkah itu.


"Iya, Na."


Kana mendelik tak suka lalu mulai membaca tiap komentar yang ada di unggahan tersebut. Semuanya terasa wajar kecuali komentar dari nama yang tak asing untuk Kana.


"Beib?"



1345 suka


Joddy My future


lihat semua 156 komentar


Gun67 Aduh, Neng sini ke bahu Aa..


Kev_ganteng Cieeee kayak kenal euy..Bang Jod gercep yeee


Handi78 Kev siap-siap kado nih


Donibkndamara Kta ksh link aja Han.


Galih_ikanasin Bang Jod, yukk pesta bujanggg


Ferddy Lho Bang, ini kan Mbak tuuuuuuuuuut


Desinyadonal aku cemburuuu


JONA167 Klo udh bosen sma Bang Jod, yuk sama Abang aja


ALinkarahma Pak Jodi ini sapa?


Laluna13 Pak Jod! ini calonnya?


Nimasayu ini yg nama sakit tak berdarah


Devidvan ptah hati adek

__ADS_1


Siscasisca Beib, who she is?


*************


__ADS_2