
"Selamat datang!!!" Teriakan itu bersamaan dengan jatuhnya cofentti yang berwarna-warni.
Kana tersenyum melihat keriuhan begitu dia masuk ke dalam rumah sepulang dari rumah sakit. Ternyata di rumah sudah menunggu orang-orang terdekatnya. Ada orangtuanya lengkap, Mbok Dar, orangtua Ardian, Abigail dan Amar yang kebetulan liburan ke Jakarta, Dipta dan Rara si Pengantin Baru bahkan Moli jauh-jauh datang dari luar negeri demi bertemu dengan Kana dan bayinya. Jangan lupakan Kanda, orang yang paling lantang saat berteriak menyambut kedatangan keluarga kecil Joddy. Untunglah, bayi mungil yang masih lelap di gendongan Kana itu sama sekali tidak terganggu, masih tenang dalam tidurnya.
Ken yang tadinya ada di gendongan Joddy pun langsung berlari mendekati Kanda dan meminta balon.
Kana memperhatikan sekeliling ruangan dia cukup takjub melihat ruang tamu sudah dihias dengan balon warna-warni dan cofentti, bahkan ada tulisan ucapan selamat datang lengkap dengan nama Queen di bawahnya. Orang-orang yang berada di sana pun memakai topi, sungguh antara terharu dan ingin tertawa Kana binggung. Ini sebenarnya penyambutan bayi atau acara ulangtahun?
"Selamat ya, Sayang." Maya menghampiri Kana lalu mengambil Queen dari gendongannya.
Kana mencibir melihat Maya. Kana yakin sebenarnya ucapan selamat dari Maya itu cuma modus untuk menguasai Queen, karena semalaman Maya sudah menemani Kana di rumah sakit dan pulang duluan dengan alasan membersihkan kamar Queen. Nenek yang satu ini takut sepertinya keduluan nenek-nenek yang lain.
Para orangtua kemudian mengucapkan selamat pada Kana dan Joddy atas kelahiran Queen. Lalu saling berebut ingin mengendong bayi lucu itu.
"Astaga, dasar nenek-nenek." Joddy menggelengkan kepala saat melihat tingkah para orangtua yang sedang berebut
"Selamat ya, Bang. Akhirnya, lo buktiin kejantanan lo!" Tiba-tiba Dipta meringsek mendekati Joddy. Dari kemarin sejak Joddy mengabarinya kalau Kana melahirkan, dia sudah tidak sabar untuk meledek sepupunya itu.
"Ya, ya! Terimakasih pengantin baru," balas Joddy lalu melirik pada wanita muda yang sedang berpelukan dengan Kana. "Ati- ati Ra, kalau bulan purnama dia gigit," bisik Joddy lirih membuat wajah Rara memerah seketika.
"Serigala kali ah!" balas Dipta tak terima lalu menarik Rara menjauh sebelum Joddy menggodanya.
"Beib, selamat ya! Astaga, akhirnya kamu punya anak cewek!" Moli memeluk Kana erat sambil berbisik mengucapkan serentetan doa untuk Kana dan Queen.
"Makasih, kamu jauh-jauh datang ke sini cuma buat ngucapin ini sama aku!" Kana tersenyum manis, walaupun terlihat pucat karena kelelahan setelah melahirkan Kana tetap terlihat cantik di mata Joddy.
"Ya, gak papa lah. Waktu nikahan kan, gak datang!" Itu bukan jawaban Moli, melainkan sindiran pedas Joddy yang masih kesal karena menurutnya Moli sudah 'mengajarkan' sesuatu yang tidak-tidak pada Kana.
"Ish!" Kana menginjak kaki Joddy pelan isyarat agar dia tidak mengatakan sesuatu yang bisa menyinggung sahabatnya itu.
"Ih, Bang Joddy masih ingat aja!" Moli tak mampu menahan tawanya.
"Ingat-"
"Udah-udah apaan sih, Kak!" Kana melotot ke arah Joddy yang langsung kicep itu karena kalau sudah Kana yang bicara Joddy memilih mengalah. Baginya Kana adalah Ratu dan seorang ratu tidak boleh ditentang.
"Kana!!" seru Abi sepupu almarhum Adrian, tiba-tiba saja meringsek memeluk Kana untuk mengucapkan selamat padanya. Mengabaikan Moli yang tidak sengaja terdorong ke samping.
"Kebiasaan!" gerutu Moli kesal.
"Terimakasih, Bi. Terimakasih udah datang," balas Kana lalu melepas pelukannya.
"Anak kamu cantik banget, tapi lebih cantikan anak aku sih, ya kan, Sayang?" Abi mengapit lengan suaminya meminta persetujuan pria tinggi kurus itu dengan mata mengerling, membuat Moli memasang wajah pura-pura mau muntah melihat tingkah genit Abi.
Amar yang notabene mantan Kana sewaktu SMA itu hanya tersenyum tipis. Mau bilang 'tidak' istrinya bisa marah tapi kalau bilang 'iya' dia tidak enak pada Kana. Wanita yang pernah menjadi cinta monyetnya waktu sekolah. Jadi, dia hanya tersenyum saja, cari aman lalu menjabat tangan Joddy untuk sekedar berbasa-basi.
"Selamat ya untuk kalian berdua, semoga Queen bisa jadi anak yang Solehah, berguna bagi nusa bangsa," ujar Amar tulus tatapannya begitu lembut pada Kana membuat pria yang sejak tadi berdiri di samping Kana itu menatap seolah-olah akan mencabik-cabiknya.
"Amin!!" balas Joddy dengan lantang membuat Moli dan Kana saling pandang dan menahan tawa karena tahu betul Joddy tidak suka pada Amar atau bisa dibilang cemburu.
"Terimakasih, Amar," balas Kana.
Amar mengangguk lalu tersenyum pada Kana mengabaikan lirikan maut Joddy yang tak suka istrinya dipandang pria selain dirinya.
"Silahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan." Jelas sekali Joddy ingin sekali Amar menjauh dari hadapan istrinya dengan kedok menyuruhnya makan.
Seperti tahu maksud Joddy, Amar akhirnya mengajak Abi untuk bergabung dengan para orangtua yang sedang menimang bayi mungil Kana.
"Ciee, yang ketemu MANTAN!" sindir Joddy sesaat setelah Amar dan Abi berlalu pergi.
"Ciee, yang cemburu ketemu mantannya bini," balas Moli lalu tertawa karena tak tahan melihat wajah kesal Joddy.
"Dih, ngapain cemburu sama dia. Jelas-jelas gue lebih keren, mapan, ganteng dan yang paling penting gue udah berhasil bikin Kana hamil!" sahut Joddy jumawa, Kana yang mendengar itu hanya tertawa.
"Tapi Amar kan pacar pertama Kana?" Moli masih berusaha memanas-manasi.
"Dih, gak penting!"Joddy mengibaskan tangan acuh. " Gue cinta pertama Kana!"
Moli mencibir lalu memutar bola matanya jengah. " Susah ngomong sama bucin. Sudahlah aku mau makan aja!" Moli memeluk Kana lagi sebelum akhirnya melengang pergi untuk mencari makan.
"Dasar, aneh!" dengus Joddy setelah Moli tidak terlihat lagi.
"Kamu yang aneh, Kak! Sama Amar masih aja cemburu!" Kana lalu berjalan pelan menuju sofa yang tak jauh darinya duduk dengan berselonjor kaki mengabaikan orang-orang yang sibuk dengan Queen dan makanan.
"Soalnya mantan kamu itu kalau ngeliatin kamu kayak masih ada rasa," sahut Joddy menyusul Kana duduk.
"Perasaan kamu aja."
"Ckkk, aku ini laki-laki, Na. Aku tahu apa yang ada di pikiran mantan kamu itu," sungut Joddy kesal.
"Harus ya, Kak, kita bahas?" Di hari kepulangan Queen ke rumah pula!
__ADS_1
"Maaf, ya. Harusnya aku gak kekanak-kanakan kayak gini. Harusnya aku lebih percaya diri karena kamu sudah punyaku seutuhnya dengan Queen sebagai buktinya." Joddy mengenggam tangan Kana.
"Nah, itu tahu. Mending sekarang kamu bikinin aku susu hangat Kak." Kana mengalihkan perhatian Joddy, dia benar-benar tidak ingin membahas sesuatu yang tidak penting di hari bahagia kepulangan Queen ke rumah.
"Oke, kamu tunggu ya." Joddy bergegas bangun dari duduknya lalu pergi ke dapur. Tak berapa lama dia kembali dengan segelas susu di tangannya.
"Di minum dulu, Dek!" Joddy meletakkan segelas susu hangat di depan Kana yang sejak tadi sibuk memperhatikan para kakek dan nenek yang sibuk berebut untuk menggendong Queen.
"Makasih," balas Kana lalu mengambil gelas dan meminum isinya sampai tandas.
"Mereka kelihatan bahagia banget ya nambah satu personil."
"Iya, kamu lihat juga Ken, Kak. Dia terlihat paling bahagia." Kana tersenyum mengingat Ken yang selalu ingin dekat dengan sang adik
"Iya, syukurlah! Jadi, pengen nambah satu lagi, "sahut Joddy yang langsung mendapat pelototan cantik Sang Istri.
"Kamu ini, jahitannya belum kering udah ngomongin nambah!"
Joddy terkekeh geli lalu duduk di samping Kana dan tanpa diminta dia mengambil kedua kaki Kana yang duduk berselonjor meletakkan di pangkuannya lalu memijitnya lembut.
"Emang kalau habis lahiran kaki gak boleh ditekuk ya, Dek?"
"Boleh, tapi gak boleh lama-lama bisa bengkak. Soalnya dulu waktu lahiran Ken gitu, aku nekat aja duduk kakinya ditekuk. Sama Kak Ian gak boleh terus dia semalaman mijitin kaki aku sampai gak tidur terus-" Kana terdiam seketika saat menangkap sedikit perubahan wajah Joddy. Kana mengumpati dirinya sendiri, bisa-bisanya dia menyinggung masa lalu di hadapan masa depannya.
"Kak, maaf," ujar Kana lirih memengang tangan suaminya.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Joddy.
"Aku udah ngungkit masa lalu."
"Astaga, ngungkit masa lalu apa, Na? Adrian bukan masa lalu kamu dia adalah ayah Ken dan selamanya akan begitu. Dia akan selalu di hati kamu dan Ken."
Kana tersenyum. "Makasih ya, Kak. Makasih udah nerima aku sama Ken. Terimakasih buat cinta kamu selama ini."
"Aku yang terimakasih sama kamu, Na. Kamu udah ngasih anak-anak yang lucu buat aku. Terimakasih, sudah berjuang untuk Queen," balas Joddy membalas genggaman tangan Kana erat.
"Semuanya buat kamu, Na," bisik Joddy lalu mengecup kening Kana lembut.
"Ya, ampun! Ingat ya, yang di bawah belum kering." Sebuah suara mengangetkan Joddy dan Kana. Maya datang dengan Queen yang terlihat gelisah dalam dekapan neneknya.
"Nih, Queen haus!" Maya buru-buru menyerahkan Queen pada ibunya yang langsung mencari sumber kehidupannya itu.
"Tahan ya, Joddy, nunggu 40 hari lagi," goda Maya pada Joddy yang sejak tadi tanpa sengaja memperhatikan Kana dan Queen.
"Jangankan 40 hari, Ma. 36 tahun saja saya bisa."
"Keren kamu, Jod!" seru Maya tanpa sadar.
Kana hanya berdecak, Kana tidak yakin Joddy bisa menahannya, dia tahu suaminya itu pasti akan tersiksa karena selama menikah hampir tiap malam pria itu minta haknya rasanya tidak akan mudah baginya.
****
Sejak Queen lahir tingkat keposesifan Joddy naik berkali-kali lipat. Dia akan berubah menjadi pribadi yang perfeksionis jika berkaitan dengan putrinya. Mendadak Joddy akan menjadi seorang ayah yang mengidap automysophobia atau fobia terhadap benda-benda yang kotor. Pria itu selalu memastikan kebersihan Queen mulai dari baju sampai tempat tidur bayi.
Joddy bahkan membuat peraturan baru, siapa saja yang akan menyentuh Queen maka harus dalam keadaan steril, paling tidak harus mencuci tangan karena jika Queen terkena debu sedikit saja maka dia akan mengamuk.
Untunglah, semua orang di sekeliling Joddy paham dan maklum karena pria itu sedang bahagia-bahagianya mendapat putri yang cantik.
Berkat Queen juga, Joddy lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga. Di jam makan siang dia akan pulang ke rumah hanya untuk bertemu dengan Queen, bermain sejenak dengan anak bermata almond itu lalu kembali ke kantor. Dia selalu bilang tidak tahan berpisah terlalu lama pada bayi cantiknya. Tak jarang tiap pulang kerja dan mendapati Queen tengah tidur maka dengan -tanpa berdosanya- Joddy akan membangunkan Queen untuk mengajaknya bermain. Jika sudah begitu Kana hanya bisa pasrah karena menidurkan bayi tidaklah semudah membangunkannya.
"Anak Daddy cantik banget!" Joddy menciumi bayinya yang tertawa-tawa kegelian itu.
"Mbbbb..mbbb..." Joddy pura-pura mengigit tangan mungil Queen membuat bayi 3 bulan itu tertawa tanpa suara. Padahal baru beberapa menit yang lalu Kana berhasil menidurkan Queen, tapi lihatlah dalam hitungan detik anak itu bangun hanya karena sang ayah menggodanya.
"Terserah ya, Kak. Kamu harus tidurin Queen sampai dia pules!" seru Kana sibuk merapikan baju-baju Queen.
"Lihat tuh Dek, bunda kamu ngambek terus tiap daddy ngajak main kamu. Cemburu apa ya bunda kamu?" Joddy bicara pada Queen, seolah-olah bayi itu sudah mengerti dengan apa yang dia katakan.
"Ngajak mainnya gak ngerti waktu. Waktu dia tidur malah kamu bangunin!!" balas Kana lalu menutup lemari baju dengan sedikit keras. Joddy terkekeh lalu mengayun-ayunkan Queen yang terlihat senang diperlakukan seperti itu.
"Tuh Dek lihat! Bunda kalau marah makin cantik ya?"
Kana melengos mendengar gombalan Joddy itu tepat saat Ken masuk ke dalam kamar dengan berjalan riang ada bola di tangannya.
"Bunda! Daddy! Dedek!" sapanya riang lalu memeluk kaki Joddy.
"Hallo Kakak Ken, mau main cama Queen ya?" Joddy membungkuk dengan Queen berada di gendongannya untuk menyamai tinggi Ken.
"Iya, ayo main bola!"
Ajaib! Saat mendengar suara Ken, Queen dengan riang menggerakkan tangan dan kaki seperti meminta Ken menggendongnya.
__ADS_1
"Queen kan cewek, Kak. Mainnya boneka." Joddy menjawab dengan menirukan suara anak kecil. Mendengar jawaban Joddy wajah Ken terlihat sedikit kecewa membuat Joddy tak enak hati. Sepertinya dia salah bicara, harusnya dia tidak berkata begitu. Lihat saja wajah Ken yang semula bahagia terlihat sedih hampir mau menangis.
Kana tersenyum lalu duduk menyamai tinggi Ken. "Maksud Daddy, Dedeknya baru pakai baju cewek, biar ganti baju dulu ya, Sayang." Kana memilih mencairkan suasana.
"Kalau main bola harus pakai celana biar leluasa. Lihat nih, Dedeknya masih pakai rok," imbuh Kana lagi.
Wajah Ken yang terlihat sedih berangsur kembali bahagia seperti semula. "Ya, udah deh. Ken mau tunggu Dedek ganti baju!" serunya riang lalu berjalan keluar kamar.
"Maaf ya, Na. Kayaknya aku selalu bikin salah." Joddy berkata dengan lesu setelah Ken menghilang Ndari balik pintu.
"Bukan salah tapi belum tepat, Kak. Wajarlah karena kamu belum pengalaman punya anak, itu semua hanya belum terbiasa saja." Kana mendekati suaminya lalu mengambil alih Queen dari gendongan ayahnya.
"Nanti lambat laun kamu akan terbiasa. Percayalah, Kak. Kamu bisa jadi ayah yang baik." Kana tersenyum manis pada suaminya membuat pria berusia 30-an akhir itu tertegun sejenak. Kana masih saja mempesona bahkan sekarang dia terlihat lebih dewasa. Aura keibuan memancar kuat darinya.
"Aku gantiin baju Queen, kamu mending sekarang temenin Ken main dulu nanti aku sama Queen nyusul," imbuh Kana menunjuk ke arah luar kamar. Joddy tersenyum lalu mengangguk.
"Oh, ya! Nanti sore jadwal imunisasi Queen lho!"
Langkah Joddy yang hampir mencapai pintu itu berhenti seketika. "Gak bisa dijadwal ulang?"
"Enggak! Kita udah dua kali jadwal ulang bulan ini!" seru Kana sebal. Pasalnya sudah dua kali Joddy meminta untuk menjadwal ulang imunisasi Queen. Dia bilang tidak tega melihat bayi sekecil itu disuntik tiap bulan. Joddy tidak tega mendengar tangis Queen yang melengking kesakitan tiap jarum suntik menembus kulitnya.
"Udahlah, Kak! Gak apa-apa, kalau ditunda-tunda kasian anaknya. Harus bulan ini sesuai umurnya." Kana mencoba menenangkan suaminya. "Lagipula ini demi kesehatan dan tumbuh kembang si Cantik ini." Kana mengangkat Queen lalu mencium pipi tembemnya dengan gemas.
Joddy berdecak sebal sebelum menarik napas dan mengangguk ragu. "Ya, udah deh terserah kamu aja."
"Oke, aku udah telepon dokternya Queen. Sore ini juga kita ke klinik." Kana tersenyum lalu mengambil baju untuk Queen mengabaikan Joddy yang menatap ke arahnya tak percaya. Kalau sudah begini mana bisa dia mengelak?
Benar saja sesampai di klinik Joddy terlihat tidak tenang. Dari mulai turun dari mobil dia sudah terlihat tidak nyaman. Berulangkali meminta Kana untuk menjadwal ulang imunisasi Queen.
"Kak, kasih Queen sama perawat!" bisik Kana pada Joddy yang sejak tadi menggendong erat Queen, dia tidak enak melihat perawat yang sejak tadi sudah siap mengambil Queen untuk ditimbang berat badannya terlebih dahulu.
"Kak, kasih Queen sama Mbak perawatnya!" bujuk Kana lagi, sungguh kejadian ini mengingatkan pada sebuah adegan di drama Korea yang pernah dia tonton, di mana seorang ayah muda menolak keras anaknya untuk diimunisasi. Jika pria di drama Korea itu terlihat menggemaskan, berbeda dengan pria di dunia nyata satu ini terlihat menyebalkan.
"Kak!"
Perawat dan dokter hanya menahan tawa melihat Joddy yang terlihat sangat waspada itu.
"Pak, Bapak tenang saja. Adeknya hanya akan menangis sebentar. Setelah itu dia akan baik-baik saja." Dokter mencoba menenangkan Joddy.
"Tapi kasian, Dok! Dia akan sangat kesakitan!" Joddy benar-benar tidak tega melihat putrinya menangis kesakitan.
"Ih, kamu tuh!" Dengan gemas Kana mengambil paksa Queen yang dengan tenang menatap ke arah Sang Ayah dengan mata beningnya.
"Sayang, ikut Tante baik dulu, ya?" bisik Queen lalu menyerahkan Queen pada perawat yang dengan sigap meletakan bayi mungil itu di atas timbangan bayi.
Joddy terlihat khawatir melihat Queen yang sedikit meronta saat ditimbang.
"Nah, sekarang Queen bobo dulu di sini." Dokter Kinan memberi isyarat pada Kana untuk membaringkan Queen di atas ranjang. Bayi mungil itu terlihat tenang bahkan saat dokter memenggang kakinya untuk menyuntikkan vaksin pun dia masih tetap tenang begitu jarum suntik menembus kulitnya bayi mungil itu pun akhirnya berteriak nyaring. Refleks Joddy meringsek maju.
"Tuh, kan benar! Nangis!" Joddy terlihat marah membuat suasana tidak enak.
"Gak papa tinggal disusuin juga diem, Kak." Kana langsung mengambil Queen lalu menimangnya. Syukurlah, bayi cantik itu langsung diam begitu digendong ibunya.
Di perjalanan pun Joddy masih saja khawatir pada Queen. Padahal bayi lucu itu terlihat tenang dalam dekapan Kana.
"Kamu mau gantian gendong Queen biar aku yang nyetir?" tanya Kana risih karena berulangkali Joddy bertanya apa Queen baik-baik saja.
"Enggak usah."
"Daripada kamu khawatir seperti itu."
"Ya wajar lah Na, Queen anak pertamaku."
"Iya, tahu. Tapi gak usah berlebihan deh ,Kak."
"Gimana mau nambah adek buat Queen kalau kamunya aja begini," imbuh Kana sebal
"Hah? Kamu mau nambah satu lagi?" Joddy terdengar antusias.
"Ckkk, nanti kalau Queen udah TK!" seru Kana kesal.
"Kelamaan!"
"Enak aja! Ya ,udah kamu yang hamil aja sana!"
"Emang bisa?"
"Au!"
******
__ADS_1
***hai...haii maafkan ya baru bisa update. Sibuk bikin laporan ini itu heheh Dan maaf banget part kali ini gak ada feel-nya. Terimakasih yang selalu dukung Kana . Terimakasih yang selalu tanya 'Kapan up, Kak?' 'ditunggu, Kak!' i love you all***