
Joddy memijat pelipisnya. Akhir-akhir ini kepalanya terasa berat, banyak yang dia pikirkan. Pekerjaan, hubungannya dengan Kana dan pertunangan sialan yang tinggal menghitung hari.
Seandainya saja Joddy bisa membatalkannya, tapi itu tidak mudah. Jihan masih percaya jika Laras yang bersamanya malam itu. Joddy tidak menyangka wanita secerdas Laras bisa melakukan ini semua.Tapi Joddy masih sangat berharap ada keajaiban yang membuktikan kalau Laras bukan wanita yang sudah dia tiduri.
Lamunan Joddy membuyar saat pintu ruangannya terbuka, seorang wanita dengan stelan kerja masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Maaf saya sudah bilang harus konfirmasi ke Pak Joddy dulu, tapi Mbaknya maksa untuk masuk." Setengah berlari salah satu staf di kantor Joddy mengekor Laras yang menerobos masuk ke dalam ruangan Joddy. Joddy menghela napas, lalu memberi isyarat stafnya untuk meninggalkan mereka berdua.
"Jangan pernah datang kemari jika tidak ada urusan dengan pekerjaan," seru Joddy begitu sang staf keluar dari ruangan.
Laras cemberut lalu duduk di kursi kosong yang terletak di depan Joddy. "Kamu tidak membalas pesan juga tidak angkat teleponku."
"Aku sibuk," balas Joddy malas dan terkesan dingin, lalu pura-pura sibuk dengan laptopnya padahal dia sudah kehilangan fokus sejak Laras menerobos masuk ke dalam ruangannya.
"Joddy, hari pertunangan kita sudah dekat. Kenapa sih kamu masih dingin sama aku?"
"Bukan aku yang menginginkan pertunangan ini, tapi kamu sama Ibu."
Katakan Joddy masih berat untuk menerima pertunangan yang terkesan buru-buru ini. Karena Joddy masih yakin jika bukan Laras yang sudah tidur dengannya tapi Kana dan dia menerima pertunangan ini karena ibunya yang terus mendesak selain itu rasa kecewa pada Kana yang mengatakan jika dia merasa tersiksa dengan sikapnya membuat Joddy semakin membuat Joddy tertekan dan dengan terpaksa menerima pertunangan ini.
"Tapi kamu juga terima-terima saja."
"Kamu tahu jawabannya kenapa itu aku lakukan."
Laras beranjak dari duduknya lalu mendekati Joddy, bersandar di tepian meja kerja Joddy dengan senyum manisnya yang dibuat-buat. Tangan Laras terulur menyentuh pundak Joddy mengelusnya pelan. Merasa jengah, Joddy memilih beranjak dari duduknya lalu berpindah ke sofa yang disediakan untuk menyambut tamu.
"Ada perlu apa?"
Mendapat sambutan yang dingin dari Joddy membuat Laras sedikit tersinggung, tapi dia abaikan semua itu demi merebut perhatian pria tampan itu.
"Jod, kamu dingin banget sama aku, padahal malam itu waktu kamu mabuk kamu-"
"Pergilah kalau yang kamu bicarakan bukan masalah pekerjaan, ini kantor bukan kafe yang bisa kamu datangi sesuka hati." Tentu saja Laras tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan Joddy. Tapi dia tidak akan gentar merebut perhatian pria itu, dia sudah sejauh ini kepalang basah jika harus mundur.
"Joddy, bisa tidak kamu sedikit lebih hangat, dulu kamu tidak seperti ini kenapa kamu berubah?"
"Sudah aku bilang kalau bukan masalah pekerjaan pergi dari sini, aku sedang banyak pekerjaan." Joddy nyaris membentak Laras tapi dia masih sadar diri untuk tidak melakukan itu mengingat Laras adalah seorang perempuan.
"Joddy, kita sudah lama kenal bahkan kedua orangtua kita sangat dekat. Ayolah, cobalah untuk menerima ini semua, aku sama kamu sudah dijodohkan dari kecil."
__ADS_1
"Kamu juga dari dulu tahu kalau aku sudah punya pilihan lain."
Laras tersenyum sinis." Kana maksud kamu? Come on, kamu tahu sendiri Tante Jihan tidak menyukai dia karena bebet, bibit, bobotnya kalah jauh denganku."
" Kamu pikir bebet,bobot kamu lebih baik dari Kana?" Joddy tertawa hambar. " Aku tahu siapa kamu Laras. Jika memang benar malam itu kamu wanita itu, aku yakin aku bukan orang pertama yang melakukannya. Apa aku salah?"
Wajah Laras sedikit pias, tapi dia berusaha tetap tenang dan menjaga percaya dirinya. "Kamu lupa virginitas tidak terpaku pada keluarnya darah? Aku yakin kamu cukup cerdas untuk mengartikan itu semua."
Joddy menatap tajam ke arah Laras. Joddy bukanlah pemuja darah keperawanan. Tapi bukan berarti dia menerima begitu saja, harus ada alasan jelas kenapa sampai sesuatu yang berharga itu bisa hilang. Dia juga tahu ada keadaan khusus yang menyebabkan mahkota wanita itu tidak bisa diilihat dengan mata bebas.
"Cepat atau lambat semua akan terbuka dengan sendirinya." Joddy membenarkan letak kacamatanya.
"Oh, ya? Kita lihat saja." Laras tersenyum tipis walaupun dalam hati ada kekhawatiran kalau Joddy benar-benar menemukan bukti jika memang Kana wanita yang bersamanya. Tapi semoga saja tidak, kalaupun akan terbukti Laras harap setelah dia dan Joddy telah sah menjadi suami istri.
"Oke, kita akan tunggu." Joddy beranjak dari duduknya lalu membuka pintu ruangannya.
"Aku masih banyak pekerjaan. Apa perlu aku panggilkan satpam untuk menunjukan di mana pintu keluarnya?" Joddy terang-terangan mengusir Laras dia sudah muak dengan wanita yang ada di depannya ini.
Laras menatap Joddy tak percaya. Banyak lelaki di luar sana yang menginginkan wanita sempurna sepertinya. Tapi ketika dia dengan suka rela menyerahkan dirinya pada Joddy, pria itu malah terang-terangan menunjukan ketidaktertarikannya? Oke, baiklah. Jika Joddy mengira Laras akan menyerah berarti dia salah.
Mungkin tidak hari ini, kita lihat saja nanti yang penting aku sudah memengang kunci untuk mendapatkanmu. Laras merapikan rambut hitam legamnya yang panjang lalu berjalan menuju pintu. Sebelum dia berlalu, Laras berhenti sejenak merapikan kemeja Joddy seolah-olah ada sesuatu di sana, lalu menatap Joddy dan berbisik," Aku tunggu di pertunangan kita, Sayang." Laras mengedipkan matanya dan berlalu begitu saja mengabaikan bantingan pintu yang keras di belakangnya.
*
Refleks tangan Joddy yang sedang mengambil sebungkus mie instan itu urung saat melihat anak berumur 4 tahun berlari memeluk kakinya. Joddy tertegun saat melihat siapa bocah itu.
"Ken?"
Dari banyaknya swalayan di Jakarta, kenapa dia harus bertemu Ken di sini. Bocah bergigi kelinci itu tersenyum manis. Di tangannya ada sekotak susu coklat dengan karakter salah satu kartun berasal dari negeri Jiran.
"Ken sama siapa?" Joddy mengangkat tubuh Ken mencium pipi gembil pria kecil itu. Joddy rindu dengan bau minyak telon Ken juga minyak wangi anak-anak beraroma strawberry yang sering Ken pakai.
"Unda."
Deg...
Jantung Joddy berdetak lebih kencang. Kana, Kana-nya ada di sini.
Bukan... bukan Kana-nya lagi. Tapi sudah pacar orang.
__ADS_1
Joddy mengedarkan pandangan ke segala arah, tapi tidak dia temukan wanita pemilik hatinya itu. Apa Kana bersembunyi karena melihat dia?
"Ken!"
Suara lembut itu berasal dari belakang tubuhnya. Joddy salah, wanita itu tidak bersembunyi atau barangkali tidak sempat bersembunyi karena tidak tahu kalau dia yang menggendong Ken.
"Unda!"
Joddy mau tak mau membalikkan badannya membuat langkah Kana melambat saat melihat siapa yang menggendong Ken. Sedetik mata mereka bertemu ada kerinduan yang jelas di kedua mata mereka. Namun, jarak memaksa mereka untuk membunuh rasa rindu di hati masing-masing.
Joddy masih ingat wajah terkejut Kana saat menerima undangan pertunangannya dan bagaimana sikap dia yang hanya diam saja, apakah Kana merasa terluka? Ingin sekali.Joddy memeluk Kana dan mengucapkan beribu kata maaf.
"Ken, ayo pulang," ajak Kana pada Ken yang malah mengeratkan pelukannya di leher Joddy.
"Mau cama Om!" rengeknya. Kana terdiam begitupula dengan Joddy. Mendadak suasana menjadi canggung di antara keduanya.
"Ken, ayo Sayang." Kana mendekat mengulurkan tangannya bermaksud mengambil Ken dari gendongan Joddy.
"Om Oddy ayo puyang sama Ken?" Mata binar Ken menatap Joddy penuh harap membuat hati Joddy mencelos seketika. Ingin rasanya Joddy mengangguk lalu memeluk tubuh mungil itu dan mengantarnya pulang, tapi dia sadar keberadaannya hanya akan membuat Kana semakin tersiksa.
"Maaf ya, Sayang Om harus ke kantor lagi. Ken pulang sama Bunda ya?"
Wajah Ken berubah murung, bahkan hampir menangis. "Om, ndak tangen Ken?"
Joddy tergeragap melirik Kana yang lebih memilih mengamati barang-barang di rak ."Om kangen banget sama Ken." Apalagi sama Ibu kamu.
"Tapi Om, masih harus kerja, Sayang. Nanti kapan-kapan kita main bareng ya?" bujuk Joddy.
"Benel ya Om, nanti ain cama Ken."
Joddy mengangguk." Iya, janji." Bagus Joddy. Kamu sudah membuat harapan palsu untuk anak sekecil ini.
"Ken tangen Om Oddy. Unda biyang Om mau unya ante balu ya?" tanya Ken polos, Joddy menatap ke arah Kana yang cepat membuang muka. Tante baru? Bahkan kamu sudah memberi tahu Ken, Na?
"Ken, ayo Sayang. Udah ditunggu Kakek tuh." Kana mengulurkan tangannya dan akhirnya Ken menerima uluran tangan Kana.
"Om oddy, Ken puyang duyu ya!" seru bocah gempal itu. Joddy mengangguk lalu mengusap kepala Ken. Kana yang merasakan aura canggung memilih diam saja, apalagi ada seorang ibu yang melintas kemudian mengira mereka adalah keluarga bahagia. Maka, Kana memutuskan untuk sesegera mungkin berlalu dari tempat itu dan dari hadapan Joddy.
Sebelum pergi dia hanya menatap Joddy tanpa sepatah katapun seperti orang asing lalu pergi begitu saja, hanya Ken yang melambaikan tangan mungilnya ke arah Joddy. Joddy menatap punggung Kana yang mulai jauh dengan perasaan tak karuan.
__ADS_1
Yang tidak mereka sadari adalah mereka telah saling menyakiti satu sama lain.
*****