Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
bocah tua


__ADS_3

"Mbak Kana, itu Masnya gak ditemenin aja?" tanya Ratih menunjuk Joddy yang sejak pintu kafe dibuka pertama kali dialah tamu pertama yang datang dan memesan pancake spesial buatannya.


Padahal Kana sudah menolak mentah-mentah tapi Joddy mengancam akan membuat review kafe ini dengan penilaian yang buruk di media sosial. Maka dengan sangat terpaksa Kana membuatkan pancake saos madu kesukaan Joddy.


Ingin rasanya Kana mengganti saos madu dengan racun. Tapi dia masih punya hati untuk tidak melakukan itu. Joddy masih hutang penjelasan padanya. Tentang kenapa dia bisa tahu keberadaannya di sini. Ah, tentu saja dari Rara.


Tapi Kana lebih penasaran lagi soal apa yang pagi tadi Joddy katakan. Dia tidak menikah dan anak yang dikandung Laras adalah adiknya. Kana binggung apa maksud Joddy.


Joddy baru akan menjelaskan asal Kana mau pulang dengannya. Dan itu tidak akan terjadi, Kana tidak akan pulang dengan Joddy. Seberapapun kuatnya Joddy membujuk.


"Biarin aja!" Kana membuang muka begitu Joddy memberikan finger heart ke arahnya. Tapi tidak begitu dengan karyawan perempuan. Mereka berteriak histeris saat melihat Joddy mengedipkan mata sambil memberikan finger heart ke arah Kana.


Kana mendecih playboy cap kadal.


"Mbak, itu calonnya yo? Ganteng bgt!" Tikah, kasir kafe berbisik di telinga Kana.


Kana menggeleng dengan tegas. " Bukan, dia bukan calonku. Dia cuma pria iseng yang kurang kerjaan." Kana melirik Joddy yang sibuk dengan laptopnya dan sesekali menerima telepon. Padahal ini weekend tapi dia tetap membawa kerjaannya. Tapi salah dia sendiri sih kenapa juga datang ke Jogja.


"Serius Mbak? Nek gitu buat aku wae ya, Mbak?" sahut Murni karyawan perempuan yang lain yang katanya selalu gagal dalam bercinta. Kana tak menjawab dia hanya tersenyum tipis.


"Dia nginep di rumah sebelahnya Mbak Kana, kan?" tanya Ratih.


Kana mengangkat bahunya, dia tidak peduli Joddy menginap atau tinggal di mana. Baginya Joddy adalah ranjau yang harus dihindari.


"Kana!!"


Semua mata mengarah ke arah suara melengking yang memanggil nama Kana dengan lantang. Seorang anak muda masuk ke dalam kafe dan langsung menghampiri Kana .


Kana melirik Joddy dari balik punggung Evan yang membelakangi Joddy. Pria berkacamata itu bersedekap dengan wajah dingin menatap tajam ke arah punggung Evan, seperti seorang snipper yang waspada terhadap gerak gerik musuh yang akan dia tembak.


"Kana , jadi kan kita ke kebun binatang? Aku jemput Ken ya?"


Evan bertanya dengan wajah berseri-seri. Kana mengalihkan pandangan ke arah anak berusia 17 tahun itu. Pemuda ini benar-benar berharap dia bisa pergi dengannya. Tapi jujur, Kana malas sekali jika harus ke tempat ramai di hari weekend. Kana ingin tidur di rumah saja kepalanya sedikit pusing rasanya juga lemas. Entah kenapa kehamilan yang sekarang, Kana benar-benar berubah jadi pemalas. Dia datang ke kafe saja karena terpaksa, tidak enak pada Nadi yang sudah berbaik hati mengizinkannya menyewa homestay selama yang Kana mau.


"Ehm, KITA KENCAN SAJA DI SINI!" Kana sengaja mengeraskan suaranya agar Joddy mendengar apa yang dia katakan, dan sesuai harapan Kana, Joddy memang mendengar apa yang dikatakan Kana.


Sayangnya, dia tidak bereaksi apapun. Joddy hanya tersenyum geli karena dia yakin Kana hanya ingin membuatnya pergi dari kafe ini karena cemburu. Padahal Joddy tidak merasa cemburu apalagi khawatir Kana akan suka pada bocah ingusan itu. Bocah itu bukan saingannya. Masih terlalu terlalu amatir untuk menjadi pesaing dirinya yang sudah level pro.


"Yah, kenapa?" Nada bicara Evan terdengar kecewa.


" Aku sore ini ke dokter Evan, takut nanti gak ke buru." Kana setengah berbisik.

__ADS_1


"Aku antar ya?"


"Jangan!"tolak Kana keras. Bukan apa-apa, ini pemeriksaan Kana yang pertama selama dia hamil dia takut jika diantar Evan orang akan berpikiran kalau Evan adalah suaminya. Gila saja dia sama pria yang usianya jauh di bawahnya.


Evan mendesah kecewa. "Yah, kenapa?"


"Ya, karena aku terbiasa sendiri."


"Ayolah, Kana!" Evan masih saja berusaha mengambil hati Kana memaksanya agar mau pergi dengannya.


"Heh, bocah! Kalau dia tidak mau jangan dipaksa!" Kana tersentak kaget saat melihat Joddy sudah ada di belakang Evan, menatap punggung bocah belasan tahun itu dengan tatapan tajamnya.


Evan refleks membalikkan badannya, dan kaget saat melihat tubuh tinggi menjulang di depannya. Dari postur tubuh saja Evan sudah kalah telak.


Dia yang masih dalam masa pertumbuhan kalah tinggi dengan Joddy yang rajin berolahraga sehingga bentuk tubuhnya proposional, untuk pria berusia 35 tahun Joddy memang tidak ada lawannya. Kana pernah merasakan berada di bawah tubuh pria itu dan rasanya....


Astaga Kana! Mesum sekali pikiran kamu!


"Eh, Si Om! Kenapa belum pulang ke asalnya? Bukannya kemarin Kana sudah menyuruhmu pergi!"hardik Evan dengan wajah dibuat sangar, bukannya terlihat menakutkan tapi Evan malah terlihat menggemaskan.


Om? Joddy mengernyit tak suka. Dia lebih suka dipanggil 'pak' daripada 'om' karena panggilan om terdengar aneh di telinganya kecuali jika yang manggil Ken.


"Bukan urusan kamu! Dan ingat, dia lebih tua dari kamu jangan cuma manggil pakai nama saja," sahut Joddy. Kana mendecih, apa-apaan itu! Kenapa jadi dia yang mengatur-atur.


"Mbak, pakai Mbak atau Kakak! Jangan cuma Kana!"seru Joddy sedikit kesal.


"Suka-suka akulah, malah mau aku panggil 'sayang'. "Evan tidak takut dengan tatapan intimidasi Joddy yang menurut Kana itu terlihat berlebihan mengingat Evan hanyalah seorang anak baru gede yang sedang mencari jadi dirinya.


"Sayang, gundhulmu! " maki Joddy, lama-lama terpancing juga emosinya menghadapi anak ini. Kana yang melihat perdebatan satu bocah dan satu lagi bocah tua itu memijit pelipisnya, entah kenapa kepalanya mendadak pening melihat perdebatan dua beda generasi itu.


"Sayang, kamu gak apa-apa?" Evan terlihat panik saat melihat Kana menunduk dengan tangan memijit pelipisnya.


"Heh, bocah. Jangan panggil dia begitu!"


"Lha, Om ini siapanya Kana?"


"Aku bapak dari anak yang dia kandung, mau apa kamu!" jawaban lantang Joddy itu membuat seisi ruangan menjadi terperangah. Kana menutup mukanya dengan telapak tangan antara geram dan gemas dengan kedua pria yang ada di depannya.


"Jangan ngaku-ngaku, Om!"


"Heh, bocah aku gak ngaku-ngaku ya!"

__ADS_1


" ...."


"...."


"Cukup!!" bentak Kana geram, kedua orang pria itu terdiam melihat wajah pucat Kana yang terlihat marah.


"Maaf Ratih, aku harus kembali ke penginapan." Kana berdiri lalu menatap Ratih yang masih mematung di tempatnya karena terlalu shock dengan apa yang barusan dia dengar. Kana hamil. Pantas atasannya Nadi, selalu mewanti-wanti jika Kana tidak boleh kecapekan. Jadi ini alasannya?


"Kalian berdua jangan coba mengikutiku kalau tidak mau mata kalian aku colok!" Kana mengarahkan jari telunjuk dan tengahnya ke arah mata Joddy dan Evan yang refleks memundurkan tubuhnya ke belakang.


Tanpa mempedulikan tatapan semua yang ada di ruangan itu, Kana bergegas keluar dari kafe.


"Dek, mau ke mana?"


Kana merasakan tangannya ditarik. "Apaan sih, lepas!" Kana menepis tangan Joddy yang rupanya menyusulnya.


"Na, pulang ya ke Jakarta," pinta Joddy penuh harap.


"Siapa kamu ngatur-ngatur aku? Apa karena kamu ayah dari anak yang aku kandung lantas kamu berhak mengatur hidupku?" Kana menatap Joddy tajam.


" Na-"


"Menjauh dariku! Sudah cukup penghinaan yang ibu kamu kasih ke aku dan keluargaku,Kak!"seru Kana marah, Joddy terpaku di tempatnya, hatinya terasa dicubit saat melihat kemarahan Kana. Dia tidak pernah melihat Kana semarah ini padanya.


"Aku minta maaf. Aku minta maaf atas apa yang Ibu lakukan ke kamu."


Kana tertawa sumbang lalu menatap tajam ke arah Joddy. "Maaf? Gampang banget ya, Kak. Setelah Ibu dan tunangan kamu itu menghina dan mempermalukanku di tempat umum!" seru Kana dengan emosi yang meledak-ledak. Kepalanya pusing, perutnya seperti diaduk-aduk membuat emosi Kana benar-benar meledak tanpa bisa dia cegah.


Joddy menghela napas berat, ingin sekali dia memeluk Kana dan mengajaknya bicara. Tapi sepertinya untuk saat ini percuma. Apapun yang akan dikatakan Joddy akan selalu salah di mata Kana . Joddy akan menunggu sampai emosi Kana mereda dan bisa diajak bicara baik-baik.


"Go away!" Kana bergegas pergi dia harus cepat menjauh dari Joddy.


"Ibu sudah mendapat hukumannya, Na."


Langkah Kana terhenti lalu membalikkan badannya menatap Joddy keheranan.


"Ibu sudah mendapatkan hukuman atas apa yang sudah dia lakukan padamu Kana."


"Maksud kamu apa?"


"Ayah. Bayi yang Laras kandung anak Ayah bukan anakku."

__ADS_1


Kepala Kana makin pusing saat mendengar semua yang dikatakan Joddy. Tiba-tiba pandangan Kana kabur dan semua menjadi gelap.


******


__ADS_2