Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Jujur saja


__ADS_3

Joddy memperhatikan Ibunya yang sejak kemarin terlihat gelisah karena Heru sudah dua hari tidak menghubunginya sama sekali. Ditelepon tidak diangkat begitupun dengan pesan yang Jihan kirim sama sekali tidak mendapat respon dari Heru. Membuat Jihan merasa tak tenang.


"Mungkin Ayah sedang sibuk, Bu." Joddy mencoba menenangkan ibunya. Kana yang sedang menyiapkan minuman dan makanan untuk suami dan mertuanya itu hanya tersenyum sinis.


Benar sedang sibuk, sibuk membuka baju Laras! batin Kana lalu mendekati Ibu dan anak yang sedang mengobrol di ruang keluarga


"Hem, Iya juga ya. Bisa jadi memang Ayah kamu sedang sibuk melobby klien." Jihan berusaha tenang tapi masih terlihat dengan jelas kegelisahannya.


"Diminum dulu, Bu." Kana meletakan secangkir teh untuk Jihan sebelum memilih duduk di samping suaminya.


Jihan mengambil cangkir yang disajikan Kana menyesapnya sedikit.


"Ibu sebenarnya kepikiran dengan apa yang Kana katakan. Ibu khawatir Ayah kamu benar-benar menemui seseorang di sana." Jihan meletakan cangkirnya kembali di meja.


"Bagaimanapun Ayah kamu pernah menduakan Ibu. Dan Ibu takut itu akan terulang lagi."


Kana menatap Joddy, tersenyum ke arah suaminya itu seolah-olah berkata jika ucapannya akan mulai terbukti. Firasat seorang istri selalu kuat. Lihat saja sekarang Jihan terlihat khawatir.


"Yaa, semoga saja Ayah tidak begitu lagi, Bu," sahut Joddy walaupun jika boleh jujur hatinya sudah mulai goyah dan percaya jika yang ditakutan ibunya nyata seperti yang Kana katakan.


Joddy sudah tidak sabar untuk segera mendapatkan bukti kelakuan Heru yang sebenarnya.


"Ya semoga saja begitu. Walaupun banyak yang bilang pria yang pernah selingkuh cenderung akan mengulanginya lagi tapi semoga saja itu tidak berlaku pada Ayah kamu," ujar Jihan penuh harap.


Jihan sudah berusaha keras untuk memaafkan bahkan melupakan semua kesalahan yang dilakukan Heru padanya . Dia juga sudah berusaha untuk menerima kembali suaminya itu ke dalam hidupnya , dia tidak mau semua pengorbanan yang dia lakukan akan sia-sia dengan kesalahan yang sama yang dilakukan oleh Heru.


"Mustahil, Bu!" cicit Kana tanpa sadar.


Dia baru sadar dengan ucapannya saat Joddy melotot ke arahnya dan Jihan yang menatapnya penuh tanya.


"Maksud Kana, mustahil kalau Ayah akan melakukan kesalahan yang sama, ya kan,Sayang?" Joddy mencoba mengalihkan perhatian Jihan agar tidak terpengaruh dengan cicitan Kana barusan.


"Iya, mustahil Ayah melakukan itu." Kana menyetujui mengikuti sandiwara Joddy walaupun sebenarnya dia tidak setuju jika Joddy menutupi tingkah ayahnya yang masih tidak berubah.


"Semoga saja," desah Jihan lega tepat saat ponselnya berdering nyaring.


Dari wajah dan senyum Jihan yang semringah sudah bisa ditebak siapa yang sedang meneleponnya.


"Ayah kamu!" Jihan berkata tanpa suara lalu memberi isyarat untuk menjauh dan menerima panggilan telepon dari suaminya itu.


"Luar biasa!" seru Kana menatap suaminya yang menatapnya tak mengerti.


"Kenapa kita harus menutupi tingkah Ayah sih, Kak? Sudah kasih tahu aja kalau Ayah masih berhubungan dengan Laras!" Kana setengah berbisik.


Joddy menatap ke arah Jihan yang sedang menerima telepon dari Heru dia terlihat bahagia, Joddy jadi tidak tega untuk mengatakannya. Lagipula dia tidak punya cukup bukti. "Biar saja, Na. Biar saja sementara seperti ini sampai aku menemukan bukti."


"Tapi keburu Ibu sakit hati, Kak. Rasanya akan lebih sakit kalau dia tahu nanti-nanti."


Joddy menatap istrinya lalu menghela napas. "Kamu gak liat itu wajah Ibu terlihat bahagia saat menerima telepon dari Ayah?"

__ADS_1


Tatapan keduanya lalu beralih ke arah Jihan yang sedang menelepon. Senyum Jihan begitu merekah memperlihatkan jika dia memang benar-benar bahagia hanya karena telepon dari Heru yang sudah dia tunggu-tunggu. Kana jadi tidak tega kalau harus berkata jujur padanya.


"Tapi, tetap saja Kak, kita harus jujur sama Ibu."


"Tidak sekarang, Sayang. Kita tunggu bukti. Kalau kita bicara sekarang Ibu tidak akan percaya karena kita tidak punya dasar yang kuat."


Kana terdiam, membenarkan apa yang dikatakan suaminya. Memang benar, jika hanya dengan omongan saja tanpa bukti. Jihan pasti tidak akan percaya begitu saja. Jadi lebih baik dia memang menahannya sebentar sampai cukup bukti.


Tak berlama Jihan menghampiri mereka dengan wajah muram. "Ayah kamu tidak jadi pulang lusa. Dia bilang kemungkinan calon kliennya barunya itu bersedia menandatangani kontrak kerja, jadi mereka akan memperpanjang tinggal di Bali untuk membicarakan segala prosedurnya. Gak tahu sampai kapan." Mata Jihan berkaca-kaca, padahal beberapa detik lalu mata itu penuh dengan binar-binar kebahagian.


Kana mengumpat dalam hati. Pria tua itu benar-benar keterlaluan, tega-teganya dia berbohong hanya demi wanita itu. Sungguh tidak punya malu. Kana melirik Joddy yang tiba-tiba menjadi pendiam, Kana tidak tahu saja kalau sebenarnya hati Joddy sedikit sakit saat melihat ibunya itu kecewa. Joddy tidak bisa membayangkan jika apa yang Kana dan Ferddy katakan itu benar, bisa sehancur apa Jihan.


**


"Kak, Ayah keterlaluan banget! Tega-teganya dia membohongi Ibu!" seru Kana tentu saja setelah ibu mertuanya itu pulang.


"Belum tentu juga dia bohong. Bisa jadi memang Ayah masih harus di Bali untuk bernegosiasi." Joddy yang sibuk mencuci piring menjawab tanpa melihat istrinya.


"Masih saja dibela,"gumam Kana lalu menopang dagunya memperhatikan lengan kekar suaminya sibuk menggosok piring. Sengaja Kana meminta Joddy mencuci piring karena Mbok Dar sibuk menidurkan Ken.


"Bukannya ngebela, Na. Aku hanya mencoba berpikir positif. Selama belum ada bukti aku tidak mau menyimpulkan kalau Ayah memang ada hubungan lagi sama Laras."


"Alah, bilang aja ngebela mantan tunangan,"lirih Kana tapi cukup jelas di telinga Joddy. Buktinya pria berkacamata itu langsung menghentikan kegiatannya mencuci piring lalu menatap istrinya tajam.


"Bilang apa tadi?" Joddy menghampiri Kana duduk.


"Tadi bilang 'mantan-mantan' gitu. Ngomong-ngomong mantan aku yang mana?" Joddy tersenyum begitu sampai di depan Kana dia sengaja menggoda Kana.


"Ihh! Nyebelin!" Kana memukul pundak suaminya kencang bukannya kesakitan tapi Joddy malah terbahak karena berhasil membuat istrinya ngambek.


"Lha, kan tadi kamu yang nyinggung soal mantan." Joddy masih saja mencoba menggoda istrinya.


"Iya, iya yang punya mantan segudang!" sindir Kana ketus membuat Joddy tak mampu menahan senyumnya.


"Mantanku emang banyak tapi kita tahulah siapa yang jadi juaranya." Joddy mengecup sudut bibir Kana yang tak siap mendapat serangan mendadak itu.


"Mesum!" Kana pura-pura kesal padahal dalam hati dia senang bukan main karena Joddy selalu melakukan hal-hal yang di luar ekspektasinya.


"Alah, kamu juga suka kalau dimesumin. Suka nambah malah!" Joddy semakin bersemangat menggoda Kana, bahkan dia duduk di samping Kana lalu merangkul pundaknya dan tanpa basa-basi ******* bibir Kana. Kana yang belum ada persiapan itu hanya bisa mengikuti ciuman Joddy. Mereka sangat yakin Mbok Dar pasti ketiduran di kamar Ken. Pintu depan sudah di kunci. Jadi, tidak masalah jika mereka berciuman di meja makan. Maka, Kana memberanikan diri melekatkan tubuhnya ke pelukan Joddy. Mereka sama -sama terbuai sampai tidak sadar jika seseorang sudah masuk ke dalam rumah.


"Gila ya kalian! Kebiasaan banget mesra-mesraan di sembarang tempat dasar gak tau malu!"


Kana dan Joddy buru-buru memisahkan diri sama-sama menjauh dengan wajah merah.


Sial, sial! Kenapa tiba-tiba harus ada Kanda sih.


"Lo Bang, yang gak tahu malu masuk rumah orang gak permisi dulu!" balas Kana buru-buru meneguk susu coklatnya menyamarkan kegugupannya.


"Tahu nih! Kebiasaan banget!" Joddy menyetujui kata-kata Kana.

__ADS_1


"Kampret berdua! Gue udah mencet bel kali! Tanya aja satpam rumah lo.Tapi kalian keasikan dilanda bira*i sampai gak denger suara bel mana pintu gak dikunci pula!" Kanda membela diri. Enak saja dia disalahkan. Jelas-jelas dia sudah mengikuti prosedur masuk-rumah-orang sesuai ketentuan nmasih saja mau disalahkan.


Kana menatap suaminya tajam, menyalahkan kenapa sampai lupa menutup pintu. Joddy yang merasa teledor itu hanya cengengesan. Padahal dia sudah yakin sekali kalau pintu depan sudah dia kunci, mana tahu kalau ternyata lupa.


"Ngapain lo ke sini malam-malam?"tanya Joddy mencoba mengalihkan perhatiannya


"Suntuk!" Kanda beranjak dari tempatnya lalu pintu lemari es untuk mengambil minuman dingin. Dia butuh yang dingin-dingin.


"Suntuk dateng ke istrinya bukan dateng ke adiknya," sindir Kana namun Kanda tidak terlalu menanggapinya.


"Daripada gue dateng ke klub." Setelah mendapatkan sebotol susu kedelai dingin milik Kana dia menjatuhkan tubuhnya di kursi kosong samping Kana.


"Kenapa sih, Bang?" tanya Kana penasaran.


Kanda tak langsung menjawab, dia meneguk minumannya sampai setengah botol. "Nea hamil."


Kana dan Joddy yang mendengar itu saling berpandangan lalu tersenyum.


"Wah, iya? Alhamdulillah, selamat Bang. Akhirnya Lo gak akan jadi duda!" Kana memeluk Kanda dari samping meluapkan kegembiraannya.


"Siapa bilang?Gue tetep jadi duda."


"Jangan ngawur! Istri lo lagi hamil!" seru Kana tak suka.


"Emang, tapi bukan gue bapaknya!" balas Kanda .


Kana melepas pelukannya lalu menatap Kanda kaget.


"Gimana bisa kan lo suaminya!" seru Kana lagi.


"Tapi gue gak hamilin dia! Gimana dia hamil kalau sejak pertengkaran itu gue sama sekali gak nyentuh dia? Itu berarti dia hamil sama pria lain!"


Kana dan Joddy saling melempar tatapan. "Lo yakin?"


"Nea selingkuh sama teman dosennya. Parahnya si Dosen istrinya juga lagi hamil!"


Kana dan Joddy menganga tak percaya saat mendengar penuturan Kanda.


"Jangan mengada-ada, emang Lo ada bukti?"tanya Joddy.


"Nea ngaku, dia udah jujur kalau memang hamil anak pria lain!"


"Apes banget anjim!" maki Kanda.


Kana terdiam tak percaya. Sesinetron itu kisah hidup Kanda ternyata.


****


** Hay terimakasih ya yang sudah ngikutin cerita ini! FYI story ini gak akan sampai 100 episode kok hehehe terimakasih udah selalu like, favorit and vote. I love You**

__ADS_1


__ADS_2