
Kana tak jadi masuk ke dalam rumah dia membiarkan pintu rumahnya terbuka saat melihat sebuah mobil masuk ke dalam halaman rumahnya. Untung mobilnya sudah masuk garasi. Kana melirik ke arah jam dipergelangan tangannya. Jam 7 malam, tadi kedua orangtuanya bilang akan mengantar Ken jam 8 karena mereka harus pergi mengantar oleh-oleh ke kerabat. Jadi, siapa yang bertamu ke rumahnya sekarang?
Kana menyipitkan mata untuk mempertajam penglihatannya saat mobil berwarna putih itu berhenti. Kana seperti melihat orangtua Joddy yang bersiap keluar dari mobil. Tapi semoga saja Kana salah lihat karena rasa-rasanya tidak mungkin orangtua Joddy berkunjung ke rumahnya.
Tapi begitu melihat yang keluar jdari mobil putih itu siapa. Jantung Kana terasa akan melompat dari tempatnya. Ada orangtua Joddy dan juga, Laras?
Untuk apa orangtua Joddy datang ke rumahnya? Apa karena tadi dia bertemu Joddy? Padahal tadi tidak ada pembicaraan yang serius antara dia dan Joddy. Kana langsung pamit pulang dengan alasan ditunggu Ken. Mereka berdua tidak membicarakan apa-apa. Termasuk saat Laras mempermalukannya siang tadi. Kana tak menyinggungnya di depan Joddy.
"Tante, Om selamat malam," sapa Kana menyambut orangtua Joddy. Mereka tak membalas sapaan Kana. Hanya Heru, ayah Joddy yang tersenyum sedikit. Jihan malah sibuk menatap sekeliling rumah Kana sedangkan Laras hanya menatap Kana dingin.
"Maaf ada apa ya?" tanya Kana tanpa basa-basi.
"Ada yang ingin kami bicarakan," sahut Jihan datar. Kana memperhatikan mereka satu persatu lalu memberi isyarat untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Ada apa ya, Tante ?" tanya Kana lagi saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.
"Kamu benar-benar tidak tahu malu ya, Kana!" Jihan terlihat sangat marah.
"Maksudnya bagaimana ya?"
"Kamu masih saja berhubungan dengan Joddy. Masih saja menghubunginya," sahut Jihan.
"Tapi saya tidak pernah-"
"Tolong Kana, berhenti menghubungi anak saya, hari pernikahannya dengan Laras tinggal menghitung hari. Apa kamu tidak malu menggoda calon suami orang? Apalagi mengaku hamil dengannya. Astaga, di mana harga diri kamu! "
Kana menunduk dengan tangan mengepal kuat. Ingin rasanya dia membantah semua yang dituduhkan Jihan padanya tapi rasanya percuma. Apapun yang dia katakan mereka tidak akan pernah percaya.
"Jadi sekali lagi hargai kami sebagai orangtua Joddy. Tinggalkan dia, lepaskan dia. Asal kamu tahu, Laras sedang hamil anak Joddy."
__ADS_1
Kana terhenyak mendengar apa yang Jihan katakan, jadi Laras juga hamil? Apa mereka melakukannya juga setelah Kana pulang? Pandangan Kana jatuh pada Laras yang tersenyum penuh kemenangan itu.
"Jadi, saya harap kamu mengerti. Biarkan Joddy menikah dengan Laras. Lepaskan dia! Lupakan dia! Kamu minta pertanggungjawaban pada pria yang sudah menghamili kamu. Karena kami yakin itu bukan anak Joddy. Kamu janda, kamu bisa tidur dengan pria manapun, ya,kan?" tuduh Jihan.
Hati Kana terasa sakit saat mendengar apa yang dikatakan Jihan. Sekali lagi harga dirinya terluka karena penghinaan yang diberikan Jihan padanya. Serendah itukah dirinya di mata Jihan?
Kana masih diam saja, lidahnya terasa kelu. Airmata yang mati-matian dia tahan nyaris menetes dari pelupuk matanya.
"Ini." Jihan menyodorkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat.
"Jumlahnya cukup untuk makan kamu dan anak kamu selama beberapa tahun atau jika Ayah dari anak yang kamu kandung itu tidak mau bertanggung jawab, kamu bisa gunakan ini untuk mengugurkannya," imbuh Jihan lagi.
Kali ini Kana benar-benar tidak bisa tinggal diam dia menatap Jihan tajam lalu mendorong amplop cokelat itu kembali ke arah Jihan. "Silahkan ambil kembali saya tidak butuh uang, Tante. Tante tenang saja, pernikahan anak Tante dengan wanita pilihan Tante akan tetap berjalan."
Jihan mencibir saat Kana menolak uang pemberiannya. " Sombong sekali kamu! Saya yakin kamu mendekati anak saya karena uang. Jadi kenapa tidak kamu ambil saja uang ini?"
"Maaf Tante saya tidak butuh!"
Kana termenung mendengarnya. Tidak salah memang apa yang dikatakan Laras. Kana bisa bekerja di bank itu memang atas rekomendasi Joddy. " Tenang saja saya akan segera keluar dari tempat saya bekerja."
"Baguslah kalau begitu. Kalau perlu kamu pergilah dari kota ini kalau perlu ke luar negeri. Eh, tapi kamu punya uang gak ya buat ke sana?" sindir Jihan kemudian dia tertawa lepas bersama Laras.
"Ya, enggaklah Tante. Kerjanya aja cuma CS di bank. Rumah peninggalan suaminya. Bisa jadi dia jual rumah ini kalau uangnya abis." Laras tersenyum meremehkan ke arah Kana. Heru sejak tadi hanya diam memperhatikan Kana tanpa ingin bersuara atau berpendapat.
"Cukup!" Sebuah bentakan datang dari arah pintu. Seorang pria menatap nyalang ke arah ketiga tamu itu.
"Papa?" desis Kana tertahan dia terkejut saat memdapati Gufron sudah berdiri di ambang pintu. Di belakangnya Maya dan Mbok Dar yang mengendong.Ken yang tengah tertidur berdiri dengan wajah kaku.
"Berhenti menghina putri saya dan silahkan keluar dari rumah ini!" Rahang Gufron mengeras tatapan matanya tajam ke arah Jihan.
__ADS_1
"Oh, anda orangtua Kana. Tolong ya, putrinya dididik -"
"Diam! tidak perlu mengajari saya! Silahkan keluar dari rumah ini!" sela Gufron memotong kata-kata Jihan dengan keras. Jihan tersentak kaget mendengar suara keras dari Gufron.
"Sudahlah Tante, lebih baik kita pergi dari sini saja," usul Laras. Jihan mengangguk lalu mereka bertiga beranjak dari duduknya dan bergegas keluar dari rumah Kana.
Gufron menatap Kana tajam, kemarahan jelas terlihat di matanya dia menyuruh Mbok Dar membawa Ken masul ke dalam rumah lalu kembali menatap Kana. "Benar yang mereka katakan Kana?"
Kana tak langsung menjawab dia menunduk tak berani menatap wajah Gufron.
"Jawab Kana!!" bentak Gufron membuat Kana terperanjat kaget, seumur hidup baru sekali ini Gufron membentaknya. Itu menandakan kesalahan Kana memang sudah fatal.
"Maafin Kana, Pa." Kana berlutut memeluk kaki Gufron yang berdiri kaku menatap Sang Putri kesayangan.
"Kenapa Kana? Kenapa kamu lakukan?" Suara Gufron mulai melunak.
"Maafin Kana, Pa, Ma. Kana salah. Kana sudah bikin Papa sama Mama kecewa. Maafin Kana." Kana menangis dengan memeluk kaki Gufron. Gufron menunduk menatap ke arah Kana dengan nanar.
"Papa boleh benci sama Kana. Kana siap Papa hukum. Kana siap jika Papa tidak mengakui Kana sebagai anak Papa dan Mama lagi, Kana siap."
Gufron berjongkok untuk menyamai tinggi Kana lalu memengang kedua bahu Kana dan menatapnya lembut. "Papa yang minta maaf sama kamu, Kana."
Kana terkesiap saat mendengar apa yang Gufron katakan itu. Maya yang berdiri di belakang suaminya itupun tersenyum haru karena tahu suaminya tidak akan pernah bisa membenci Kana.
"Papa memang kecewa sama Kana. Tapi Papa yakin ini bukan kemauan Kana. Kana Papa anak yang baik. Papa minta maaf karena selama ini Papa tidak tahu apa yang sudah kamu alami. Maafin Papa karena membiarkan Kana melalui hari-hari berat ini sendirian. Maafin Papa ya, Nduk!" Gufron memeluk Kana erat membiarkan Sang Putri menangis di pelukannya.
"Mulai sekarang, Papa akan selalu ada buat kamu dan Ken. Kita akan cari jalan keluarnya sama-sama ya?"
Kana mengangguk di sela isak tangisnya dipeluknya Gufron dengan sangat erat.
__ADS_1
"Mulai sekarang tidak ada satu orang pun yang akan menghina kamu,"bisik Gufron mengusap kepala Kana dengan lembut. Dia berjanji tidak akan membiarkan satu orang pum menghina anaknya.
*********