Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Berenang


__ADS_3

Mereka sampai di Bandung jam makan siang, kebetulan weekend jadi Nea ada di rumahnya, lebih tepatnya rumah yang dibelikan Gufron sebagai hadiah pernikahan Kanda dan Nea.


Senyum kecil menyambut kedatangan mereka. Nea memeluk Kana sekilas lalu mengelendot manja ke lengan Kanda. Semua tampak wajar tidak ada yang ganjil dari gestur mereka. Tapi tidak di mata Joddy, entah kenapa kemesraan yang ditunjukkan Nea hanya semacam pencitraan di depan Kana.


Kasihan sekali Kanda jika itu benar terjadi.


"Kalian mau bulan madu ya?" tanya Nea.


"Iya, mereka mau jalan-jalan ke Lembang. Ken biar ditinggal aja di sini." Kanda menyahut tangannya terulur mengacak rambut Ken yang masih setengah mengantuk di gendongan Joddy.


Nea terkejut tapi kemudian berusaha bersikap wajar dengan memasang senyum manisnya."Oh."


"Iya, kita boleh kan nitip sebentar aja? Gak keberatan, kan?" Kana tersenyum ke arah Nea yang mendadak terdiam.


Joddy menoleh ke arah istrinya, bukannya tadi dia tidak mau Ken ditinggal di sini, kenapa cepat sekali berubah pikiran?


"Ne, gak papa kan, kalau nitip Ken sebentar? Ya, itung-itung kamu latihan lah punya anak." Kana mengerjapkan matanya penuh harap.


Nea mengangguk." Tentu saja. Ken bisa berenang nanti sama Om Kanda."


Senyum Nea terlihat dipaksakan tapi sepertinya Kana tidak sadar hanya Joddy yang merasakan keanehan itu.


" Wah, Ken suka sekali berenang. Ya, kan Ken?" Kana mengelus pipi Ken yang matanya membulat senang saat mendengar kata berenang.


" Wah, mau! Ken mau belenang! Yeaa!" Ken bertepuk tangan kegirangan.


Joddy tersenyum lalu mencium pipinya lembut, matanya tak lepas dari sang istri yang entah kenapa mendadak berubah pikiran.


"Ya, sudah. Kalian masuk dulu makan, terus berangkat." Nea menarik lengan Kanda untuk masuk ke dalam rumahnya. Diikuti Kana dan Joddy yang setia mengendong Ken.


*


Setelah makan, Kana dan Joddy bersiap berangkat untuk jalan-jalan. Joddy yang sudah siap itu memutuskan untuk menunggu Kana yang sedang mencuci muka di kamar mandi. Langkah Joddy berhenti ketika melihat Kanda dan Nea sedang berdebat di ruang tamu.Joddy agak menjauh sebentar agar kedua suami istri itu tidak melihatnya. Joddy bersembunyi untuk mendengarkan apa yang akan dibicarakan keduanya.


"Apa-apaan sih, Kak? Kita kan jarang ketemu, kenapa malah mau aja dititipin Ken." Nea berkata lirih dengan muka cemberut sepertinya melayangkan protes pada Kanda.


Kanda menggendong Ken lalu menciumi pria kecil itu. "Cuma beberapa jam, sore juga mereka ambil Ken, mereka sudah menyewa villa."


"Iya, tapi kan waktu kita berduaan jadi berkurang."


"Aku pulang Selasa. Masih banyak waktu berduaan. Biarkan pengantin baru itu menikmati bulan madu mereka. Kita kan sudah sering bulan madu." Kanda menarik turunkan alisnya, yang ditanggapi dengan decihan wanita berambut pendek itu.


"Ckk, tapi repot banget, Kak. Ken anaknya aktif!" Nea menghentakan kakinya sebal.


"Jangan begitu gak enak kalau mereka dengar. Seperti yang Kana bilang, itung - itung kita belajar ngurus anak sendiri," bisik Kanda menciumi pipi Ken yang asik memakan biskuitnya tanpa paham apa yang dibicarakan om dan tantenya.


"Siapa juga yang mau punya anak," gerutu Nea. Membuat Kanda menatapnya tajam tanda dia tidak suka dengan apa yang dikatakan istrinya.

__ADS_1


"Hati-hati bicara. Omongan itu doa, kamu mau beneran gak dikasih anak?"


Nea gelagapan. "Maksud aku, gak sekarang. Aku masih pengen ngejar karir dulu. Pengen jadi rektor. Kalau hamil sekarang bakalan repot, apalagi aku lagi sibuk-sibuknya, gak kebayang aja kalau hamil muda muntah, mual gak doyan makan bakalan jadi apa karir aku."


Kanda menyipitkan matanya." Kamu kayak udah pernah hamil aja. "


Nea sedikit kaget dengan kata-kata Kanda." Ya, gak harus hamil dulu untuk tahu rasanya. Di google sama pengalaman teman-teman aku juga banyak. "


Joddy yang sejak tadi mendengarkan obrolan keduanya hanya mendesah tak percaya. Benar kata Joddy, Nea berubah. Setahu Joddy Nea gadis yang santun dan baik hati tapi kenapa sekarang berubah ya? Atau dia punya kepribadian ganda?


" Kak! "


Joddy tersentak kaget saat Kana sudah ada di belakangnya menepuk pundaknya agak keras.


"Jangan nguping! Nanti kupingnya merah!" ledek Kana lalu berjalan menghampiri Kanda dan Nea yang menghentikan obrolannya itu.


"Ken Sayang! Bunda sama Daddy pergi dulu sebentar ya. Ken main sama Om dan Tante dulu. Nanti Bunda bawain oleh-oleh. Ken mau oleh-oleh apa?" Kana berkata dengan mendekatkan wajah pada wajah pria kecil itu.


"Mau lobot Bunda," jawab Ken dengan mata beningnya, mata yang selalu mengingatkan Kana pada laki-laki yang dicintainya, Adrian.


"Oke, nanti biar Daddy yang beliin." Joddy menyahut lalu tersenyum manis pada anak sambungnya itu.


Ken mengangguk - angguk. "Daddy, jangan lama-lama ya jemput Ken."


Joddy terdiam, entah kenapa saat Ken mengatakan itu Joddy melihat ada ketidakrelaan Ken melepas Bunda dan Daddy - nya pergi.


"Titip Ken, sebentar ya," kata Kana sebelum masuk mobil. Kanda membalasnya dengan mengacungkan jempolnya.


"Lets go!" seru Kana begitu masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil mereka tak banyak bicara larut dalam pikiran masing-masing. Kana sibuk membalas pesan Moli yang meminta maaf karena tidak bisa hadir di pernikahannyan karena mertuanya baru saja meninggal dan Joddy yang sibuk memikirkan percakapannya dengan Kanda


'Nea udah gak utuh lagi ketika nikah sama gue'


Joddy menghela napas kasar. Kata-kata Kanda terus terngiang-ngiang di telinganya. Bukan apa-apa, walaupun terkenal punya pacar yang banyak tapi dia dan Joddy tidak pernah merusak anak gadis orang.


Mereka berdua pun bukan 'pemuja darah keperawanan' tapi tetap saja rasanya sesak membayangkan kita yang sudah menjaga diri tapi pasangan kita yang tidak dapat menjaga diri mereka sendiri. Joddy dan Kanda bukan pria munafik mereka menginginkan pasangan yang baik.


Terkecuali kasus Joddy. Kana tidak masuk hitungan karena sudah pernah menikah. Setahu Joddy pun, Kana masih tersegel ketika bersama Adrian. Mungkin Kanda kecewa karena merasa dibohongi hanya saja dia enggan mengungkapkannya karena terlalu cinta pada Nea. Yah, Joddy tahu sekali Kanda sangat mencintai istrinya dari dulu, dari sebelum mereka belum menikah.


'Loe yakin?'


'Gue yakin, gue tanya dan Nea memang jujur udah pernah melakukan itu. Tapi kapan dan sama siapa gue gak nanya'


Percakapan dengan Kanda membuat Joddy kepikiran yang tidak-tidak. Dia tidak menyangka Nea ternyata di luar ekspektasinya. Tapi namanya juga manusia tidak ada satupun yang sempurna.


Joddy menghembuskan napasnya kasar-kasar entah kenapa bayangan wajah Ken saat memintanya untuk tidak terlalu lama menjemput berputar-putar di kepalanya. Membuat hatinya tidak tenang saja.


"Sayang," panggil Joddy, tatapan matanya fokus ke arah jalan, namun tangannya mengenggam jemari Kana.

__ADS_1


"Ya?"


"Kita putar balik ya? Nyamperin Ken?"


"Emangnya kenapa? Kita udah separuh jalan?"


"Pokoknya kita jemput Ken ajalah. Kita bawa."Joddy memutar balik mobilnya yang sudah separuh perjalanan menuju Lembag tanpa menunggu persetujuan Kana.


"Kenapa Kak? Kayaknya tadi kamu yang paling semangat waktu mau nitipin Ken?" tanya Kana menatap Joddy heran.


"Ya, perasaanku gak enak aja. Kita kan beberapa hari terpisah dari dia masa mau pisah lagi." Padahal sebenarnya Joddy khawatir sikap Nea sebelumnya pada Ken. Joddy takut Ken diperlakukan buruk walaupun ada Kanda tetap saja dia tidak tenang. Kana tak membabil dia menurut saja karena dari awal dia memang tidak ingin berpisah dengan Ken.


Setelah sampai di rumah Nea keadaan sepi tapi pintu depan rumahnya tidak terkunci sehingga Kana dan Joddy bisa masuk tanpa menunggu tuan rumah membukakan pintu untuknya.


Kana dan Joddy memanggil-manggil Ken tapi tidak ada sahutan.


"Di belakang kali, Kak. Lagi berenang." Kana menunjuk ke arah belakang rumah yang memang dilengkapi dengan kolam renang minimalis.


Joddy bergegas menuju ke tempat yang dimaksud istrinya. Begitu sampai di tempat yang dimaksud Kana, Joddy terbelalak lebar saat melihat Ken berada di dalam air dengan tangan yang melambai-lambai ke atas seperti minta tolong padahal ada Nea yang sedang duduk sambil meminum tehnya.


"Ya Allah, Ken!!!" Kana histeris melihat anaknya berada di dalam kolam yang memang cukup dalam untuk anak seusianya


"Kenzo!!!" Joddy tanpa banyak bicara menceburkan dirinya dan berenang ke arah Ken lalu menariknya ke tepi kolam. Kana bergegas menghampiri Joddy yang membaringkan Ken di tepi kolam untuk mencoba mengeluarkan air yang kemungkinan terminum anak itu.


"Ken, Sayang!" Kana bersimpuh di samping Ken yang tidak bergerak.


"Ken, keluarkan airnya." Joddy melakukan pernapasan buatan lalu menekan pelan dada Ken melakukan CPR pada tubuh mungil itu agar pria kecil itu sadar. Tubuh Kana gemetar, air mata sudah tidak dapat dia bendung lagi.


Tak berapa lama pria kecil itu terbatuk-batuk air keluar dari mulutnya lagi. Joddy bernapas lega lalu membiarkan Kana memeluk tubuh mungil yang masih lemas itu.


"Ya Allah ada apa ini?" Suara Kanda yang terdengar khawatir mendekati mereka. Joddy menatap Nea yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya lalu menatap Kanda.


"Dari mana lo?"


"Gue dari mini market beli es krim buat Ken. Ken kenapa basah begini?"


"Dia tenggelam Bang! Anak aku hampir tenggelam!" seru Kana terisak dengan tubuh Ken yang lemas di pelukannya.


"Apa?? Tapi tadi gue larang dia berenang sebelum gue balik," seru Kanda kaget.


Joddy menatap Nea tajam. "Tanya sama istri lo, yang duduk manis saat anak gue nyaris tenggelam!" kata Joddy tajam lalu mengambil alih Ken dari Kana.


"Kita bawa Ken ke rumah sakit!" ujarnya pada Kana. Wanita itu mengangguk lalu berdiri menyusul suami dan anaknya. Kanda yang sejak tadi berdiri tak percaya menatap Nea tajam.


"Semoga apa yang aku dan mereka pikir tidak benar!" geram Kanda pada wanita yang sejak tadi memasang wajah datar itu.


****

__ADS_1


__ADS_2