Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Terimakasih, tenanglah di sana!


__ADS_3

Joddy lupa sudah berapa lama dia tidak pergi berziarah ke makam, tapi mulai hari ini sepertinya makam adalah tempat yang akan sering dia kunjungi karena tempat itu akan selalu mengingatkannya pada orang yang dia kasihi.


Langit berwarna jingga matahari sudah mulai bergeser ke arah barat menandakan malam akan segera tiba. Area pemakaman sudah mulai sepi, tapi tak menyurutkan niat Joddy untuk tetap berziarah di makam itu.


Joddy meletakkan buku Yasin yang sudah selesai dia baca di atas pangkuannya. Lalu matanya menatap sendu ke arah makam yang masih bertabur bunga segar di atasnya.


"Sampai saat ini pun aku tidak pernah menyangka kita benar-benar terpisah." Joddy mengusap batu nisan bertuliskan dengan tinta emas tersebut, ada sebuah nama yang akan selalu membuat hatinya mencelos tiap mengingatnya.


"Kamu akan selalu di hati orang-orang yang mencintai kamu, terutama Ken." Joddy menarik napas dalam-dalam, dia menatap ke atas menahan mati-matian agar air mata tidak menetes kkjdi kedua sudut matanya. Dia tidak mau terlihat lemah di depan makam orang yang dia kasihi ini.


"Aku tidak akan pernah membuat mereka melupakanmu, karena kamu selalu mempunyai tempat tersendiri di hati mereka." Termasuk di hati Joddy, pemilik batu nisan ini akan selalu berada di satu bagian di dalam hatinya.


Bertahun-tahun mengenal dan bersama pemilik batu nisan semasa hidupnya, membuatnya tidak akan mudah melupakan begitu saja. Banyak cerita dan kenangan baik suka maupun duka yang pernah mereka alami dan itu akan selalu terkenang di hati Joddy.


"Terimakasih sudah memberikan anak setampan dan sebaik Ken. Aku janji akan menjaga mereka berdua dengan baik . Aku akan meneruskan tugasmu menjaga mereka. Aku janji akan membuat mereka bahagia sampai lupa caranya bersedih. Aku akan membuat mereka tertawa sampai lupa caranya menangis." Joddy sudah pernah mengatakan janji yang sama di tempat ini walaupun di waktu yang berbeda.


"Aku sangat bahagia karena Tuhan memberiku bayi mungil walaupun-" Tanpa terasa mata Joddy sudah basah dengan air mata.


"Walaupun kamu belum sempat menyentuh dan menggendongnya." Dan itu tidak akan pernah bisa kamu lakukan sampai kapanpun.


"Dia pasti akan tumbuh sebagai wanita yang kuat, baik hati dan mudah dicintai sama seperti Ibunya." Joddy menaburkan sisa bunga yaang ada di kantong plastik.


"Aku tidak akan pernah meminta mereka melupakanmu. Kamu akan selalu mempunyai tempat tersendiri di hati mereka. Kamu akan selalu mereka sebut di setiap doa-doa mereka." Joddy tersenyum lalu mengusap deretan huruf yang terpatri di batu nisan itu.


"Terimakasih, terimakasih sudah mengajarkanku bagaimana mencintai dan menjaga seseorang yang memang pantas untuk diperlakukan seperti itu." Joddy tersenyum walaupun dia tahu pemilik batu nisan itu tidak akan pernah melihatnya lagi.


Tiba-tiba angin yang semula tenang mendadak berhembus dengan kencang bersamaan dengan bunga dan daun kering berguguran, seolah menandakan itu adalah jawaban dari pemilik batu nisan di makam itu. Joddy tertegun apakah dia mendengarnya? Mendengar semua yang dia katakan?


"Bang!"


Sebuah tepukan di pundak membuat Joddy tersentak kaget lalu menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria muda berdiri tak jauh darinya.


"Kenapa Fer?" tanya Joddy saat melihat adiknya itu kelihatan panik.


"Ayo balik ke rumah sakit. Ibu telepon, Mbak Kana nyariin lo."


"Bentar lagi," sahut Joddy.


"Buruan ya! Gue horor lama-lama di sini!" seru Ferddy sambil berlalu pergi meninggalkan Joddy yang memilih bertahan di samping makam itu.


"Kamu tahu, Ian. Aku hampir saja kehilangan Kana, dan aku tidak tahu bagaimana jadinya jika aku benar-benar kehilangan dia. Terimakasih ya, sudah mengembalikan dia padaku."


Joddy mengusap sekali lagi batu nisan yang bertuliskan huruf 'Adrian Hanafi Rusman' lalu tersenyum.


" Aku pergi dulu. Tapi aku akan kembali bersama Kana dan anak-anak. Akan aku kenalkan bayi mungil yang cantik dan menggemaskan padamu. Aku yakin kamu pasti akan langsung jatuh cinta padanya. Sekali lagi terimakasih, tenanglah di sana." Joddy beranjak dari duduknya lalu perlahan meninggalkan makam Adrian untuk pulang pada Kana, belahan jiwanya.


*


Joddy tertegun saat membuka pintu kamar rawat Kana. Pandangannya langsung tertuju pada pemandangan yang menurutnya sangat indah, mengalahkan keindahan pemandangan pantai, gunung atau bintang-bintang yang bertaburan di langit. Pemandangan itu adalah Kana yang sedang menimang bayi mungilnya, darah daging Joddy.


Sampai sekarangpun Joddy masih tak percaya kalau dia benar-benar sudah menjadi seorang ayah. Sejak dia mendengar tangis pertama putrinya di situ dia merasa sangat-sangat beruntung karena Tuhan sangat baik padanya.


"Dari mana aja sih kamu, Jod! Istri lahiran malah ditinggal!" omel Jihan begitu tahu Joddy termangu di depan pintu.


"Ada keperluan sebentar, Bu." Joddy buru-buru masuk ke dalam kamar lalu menyalami mertua dan ibunya.


"Kasihan, Kana tuh!" seru Jihan lagi.


Kana menatap Joddy dan saat pandangan mereka bertemu ada getaran samar yang mereka rasakan. Bahagia, tak percaya dan cinta.

__ADS_1


"Maaf. Gimana? Udah enakan?" tanya Joddy menghampiri ranjang Kana.


"Udah enakan tapi belum bisa dienakin!"


Itu bukan Kana yang menyahut melainkan Kanda yang sejak tadi menggendong Ken yang tertidur karena kelelahan.


Semua mata menatap kesal ke arah Kanda yang tersenyum tanpa beban setelah menggoda iparnya.


"Bocah gendheng!" seru Maya pada anak sulungnya itu .


Kanda hanya terbahak dia jadi ingat sesuatu. "Na, Lo tahu gak? Si Bucin ini nangis-nangis waktu tahu lo pingsan. Gila, gue baru pertama kali lihat seorang mantan fakboy bisa nangis," ledek Kanda membuat seisi ruangan menahan tawa saat ingat reaksi Joddy waktu mendengar Kana sempat tak sadarkan diri. Termasuk Gufron, pria kaku itupun cukup terkejut, ternyata Joddy benar-benar mencintai putri semata wayangnya dia bertingkah seperti dalam sinetron-sinetron yang menyalahkan dokter saat pasiennya tiba-tiba drop .


Joddy hanya bisa menggaruk tengkuknya salah tingkah karena sadar kelakuannya semalam terlalu mendramatisir tanpa tahu keadaan yang sebenarnya. Tapi maklum sajalah. Namanya juga baru pertama kali menemani istri melahirkan, belum berpengalaman. Selain itu keadaan Kana memang sempat mengkhawatirkan karena mengalami pendarahan hebat yang nyaris merenggut nyawanya. Untunglah, dokter cepat mengambil tindakan dengan memberikan transfusi darah.


Kana menatap Joddy, suaminya itu terlihat sangat lelah terlihat dari kantung mata yang menghitam.


"Udah enakan kok." Kana tersenyum manis pada suaminya itu. Walaupun masih terlihat pucat dan lemas tapi Kana sudah melewati masa mengkhawatirkan karena pendarahan.


"Dia tidur?" bisik Joddy membelai lembut pipi bayi mungil dengan kulit kemerahan yang tertidur pulas itu. Matanya tak lepas dari wajah cantik sang bayi.


"Iya, habis ***** dia," sahut Jihan yang sangat antusias dengan cucu barunya. Bahkan Gufron dan Maya yang sejak tadi turut menemani Kanapun seperti tak diberi ruang untuk berlama-lama dengan bayi mungil itu.


"Kalian mau kasih nama siapa nih?" Maya ikut mendekat lalu mengusap pipi bayi merah yang sangat mirip dengan ibunya itu. Hanya Matanya yang mirip Joddy, selebihnya bayi perempuan mungil tersebut adalah jelmaan Kana.


"Siapa ya , Kak?" Kana menoleh pada suaminya yang sedang berpikir, memang mereka belum mempersiapkan sama sekali nama karena terlalu fokus pada kesehatan sang bayi.


"Queen. Queensha Nathania Putri Joddy." Joddy dengan lancar menyebutkan sederetan nama yang membuat Kana menatapnya tak percaya. Queensha adalah nama yang dibuat dan dipersiapkan almarhum Adrian saat Kana hamil Ken.


Adrian saat itu sangat berharap anak keduanya lahir perempuan juga tapi apa daya manusia hanya bisa berharap karena saat itu mereka dikaruniai bayi laki-laki yang lucu dan sangat menggemaskan.


Hati Kana mencelos, rupanya Joddy masih ingat dengan nama yang dibuat Adrian itu.


"Queensha? Hallo, Queen!" Maya lalu mengambil alih bayi mungil itu dan menimangnya penuh kasih sayang.


"Jeng, gantian dong!"


"Enak saja, tadi Jeng, kan sudah. Gantian saya dong!"Maya menjauh dari Jihan mendekati suaminya yang sedari tadi duduk dengan tenang.


"Eh, tapi-"


Kanda hanya memutar bola mata jengah melihat kelakuan duo nenek itu. Dia lalu memutuskan untuk pulang bersama Ken karena kasihan bocah itu terlihat sangat mengantuk. Begitu pula dengan para nenek dan kakek mereka memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dan memberikan waktu pada Kana agar bisa beristirahat sebelum kembali untuk menemani Kana yang masih harus diobservasi.


"Cantik sekali," gumam Joddy lalu meletakkan Queen di box bayi yang disediakan pihak rumah sakit.


"Tadi kamu ke mana?" tanya Kana setelah Joddy duduk di samping ranjangnya.


"Ke makam Adrian." Joddy tersenyum membuat Kana terdiam. Dia jadi ingat ketika tak sadarkan diri, Adrianlah yang muncul di dalam mimpinya.


"Dek," panggil Joddy membuyarkan lamunan Kana.


"Ya?" Kana menatap suaminya.


"Terimakasih ya."


"Untuk?" Kana mengernyit binggung.


Joddy tersenyum lalu mengambil kedua tangan Kana dan menggenggamnya erat. "Untuk semuanya. Untuk kamu yang udah ngasih anak-anak yang lucu dan untuk kamu yang masih bersamaku. Terimakasih karena kamu kembali."


Kana membalas genggaman Joddy lalu mengangguk dan tersenyum lembut. "Iya."

__ADS_1


"Aku gak tahu, apa jadinya kalau kamu ninggalin aku, Na. Aku tidak yakin bisa- yah, kedengarannya terlalu cheesy tapi aku tidak yakin bisa bertahan tanpa kamu." Suara Joddy terdengar bergetar ada sisa-sisa ketakutan yang terlihat di matanya. Takut akan kehilangan Kana, wanita yang bertahun-tahun dia nanti.


"Aku tidak yakin bisa melanjutkan hidup tanpa kamu. Tapi aku bersyukur Allah masih memberi aku kesempatan untuk membahagiakan kamu dan anak-anak kita."


Kana mengangguk lalu menepuk-nepuk punggung tangan Joddy. "Kak, seperti yang pernah Kak Ian katakan. Aku tidak akan pergi ke tempat di mana tidak ada orang yang aku cintai berada, kecuali takdir memang memintaku untuk pergi. Tapi seperti yang kamu bilang tadi, Allah juga memberikan kesempatan untukku menjaga kamu dan anak-anak. Jadi, mari jangan kita sia-siakan kesempatan ini."


"Iya, Sayang. Sekali lagi terimakasih sudah kembali padaku!" Joddy memeluk Kana erat sangat erat seolah-olah Kana akan meninggalkannya.


"Maaf, sudah membuatmu khawatir," bisik Kana pelan tangannya menepuk-nepuk punggung Joddy dengan pelan seolah meyakinkan jika semuanya baik-baik saja.


Ketika Kana memejamkan mata dia teringat sesuatu...


***"Kak Ian?" Kana mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Adrianlah yang berdiri di depannya, memakai baju serba putih dengan wajah bersinar, tangannya terulur ke arah Kana yang menatapnya penuh air mata.


"Kak!" Kana menghambur kepelukan Adrian. Menangis di sana.


"Kak, kenapa lama sekali, baru datang?"


Adrian tak menjawab dia hanya tersenyum lalu membalas pelukan Kana.


"Kak, aku kangen sekali." Kana menangis sesenggukan dipelukan Adrian.


"Apa kamu bahagia?"


Di telinga Kana suara Adrian masih terdengar sama. di Lembut.


Kana melepas pelukannya lalu menatap Adrian bingung dengan pertanyaan suaminya itu.


.


"Aku lelah."


Adrian tersenyum lalu membelai rambut Kana. "Apa kamu bahagia?" ulang Adrian karena jawaban Kana bukan jawaban untuk pertanyaannya.


"Aku bahagia. Kak Joddy memperlakukan aku dan Ken dengan baik. Tapi aku-"


"Maka lanjutkan hidup kamu."


Kana mengernyit binggung. "Tapi aku ingin ikut kamu, Kak. Kita sudah lama tidak bertemu."


Adrian menggeleng pelan. "Tidak."


" Aku sudah bahagia. Waktuku bersamamu sudah habis, Kana. Joddy dan anak-anak kamu lebih membutuhkanmu."


"Dan kamu tidak?"


Adrian tersenyum lalu menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak."


Kana terhenyak mendengar jawaban Adrian itu.


"Seperti yang aku bilang tadi. Aku sudah bahagia di tempat baruku. Sekarang saatnya kamu yang bahagia." Adrian mengusap kepala Kana senyum manis tak pernah lepas dari bibirnya.


"Kana, kembali ke suami dan anak-anakmu. Belum saatnya kamu ikut denganku." Adrian tersenyum lalu perlahan tubuhnya mulai menjauh dari Kana.


Setiap Kana mendekat tubuh Adrian semakin menjauh dan ketika Kana berlari untuk mengejarnya, bayangan Adrian pun benar-benar hilang dari pandangan Kana.**


*******


**Selamat malam! Sebelumnya aku ucapkan selamat hari raya idul Fitri bagi yang merayakannya mohon maaf lahir batin ya.

__ADS_1


maaf juga guys baru bisa update, soalnya magernya lagi kumat efek kebanyakan opor ayam 😂. Pokoknya terima kasih banyak yang selalu mendukung story ini. Terimakasih selalu baca. Kata-kata "Kapan up lagi? ditunggu." adalah kata-kata yang membuat aku semangat tapi terharu karena story yang biasa dan banyak typo ini ada yang menanti. sekali lagi terimakasih yaa!!!***


*bab-bab terakhir


__ADS_2