
081345671234 : Tolong temui saya di restoran dekat kantor kamu sepulang kerja.
Itulah pesan singkat dari Jihan, ibu Joddy. Alasan Kana gugup dan tegang sepanjang perjalanan menuju restoran ini. Kana tidak tahu darimana ibu Joddy tahu nomor ponselnya tahu-tahu sudah ada pesan masuk dari ibu Joddy..Tangan Kana mendadak tremor saat melihat dua wanita berjalan anggun ke arahnya. Kana binggung apa dia harus berdiri menyambut atau tetap duduk dan diapun memilih untuk tetap duduk saja.
"Apa terlalu lama menunggu?" tanya Jihan lalu duduk tepat di depan Kana setelah mereka berjabat tangan sebagai bentuk sopan santun. Kana menggeleng dia melirik wanita cantik di samping Jihan yang menatapnya dengan senyum tipis. Siapa wanita ini? Saudaranya Joddy?
"Tidak apa-apa kok, Tante." Kana mencoba tersenyum mengabaikan wanita cantik yang sejak tadi menatapnya dengan pandangan meneliti.
"Kita langsung saja ya? Saya tidak suka berbasa-basi, buang-buang waktu!" Dari nada suaranya saja, Jihan terlihat sangat tidak suka dengan Kana dan Kana sadar akan hal itu.
"Apa hubungan kamu sama anak saya?" tembak Jihan langsung tanpa basa-basi.
Kana menatap Jihan ragu. "Saya dan Kak Joddy-"
"Apapun hubungan kalian, jauhi anak saya," sela Jihan membuat hati Kana terasa dicubit. Dugaan dia benar, kan? Orangtua Joddy tidak akan pernah setuju.
"Tapi Tan-"
"Usia Joddy sudah tidak muda lagi, pacaran atau main-main hanya membuang waktu saja , dia sudah sangat pantas untuk berumah tangga."Lagi-lagi Jihan tidak membiarkan Kana bicara.
"Tapi maaf keluarga kami masih berpegang pada apa itu yang dinamakan bibit, bebet, bobot karena menikah sekali seumur hidup, pasangan yang dipilih pun tidak boleh sembarangan." Jihan berhenti menatap Kana dengan pandangan menelisik menunggu reaksi gadis muda itu. Tapi Kana masih bergeming dia hanya menatap Jihan datar.
"Kamu masih muda, jalan kamu masih panjang jadi tolong lupakan Joddy. Cari pria lain yang mungkin saja statusnya sama. Jika Joddy tidak mau melepasmu, kamu yang harus melepasnya."
Kana mengepalkan tangannya di bawah meja menahan rasa sesak di dada.
"Ini Laras, dia calon istri Joddy." Jihan menunjuk wanita yang duduk di sampingnya, pandangan Kana mau tak mau mengarah pada Laras, wanita berambut sebahu dengan tahi lalat di bawah matanya itu tersenyum tipis.
__ADS_1
"Dia masih kolega Ayah Joddy, kami sudah mengenalnya luar dalam dan dia wanita yang pantas bersanding dengan Joddy."
Kana masih diam, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Lidahnya terasa kelu. Kana tidak bisa berpikir hatinya terlampau sakit. Tidak bisa dipungkiri perasaannya pada Joddy sudah mulai tumbuh dan mengakar, tidak mudah untuk membunuh perasaan ini.
"Laras ini seorang wakil direktur di perusahaan pertambangan."
Apalah dirinya yang hanya seorang customer service.
"Dia lulusan S2 di Harvad."
Dan Kana hanyalah lulusan SI di universitas swasta biasa.
"Dia sudah punya rumah, mobil bahkan sudah punya usaha butik sendiri. "
Baiklah, Kana kalah telak. Dia tidak punya semua yang ibu Joddy katakan. Rumah dan mobil hanyalah peninggalan Adrian.
" Joddy anak yang baik seumur-umur dia tidak pernah merusak anak gadis orang, terus terang saja saya kaget melihat kejadian tempo hari. Tapi saya yakin Joddy tidak akan melakukan itu jika dia tidak digoda." Kali ini Jihan menatap Kana tajam, seolah-olah menjelaskan kalau kalimat terakhir itu ditujukan untuknya.
"Jadi, tolong lepaskan Joddy. Jauhi dia, jika yang kamu butuhkan uang saya bisa beri berapapun, kamu tinggal sebut nominalnya. Pastikan jumlahnya bisa memenuhi kebutuhan kamu dan anak kamu yang yatim itu. Well, jangan sampai anak kamu itu tahu ibunya seorang-"
"Cukup, Tante!" Sambar Kana cepat lalu membalas tatapan Jihan, dia tidak harus takut, bukan? Kana punya harga diri dia sedari tadi diam dengan penghinaan Jihan bukan karena takut. Tapi Jihan adalah ibu dari pria yang dia cintai tidak selayaknya dia perlakukan dengan buruk. Tapi kata-kata Jihan barusan, membuat harga dirinya terluka.
"Tante boleh hina saya serendah-rendahnya, tapi jangan pernah bawa anak saya dalam masalah ini," ujar Kana, tangannya mencengkram ujung blazer yang dia pakai. Kana berusaha mati-matian agar air mata tidak menetes keluar, dia tidak boleh terlihat lemah di depan Jihan dan Laras.
"Kalau yang Tante inginkan saya menjauhi anak Tante, saya akan lakukan!" Kana berat mengatakan ini, tapi dia harus melakukannya karena sedari awal Kana tahu orangtua Joddy tidak akan pernah menyukainya.
"Bagus. " Jihan tersenyum puas, lalu tangannya merogoh tas dengan merk termahal itu.
__ADS_1
"Ini silahkan tulis nominalnya."Jihan menyodorkan selembar cek pada Kana.
"Jumlah yang saya minta tidak akan pernah sanggup Tante berikan. Jadi, berhenti menilai saya dengan uang. Saya akan jauhi Kak Joddy, saya akan melepaskannya. " Kana menatap tajam ke arah Laras yang tersenyum miring meremehkan itu. Lalu menatap Jihan yang menatap Kana dengan rahang mengeras, harga dirinya terasa tergores. Merasa Kana telah meremehkannya.
"Tapi saya tidak yakin jika Kak Joddy bisa melepas saya, jadi jangan salah kan saya jika dia akan terus mengejar saya, karena saat itu terjadi saya sudah menjauh pergi." Kana tersenyum tipis lalu mengambil tote bag-nya bersiap pergi.
"Saya tunggu kabar dari kamu." Jihan berkata dengan cepat.
"Segera."
Kana nyaris berlari dengan air mata yang sudah tidak sanggup dia tahan lagi dia ingin cepat keluar dari restoran. Dia tidak mempedulikan saat para pengunjung restoran yang lain menatapnya keheranan, yang ada di pikirannya adalah menjauh secepat mungkin bahkan saat dia menabrak pengunjung lain yang baru saja masuk ke dalam restoran pun dia tidak peduli.
"Maaf."
"Eh, Kana?"
Kana terpaksa berhenti lalu menatap ke arah pemilik suara yang memanggilnya.
"Pak Dipta?" Kana mengangguk pada pria yang merupakan atasannya itu.
"Kamu baik-baik saja?" Dipta menangkap sesuatu yang aneh pada diri Kana.
Kana buru-buru menunduk untuk mengusap air matanya, semoga Dipta tidak sempat melihat air mata Kana. Dipta tidak boleh melihat dia menangis.
"Saya baik-baik saja. Maaf Pak, saya permisi dulu." Kana baru sadar kalau Dipta tidak sendiri tapi bersama seorang gadis, yang Kana tebak adalah kekasihnya.
"Oh, iya silahkan." Dipta tak ingin banyak bertanya, dia tidak mau mencampuri urusan Kana. Dia hanya menatap Kana sampai hilang dari pandangannya.
__ADS_1
*****