Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Semoga


__ADS_3

Gufron bukanlah seorang ayah yang posesif. Kedua anaknya dia didik dengan 'kebebasan' yang bisa dan harus mereka pertanggungjawabkan sendiri. Tapi jika ada yang bilang seorang ayah akan memperlakukan anak perempuannya like a princess dan anak laki-lakinya like an army maka, Gufron adalah salah satu bukti nyatanya.


Dari dulu dia memperlakukan Kana sedikit spesial dibandingkan Kanda. Jika Kanda mendapat 1 slice keju di tumpukan rotinya ketika sarapan, maka Kana akan mendapatkan 2 slice keju. Jika Kana kuliah di kampus swasta tanpa harus banyak belajar dan dengan biaya yang cukup membuat jiwa miskin bergejolak, maka Kanda harus belajar mati-matian agar bisa lolos SMPTN.


Apakah Kanda selalu melayangkan protes pada kedua orangtuanya, jawabannya sering. Tapi Kanda sadar diri dan menganggap wajar perlakuan kedua orangtuanya pada Kana. Sebab, adiknya memang spesial sejak lahir moderate to late preterm, atau lahir prematur di usia kehamilan Maya yang kurang dari 32 minggu yang divonis tidak akan bertahan lebih dari 24 jam. Siapa sangka dia akan tumbuh jadi wanita cantik bak bidadari . Selain itu, sifat dan sikap Kana sungguh menyenangkan. Bukan tipe anak pembangkang dan menyebalkan membuat semua orang menyayanginya, itu menurut Kanda.


Maka ketika sarapan bersama di rumah orangtua Kana dan Kanda mempertanyakan kehadiran Kana di acara pertunangan Sang Mantan, dengan tegas Gufron melarangnya.


"Untuk apa? Pria itu sudah melanggar janjinya untuk tidak menyakiti kamu. Datang ke acara pertunangannya akan membuatmu lebih sakit lagi dan tidak bisa melupakannya." Itu jawaban Gufron ketika Kana berkata akan datang ke acara pertunangan Joddy.


"Tapi Pa, dengan Kana datang ke acara tunangan Joddy itu malah akan menunjukan kalau dia sudah berhasil move on," balas Kanda. "Lagipula ada aku sama Nea. Iya, kan Sayang?" tambah Kanda mengenggam tangan Nea yang menunduk malu. Kana mencibir melihat kemesraan pengantin baru itu.


"Tapi keberadaan kamu di sana tidak bisa menjamin Kana akan menangis kan?" Sekarang mereka tahu, darimana sifat keras kepala Kana dan Kanda berasal.


Kana tersenyum lalu mengenggam tangan Gufron yang sudah dihiasi dengan kerutan. "Aku tidak akan menangis Pa. Kana sudah ikhlas kok."


Kanda di sebrang meja mendecih. Yakin?


"Na, Papa tahu kamu. Papa sangat kenal sama kamu. Papa masih ingat gimana sedihnya kamu karena kepergian Adrian. Cukup sekali itu Papa lihat kamu hancur." Gufron mengenggam balik tangan Kana, tanpa sengaja tangannya mengelus bekas sayatan di pergelangan tangan Kana yang selalu Kana tutup dengan jam tangan untuk menyembunyikannya.


"Dari awal Papa tahu orangtua Joddy berat menerimamu dan Ken. Papa sudah memberinya waktu untuk berhenti tapi dia memilih berjuang, tapi nyatanya apa? Dia bertunangan dengan perempuan lain." Gufron terlihat kesal.


Kana menghela napas. Andai saja Gufron tahu bahwa putrinya lah yang memutuskan mundur dan andai Gufron juga tahu dia dan Joddy sudah melakukan hal di luar batas entah akan seperti apa kecewanya Gufron.


"Sebelum rasa sakitmu lebih dalam lupakan dia. Keluar dari tempat kerja dan pindahlah ke Bandung. Papa sudah siapkan semuanya, rumah untuk kamu dan Ken, pekerjaan untuk kamu."


Kana terkesiap mendengar apa yang Gufron utarakan. Menyuruhnya pindah dari sini, meninggalkan semua kenangan tentang Adrian dan Joddy.


"Tapi Pa, Kana tidak mungkin meninggalkan rumah peninggalan Kak Adrian dan juga makam dia di sini Pa. Kana tidak mau."


Gufron menghela napas lalu menepuk punggung tangan Kana. "Pikirkan saja dulu. Papa mau kamu membuka lembaran baru, tapi tidak di sini."

__ADS_1


Kana mengigit bibir bagian dalamnya. Lalu tersenyum dan mengangguk ragu. "Iya, Pa."


"Terus gimana, kamu mau datang gak ke acara Joddy nanti malam?" Kanda melempar kembali topik yang sama.


"Tidak. Kamu nanti malam quality time sama Papa dan Ken," sambar Gufron. Maya dan Nea yang sejak tadi hanya menikmati percakapan itu tak mampu menyembunyikan senyum mereka. Seorang ayah yang terlalu mencintai putrinya dan seorang kakak yang menginginkan adiknya melawan dunia.


Maka, Kana pun akhirnya menuruti Gufron memghabiskan waktu di rumah menonton film kartun kesukaan Ken. Pikiran dan hati Kana berkecamuk. Ada perasaan sakit yang tidak bisa dia ungkapkan. Membayangkan Joddy menyematkan cincin ke wanita lain membuatnya sedih. Hatinya terasa diremas kuat.


Tak beda jauh dengan Kana, Joddy pun merasakan hal yang sama. Setelah acara pertunangannya selesai dia memilih pergi ke cafe tempat biasa nongkrong dan bermain futsal bersama Dipta, bersembunyi di sana karena tempat inilah satu-satunya yang tidak akan didatangi ibunya.


"Duh, yang habis tunangan suntuk amat. Habis tunangan bukannya berduaan sama tunangannya, lo malah ngajak gue ke sini berasa homo gak sih kita, Bang!" Dipta mencoba mencairkan suasana , Joddy yang sejak tadi mengeluh tentang kisah cintanya yang tragis itu menatap sewot ke arah Dipta yang cengengesan.


Dipta tadi sempat menganga tak percaya saat Joddy selesai menceritakan kisahnya dan Kana. "Kana nyuruh lo ngejauh dari dia?"


Joddy mengangguk. "Padahal gue udah berusaha buat yakinin dia kalau gue akan berjuang. Tapi Kana malah bilang itu semua bikin dia tersiksa." 


"Dan daripada lo bikin dia tersiksa lo milih ngelepasin dia?"


"Iya," sahut Joddy membuang napas kasar-kasar.


"Gue gak binggung, gue yakin itu Kana." Joddy menyuapkan makanan ke mulutnya, dia sengaja menngajak ke Dipta ke cafe untuk sekedar mengeluarkan uneg-uneg yang sudah dia simpan berhari-hari dan hampir membuat kepalanya meledak dan Dipta adalah orang yang tepat karena tidak pernah menyudutkan jika menasehati.


"Darimana lo yakin? Lo sendiri mabuk."


"Lo tahu sendiri walaupun gue mabuk gue masih bisa bedain mana daging rendang mana lengkuas dalam satu piring."


Dipta mengakui itu. Kesadaran Joddy tidak akan hilang sepenuhnya walaupun dalam keadaan mabuk. "Tapi kenapa Laras yang punya tanda-tandanya?"


"Itu dia yang gue binggung. Kana dan Kevin juga bilang mereka langsung pergi, setelah nganter gue pulang. Tapi gue beneran yakin banget kalau wanita yang sama gue itu Kana bukan Laras. Sialnya, gue gak ada bukti." Joddy membanting sendok yang dia pegang. Membuat Dipta tersentak kaget.


"Bang, lo ingat gak pas lo 'nyampe' lo keluarin di dalem apa di luar?"

__ADS_1


Joddy mengernyit, ini bocah kenapa nanyanya frontal begini?


"Yang itu .... gue lupa," jawab Joddy gugup.


Dipta terbahak saat melihat wajah sepupunya yang merah karena menahan malu.


"Kambing lo! Kenapa nanya begituan?" Joddy menendang kaki kursi Dipta.


"Ya, itu penting lho Bang, bisa lo jadiin bukti siapa wanita yang sudah lo tidurin."


"Bagaimana caranya?" Joddy menatap Dipta malas.


Dipta mencondongkan tubuhnya ke depan Joddy menatapnya serius. "Dengan lo keluarin di dalam atau di luar 'anak buah' lo itu-"


Joddy mengernyit tak mengerti dengan istilah Dipta membuat Dipta memutar bola matanya. "Masa iya sih Bang gue harus bilang sp*rm*? Bisa kena sensor!"


"Oh, itu. Terus hubungannya apa?"


Dipta menatap Joddy kembali. " Ada lah kalau lo keluarin di dalam bisa jadi hamil itupun kalau lo tok cer Bang, eh tapi perjaka biasanya tok cer sih, aduh!" Dipta mengeluh saat Joddy memukulnya dengan garpu.


"Atau sekarang gini aja lo liat siapa di antara kedua cewek itu yang hamil berarti itu yang lo tidurin."


Joddy termangu mendengar apa yang dikatakan Dipta. Astaga, kenapa tidak terpikirkan olehnya. Ini sudah hampir sebulan, harusnya sudah jadi. Semoga saja dia benar-benar tok cer dan Kana bisa hamil. Tapi dia kan baru saja tunangan.


"Kambing lo! Kenapa gue udah tunangan lo baru bilang? Sialan!" Joddy melempar kotak tisu ke arah Dipta yang melongo tak percaya. Kenapa jadi dia yang bersalah di sini?


"Ya, lo curhat sepotong-sepotong sih! Baru tunangan, masih bisa lo perjuangin Bang."


Ah, benar juga. Joddy harus mencari tahu, semoga saja Kana benar hamil. Jadi, dia punya alasan untuk menikahinya.


"Masalahnya kalau ternyata dua-duanya hamil repot, Bang. Berarti lo udah nidurin keduanya," celetuk Dipta tiba-tiba membuat Joddy menatapnya tak percaya.

__ADS_1


"Sialan!"


*******


__ADS_2