
Terimakasih yang sudah menunggu cerita ini. I love you guys!!! Happy reading!
**********
Harusnya Kana curiga dari awal, saat tiba-tiba Dipta meminta Kana untuk menemaninya meeting rupanya itu hanya alasan saja karena jelas-jelas mereka beda kacab. Ternyata Dipta hanya membantu Joddy untuk bertemu dengannya di sebuah taman kota. Lalu dengan alasan ada pekerjaan yang lebih penting Dipta meninggalkannya berdua dengan Joddy.
"Aku tahu alasan kamu menjauh bukan karena pria bernama Thomas itu. Tapi karena Ibu yang memintamu untuk meninggalkanku. Benar begitu?" Joddy menatap Kana menyelidik. Kana mengernyit menyembunyikan keterkejutannya. Darimana Joddy tahu?
" Kamu salah. Ini tidak ada sangkut pautnya sama Ibu kamu." Kana menarik napas lalu menatap Joddy." Aku memang udah gak cinta sama kamu." Kana mengalihkan pandangannya kemana saja asal Joddy tidak melihat perubahan wajahnya.
"Kamu tidak pintar berbohong Kana." Joddy memberanikan diri menyentuh kedua pundak Kana menariknya sampai mereka berhadapan satu sama lain.
Kana menatap Joddy, ada kerinduan di mata itu. Kerinduan yang amat sangat yang dia sendiri juga rasakan. Walaupun agak sedikit berantakan dengan jambang yang belum sempat dia cukur tetap saja Joddy terlihat mempesona di mata Kana. Nyaris Kana menubruk dan memeluk Joddy saat mereka bertemu tadi. Tapi untunglah dia bisa menahan diri.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku, Kak." Kana menurunkan kedua tangan Joddy.
"Aku lebih tahu kamu dibanding diri kamu sendiri," balas Joddy.
Kana membenarkan itu. Joddy memang lebih tahu siapa dirinya. Dari semasa Kana sekolah Joddy selalu ada tiap Kana sedang ada masalah atau sedang menyimpan sesuatu. Dia lebih peka dibandingkan kakaknya sendiri.
"Berhenti mengejarku Kak. Itu membuang-buang waktu, lebih baik kamu menikah dengan wanita yang sudah disiapkan Ibu kamu, dan aku pun akan menjalani hari-hariku bersama pria lain." Tentu saja Kana mengatakan ini dengan hati yang tercabik-cabik, tapi dia harus kuat. Dia harus bisa membuat Joddy berhenti mengejarnya.
"Wanita yang disiapkan Ibu? Oh lihat, dan kamu masih mau menyangkal tidak bertemu Ibuku?"
Sial, Kana keceplosan!
"Aku memang bertemu Ibu kamu Kak. Dan tolong bilang ke beliau, terimakasih karena sudah menyadarkanku kalau ternyata ada pria lain yang lebih ak-"
"Cukup Kana! Cukup!" bentak Joddy menyela ucapan Kana. Kana menatap Joddy tak percaya, baru kali ini Joddy bicara keras padanya. Dan baru kali ini Kana melihat ada kemarahan yang berusaha Joddy tahan mati-matian. Kana bisa melihat itu.
"Berhenti saling menyakiti seperti ini Kana. Kita sama-sama tahu bagaimana perasaan kita satu sama lain. Kita saling membutuhkan lebih tepatnya aku yang membutuhkan kamu dan Ken. Jadi, biar kan aku coba berjuang dulu." Joddy mengenggam tangan Kana berharap Kana sadar jika dirinya membutuhkan Kana.
"Berjuang untuk apa, Kak?" Kana menyembunyikan perasaannya yang mulai goyah, sebenarnya dia ingin jujur kalau apa yang dia lakukan ini bukan kemauannya, tapi jika ingat penghinaan Ibunya, Kana tidak ingin melakukannya . "Semua akan sia-sia jika Ibu kamu tidak menyukaiku, buat aku restu itu penting karena itu sama dengan doa apalagi dari seorang Ibu yang melahirkan kita."
"Kana dengarkan aku, kita harus cob-"
"Tidak Kak! Aku tidak mau mencoba apapun." Kana berdiri lalu menatap Joddy. "Tidak perlu berjuang demi aku. Aku tidak pantas untuk diperjuangkan, Kak."
Amarah Joddy terasa ingin meledak saat mendengar kata-kata Kana tapi dia masih mencoba menahan diri Joddy tidak mau Kana akan semakin menjauh. Tapi yang membuat Joddy heran kenapa Kana bersikeras untuk menjauh padahal dia benar-benar ingin memperjuangkannya?
"Kak." Kana mengambil kedua tangan Joddy mengenggamnya erat. " Sudah waktunya kamu lupain aku, Kak. Masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik dari aku. Turuti apa mau Ibu kamu, karena sampai kapanpun Ibu kamu berhak atas kamu dan kamu berhak bahagia Kak."
Kana berhenti sejenak ditatapnya Joddy tepat di manik matanya yang hitam pekat ."Tapi tidak bersamaku," lanjutnya.
Joddy terkesiap mendengar kata-kata Kana sampai-sampai dia tidak mampu mengeluarkan satu katapun dari bibirnya.
"Maafkan aku, Kak. Maaf jika keputusanku ini akan menyakitimu. Tapi percayalah ini tidak akan lama. Rasa sakitmu akan berganti dengan kebahagian." Kana menepuk-nepuk punggung tangan Joddy.
"Oh iya, kemarin aku sudah bertemu dengan orangtua Thomas mereka sangat menyukai aku dan Ken. Mereka berharap kami bisa menikah secepatnya. Jadi Kak, mari kita bahagia dengan pasangan baru kita masing-masing." Kana menutup kalimatnya dengan senyum yang dia buat senatural mungkin agar Thomas tidak curiga. Padahal dalam hati dia menahan rasa sesak dan sakit.
Bagaimana mungkin dia bisa merangkai kebohongan yang 'mengerikan' seperti itu? Jangankan berkenalan dengan orangtua Thomas, berkenalan sama istri dan tiga anaknya Thomas saja Kana belum pernah.
"Aku harus kembali ke kantor, Kak."
Joddy hanya diam dan menatap Kana nanar, tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya, bahkan ketika Kana benar-benar sudah tidak terlihat dari jangkuan matanya dia tetap tak bergeming dari tempatnya berdiri.
Apakah Joddy merasa dicampakan? Tidak. Joddy tidak akan semudah itu berhenti. Dia akan terus memperjuangkan Kana dan membuktikan jika wanita itu sangat pantas untuknya. Joddy yakin semua yang dikatakan Kana barusan hanya alasan yang Kana buat untuk menjauhinya dan menuruti kemauan Ibunya.
"Omong kosong!"
**
Ternyata patah hati bisa membuat orang secuek Joddy menjadi kalang kabut. Dia menjadi sosok yang temparamen dan dingin. Emosinya sedang tidak setabil membuat semua yang benar terlihat salah di matanya. Para bawahannya pun menjadi mawas diri dan selalu berhati-hati bila berhadapan dengannya.
Joddy menjadi sosok yang sangat berbeda tidak ada senyum dan sapaan hangat setiap dia berpapasan dengan orang. Hari-harinya pun dia habiskan di kantor menyelesaikan pekerjaan yang bahkan belum masuk deadline. Sesekali diapun pergi ke tempat hiburan seperti club malam hanya untuk sekedar minum dan melupakan sejenak patah hatinya.
__ADS_1
"Bos, udahan minumnya, lo nyetir lho." Kevin dengan suara yang berteriak mengingatkan atasannya yang sudah meraih entah sloki keberapa. Kalau bukan karena atasan mana mau Kevin menemaninya ke tempat macam begini? Udah bising, banyak orang teler pula.
"Diam lo Kambing!"
Yah, Si Ba*i pakai ngatain segala!
Kevin berdecak kesal lalu meneguk orange jus-nya.Malam ini dia tidak boleh ikut minum lalu mabuk karena harus ada yang tetap waras di antara mereka. Bukannya Kevin ini cowok yang suci tanpa dosa dia juga sering ke klub lalu mabuk. Tapi dulu, sejak menikah dan punya anak, dia tobat.
"Kalian gak usah peduli, Kana aja udah gak peduli sama gue." Joddy mulai meracau.
Kevin melirik sekilas lalu mendecih. Gimana mau peduli, lo aja gak peduli sama diri sendiri!
"Ketemu sama orangtua Thomas? Lalu kedua orangtuanya suka sama dia dan Ken? Omong kosong! Gue tahu siapa Kana dia tidak akan semudah itu mau kenalan sama cowok! Dia dari masih bocah selalu selektif milih pacar." Joddy meneguk minumannya lalu meletakan di meja dengan sedikit kasar.
Kevin mencibir. Yaelah, udah tahu gitu bukannya berjuang malah teler! Gemblung!
"Dia pikir gue bakalan nyerah waktu dia nyuruh gue berhenti? Mimpi! Gue tetap akan berjuang! Lihat aja gue bakal rebut Kana dari siapa pun!" Joddy membanting botol yang isinya sudah tandas.
Kevin berjengit kaget. Asem! Untung lo atasan gue, kalau OB gue ajak lo ngopi di warteg.
"Sial! Kalau harus milih antara nyokap atau Kana gue gak bisa, Keduanya sama-sama penting. Shit, gue binggung!" Joddy mengusap wajahnya gusar. Lalu menoleh ke arah Kevin yang sejak tadi asik dengan minumannya. "Kambing! Lo gak denger omongan gue barusan? Diam aja lo!"
Kevin memutar bola matanya, Astaga berapa tahun sih hukuman penjara kalau ngebunuh atasan sendiri? Tadi disuruh diam giliran diem dimaki-maki, guguk emang!
"Bang, daripada lo teler gak jelas tiap malam kayak gini, kenapa lo gak coba yakinin Kana dulu? Kalau udah yakinin Kana baru kalian berdua usaha yakinin Tante. Lo di sini cuma buang waktu aja! " Suara Kevin yang beradu dengan bisingnya musik, masih jelas di telinga Joddy.
"Begitu?"
"Ya begitu." Kevin mengangguk. Otaknya sih pinter, hariannya main logika. Giliran diputus aja udah kayak gak ada harapan hidup. Dasar Bucin!
"Lo gak tahu, kan? Bisa aja ketika lo lagi mabuk di sini, ada seorang pria yang sedang berjuang untuk Kana. Aduh, sakit anj-" Kevin urung melanjutkan umpatannya saat melihat Joddy menghunuskan tatapan membunuh ke arahnya. Diabaikannya rasa sakit di kepala akibat keplakan tangan Joddy. Mending dia tahan sakit, karena anak dan istrinya masih butuh makan.
"Gak ada ya, yang boleh ngambil hati Kana. Thomas, Tomcat atau Tompel semua harus berhadapan sama gue. Cuma gue yang boleh ndapetin Kana luar dalam. Asal lo tau, gue masih perjaka sampai saat ini dan cuma Kana yang boleh mengambilnya." Racauan Joddy makin menjadi-jadi . Kevin menganga saat mendengar kalimat terakhir Joddy. Masa iya pria usia 35 tahun tampan, mapan dan baik hati masih perjaka. Ngawur dia, pasti karena mabok. Eh, tapi orang mabok biasanya jujur.
"Bos gue angkat telepon dulu di luar." Kevin menepuk pundak Joddy sebelum pergi untuk mengangkat teleponnya. 10 menit kemudian saat kembali dia melihat Joddy sudah adu mulut dengan seorang pria.
"An*ng lo! " umpat pria itu saat tiba-tiba Joddy sudah melayangkan tinju ke arahnya. Kevin yang tidak sempat mencegah hanya bisa pasrah.
"Eh, tunggu-tunggu!" Kevin berdiri di tengah-tengah dua orang pria yang siap menunjukan keahlian mereka dalam adu tinju.
"Sorry,ada apa ini Bro?" Kevin memengang pundak Joddy yang sudah sempoyongan itu.
"Temen lo ini nuduh gue ngambil pacarnya, kenal juga enggak main nuduh aja!" seru pria itu tak terima.
Kevin menatap Joddy tak percaya, astaga benar- benar sudah hilang akal ini orang.
"Maaf ya Bro. Dia lagi patah hati ditinggal pergi tunangannya yang wajahnya emang mirip sama lo. Maklumlah gimana sih rasanya apalagi dia lagi teler." Kevin menjelaskan dengan sedikit mendramatisir keadaan.
Pria itu menatap sinis ke arah Joddy. "Oke, kalau gitu gue minta ganti rugi! Kalian pikir gak sakit kena tonjok begini?" Pria berambut cepak itu menunjuk mukanya yang memar.
Kevin membuang napas kasar-kasar lalu membuka dompetnya dan mengambil lima lembar uang seratus ribuan. "Nih!"
Pria itu tersenyum lalu menyambar uang yang disodorkan Kevin sebelum pergi begitu saja.
"Lo harus balikin uang gue tadi!" Kevin melepaskan tangam Joddy yang sudah kembali duduk itu.
"Ayo, gue antar pulang, Bang!" Kevin mulai pusing, ponselnya sedari tadi bergetar sang istri sudah tidak sabar menunggunya pulang karena di rumah sendirian dan dua anaknya yang masih batita rewel sedangkan dia tidak bisa meninggalkan Joddy begitu saja, ditinggal sebentar saja dia sudah kehilangan lima ratus ribu. Duh, pengen banget bilang anjay!
"Enggak, gue gak mau pergi! Kalau lo mau pergi ya sana lo!" Joddy mengibas-kibaskan tangannya dengan maksud mengusir lalu dengan marah meminta sebotol minuman pada bartender.
"Bang, lo itu belum ada satu jam gue tinggal aja gue udah kehilangan lima ratus ribu! Gimana kalau gue tinggal semalaman, bisa-bisa hilang nyawa gue!" Kevin menarik lengan Joddy.
"Apaan sih lo! Gue mau pulang kalau ada Kana di sini!" Joddy membuka tutup botol minumannya lalu menuangkan ke dalam gelas slokinya.
"Bang, besok kita ada dinas ke Semarang lho!" Kesabaran Kevin ada batasnya juga ternyata.
__ADS_1
"Perseta* dengan dinas ke luar kota!" balas Joddy.
Kevin menghela napas lelah lalu mengambil ponsel Joddy yang ada di meja bar. Terpaksa dia harus menelepon seseorang yang bisa membuat Joddy pergi dari tempat ini.
*
Kevin melongo begitu tahu isi apartemen Joddy tidak terlalu rapi dan berdebu seperti sudah bertahun-tahun tidak dihuni. Kevin baru ingat kalau Sang Pemilik sedang patah hati dan lebih sering menghabiskan waktu di luar ketimbang di apartemen.
"Na, sorry -sorry nih ya, bukannya aku gak mau nemenin kamu di sini. Tapi aku harus buru-buru pulang nih. Si Bini udah nelepon dari tadi. Aku tinggal ya? Kamu langsung pulang saja, yang penting Si Bucin ini sudah kita antar pulang." Kevin juga baru ingat kalau dia sedang tidak sendiri sekarang. Ada wanita cantik dengan wajah polos sibuk merapikan kamar Joddy yang berantakan. Terpaksa dia menelepon Kana. Satu-satunya orang yang bisa membuat Joddy mau pulang. Anehnya, walaupun dalam keadaan mabuk, Joddy bisa mengenali Kana dan dengan senang hati si pemabuk ini mau pulang.
Huh ngerepotin. Untung dia Bos!
"Oh iya, sorry ya Na. Aku terpaksa hubungin kamu, soalnya dia gak mau pulang kalau gak sama kamu dan besok aku harus terbang sama dia ke Semarang," imbuh Kevin pada Kana yang sibuk mengumpulkan baju kotor Joddy lalu memasukannya ke dalam keranjang baju.
"Iya, gak papa aku juga mau pulang tapi setelah aku bersihkan kamar ini." Kana menyahut tangannya sangat cekatan membuat Kevin bertanya-tanya dalam hati, Joddy bilang dia masih perjaka apa iya? Kana begitu hafal dengan kamar ini dia tahu di mana meletakkan barang-barang milik Joddy. Jiwa kepo Kevin seketika muncul tapi dia urung bertanya. Bagaimanapun, walaupun Kana sebaya dengannya tapi dia istri almarhum bosnya yang dulu. Kevin masih segan.
"Ya udah aku cabut ya." Kevin buru-buru berpamitan saat ponselnya bergetar kembali. Kana mengangguk lalu mengantar Kevin sampai pintu dan kembali ke kamar Joddy.
"Kana, jangan pergi," racau Joddy begitu Kana kembali ke kamarnya untuk sekedar melihat Joddy dan memastikan dia sudah tidur.
Kana menghela napas lalu mendekati ranjang Joddy duduk di tepiannya sambil memandangi wajah tampan itu. Ini pertemuan pertama mereka setelah beberapa hari yang lalu Kana 'mencampakkannya' di taman kota. Setelah hari itu Kana benar-benar menutup akses Joddy untuk bertemu dengannya dan Ken. Kana mengganti nomor teleponnya lalu mengambil cuti dengan alasan ada kepentingan urgen, Kana tidak sepenuhnya berbohong dia memang sedang sibuk mempersiapkan pernikahan Kakaknya yang tinggal hitungan hari. Hari pernikahan Kanda juga penting baginya.
Tangan Kana terulur ke arah wajah Joddy, jemarinya dengan lancang menelusuri wajah Joddy mulai dari mata, hidung dan bibir, sungguh Kana merindukan wajah ini. Rahang Joddy yang tegas ditumbuhi jambang halus, Si Pemilik wajah sepertinya terlalu sibuk untuk sekedar mencukurnya, apakah semenyakitkan ini dicampakkan olehnya?
"Jangan pergi!"
Kana terkesiap saat tiba-tiba tangannya sudah berada di genggaman Joddy. Lebih kaget lagi Joddy ternyata terbangun tentu saja masih dalam keadaan mabuk.
"Maaf, aku harus pulang." Kana buru-buru melepas tangan Joddy lalu bergegas menghampiri pintu kamar Joddy bermaksud pergi.
"Tidak ada yang boleh ke luar dari sini!"
Kana tercengang saat tubuh Joddy sudah menjulang tinggi di depannya. "Kak, biarkan aku pulang!"
Joddy tersenyum lebih tepatnya menyeringai. " Tidak ada yang boleh keluar dari sini." Joddy mengambil tangan Kana lalu menariknya mendekat mata mereka saling bertemu.
"Jangan siksa aku Kana. Jangan menghindariku." Suara Joddy berubah lirih tatapan matanya menjadi sayu.
"Kak, maafkan aku. Tapi aku harus segera pergi, Thomas menungguku di bawah. " Kana terpaksa berbohong dengan harapan Joddy mau membiarkannya pergi. Tapi sayangnya keputusan Kana untuk berbohong menjadi boomerang untuknya sendiri karna memancing kemarahan Joddy.
"Peduli set**! Kamu milikku Kana, Thomas atau lelaki manapun tidak boleh mendekatimu," ancam Joddy, Kana sedikit takut juga saat melihat kemarahan di mata Joddy. Pria ini sepertinya bukan pria yang dia kenal.
"Kak aku har-"
Kata-kata Kana terpotong begitu Joddy mencium bibirnya dengan kasar. Kana sampai harus memukul-mukul dada Joddy karena ciumannya kali ini terkesan kasar
"Kamu milikku." Joddy melepas ciumannya menyatukan kening mereka.
"Gak Kak, aku bukan milikmu!" Kana mencoba melepas cengkraman tangan Joddy tapi Pria Mabuk itu lebih kuat 10 kali lipat darinya.
"Kamu milikku!" bentak Joddy lalu dia mendorong tubuh Kana ke atas ranjang lalu menciumnya kembali dengan kasar. Kana terus meronta sampai Joddy harus memengang kedua tangan Kana dan menahan keduanya di sisi kanan kiri Kana. Masih dengan kasar Joddy mencium Kana mengigit bibir Kana agar memberi akses lidahnya untuk mengeksplor ke dalam. Ciuman Joddy benar-benar kasar dia bahkan tidak memberi waktu Kana untuk bernapas.
Kana mendesah tertahan saat Joddy mencium lehernya dan memberi tanda kepemilikan di sana. Lalu entah bagaimana caranya Joddy berhasil membuka kancing kemeja Kana lalu dengan sedikit kasar mengeksplor bagian vital Kana.
"Kak, jangan lakukan ini," pinta Kana dia sudah terlalu lelah untuk melawan. Sakit dan murahan itu yang Kana rasakan tanpa sadar air mata mengalir di kedua sudut mata Kana.
Joddy tiba-tiba bangun duduk di atas lututnya lalu dengan cepat melepas bajunya Kana tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan kuat dia mendorong tubuh Joddy hingga nyaris terjungkal lalu tangannya dengan cepat meraih selimut tebal untuk menutupi tubuhnya.
"Kak, jangan! Kumohon!" Kana beringsut mundur saat Joddy tersenyum miring dengan melepas baju dan celana kainnya.
"Hanya aku yang boleh memilikmu Kana," desis Joddy lalu menindih tubuh Kana menciumnya dengan kasar seolah-olah ini adalah waktu terakhir dia bertemu Kana.
Kana tidak bisa melawan kedua tangannya berada di cengkraman Joddy. Dia menjerit tertahan saat penyatuan itu terjadi. Desahan Joddy dan jeritan tertahannya menjadi saksi bisu malam laknat itu.
*****
__ADS_1