Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Pertemuan


__ADS_3

Di dunia ini yang paling tidak bisa Joddy tolak adalah permintaan Jihan, wanita yang sudah melahirkannya. Sedari kecil dia selalu menuruti apapun yang Jihan mau. Mulai dari makanan, pakaian bahkan jurusan sekolah dan kuliah semua sudah diatur Jihan. Tak heran jika jodohpun Jihan yang menentukan.


Sekali ini saja, ingin sekali Joddy menentang keinginan Jihan. tapi setiap melihat senyum dan betapa semangatnya Sang Ibu mengatur pernikahannya, Joddy jadi tidak tega. Sungguh, dia menjadi dilema. Ibunya terlihat antusias karena anak sulung kesayangannya akan segera mengakhiri predikat 'bujang lapuk' yang bertahun-tahun dia sandang.


Rencana pernikahan Joddy sekaligus memberi angin segar di kehidupan Jihan. Sebab, sebentar lagi para tetangga akan berhenti membicarakan anak kesayangannya, 'maha benar tetangga' sudah sejak lama menduga Joddy adalah seorang gay karena belum menikah di usia yang sangat matang untuk berumah tangga.


"Mbak sama Masnya mau konsep pernikahan yang seperti apa?" Karin orang WO yang sengaja Jihan pilih dan sewa untuk menangani pernikahan Joddy dan Laras menunjukan katalog tema pernikahan.


"Sayang, kamu mau kita pakai konsep apa?" Laras menyentuh pundak Joddy mesra, respon Joddy tentu saja menolak. Dia ingin menjauhkan diri dengan cara menggeser duduknya , tapi urung saat melihat delikan mata Jihan. Walhasil, Joddy tetap duduk kaku di tempatnya. Jika bukan karena desakkan Jihan, Joddy memilih bergulat dengan pekerjaannya di kantor daripada meeting di mall seperti ini.


"Sayang," panggil Laras sekali lagi karena Joddy tidak juga menjawab.


"Terserah." Singkat, padat dan jelas. Joddy ingin agar meeting yang membicarakan rencana pernikahan yang tidak dia harapkan ini cepat selesai.


"Yang lagi trend tahun ini apa, Mbak?" Laras membuka-buka katalog mengamati setiap gambar yang ada beserta rincian anggarannya.


"Oh, tahun ini lagi banyak yang pakai tema alam Mbak." Karin menunjuk sebuah gambar.


"Berati outdoor?" balas Jihan tertarik, Joddy hanya melirik sekilas dengan muka malas.


"Outdoor maupun indoor bisa Tan. Tapi banyak klien yang menginginkan di luar ruangan karena terlihat menyatu dengan alam, ya tergantung musimnya. Jika Mbak sama Mas pengen pakai tema ini kita bisa pakai di luar ruangan mumpung belum masuk musim penghujan." Karin melirik Joddy, calon pengantin pria yang terlihat tidak tertarik dengan pembicaraan ini.


"Wah, kelihatannya menarik." Laras berseru dengam mata berbinar.


"Di sini ada beberapa contoh tema outdoor yang banyak dipilih klien, Mbak." Karin menunjuk sebuah gambar. " Tema rustic, pelaminan dengann konsep rumah kayu yang bisa kita padukan dengan papan bernuansa silver atau mau tema monochrome minimalis juga bisa, nanti kita tambah tatanan bunga di kedua sisinya kedua tema ini membuat pelaminan tampak elegan Mbak walaupun di alam terbuka."


Laras dan Jihan tampak tertarik, berbeda dengan Joddy yang sedari tadi pura-pura sibuk dengan ponselnya.


"Tapi di Jakarta cari yang hijau agak susah," keluh Laras.


Joddy tersenyum sinis. Baguslah, kalau perlu gak nemu sekalian!


"Oh, tidak harus di Jakarta Mbak, kita bisa bikin di luar kota juga, kok. Bandung di puncak, Bali di Pemutaran atau bulan kemarin ada klien yang bikin resepsi di Jogja tepatnya di candi Prambanan." Karin menyebutkan beberapa pilihan tempat, membuat Joddy mengumpat dalam hati. Jangankan di luar kota dalam kota saja rasanya Joddy malas sekali menikah dengan Laras, kalau dengan Kana di Antartika pun Joddy mau.


"Jogja? Kayaknya menarik. Aku jadi inget temen aku pernah nikah di sana dan viewnya keren banget. Sayang, gimana kalau kita nikahnya di Jogja aja? Numpang nikah gitu." Laras memengang lengan Joddy mencoba membujuknya.


Joddy melirik sekilas tanpa minat. "Kenapa harus di luar kota kalau di sini saja bisa?"


"Tapi aku ingin sesuatu yang beda, ini kan akan menjadi pengalaman sekali seumur hidup. Aku ingin pernikahanku berkesan."


"Itu urusan kamu!" sahut Joddy sengit.


"Joddy, jangan seperti itu!" Jihan menegur sikap dingin Joddy, dia benar-benar heran kenapa anaknya yang penurut berubah jadi dingin seperti ini padahal dulu Joddy dan Laras lumayan dekat, tapi kenapa sekarang jadi seperti itu ya? Pasti karena janda itu.

__ADS_1


"Aku ke toilet dulu, Bu."Joddy beranjak dari duduknya, dia ingin membasuh muka, siapa tahu hati dan pikirannya juga bisa ikut dingin, sedingin es kutub.


"Oke, jangan lama-lama ya, Sayang." Bukan Jihan yang menyahut tapi Laras. Joddy sedikit menyentak saat tangan Laras memengang tangannya. Mendapat perlakuan seperti itu di depan umum, Laras tak bergeming. Senyum manis tetap tersungging di bibirnya.


Jihan hanya bisa menghela napas melihat tingkah anaknya itu. Joddy yang acuh itu segera bergegas pergi tapi baru beberapa langkah seorang anak kecil memeluk kakinya.


"Om Oddy!"


Joddy terkesiap melihat bocah lelaki yang memeluk kakinya itu.


"Ken?"


Bocah bergigi kelinci itu tersenyum manis ke arah Joddy. "Om Oddy."


Joddy tersenyum lalu mengangkat tubuh gempal itu mencium pipinya. Astaga, betapa rindunya Joddy dengan anak ini. "Ken sama siapa?" Pertanyaan bodoh. Kalau ada Ken bisa jadi ada Kana juga, apalagi ini akhir pekan. Kebiasaan Kana tiap akhir pekan adalah mengajak Ken jalan-jalan. Dulu ketika hubungan mereka baik-baik saja Joddy akan menemani mereka jalan-jalan tapi sekarang jarak yang membuat semuanya berubah.


"Anak siapa Jod?" Jihan yang heran melihat interaksi tak biasa antara Joddy dengan anak kecil itu bergegas menghampiri keduanya.


"Lucu sekali, hallo..namanya siapa?" sapa Jihan ramah, Joddy sedikit terkejut dengan reaksi ibunya. Apa Jihan tidak tahu Ken adalah anak Kana? Ah, tentu saja mereka memang belum pernah bertemu sebelumnya.


"Ken, Uti."


Jihan tersenyum saat Ken memanggilnya 'Uti' kependekan dari simbah putri sebutan nenek dari daerah Jawa. Apa orangtua anak ini dari Jawa?


"Coba Ibu punya cucu kayak gini," gumam Jihan, Joddy menatap ibunya lekat-lekat. Apakah Jihan akan seramah ini jika tahu Ken adalah anak dari wanita yang dia benci?


"Mas Ken! Ya ampun, Mbah Dar nyariin lho, Le. kenceng banget larinya kayak angin." Seorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh mendekat.


"Ealah, ketemu Mas Joddy to." Mbok Dar tersenyum setelah sadar siapa yang mengendong Ken. Lalu menyapa Jihan yang tersenyum ramah itu.


"Iya, Mbok sama siapa?" balas Joddy.


"Sama Unda Om. Tapi unda agi beyi kado buat Om Anda!" sambar Ken dengan wajah cemberut membuat yang melihatnya gemas. Joddy terkekeh dia tahu betul kebiasaan Kana jika sedang memilih barang pasti menghabiskan waktu berjam-jam dan anak ini kemungkinan bosan lalu kabur dari Ibunya.


"Bundanya lagi beli kado Mas di sebelah, kami berdua disuruh nunggu di sini, mau makan. "Mbok Dar menambahi. Joddy tersenyum tipis. Kana-nya di sini, jadi mereka sebentar lagi akan bertemu.


"Ken?"


Akhirnya yang ditunggu-tunggu Joddy datang juga. Kana berdiri tak jauh dari mereka, menatap kaget dan penuh ragu.


"Unda!!" seru Ken melambaikan tangannya agar Kana mendekat.


Kana tersenyum tipis lalu mendekat. "Tante apa kabar?" sapanya pada Jihan yang menatap Kana dan Ken bergantian dengan mimik wajah binggung.

__ADS_1


"Ini anak kamu?" tanyanya mengabaikan sapaan Kana.


"Iya, Tante." Kana mengangguk sopan. Jihan menatap Kana tak percaya. Kenapa anak ini harus punya Ibu dia sih!?


"Eh, hai Kana. Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Laras yang sedari tadi sibuk dengan Karin itu tiba-tiba bergabung saat tahu ada Kana di sana.


Kana tersenyum lalu mengangguk sebagai bentuk sopan santun walaupun dalam hati dia cukup kaget bisa bertemu mereka di sini.


"Kamu kenapa kemarin gak dateng ke acara tunangan kami, seru lho ada doorprizenya juga," seru Laras, Kana terdiam matanya tak sengaja menangkap cincin yang melingkar di.jari Laras dan Joddy.


Ah, sial kenapa mataku jelalatan sampai ke situ sih?!


Joddy yang tak sempat menyembunyikan jarinya hanya diam. Dia memakai cincin pertunangannya juga karena paksaan Jihan. Padahal setelah tunangan Joddy melepas cincinnya dia tidak mau memakai cincin itu.


"Iya, Ken sedang rewel. By the way selamat atas pertunangan kalian." Kana mengucap dengan tulus.


"Terimakasih, Oiya kami lagi meeting sama WO nih buat nyari konsep pernikahan. Kalian gabung aja siapa tahu kamu ada saran buat kami. Ya, kan Tante?" Laras mengalihkan pandangannya ke arah Jihan untuk berkonspirasi, Jihan hanya mengangguk malas.


"Benar juga, kamu kan punya pengalaman menikah. Yah, siapa tahu kamu ada saran buat pernikahan mereka," tambah Jihan, hati Kana terasa diremas waktu mendengar apa yang Jihan ucapkan. Tapi dia tidak boleh memperlihatkan di depan mereka.


Hanya Joddy yang tahu betapa tidak nyamannya situasi ini bagi Kana.


"Maaf, kami harus segera pulang, ada acara keluarga." Kana lalu mengalihkan pandangan ke arah Ken.


"Ken ayo, udah ditunggu Om Kanda." Kana mengulurkan tangannya bermaksud menggendong Ken. Ajaibnya tidak seperti biasanya Ken langsung meringsek turun dari gendongan Joddy dan memeluk kaki Kana.


"Pamit dulu!" perintah Kana.


"Om, Uti, ante Ken pulang dulu!" Ken tersenyum polos lalu menyalami satu persatu ketiga orang itu. Jujur saja Jihan menyukai bocah gempal itu terlihat lucu dan santun tapi kenapa harus Kana ibunya?


"Maaf, kami permisi." Kana mengangguk sebagai sopan santun, ketika tatapan matanya bertemu dengan mata Joddy ada sesuatu yang berdesir di hatinya. Dia rindu sekali dengan pria yang sudah punya tunangan ini.


"Mari.." Kana yang pertama kali memutus kontak matanya lalu bergegas pergi.


"Kalian sungguh luar biasa!" seru Joddy begitu Kana menghilang dari pandangan mereka.


"Maksud kamu apa, Sayang?"


Joddy Ingin muntah saat mendengar panggilan 'sayang' dari Laras itu. "Aku pergi dulu!"


"Mau kemana?Meetingnya belum selesai?"seru Jihan, sayangnya Joddy tidak peduli dia tetap memilih pergi meninggalkan Jihan dan Laras.


Joddy berniat menyusul Kana dia hanya ingin memastikan Kana baik-baik saja, sayangnya dia tidak menemukan wanita itu. Mungkin mereka memang tidak berjodoh.

__ADS_1


*******


__ADS_2