Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Bukti baru


__ADS_3

Kana menutup tirai kamarnya kembali saat Joddy masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi meninggalkan rumahnya. Hatinya terasa sakit entah untuk hal yang mana. Penghinaan Jihan, orangtuanya yang hilang kepercayaan pada Joddy, dia yang harus meninggalkan Joddy atau ketiganya?


Kana tidak tahu kenapa rasanya nyaris sama dengan saat Adrian meninggalkannya. Kana benci perasaan kehilangan semacam ini.


"Na."


Kana tersentak kaget, buru-buru dia menghapus air mata yang sejak tadi membasahi pipinya saat Maya masuk ke dalam kamar dan menghampirinya.


"Kamu baik-baik saja kan, Sayang?" Maya duduk di samping Kana mengusap kepalanya lembut.


Kana menggeleng pelan. Bohong kalau dia baik -baik saja karena nyatanya hatinya sakit. Sakit sekali.


"Maafkan kami Na. Papa dan Mama hanya ingin kamu bahagia meskipun harus merasakan sakit terlebih dahulu. Tapi ini lebih baik daripada kamu selalu dihina seperti itu. Mama yang melahirkan kamu, Mama tidak rela Kana. Joddy boleh mengakui sebagai Ayah anak ini. Tapi tidak untuk menemuinya. Penghinaan orangtua dia tidak hanya melukai harga diri kamu. Tapi juga harga diri Mama sama Papa." Maya sungguh tersinggung dengan semua kata-kata Jihan. Maya tak habis pikir kenapa sesama wanita dia bisa mengucapkan kata-kata semenyakitkan itu?


Status janda bukanlah keinginan Kana. Jika boleh memilih Kana tidak akan memilih menjadi janda, tapi apa mau dikata jika takdir harus membuatnya menjadi begitu?


"Kana yang harus minta maaf sama Mama dan Papa. Kana sudah mencoreng nama baik kalian." Kana menunduk, jemarinya saling bertautan.


"Mama dan Papa memang sempat kecewa sama kamu Kana. Tapi kita tidak boleh saling menyalahkan, semua sudah terjadi kita hanya perlu memperbaikinya."


Mendengar apa yang dikatakan Maya membuat hati Kana mencelos padahal Kana sadar kesalahan yang dia buat adalah kesalahan fatal dalam hidupnya tapi orangtuanya masih saja memaafkannya.


"Terimakasih, Ma." Kana memeluk Maya erat dengan isak tangis yang sudah tidak dapat dia bendung lagi. Maya tersenyum membalas pelukan Kana.


"Sekarang kita packing ya? Besok kita akan berangkat pagi," bisik Maya. Kana mengangguk lalu melepas pelukkannya. Setelah ini semuanya akan berbeda, dia harus melupakan Joddy. Melepasnya agar pria itu bisa hidup bahagia tanpanya.


*


Joddy menatap lurus pada layar laptopnya, setelah dia meminta rekaman CCTV apartemennya selama seminggu sebelum dan sesudah kejadian di malam dia mabuk, dia menemukan fakta baru hingga satu persatu kecurigaan muncul di pikiran Joddy. membuatnya rela merogoh kocek hanya untuk menyewa orang untuk membuntuti Laras. Sayangnya, sampai sekarang belum ada kabar dari orang suruhannya.


"Gimana, Bang?" Dipta menghampiri Joddy, meletakan sekaleng minuman ringan di depan Joddy. Mereka sengaja bertemu, lebih tepatnya Joddy memaksa Dipta bertemu dengannya untuk membahas dan membantu Joddy menemukan bukti-bukti untuk membatalkan pernikahannya dengan Laras yang tinggal 4 hari lagi.


"Gue udah dapat satu bukti kalau Laras datang sekitar jam 6 pagi dan Kana keluar setengah jam kemudian. Nyokap-Bokap datang sekitar jam 07.30, rasanya mustahil kalau gue ngapa-ngapain dia." Joddy menyesap kopi americano-nya berharap rasa pusing di kepalanya menghilang.


"Lha terus kenapa ada tanda-tanda kalian melakukan hubungan intim?" tanya Dipta tanpa canggung, mengabaikan lirikan tajam Joddy yang siap membunuhnya.

__ADS_1


"Itu dia.Setelah Kana pergi datang cowok ke kamar gue. Dari postur tubuhnya gue kayak kenal tapi gak tahu siapa karena di CCTV gak begitu jelas. Makanya gue lagi nyuruh Kevin buat nyari orang buntutin Laras. Gue yakin itu cowok yang udah ngehamilin Laras."


"Jadi, tanda-tanda itu sengaja mereka buat buat jebak lo, Bang?"


Joddy mengangguk membuat Dipta refleks bertepuk tangan dengan kepala menggeleng-geleng keheranan. "Keren lo, Bang. Udah macam sinetron aja." Dipta tak habis pikir dengan kisah cinta sepupunya ini. Sekalinya cinta, aja ada halangannya.


"Gue pengen secepatnya buktiin kalau semua yang dikatakan Laras adalah bohong, Dip. Dan gue bisa perjuangin Kana lagi."


"Jadi, lo gak tahu Bang, Kana pergi ke mana?"


"Tadi gue ke rumahnya pembantunya bilang dia pergi sama Papa dan Mamanya tapi gak mau bilang ke mana. Nomor Kana udah ganti dari semenjak dia minta putus. Kakaknya masih di Bandung. Orangtuanya tuh jadi benci sama gue karena Kana udah dihina sama Ibu." Joddy memijit pangkal hidungnya berharap masalahnya berkurang.


"Sampai sekarang gue gak tahu apa aja yang udah Ibu omongin ke Kana sampai dia benar-benar sakit hati. Ditambah Laras yang ngelabrak dia habis-habisan di tempat umum. Lo kebayang gak sih, Dip kalau cewek lo dipermalukan begitu?" Joddy menatap Dipta serius.


"Ya, jelas gue gak terima lah, Bang." Tapi tentu saja Rara berbeda sama Kana. Gadis itu bukan tipe yang diem saja kalau disakitin. Rara itu seperti semut, kalau digigit pasti balas gigit. Dipta tersenyum sendiri begitu terbayang wajah jutek ceweknya yang lucu dan itu tidak luput dari perhatian Joddy, membuat Joddy mengeluarkan kata-kata semacam hewan yang tak bernyawa.


"Lo gak berusaha buat nyari Kana?"


"Kalau gue udah bisa membuktikan anak yang dikandung Laras bukan anak gue dan pernikahan gue batal, gue bakal nyari Kana sampai ke ujung dunia sekalipun."


"Tapi gue akuin sih Bang. Kana lo emang cantik dan attitude-nya bagus- Arghhhh! Sakit!" seru Dipta sambil mengusap kepalanya, karena Joddy memukulnya dengan sendok bekas makannya.


" Jangan berani lo muji Kana gue!" Enak saja, Kana cuma punya Joddy. Hanya Joddy yang berhak memuji dan menikmati kecantikan Kana, pria lain jangan harap! Astaga, kenapa dia jadi sebucin ini ya? Dia jadi tabu sekarang gimana perasaan Adrian dulu pada Kana. Padahal dulu dia selalu mencibir dan mengejek Adrian karena terlalu bucin pada Kana. Sekarang dia sendiri yang merasakannya


"Kenyataan Bang. Lo gak tau aja, Kana itu suka dijadiin bahan obrolan para staf cowok. Semua muji Kana, mereka juga pada gak percaya Kana itu pelakor."


Joddy melirik Dipta sekilas lalu menghela napas berat dia jadi ingat kejadian itu. Walaupun dia tidak berada di sana dan hanya melihat.dari video hasil rekaman orang lain, tapi Joddy tahu perasaan Kana saat itu, dia pasti shock, malu dan takut.


Wanita yang punya wajah bayi itu pasti sangat terluka apalagi dia tahu Laras hamil dan pasti mengira itu anak Joddy, padahal Joddy yakin itu bukan anaknya. Dan Joddy akan buktikan itu segera.


"Bang!"


Perhatian Joddy dan Dipta teralih dua orang pria menghampiri meja mereka.


"Gue telepon kenapa lo gak angkat?" Kevin menarik kursi di samping Joddy lalu duduk dengan tenang.

__ADS_1


"Hp gue silent? Gimana ada kabar dari orang suruhan gue?" tanya Joddy menatap pria yang sudah duduk di samping Kevin.


"Ada dong, Nih hasil dua hari dia ngikutin Laras. Ye, kan, Bro?" Kevin mengedikkan bahu ke arah temannya karena memang Kevin yang dia minta untuk mencarikan orang yang bisa membuntuti Laras.


Pria di samping Kevin itu mengangguk lalu mengambil amplop berwarna coklat." Dua hari ini wanita itu selalu pergi dengan seorang pria yang sama. Pria itu selalu menjemputnya di kantor."


Joddy membuka amplop coklat itu lalu membuka dan mengintipnya sedikit, terdapat beberapa lembar foto. " Jelaskan!" Joddy mendorong amplop itu kembali ke arah pria bernama Nino itu.


"Ini foto mereka makan siang lalu berahkir dengan mereka pergi ke apartemen Si Wanita." Nino menunjukkan dua lembar foto dengan gambar berbeda. Sayangnya, pria itu hanya terlihat punggungnya saja.


"Mereka keluar setelah dua jam, kemudian pergi ke dokter obygn yang tak jauh dari apartemen wanita itu." Nino menunjuk foto di mana Laras masuk ke dalam klinik kandungan dengan memeluk lengan pria itu. Semuanya terlihat dari belakang.


"Gue coba ngikutin mereka masuk ke dalam klinik. Si Pria saat itu sedang menerima telepon jadi gue gak dapat fotonya. Umur kehamilannya sekitar 3 bulanan. Gue tahu ketika dia mengobrol dengan wanita hamil lainnya di klinik itu."


Joddy menatap Nino dengan cepet. "3 bulan?"


Nino mengangguk." Yang Gue dengar sih begitu."


Yes, berarti benar dugaan Joddy itu bukan anaknya karena kejadian dia mabuk belum ada tiga bulan. Kalaupun Laras hamil anaknya dan dihitung dari hari terakhir dia haid pasti usia kehamilannya sekitar dua bulan. Oh, pantas dia tidak mau memeriksakan ke dokter waktu itu. Sial, memang!


"Yang lain hanya rutinitas biasa dia saja."Nino meletakan beberapa foto."


"Ini kenapa foto cowoknya lo ambil dari angel belakang terus atau samping?" Joddy sedikit kesal juga karena dia tidak bisa melihat wajah asli si pria.


"Oh, sebentar. Ada satu yang gue close up wajahnya." Nino mencari di deretan foto lalu mengambil selembar foto. "Nih."


Joddy mengambil cepat foto itu lalu melihat gambarnya, matanya terbelalak lebar saat melihat gambar yang ada di lembar foto itu.


"What?" Rahang Joddy nyaris jatuh saat melihat siapa pria dalam foto itu. Sangat jelas dan dia juga sangat mengenalnya pantas saja dia seperti tidak asing dengan postur tubuh pria itu. Postur yang sama dengan yang ada di CCTV.


Rupanya orang itu adalah orang yang dia kenal bahkan bisa dikatakan dekat.


"Kenapa, Bang?" Dipta bertanya karena keheranan melihat wajah Joddy yang tiba-tiba menegang itu.


"Anj*ng!!!" umpat Joddy lalu membanting foto itu di depan Dipta yang menerimanya dengan wajah pucat.

__ADS_1


*******


__ADS_2