Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Jujur


__ADS_3

Moli menatap Kana tajam lalu beringust duduk di sampingnya. "Kamu udah cek ke dokter?" Moli bertanya dengan lirih sambil melirik ke arah suami bule dan anaknya yang asik bermain dengan mainan Ken di ruang tamu.


Kana menggeleng. "Aku binggung Mol." Kana terpaksa bercerita semuanya pada Moli, karena kali ini hanya Moli yang bisa dia ajak curhat. Orangtuanya masih berada di Bandung bersama Ken dan pasangan pengantin baru , rencananya mereka semua akan kembali ke Jakarta besok pagi.


"Kenapa kamu tidak jujur saja pada Joddy sih Na, sebelum dia tunangan?"


"Gak bisa Mol. Orangtua Joddy tidak menyukai aku, mereka keberatan soal statusku."


"Tapi sekarang akibatnya apa? Kamu hamil Kana!" Moli sediikit emosi walaupun dia sadar bukan kesalahan Kana sepenuhnya. Tapi hamil di luar nikah dengan status janda lebih rumit ketimbang status janda itu sendiri.


Apalagi profesi Ayah Kana yang tidak main-main. Jika masyarakat tahu anaknya yang janda hamil dengan pria yang sudah bertunangan entah apa yang akan terjadi, yang pasti nama baiknya akan tercoreng, dan itulah yang membuat Kana sekarang binggung.


"Sebelum Joddy menikah kamu harus ngasih tahu dia, jujur saja kalau wanita yang bersama dia waktu mabuk itu, kamu!"


Kana menggeleng pelan." Gak bisa Moli. Ibu Kak Joddy punya penyakit jantung jika dia tahu, kesehatannya bisa memburuk."


"Siapa yang bilang begitu?"


"Laras."


Seketika Moli menggebrak meja makan membuat suami bule dan Rein menoleh ke arah mereka. Bertanya-tanya apa yang membuat istri dan ibu mereka bertingkah bar-bar seperti itu. Moli memberi kode pada suami dan anaknya untuk mengabaikannya lalu menatap Kana kembali.


"Kamu percaya yang dibilang sama Nyi Pelet itu?"


Kana mengangguk.


Moli menepuk jidatnya. "Astaga, Kana! Kalau yang bilang Joddy sih bisa dipercaya, tapi ini Si Nyi Pelet lho atau kita sebut saja dia Medusa. Kebenarannya tidak bisa dipercaya begitu saja. Menurutju itu Wanita bukan wanita baik-baik, karena wanita macam apa yang dengan bangga mengaku ditiduri sama pria mabuk bahkan dengan santainya mau bertunangan dan menikah." Moli terdiam sejenak."Tapi memang itu sih tujuan utama dia, menikah dengan Joddy. Gila, kan dia? Dia gak bisa dipercaya."


"Tapi gimana kalau ternyata benar?" Kana menatap Moli serius.


"Benar untuk?"


"Ibu Kak Joddy memang punya penyakit itu dan gimana kalau benar Laras sama Kak Joddy tidur bareng setelah aku pergi."


Moli terdiam sejenak mau tidak mau dia membenarkan dalam hati ucapan Kana. Bisa saja memang, Joddy yang masih dalam keadaan mabuk itu kembali bercinta dengan Laras. Tapi masa iya sih? Moli bergidik ngeri, membayangkannya saja dia tak sanggup.


"Enggak, aku gak percaya." Moli berusaha menepis pikiran negatif yang bisa jadi benar itu. " Kak Joddy bukan pria seperti itu," imbuhnya.


Kana menghela napas lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja makan. Kepalanya pusing sedari tadi dia juga menahan mualnya. Astaga, kenapa semua jadi rumit seperti ini?


"Kamu hurus jujur sama Joddy, Na. Dan biarkan dia bertanggungjawab atas apa yang sudah dia lakukan. Kamu mungkin bisa menyembunyikan ini semua. Tapi tidak dengan perut kamu. " Moli mengingatkan Kana, pandangannga tertuju pada perut Kana yang masih rata.


"Sudah malam, aku harus pulang. Rein udah ngantuk kayaknya," kata Moli saat melihat kode suaminya yang menunjuk Rein yang sudah mengucek matanya.


"Tidak menginap saja?" Kana mengangkat kepalanya menatap Moli.


" So sory, Honey. Aku harus kemas-kemas, soalnya lusa aku balik ke Jerman ke rumah mertua. " Moli mengambil kedua tangan Kana. "Kamu gak apa-apa aku tinggal?"


"Gak apa-apa." Kana mengangguk dan tersenyum selebar mungkin meyakinkan jika dia baik-baik saja.

__ADS_1


"Pikirin omongan aku tadi. Kamu tidak boleh egois, anak kamu butuh ayahnya," imbuh Moli lagi.


Kali ini Kana tersenyum tipis, tidak mengiyakan ataupun menolak. Di lain tempat, tak jauh dari rumah Kana ada sebuah mobil terparkir di sana dengan pengemudi yang sejak tadi mengawasi rumah Kana.


Sudah 30 menit Joddy Memandangi rumah Kana dari dalam mobilnya. Lampu di rumah Kana masih banyak yang menyala. Gerbangnya pun belum sempat dikunci itu menandakan masih akan ada aktifitas di luar rumah. Apalagi ada mobil asing yang terpakir di halaman rumahnya. Siapa yang bertamu di jam... Joddy melirik jam tangannya, 10 malam seperti ini?


Joddy membenarkan letak kacamata yang membingkai wajah tampannya, dia mengabaikan ponsel yang sejak tadi bergetar di atas dashboard.


Jihan yang sedari tadi meneleponnya. Sejak di Bandung dan sampai sekarang di Jakarta, ponsel Joddy terus


bergetar dan tetap dia abaikan karena empat jam perjalanan, Joddy habiskan waktunya di jalan untuk memikirkan Kana.


Joddy sudah tidak sabar untuk bertemu Kana. Joddy yakin bukti yang dia dapat dari Thomas cukup membuktikan jika Kana adalah wanita yang bersamanya di malam itu.


Joddy menegakkan tubuhnya saat dia melihat pintu rumah Kana terbuka lalu muncullah tiga orang salah satunya menggendong seorang anak.


Joddy menajamkan penglihatannya, rupanya itu Kana dan temannya, Moli. Jadi, yang bertamu ke rumah Kana adalah Moli? Jika Moli pulang, itu artinya Kana hanya tinggal sendiri di rumah. Papa dan mamanya masih di Bandung. Joddy tahu itu dari akun instagram Kanda yang mengunggah foto mereka sedang makan malam bersama dua jam yang lalu.


Joddy menyalakan mesin mobilnya saat mobil Moli dan suaminya keluar dari plataran rumah Kana. Dia lalu memarkirkan mobilnya lebih dekat ke rumah Kana.


Saat Kana mendorong pagar rumahnya, Joddy buru-buru keluar dari mobilnya lalu mengambil alih Kana mendorong pagar rumahnya. Kana yang sadar bahwa yang menolongnya menutup pintu pagar rumahnya adalah Joddy, dia bersiap kabur. Sayangnya, satu tangan Joddy yang bebas berhasil menarik tangannya.


"Lepasin, Kak!" Kana mencoba melepaskan cengkraman tangan Joddy tapi tak berhasil.


"Ayo, bicara dulu!" Joddy menarik tangan Kana untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Hey, jangan marah-marah. Gak baik buat anak kita," sahut Joddy tersenyum lembut. Astaga, dia rindu sekali dengan wanita ini. Ibu dari anak yang ada dalam rahim wanita itu sekarang.


Kana mengerutkan keningnya dengan mata menatap tak percaya ke arah Joddy. "Ini bukan anak kamu!"


Joddy tertawa geli. "Terus anak siapa? Pacar baru


kamu? Oh, bukan, bukan. Lebih tepatnya pacar baru tapi bohongan. Bukan begitu?"


Kana terkesiap mendengar apa yang dikatakan Joddy."Maksud kamu apa?" Tenang Kana tenang. Jangan sampai terpancing.


"Thomas pacar kamu itu sudah punya istri dan tiga anak yang tinggal di Bandung."


Kana terkesiap, darimana Joddy tahu kalau Thomas dan dia hanya pura-pura berpacaran.


"Jangan sok tahu! Pergi dari sini!" usir Kana mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Kalau kalian pacaran, berarti kamu adalah pelakor? Perebut suami orang?"Joddy tersenyum saat melihat wajah pias Kana.


Kana mengigit bibir dalamnya, ketahuan sudah. Joddy memang bukan orang yang mudah untuk dikelabui. Dia punya 1001 cara untuk membuktikan sesuatu yang menurutnya tidak masuk akal.


"Aku bukan pelakor! Memang, Thomas dan aku hanya berpura-pura, tapi jangan lupa teman laki-lakiku banyak bukan hanya Thomas saja. Aku janda dan aku bisa tidur dengan lelaki manapun dan siapapun yang aku mau. Jadi, tolong pergi dari rumah ini sebelum mereka mengira aku benar-benar pelakor karena bertemu dengan tunangan wanita lain di saat rumah sepi." Selesai bicara Kana membalikkan badannya bersiap pergi tapi langkahnya terhenti saat Joddy melingkarkan kedua tangannya di perut Kana lalu menariknya hingga punggung Kana membentur dada Joddy.


"Berhenti Kana. Kamu tidak pandai berbohong." Joddy berbisik di telinga Kana lalu mengecup bahu Kana dengan lembut. Perlakuan Joddy ini membuat darah Kana berdesir, jantungnya derdegup lebih kencang. Untunglah, Jody memeluknya dari belakang sehingga dia tidak akan tahu perubahan wajah Kana.

__ADS_1


Seperti biasanya, respon tubuh Kana akan mengkhianati keinginannya untuk melepaskan pelukan Joddy. Ini terlalu nyaman, bahkan pusing dan mual yang dia rasakan tadi hilang begitu saja. Apakah ini yang dinamakan ikatan darah? Janin yang ada di perut Kana bisa jadi merespon sentuhan Ayahnya.


"Kana, tolong jujur, kamu wanita yang bersamaku malam itu, kan?"


Kana menunduk tangannya mengepal kuat di kedua sisi tubuhnya. Apakah ini saatnya dia mengatakan yang sebenarnya? Tapi bagaimana dengan orangtua Joddy?


"Bukan." Kana ternyata masih ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kana," panggil Joddy lalu membalikkan badan Kana hingga mereka saling berhadapan. Ketika tatapan mereka sejajar, jantung keduanya berdegup kencang. Ada kerinduan yang jelas di mata keduanya.


"Sayang."


Untuk pertama kalinya Joddy akhirnya memanggil dengan kata 'sayang' kembali, sejak Kana mengatakan 'putus' dan sungguh itu membuat hati Kana menghangat.


"Na, jangan menghindariku apalagi berbohong soal kehamilan kamu. Aku yakin malam itu adalah kamu dan yang ada di sini adalah anak aku." Tangan Joddy menyentuh perut rata Kana dari luar. Kana mengigit bibir bagian bawahnya. Entah kenapa perasaan jadi tak karuan. Tidak bisa dipungkiri saat ini dia menikmati sentuhan Joddy.


"Dia butuh Ayahnya, Na. Dan aku butuh kamu." Tangan Joddy mengusap lembut perut Kana. Anehnya, Kana sama sekali tidak keberatan. Dia merasa sangat nyaman dengan sentuhan Joddy.


Joddy menunduk untuk mengecup bibir mungil Kana, merasa tidak mendapat perlawanan Joddy memperdalam ciumannya dan itu membuat pertahanan Kana untuk menolak Joddy akhirnya roboh. Ciuman Joddy yang terkesan lembut tidak terburu-buru membuatnya terhanyut. Seluruh tubuh Kana mendadak lemas seperti jelly Kalau saja tangan Joddy tidak memengang pinggangnya sudah dipastikan dia akan jatuh.


"Aku Ayah dari anak ini kan, Na?" tanya Joddy melepas ciumannya karena keduanya sama-sama hampir kehabisan napas.


Kana masih tak menjawab. Pikirannya masih ragu, apakah kali ini dia akan berkata jujur atau tidak.


"Kumohon Kana, jujur padaku dan aku akan lanjut berjuang." Joddy mengusap pipi Kana menarik dagu Kana agar pandangan Kana sejajar dengannya.


"I-"


Baru saja Kana akan membuka mulutnya, ponsel di saku kemeja Joddy bergetar membuat keduanya tersentak kaget. Joddy memaki dalam hati. Lalu mengambil ponselnya berniat menonaktifkannya. Tapi urung saat melihat nama yang tertera di ponsel. Joddy memberi isyarat pada Kana untuk menunggu sebentar.


"Kenapa Fer?"


"...."


"Sekarang?" Entah apa yang Joddy bicarakan di telepon tapi wajahnya terlihat serius, kesempatan itu Kana gunakan untuk pergi dari hadapan Joddy, tapi tangan pria itu menahannya dengan menarik pergelangan tangan Kana mendekat padanya. Joddy masih bicara di telepon, mukanya mendadak tegang. Membuat Kana bertanya-tanya apa gerangan yang Joddy bicarakan dengan si penelepon.


"Oke, gue ke sana." Joddy menatap Kana lalu mengakhiri pembicaraannya di telepon.


"Aku pergi dulu ya, tapi ingat aku akan kembali."


"Tidak perlu! Pergilah kalau mau pergi." Kana memang keras kepala, tapi dia sedikit marah saat Joddy berpamitan padanya.


"Tolong kamu tutup pintunya," sambung Kana lalu melepas tangan Joddy dan bergegas pergi.


Joddy mengacak rambutnya gusar, apalagi ponsel di sakunya terus bergetar.


"Shit!"


***********

__ADS_1


__ADS_2