
Kana terpaku saat melihat wanita yang berdiri di depannya tersenyum manis. Tangannya mencengkram erat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Bersikap waspada terhadap apa yang akan dilakukan oleh wanita di depannya.
"Untuk apa kamu ke sini?" Jam 1 malam dan wanita ini tiba-tiba muncul di hadapannya. Tidak mungkin jika wanita ini benar-benar ingin menjenguknya.
Laras terkekeh lalu meletakkan buket mawar di nakas.
"Itukah sambutanmu pada seorang pengunjung rumah sakit yang berniat baik menjengukmu?"
Kana tersenyum sinis. "Benar-benar menjenguk atau hanya ingin memastikan keadaanku?"
"Ah, anak yang pintar. Aku memang hanya ingin memastikan apa kamu kehilangan anak kamu atau tidak." Laras memutari ranjang Kana lalu bertepuk tangan.
"Sepertinya kamu kehilangan dia ya?Uhh, kasian sekali."Laras memasang wajah sedih lalu tertawa seperti orang gila.
"Kita impas. Aku kehilangan anak, kalian pun sama."
"Kamu benar - benar jahat Laras! Kamu tega mengorbankan janin yang tidak bersalah!"
"Salah Ibu pacar kamu itu! Tega membuat wajahku cacat dan anakku juga mati!" Laras mengeram tangannya mengepal di kedua sisi tangannya.
Kana mengalihkan pandangannya le arah pintu. "Pergilah, kehadiranmu di sini tidak penting." Dan hanya membuat kepala Kana berdenyut. Kana berdoa Mamanya yang sedang membeli makanan di kafetaria 24 jam itu segera kembali.
"Siapa bilang tidak penting? Justru kedatanganku ke sini sangat penting. Aku datang ke sini untuk memberimu tawaran yang pasti tidak akan kamu tolak." Laras duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Kana dengan kaki bertumpu satu sama lain. Pandangannya lurus menatap ke arah Kana.
"Gara-gara pacar kamu yang menyebalkan itu aku menjadi buronan polisi."
Kana tersenyum sinis, berarti Joddy sudah melaporkan Laras ke polisi. Syukurlah kalau begitu.
"Baguslah, itu tandanya kamu akan segera menempati 'rumah baru' ," sahut Kana sinis.
"Jangan senang dulu, aku punya penawaran untukmu."
"Aku tidak butuh penawaran apapun darimu. Kamu harus mendapatkan hukuman dari apa yang sudah kamu lakukan. Itu baru impas."
"No, no, no! Kamu harus dengar dulu apa penawaranku. Aku jamin kamu akan sangat tertarik." Laras memainkan kuku-kuku jarinya yang terawat itu.
"Apa yang membuatmu yakin aku menerima tawaran yang kamu ajukan."
"Jelas aku yakin karena kaitannya dengan calon-Ibu-mertua kamu."
Kana mengernyit. "Apa hubungannya dengan Tante Jihan?"
"Well, jadi gini." Laras mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kamu mau kan calon mertua kamu itu keluar dari penjara dan menghirup udara bebas?"
Kana menatap Laras tak mengerti. "Tidak ada hubungannya dengan kasus kamu!"
"Memang,tapi gimana kalau aku kasih win-win solution. Aku akan cabut tuntutanku dan wanita tua itu bebas, asal suruh Joddy mencabut laporannya. Kita bisa selesaikan secara kekeluargaan."
Kana memang gadis polos yang selalu mengikuti alur hidup tapi itu dulu sebelum semua masalah yang menderanya membuatnya menjadi sosok yang lebih dewasa dan selalu berpikir sebelum bertindak. Maka, kali ini dia pun tidak akan menerima tawaran Laras begitu saja.
"Silahkan kamu telan kekecewaan tapi maaf, aku tidak akan menerima tawaran kamu menukar kebebasan Tante Jihan dengan kebebasanmu. Kamu harus merasakan dinginnya tempat itu!"
Laras menatap Kana tajam lalu berdiri dari duduknya. "Kamu benar-benar bukan menantu idaman. Kamu membiarkan tubuh ringkih, tua, calon mertuamu itu mendekam di tempat yang dingin?"
__ADS_1
"Jangan bawa masalah kamu dan Tante Jihan ke dalam kasus ini. Itu tidak ada sangkut pautnya, jadi pergilah! Aku tidak akan menerima tawaran kamu. Jadi lebih baik kamu pergi dari sini sesegera mungkin, dan tenang saja aku tidak akan menelepon polisi karena aku yakin mereka bisa dengan mudah menangkapmu!"
Laras terkekeh lalu menatap Kana dengan angkuhnya." Bukan tidak mau tapi belum. Aku yakin kamu bakalan terima tawaranku dan saat itu terjadi-" Laras mengeluarkan secarik kertas lalu menyodorkannya ke arah Kana.
" Hubungi saja nomor ini, hanya akan aktif sampai besok, karena aku tidak bodoh dan membiarkan kamu menyerahkan nomor itu pada polisi. Tapi aku yakin, kamu tidak akan melakukannya paling tidak sebelum kamu mengambil keputusan."
Kana hanya diam menatap kertas itu tanpa berniat mengambilnya. Laras mengangkat kedua bahunya acuh lalu meletakkan kertas itu di atas buket bunga yang tadi dibawanya.
" Pikirkan baik-baik. Aku pergi dulu." Laras mengedipkan matanya lalu pergi begitu saja meninggalkan Kana yang menatapnya sampai dia hilang di balik pintu.
**
Suara gesekan roda yang beradu dengan lantai keramik membuyarkan lamuan Kana. Dilihatnya Joddy sedang mendorong kursi roda dan Ferddy memegang botol infus.
"Tante?!" Kana cukup terkejut saat melihat Jihan datang ke kamarnya bersama kedua anaknya. Bibirnya yang pucat menyunggingkan senyum.
"Kenapa Tante kemari? Harusnya istirahat saja."
Kana yang sudah diperbolehkan pulang dan sedang menunggu Ibunya mengurus administrasi itu dengan hati - hati turun dari ranjang dan menghampiri Jihan, dengan sigap Joddy menarik kursi untuk Kana duduk.
"Ibu memaksa ingin bertemu." Joddy tersenyum pada Kana.
"Bagaimana keadaanmu?" Jihan bertanya matanya menatap Kana lembut.
"Sudah baikan, Tan."
Jihan tersenyum tangannya mengambil tangan Kana mengenggamnya erat."Saya turut berduka cita. Saya juga minta maaf sama kamu, Kana."
"Kenapa Tante minta maaf?" Kana mengernyit binggung.
"Ini semua karena saya." Jihan menunduk matanya mulai berkaca-kaca. "Laras menyakiti kamu karena saya."
"Saya yang sudah membawa Laras ke kehidupan kamu. Saya dan Laras sudah banyak sekali menyakiti kamu."
"Tidak, ini bukan salah siapa-siapa. Tante, tidak perlu merasa bersalah seperti ini terus menerus. Saya sudah memaafkan Tante."
Jihan menatap Kana lalu tersenyum. "Terimakasih. Benar kata Joddy, kamu memang wanita yang baik. Orangtua kamu juga baik, mereka sudah memaafkan saya."
Kana menatap Joddy binggung.
"Mama sama Papa kamu, semalam menemui Ibu." Joddy menambahi.
"Oh ya?" Seingat Kana, Mama tidak mengatakan apa-apa mengenai hal ini.
"Iya, mereka melihat keadaan saya dan yang penting mereka memaafkan saya. Terimakasih banyak, kalian orang baik." Jihan mengeratkan genggaman tangannya.
Kana mengangguk. "Tante juga orang baik."
Jihan menggeleng. "Saya bukan orang baik. Saya banyak melakukan kesalahan." Wanita tua itu tercenung sejenak. "Ah, sudahlah. Apa kamu sudah boleh pulang?" Jihan tidak ingin larut dalam kesedihan terlalu lama. Dia ingin menikmati sisa kebebasannya.
"Iya, Tante. Mama sedang mengurus administrasi."
"Syukurlah, jaga diri baik-baik. Tolong jaga Joddy, anaknya suka lupa makan jika terlalu banyak Kerjaan. Ingat kan dia untuk lebih sering mengunjungi rumah."
Kana tertegun mendengar pesan Jihan padanya. Kenapa Jihan mengatakannya seolah-olah dia akan pergi? Jihan tersenyum dengan pipi yang basah dengan air matanya.
__ADS_1
" Tante, Kenapa? "
" Ibu besok sudah boleh pulang, "sahut Joddy.
" Pulang ke penjara," balas Jihan tersenyum getir.
Kana terdiam menatap nanar ke arah tangan keriput yang mengenggam tangannya erat.
*
Joddy menatap Kana tak percaya dia berharap apa yang dikatakan Kana itu hanya omong kosong atau telinganya yang salah dengar saja.
" Kamu minta aku buat cabut laporan kasus Laras?"
Kana mengangguk.
Joddy mengacak rambutnya gusar. "Alasannya?" Jelas - jelas Laras sudah menyakitinya membuat Kana keguguran kemarin Kana juga menginginkan Laras di penjara. Tapi kenapa sekarang dia berubah pikiran dalam waktu semalam?
Kana diam.
"Kana."Joddy tahu Kana menyembunyikan sesuatu.
"Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini, aku sudah cukup lelah."
Joddy tersenyum tipis. "Kamu tidak pandai berbohong Kana. Jadi apa yang Laras tawarkan padamu, sampai kamu menyuruhku mencabut laporan kasusnya."
Harusnya Kana tahu membohongi Joddy tidak mudah. Joddy terlalu mengenal Kana dibanding siapapun. Hanya dengan menatap mata Kana saja Joddy tahu apa dia berbohong atau tidak.
"Apa yang Laras janjikan ke kamu?" tanya Joddy sekali lagi.
Kana menatap Joddy ragu. "Kebebasan Tante Jihan."
Joddy tertawa sinis bukan menertawakan Kana melainkan Laras yang benar-benar pintar memanfaatkan situasi. "Wanita itu licik Benar-benar licik. Dia sengaja menggunakan situasi ini untuk bebas dari tuntutan." Joddy mengepalkan tangannya.
"Bilang pada Laras aku tidak akan pernah mencabut laporan untuknya."
"Kak, ini demi Ibu kamu. Ibu kamu akan bebas, Kak."
"Tapi Na-"
"Kak, apa kamu tega kalau Ibu kamu mengisi hari-hari tuanya di penjara?" sela Kana.
Joddy terdiam, membenarkan apa yang dikatakan Kana. Joddy tidak bisa membayangkan sama sekali jika Ibunya menghabiskan masa tuanya di penjara. Apa Ibunya yang terbiasa hidup enak bisa beradaptasi dengan kehidupan yang serba seadanya? Makan seadanya, tidur seadanya, tidak merawat tubuh, tidak bersosialisasi secara bebas apa ibunya bisa?Di lain Laras juga harus diberi pelajaran atas apa yang sudah dia lakukan terhadap Kana dan janinnya.
"Kak, seperti yang Kakak katakan kemarin. Mungkin ini jalan yang terbaik buat anak kita buat kita meskipun dengan cara yang memang tidak mudah kita terima. Jadi, yang terpenting saat ini adalah Ibu kamu, Kak."
"Tapi Kana, Laras sudah-" Joddy urung melanjutkan ucapannya dia takut Kana akan bersedih lagi jika mengingat anak mereka yang tidak bisa dipertahankan.
"Iklhas kan, Kak. Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik dan Laras akan mendapat balasan atas apa yang sudah dia lakukan meskipun bukan kita yang membalasnya." Kana mengambil tangan Joddy mengenggamnya erat.
"Saat ini Ibu kamu yang harus diprioritaskan."
Joddy menghela napas lalu memeluk tubuh Kana erat. "Baiklah jika itu mau kamu. Tapi pastikan dulu Laras tidak berbuat curang."
Kana mengangguk di dada Joddy.
__ADS_1
Aku terima tawaran kamu, Laras.
******