
"Kak!Kamu sadar dengan apa yang barusan kamu katakan?" Kana melepas genggaman tangan Joddy yang melingkupi jemarinya.
"Aku sadar."
Kana menggeleng. " Aku anggap kamu becanda Kak."
"Aku tidak becanda Kana. Aku serius dengan apa yang barusan aku katakan," sanggah Joddy dia tidak terima jika yang dia katakan dianggap tidak serius. Butuh keberanian untuk mengatakan itu semua.
"Kak, jangan karena status aku lantas kamu bisa mainin perasaanku! Aku bukan wanita murahan Kak!"
"Na, bagaimana bisa kamu berpikir apa yang aku katakan lelucon. Aku tidak pernah berniat mempermainkan kamu Na."
Kana tertawa hambar lalu menatap Joddy tajam. " Bagaimana aku tidak anggap ini sebuah lelucon kalau yang mengatakannya adalah pria yang sudah punya calon istri?!"
Joddy terhenyak. "Calon ist-"Joddy terdiam.
Sial!
Masih saja Kana mengira kalau Siska adalah calon istrinya. Padahal saat itu Joddy hanya iseng mengenalkan Siska teman satu kantornya saat di Papua sebagai calon istri, hanya agar Adrian menganggap dia bisa move on dari Kana. Mereka memang sempat menjalin hubungan pacaran tapi putus karena Joddy benar-benar tidak bisa menganggap Siska lebih dari sekedar teman.
"Aku dan Siska- Oke, kami memang pernah jadian selama 2 bulan. Kemudian sepakat untuk putus karena memang aku tidak bisa menganggap dia lebih dari sekedar teman. Dan sampai sekarang kami memang hanya berteman," jelas Joddy berharap Kana mempercayai setiap apa yang dikatakannya.
"Di kontak pun ada sign lovenya, pertemanan kalian luar biasa ya?" sindir Kana.
Joddy menghela napas lelah. Tanda love di belakang nama Siska pada kontak di ponselnya itu hasil sabotase Siska selama mereka pacaran dan belum sempat Joddy hapus sampai sekarang. Wajar saja kalau Kana berpikiran dia masih ada hubungan dengan Siska.
"Tapi aku memang tid-"
"Maaf Kak. Aku akan anggap apa yang kamu katakan tadi hanya sebagai candaan. " Kana tak mau berharap karena Joddy berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Kana. Yang masih single dan belum pernah menikah. Kana memberi isyarat untuk diam saat Joddy bersiap menyanggah ucapannya lagi.
*
__ADS_1
Sejak pertemuan di resto, suasana berubah. Gio menjadi bersikap ' biasa' saja terhadap Kana, membuat Nurul Si Biang Gosip bertanya-tanya dan selalu menyudutkan Kana karena Kana tidak pernah menanggapi kebaikan Gio. Membuat Kana merasa dimanfaatkan oleh Nurul atas kebaikan Gio.
Lalu bagaimana dengan Joddy? Kana tidak tahu, dia sengaja menghindari Joddy. Setiap Joddy datang ke rumah, Kana sengaja tidak menemuinya walaupun Ken selalu membujuknya untuk menemui 'Om Oddy' kesayangannya itu.
Anehnya, Joddy tidak menyerah setiap hari, dia mengirimkan pesan atau pesan suara dengan gombalan receh khas Joddy. Sayangnya, Kana tak menanggapinya sama sekali. Tapi pagi ini dia dikagetkan dengan keberadaan Joddy yang duduk di meja antrian CS. Dan kebetulan tertinggal 2 nasabah, Joddy dan seorang bapak-bapak berusia 65an.
Sial, ngapain coba?
"Antrian 57 silahkan menuju loket CS A2"
Mesin pemanggil berbunyi, yang berdiri adalah seorang bapak-bapak dengan kemeja bunga-bunga berwarna ngejreng.
"Key ini aku aja yang tanganin. Kamu yang satunya," bisik Kana setengah memaksa.
"Lho kenapa?"
"Udah, kamu bapak yang satunya aja. kan kamu butuh yang ganteng-ganteng," bisik Kana lagi. Key menatap ke arah kursi antrian lalu mengangguk tepat saat Si Bapak Tua berdiri di depan mejanya.
Mesin pemanggil berbunyi kali ini Joddy berdiri lalu menuju meja Key yang kosong.
"Ini Mbak, saya mau buka rekening tabungan." Si Bapak Tua mengatakan keperluannya.
"Boleh pinjam kartu pengenalnya, Bapak?" Kana tersenyum manis membuat Si Bapak senang bukan main saat melihat senyum Kana.
Joddy yang juga kebetulan sudah duduk di meja Key mendengus saat melihat Si Bapak yang tersenyum genit ke arah Kana. Dia tahu Kana sengaja menghindarinya karena jelas-jelas tadi harusnya Kana yang melayaninya
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" Key tersenyum pada Joddy yang malah asik memperhatikan Kana.
"Hmm..hmm..." Merasa tidak mendapat respon Key berdehem menyadarkan Joddy kalau wanita cantik di depannya sedang menunggu.
"Oh, ya ini Mbak mau ganti ATM. Rusak." Joddy menyodorkan kartu pada Key yang mengernyit heran karena kartu ATM punya Joddy seperti sengaja digores.
__ADS_1
"Wah, ini kenapa Pak kalau boleh tahu?" Key iseng bertanya wajahnya menampilkan senyum manis.
"Oh, itu Mbak kecuci."
" Istrinya kurang hati-hati ya?" Oke, Key sadar ini tidak sesuai SOP tapi paling tidak dia ingin tahu apa pria setampan ini masih jomblo atau sudah berbuntut. Kadang-kadang cara itu perlu.
"Justru karena masih sendiri Mbak makanya bisa ceroboh." Oke, Joddy mulai mengikuti permainannya. Kana mencoba tidak terpengaruh dengan memfokuskan diri pada Si Bapak Tua yang KTP-nya bernama Burhannudin Hamzah yang sialnya dalam status perkawinan tertulis 'Duda cerai mati'.
" Bisa Lihat KTP dan buku tabungannya?" Sayup-sayup Kana mendengar Key bertanya dengan suara dilembut-lembutkan. Pasti itu anak mau memastikan status Joddy.
"Eh, benar Bapak masih single." Key terkikik geli dan Joddy bicara lirih entah apa Kana tidak bisa mendengar dengan jelas, tapi setelah Joddy berbisik lalu mereka tertawa. Sial, kenapa dia jadi merasa tidak suka seperti ini melihat kedekatan Joddy dan Key?
"Mbak..Mbak..." Kana tergeragap saat Burhan mengetuk meja memanggil Kana yang sudah buyar konsentrasinya.
"Oh, maaf Bapak. Saya fotokopi dulu ya KTP-nya. " Kana tersenyum canggung, ekor matanya melirik ke meja sebelah di mana Joddy dan Key malah mengobrol. Apa-apaan itu? Sengaja membuatnya panas dingin?
"Mbaknya masih single?" tanya Burhan, Kana yang sudah selesai mengcopy KTP Burhan hanya tersenyum. Sudah dobel Pak!
"Saya punya anak cowok Mbak. Kerja di stasiun TV. Kalau mau nanti saya kenalkan, atau Mbaknya mau sama saya aja. Saya kebetulan duda lho Mbak hehehe.."
Sudah hal biasa Kana mendapat Customer yang seperti Pak Burhan ini, suka minta kontak, minta alamat rumah bahkan terang-terangan mengajaknya kencan apalagi jika nasabahnya seorang pengusaha muda. Tapi Kana tetap harus profesional. Dia harus bekerja sesuai SOP jadi dia berkata," Terimakasih, Pak."
"Ini sudah saya bantu isikan, silahkan Bapak tanda tangan dulu, nanti segera saya proses." Senyum Kana tetap tersungging walaupun dia gugup karena Joddy menatap tajam ke arahnya dan Pak Burhan.
" Boleh minta nomor hp-nya, Mbak?" tanya Burhan masih mengharap. Joddy mengangkat satu alisnya saat mendengar permintaan Burhan.
" Maaf Bapak, sesuai dengan SOP jika ada kepentingan atau butuh informasi silahkan hubungi call center kami ya, terimakasih. Mohon tunggu sebentar saya akan input data Bapak dulu." Kana tetap menjaga image agar tidak terlihat memberi harapan.
"Yah, Mbak. Siapa tahu Mbak mau nemenin nonton bola di Senayan." Burhan masih merengek.
"Nomor saya saja Pak. Nanti kita nobar." Itu bukan Key apalagi Kana yang menjawab tapi Joddy yang tersenyum manis ke arah Burhan dengan mata berkedip genit. Kana melongo, Burhan bergidik dan Key menganga tak percaya dengan tingkah absurd Joddy.
__ADS_1
******