
Joddy adalah pria yang tidak pernah mengeluh pada keadaan, sekalipun dia dibuat kecewa atau sedih. Ketika Kana meninggalkannya pun dia tidak mengeluh, karena Joddy yakin dia bisa membuat Kana - nya kembali.
Tapi kehilangan kali ini berbeda. Joddy tidak akan pernah membuat dia kembali. Tidak akan pernah.
Joddy menghampiri ranjang di mana Kana berbaring. Kana masih tertidur, masih di bawah pengaruh obat bius. Wajahnya terlihat pucat. Dokter terpaksa mengambil tindakan medis. Kandungan Kana dikuret karena janin di dalamnya tidak bisa dipertahankan lagi.
Apakah Joddy sedih? Pasti. Joddy merasa bersalah pada Kana, pada janinnya. Dia tidak bisa menjaga keduanya dengan baik.
Perlahan dia mengambil tangan Kana, mengenggamnya erat lalu menciumnya berulangkali, bibirnya tak henti - hentinya mengucapkan kata maaf.
Hasil dari CCTV, ada yang sengaja mengunci Kana di kamar mandi sebelum entah apa yang dilakukan pengunci itu di dalam sana. Joddy belum sempat melihat teliti CCTV itu dia masih khawatir dengan keadaan Kana.
Betapa paniknya diq saat Kana menelepon dan meminta tolong. Joddy dengan kalut mencari keberadaan Kana di setiap toilet rumah sakit.
Kana ditemukan dalam keadaan pingsan dan kehabisan banyak darah oleh seorang office boy yang curiga dengan pintu toilet yang handel pintunya ditahan dengan gagang sapu.
Joddy akan mencari tahu siapa yang tega melakukan itu pada Kana dan akan menjeblosknnya ke penjara.
Joddy merasakan jari tangan Kana bergerak-gerak kemudian
Kana mengerjapkan matanya. Lalu menatap ke sekelilingnya.
Kana termenung mencoba mengumpulkan ingatannya. Seingatnya dia berada di toilet lalu tiba-tiba ada Laras.
Kana tercekat terakhir dia didorong oleh Laras kemudian..
"Dek,"
Kana menoleh ke arah Joddy yang mencoba tersenyum.
"Kak, gimana sama anak aku ?" Suara Kana terdengar lirih.
Joddy terdiam dia bingung bagaimana cara memberi tahu pada Kana yang sesungguhnya.
"Kak, gimana keadaan anak aku." Kana mencoba beranjak dari tidurnya, tapi tubuhnya masih terasa lemas.
"Jangan bangun dulu."
"Gimana keadaan anak aku, Kak?" Kana nyaris berteriak saat tak ada jawaban dari Joddy.
"Kak?"
Joddy tak mampu mengatakan pada Kana. Dia takut Kana akan merasa terpuruk seperti dulu ketika dia kehilangan Azura. Kana tidak terlalu bodoh untuk mengartikan keterdiaman Joddy.
"Anak aku baik-baik saja kan, Kak?" Kana bertanya dengan suara bergetar. Joddy menunduk, lidahnya terasa kelu.
"Kak, jawab!"
__ADS_1
Joddy menghela napas lalu menggeleng pelan. Kana menutup mulutnya dengan telapak tangan karena shock.
"Kamu bohong kan Kak?!" Kana mencengkram lengan Joddy.
"Tidak, tidak mungkin aku kehilangan lagi kan? Kamu bohong kan, Kak?"
Joddy menggeleng pelan membuat tangis Kana akhirnya pecah seketika."Tidak , tidak mungkin! Aku tidak mungkin kehilangan lagi. Tidak, Kak!" Kana berteriak histeris tangannya menggapai semua benda yang ada di sekitarnya. Melemparkannya tanpa sadar.
Joddy memeluk Kana erat mencoba membuatnya tenang. "Kenapa aku gak bisa jaga dia, Kak. Kenapa terulang lagi, kenapa aku gak bisa jaga dia."
Racauan Kana membuat Joddy merasa bersalah. Ini salahnya, iya salah Joddy. Seandainya Joddy tidak menelepon Kana, pasti wanita ini tidak akan menemuinya.
"Bukan salah kamu, Na. Ini salahku." Suara Joddy tertelan suara tangis Kana yang menyayat hati.
*
Gufron menatap Joddy yang baru datang itu dengan tajam. Lalu mengajaknya menjauh dari ruangan Kana di rawat. Gufron ingin bicara empat mata dan dia memilih kafetaria rumah sakit sebagai tempatnya.
"Kana sudah menceritakan semuanya. Dia bilang terpeleset di kamar mandi karena terburu-buru." Gufron menyesap kopinya lalu menatap Joddy. "Sebegitu cintanya dia sama kamu sampai mengatakan hal yang tidak benar."
Joddy mengernyit mencerna apa yang baru saja Gufron katakan.
"Anak itu sebelumnya tidak pernah menyembunyikan apapun dari kami, tapi akhir - akhir ini dia berubah. Kehamilannya, penghinaan yang dia terima, kesedihannya selama ini, dia simpan sendiri. Dan itu semua karena kamu."
"Om-"
"Saya kasih kamu waktu 5 hari." Gufron memotong kata-kata Joddy pertanda dia tidak mau dibantah dan Joddy tahu itu. Maka, dia memilih diam.
Jadi, Gufron tahu jika Kana memang disakiti oleh orang? Dia tahu Kana sengaja dicelakakan orang?
"Kamu juga tahu kan beberapa tahun yang lalu dia mengalami kejadian yang sama? Bahkan lebih dari ini. Rasa sakit yang anak itu alami membuatnya semakin tertutup dengan kami. Dia tidak mau membebani kami. Sebenarnya saya tidak mau mengakui ini, tapi anak itu memang terlalu cinta sama pria bodoh sepertimu sehingga dia lebih percaya kamu ketimbang kami. " Tajam, dingin dan kaku saat Gufron mengatakannya. Seorang ayah yang mengesampingkan harga dirinya demi putri yang dicintainya hingga dia mengakui keberadaan pria yang dibencinya.
" Saya beri kamu waktu 5 hari untuk menemukan siapa pelakunya. Kalau dalam waktu 5 hari kamu tidak dapat menemukan pelakunya, saya akan bawa Kana ke tempat jauh. Lupakan Kana." Gufron mengintip Joddy dari balik kacamatanya. Joddy terlihat tenang. Tidak ada ekspresi takut atau semacamnya.
" Bagaimana jika saya bisa menemukan pelakunya kurang dari waktu yang Om kasih?" tantang Joddy yang ditanggapi Gufron dengan tawa mengejek. Menertawakan kepercayaan diri Joddy yang tinggi.
"Berapa hari? 4 hari? 3 hari?" tantang Gufron balik. Pria bodoh yang tingkat percaya dirinya tinggi. Tidak akan dia menemukan pelaku dalam waktu sebentar. Jangankan lima hari, sebulan pun Gufron yakin dia tidak bisa.
"Kurang dari 24 jam," balas Joddy dengan nada setenang mungkin. Tawa Gufron pecah seketika dia menganggap omongan Joddy itu hanya bualan belaka.
"Apa yang akan Om berikan jika saya bisa menemukan pelaku itu dalam waktu kurang dari 24 jam?" ulang Joddy mengabaikan Gufron yang sejak tadi menatapnya remeh.
"Saya akan carikan penghulu untuk menikahkan kalian berdua hari ini juga ."
Joddy tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk persegi berwarna merah lalu menyodorkan pada Gufron yang mengernyit bingung.
"Ini ada rekaman CCTV RS yang saya yakini sebagai pelaku. Karena dia masuk setelah Kana dan terlihat dia yang mengunci pintu toilet dengan cara mengganjalnya dengan gagang sapu. Ada juga rekaman saat pelaku berada di parkiran dan saya kenal mobil yang dikendarainya."Joddy menjelaskan dengan runtut membuat Gufron menganga tak percaya, dia termakan omongannya sendiri.
" Apa? "
__ADS_1
" Saya percaya anda adalah orang yang selalu menepati janji.
"Joddy tersenyum penuh kemenangan.
" Setelah 40 hari dari hari ini, saya akan segera menikahi putri, Om. Jadi, saya tunggu penghulu yang Om janjikan pada saya. "
Skak mat!
Dalam perjalanan hidup Gufron baru sekali ini dia merasa kalah. Tidak mungkin kan dia tidak menepati janjinya?
*
Joddy menghampiri Kana dan Maya yang terlihat sedang membujuk Kana untuk makan. Tapi wanita itu hanya diam dan menggeleng pelan.
"Masih tidak mau makan, Tan?" Joddy mendekati Maya.
"Iya, dia katanya mau pulang."
Joddy menatap Kana yang pandangannya menerawang ke arah Jendela rumah sakit.
"Biar saya yang suapi Kana, Tante istirahat dulu, Kanda dan Nea sedang makan di kafetaria." Joddy tersenyum tangannya terulur meminta mangkuk yang ada di tangan Maya.
Maya menatap Joddy, pria berkacamata mata itu terlihat lelah , ada warna hitam di bawah matanya yang terlihat jelas menandakan dia kurang tidur. Rambutnya juga berantakan, Maya dengar Ibunya juga sedang dirawat di rumah sakit yang sama dengan Kana sekarang.
"Ya, sudah. Coba saja, mungkin sama kamu dia mau." Karena ketika Kana kehilangan Azura, Joddy lah orang pertama yang bisa membuat Kana bangkit dari keterpurukannya.
Joddy mengangguk dan membiarkan Maya pergi.
"Dek, makan dulu yuk!" Joddy duduk di samping ranjang Kana
Sebelah tangannya yang bebas mengenggam erat tangan Kana.
"Aku mau pulang."
"Iya, tapi kamu harus makan dulu."
"Aku mau pulang."
Joddy menghela napas lalu meletakkan mangkuk di nakas. "Aku tahu kamu sedih, aku juga. Aku tahu kamu merasa bersalah, aku juga Kana. Tapi ini bukan salah siapa - siapa. Mungkin sudah takdir anak kita seperti ini dan dengan cara yang buat kita tidak mudah menerimanya." Joddy mengenggam tangan Kana mengusapnya pelan saat tidak sengaja menarik gelang yang digunakan Kana, Joddy melihat bekas sayatan di pergelangan tangan Kana. Melihat Itu hati Joddy terasa sakit. Benar kata Gufron, wanita ini sudah banyak mengalami kesedihan.
Kehilangan anak, kehilangan suami, dipermalukan, dihina dan sekarang dia harus kehilangan lagi.
Joddy mengecup lembut bekas sayatan itu. "Percayalah, inilah yang terbaik yang Allah kasih untuk anak kita, untuk kita." Dan dia tidak akan memberi kesempatan Kana untuk bersedih. Joddy akan selalu ada di samping Kana. Memberikan kebahagiaan pada wanita berwajah bayinya ini, hingga dia lupa caranya bersedih.
Kana menatap Joddy lalu menghambur kepelukannya."Laporkan Laras ke polisi, Kak. Aku mau dia di penjara." Kana mencengkram ujung kemeja Joddy menahan amarah saat bayangan wajah Laras melintas di pikirannya.
Joddy terdiam , jadi benar orang itu Laras. Wanita yang sudah menyakiti Kana adalah Laras. Sudah cukup bukti untuk membuatnya mendekam di penjara.
" Iya, pasti."
__ADS_1
*****