Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Too love


__ADS_3

Kana mendecih melihat Joddy yang kebingungan saat mengiris sesuatu. Setelah 'aktivitas cinta' mereka yang selesai di jam 8 pagi. Joddy berinisiatif membuat sarapan sehat untuk mereka berdua, Joddy rela berbelanja di supermarket yang dekat dari apartemennya dengan alasan agar Kana bisa beristirahat.



"Keburu kelaparan kalau begini," keluh Kana saat melihat Joddy bingung membersihkan udang.


"Lagian gak bisa masak aja sok-sokan beli udang," sindir Kana lalu mencepol rambutnya asal, memperlihatkan leher putih mulusnya yang dihiasi banyak kiss mark hasil perbuatan Joddy.


Pria berusia matang itu menelan ludah saat melihat leher jenjang istrinya. Kana terlihat seksi dengan kemeja kebesaran miliknya. Koper Kana ketinggalan di mobil dan Joddy terlalu malas untuk mengambilnya, padahal bisa saja Joddy mengambilnya saat belanja tadi. Tapi dia sengaja. Biar saja Kana tidak memakai kemejanya. Toh, seharian ini dia akan mengurung istrinya di dalam apartemen. Mumpung Ken dititipkan.


"Sini!" Kana mengambil alih pisau kecil di tangan Joddy membuat fokus Joddy kembali setelah dia memikirkan hal-hal yang enak-enak.


"Ah, istriku multitalent banget sih! Segalanya bisa. Di dapur oke, di ranjang apalagi," bisik Joddy mengecup pundak Kana lalu memeluknya erat.


"Kamu mau sarapan nasi sama garam aja, Kak?" Kana menyikut perut Joddy kesal. Dia heran pria ini benar-benar tidak ada lelahnya. Padahal mereka hari ini sudah melakukan tiga kali dan itu dengan durasi yang panjang. Membuat pinggang Kana berasa rontok.


"Habisnya kamu wangi. Aku suka," bisik Joddy mencium pipi Kana lembut. Lalu memeluknya.


"Na, aku kayaknya benar-benar gak bisa berhenti. Gimana dong?" bisik Joddy mencium pipi Kana berulangkali sampai wanita cantik itu kegelian.


"Ihh, makan dulu, Kak! Aku lapar banget." Kana terkikik kegelian dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Joddy.


Joddy tertawa lalu melepas pelukannya. "Delivery aja, yuk?" usul Joddy.


Kana melotot ke arah Joddy. "Terus ini?"


"Udah taruh aja di kulkas. Besok dimasak," sahut Joddy santai lalu bergegas mengambil ponselnya untuk memesan makanan mengabaikan tatapan Kana yang menghunus ke arahnya.


*


Kevin menatap Joddy dengan tatapan menyelidik. Dia sengaja datang ke apartemen Joddy untuk meminta tanda tangan. Padahal Joddy masih dalam masa cuti. Tapi tetap saja harus berurusan dengan pekerjaan.


Dilihat-lihat Bos-nya ini kelihatan beda. Lebih segar, lebih bercahaya wajahnya. Apa karena efek pengantin baru? Lalu ke mana istri si bos? Kenapa tidak kelihatan. Kevin melirik ke segala arah mencari keberadaan Kana.


"Nih, pergi sana!"


Kevin tersentak kaget saat Joddy meletakkan map di atas meja.


"Gak dikasih minum dulu, Bang?" Kevin belum sempat makan siang, dia harus dapat tanda tangan Joddy sebelum jam dua siang, kalau tidak bisa habis dia dicaci maki karyawan lain karena transferan mereka telat.


"Gue lagi gak terima tamu. Lo tahu kan gue masih masa cuti," sahut Joddy menatae Kevin dengan tangan dilipat di depan dada, jiwa bossy-nya muncul.


Kevin mendecih lalu mengambil map berwarna hijau itu dan memasukkannya ke dalam ranselnya. "Kalau gak demi anak - anak mo pada gajian, males banget gue kemari," gerutu Kevin melirik Joddy sebal.


"Udah, sana balik kantor. Gue mau balik ngamar dulu." Joddy mengedikan dagunya ke arah pintu keluar, Kevin mendecih lalu beranjak dari duduknya.


"Alah, palingan juga kalah sama Kana!" ledek Kevin, Joddy kan perjaka tua yang telat nikah mana bisa dia mengalahkan Kana yang sudah pro lebih dulu.


"Sok tau!" Joddy tersenyum sombong. Dia ingat betul semalam dia bisa melakukan kewajibannya dengan 'sempurna', dia ingat bagaimana Kana mendesah nikmat di bawahnya. Dia memang amatir, tapi dalam semalam dia bisa menjadi pro.


"Ingat ya, Bang. Kana itu masih muda ibarat buah dia lagi matang-matangnya, dia lagi semangat-semangatnya. Butuh lawan yang tangguh. Lo harus berjuang keras dengan ke amatir anda lo itu." Kevin terkikik geli melihat perubahan raut wajah Joddy.

__ADS_1


"Ckk, muka lo udah mesum gitu, Bang! Gue cabut lah!" Kevin bergegas pergi dia sudah tidak tahan dengan tatapan Joddy yang benar-benar mengusirnya pergi.


*


Setelah Kevin pergi, Joddy mencari keberadaan Kana. "Nonton apa sih? Serius amat?" Joddy menyusul Kana di balkon kamarnya setelah mengantar Kevin keluar. Dia sengaja menyuruh Kana tetap di kamar, dia tidak mau pria lain melihat Kana dengan penampilan mengairahkan seperti ini.


"Video viral."


Joddy duduk di samping Kana yang sedang asik melihat ponselnya dengan kaki diangkat dan diletakkan di atas meja kaca. Joddy menelan ludah saat melihat kulit paha Kana yang putih mulus. Astaga, hanya melihat paha Kana saja dia sudah blingsatan.


"Emang tentang apa?" Joddy merangkul bahu Kana lalu dengan pelan memindahkan kaki Kana bertumpu pada kedua pahanya. Mengelus pelan kulit sehalus pualam itu, dengan maksud 'pura-pura' memijit. Semesum itu dia sekarang.


"Ini seorang istri yang melabrak suaminya di jalan karena ketahuan selingkuh."


"Oh," komentar Joddy tanpa menatap Kana, pandangannya tetap mengarah pada paha Kana yang sekarang sudah dia eksplor tanpa disadari oleh si empunya kaki.


"Menurut Kakak gimana?"


"Apa?" Setahu Joddy, istrinya ini jarang sekali ke salon tapi kenapa punya kulit sehalus dan seputih ini ya?


"Suami yang selingkuh."


"Oh, gak papa." Jujur saja, Joddy tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan Kana. Pikiran dia hanya fokus pada kaki Kana saja, makanya dia hanya menjawab asal pertanyaan yang Kana ajukan itu.


Tentu saja sang ratu kesal mendengar apa jawaban Joddy tersebut. "Ihh, kamu tuh dari tadi paha aku aja yang diperhatiin!" Kana memukul pelan tangan Joddy yang sejak tadi mengerayangi pahanya. Lalu memindahkan kakinya menjauh dari sang suami . Membuat Joddy mendesah kecewa.


"Yah! Kok kamu marah?"


Mamp*s!


Joddy menggaruk tengkuk lehernya bingung. Dia tadi tidak mendengarkan apa yang Kana katakan, terlalu asik mengr*pe-gr*pe istrinya itu.


"Emangnya apa?"


Kana mendecih. "Tuh, pikirannya mesum terus sih jadi diajak ngomong gitu."


Joddy terkekeh lalu mengecup pipi Kana. "Salah kamu sendiri bikin aku gak bisa berhenti."


"Ihh, sanaan!" Kana mendorong pundak Joddy menjauh darinya.


Dia kesal dengan jawaban asal suaminya itu.


"Kok didorong sih?"


"Habis tadi kamu ngedukung pria berselingkuh!"


Joddy melongo. "Hah? Kapan aku bilang mendukung?"


"Tadi waktu aku tanya 'menurut kamu gimana pria berselingkuh?' Kamu jawab, 'gak papa' apa itu namanya kalau bukan mendukung?"


Joddy mengumpat dalam hati. Tadi dia hanya asal menjawab, dia tidak sepenuhnya mendengar apa yang Kana tanyakan.

__ADS_1


"Tadi aku asal jawab, Na. Aku tidak terlalu mendengar apa yang kamu tanyakan."


Kana menatap Joddy tajam. "Masa?"


"Iya, kalau itu yang kamu tanyakan tentu saja aku tidak setuju." Joddy terdiam sejenak dia teringat ayahnya yang sudah berselingkuh.


"Menurut Kakak, kenapa para pria itu tega melakukan itu?"


Joddy mengenggam tangan Kana. " Banyak alasan mengapa pria berselingkuh . Bisa jadi mereka sebenarnya tidak memilih melakukan itu tapi pemahaman mereka soal komitmen yang rendah . Mereka tidak cukup dewasa dan tidak memiliki pemahaman yang baik soal komitmen dan itu menjadi alasan mereka berselingkuh ." Pandangan Joddy menerawang, dia teringat rumah tangga orangtuanya yang berantakan karena orang ketiga, dan sungguh Joddy tidak mau mempunyai pengalaman yang sama, dia akan menjaga Kana dan Ken sampai dia tidak mampu lagi.


" Termasuk Ayah?"


Joddy menatap Kana, dia sedikit kaget dengan pertanyaan Kana itu.


"Menurutmu apa alasan Ayah melakukan itu?" Kana bertanya dengan hati-hati. Sebenarnya dia was-was, takut Joddy tersinggung dengan pertanyaannya tapi Kana penasaran saja dengan pendapat Joddy. Kana juga ingin tahu apakah suaminya berpotensi melakukan hal yang sama.


" Kedekatan emosional. Ayah dan Ibu kehilangan itu. Mereka memang tinggal serumah tapi kedekatan emosional mereka hilang. Mereka hanya sebatas melakukan kewajiban sebagai pasangan suami istri. Ayah mungkin kehilangan sosok Ibu yang dulu tapi dia tidak mengungkapkannya secara langsung pada Ibu, takut Ibu tersinggung atau marah, ya karena itu tadi mereka kehilangan kedekatan emosional. "


" Dan Ayah mencari itu pada wanita lain?"


" Mungkin." Joddy mulai tidak nyaman dengan topik mereka. Sejujurnya, Joddy sedikit kecewa karena Ibunya tidak mengizinkan Heru mendampingi Joddy di hari pernikahannya kemarin. Heru hanya datang sebagai tamu dan duduk bersama tamu undangan lainnya, terus terang saja Joddy sedih melihat Itu.


"Kakak tidak akan melakukan hal yang sama, kan?"


Itu poin penting dari topik yang mereka bicarakan, Joddy tahu ujung - ujungnya Kana akan menanyakan ini.


"Aku akan menyerahkan hidupku sepenuhnya pada kamu dan Ken dan anak-anak kita lainnya. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, tapi yang pasti aku akan jaga hati aku buat kamu, wanita yang membuatku sempat berpikir kalau aku adalah seorang pedofil." Joddy terkekeh lalu memeluk Kana menghujani wanita itu dengan ciuman yang bertubi-tubi.


"Amin. Tapi kalau kamu selingkuh aku tidak akan berbuat apa - apa." Kana melepas pelukan Joddy lalu mengambil ponselnya kembali dengan santai.


"Kenapa begitu?"


"Karena aku punya seorang ayah dan kakak yang bisa diandalkan. Seperti kita tahu, Papa mantan atlet tembak dan Bang Kanda sabuk hitam, " sahut Kana cuek dia tidak tahu Joddy menelan ludah saat mendengar kata - katanya barusan.


"Kamu sendiri gimana? Wanita sekarang melakukan emansipasinya dengan baik, banyak juga kan kasus di luar sana berselingkuh. " Joddy tak mau kalah, dia tidak mau dipojokan secara gender di mana kaumnya selalu saja salah.


"Aku tidak ada niatan begitu. Kamu tahu sendiri dari zaman masih remaja kalau pacaran aku selalu setia. Kecuali -" Kana menggantungkan kalimatnya menatap Joddy dengan senyum miring. Membuat Joddy was-was. Kata - kata Kevin tadi terngiang-ngiang di telinganya membuat Joddy tidak tenang saja.


" Kecuali? "


" Kecuali kamu ingkar atas apa yang kamu katakan tentang kesetiaan tadi."Kana tersenyum lalu menangkup kedua sisi wajah Joddy, menatapnya lekat-lekat.


" Biasanya wanita berselingkuh karena dia merasa tidak bahagia dan diabaikan pasangannya. "Kana mengusap belakang kepala Joddy.


" Tapi aku yakin, kamu tidak akan pernah mengabaikan aku karena bucin kayak kamu mah, gak bakal bisa berpaling dariku." Kana tersenyum geli lalu mengecup sudut bibir Joddy. Hanya sebuah kecupan ringan, tapi bukan Joddy kalau tidak terpancing dengan tindakan Kana tersebut.


" Tepat. Aku memang sudah bucin sama kamu. Too love, too happy! " bisik Joddy tangannya merangkul pinggang Kana lalu menciumnya dengan rakus seakan-akan Kana adalah makanan yang lezat.


"Kak, kasih jeda. Makanan kita di perut aja belum tercerna," bisik Kana dengan napas terengah - engah.


"Justru itu, kita buat gerak biar mereka tercerna dengan baik." Joddy kembali mencium Kana dalam lalu tiba-tiba mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam kamar menuju nirwana untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


*******


__ADS_2