
Seperti biasa setiap akhir pekan Kana selalu mengajak Ken jalan - jalan. Tapi bedanya kali ini mereka tidak hanya bertiga bersama Mbok Dar. Tapi sekarang ada Jihan, Ibu Joddy yang menawarkan diri untuk pergi menemani Kana dan Ken. Setelah selesai jalan-jalan Jihan mengajak Ken dan Kana mampir kerumah Jihan.
Kana jelas tidak menolak dan Joddy tentu saja sangat senang melihat perubahan ibunya yang drastis.
Kana tersenyum melihat kedekatan Jihan dan Ken. Sudah terlihat seperti nenek dan cucu saja.
"Hei, senyum - senyum aja ngeliatin Ibu sama Ken?" Joddy yang sejak tadi asik menyantap makanannya menatap Kana yang sibuk mengawasi Ken dan Jihan yang sedang bermain di taman belakang rumah orangtua Joddy.
"Aku tuh gak nyangka aja mereka bisa sedekat itu, maksudnya Ken itu anaknya sulit dekat sama orang baru."
"Masa sih? Sama aku pertamakali ketemu langsung lengket.".
"Itu karena dia udah kemakan sama bujuk rayu kamu!" sambar Kana.
"Kalau gitu sama dong kayak bundanya."
Kana menatap Joddy sekilas. "Hitung aja berapa tahun kamu harus nunggu sampai bisa pasang cincin ini di jariku?" Kana mengedikan dagu ke arah cincin di jari manisnya.
Joddy tersenyum masam lalu meneguk minumannya. Benar juga, untuk sampai di titik ini saja perlu perjuangan yang keras. Tidak mudah menarik hati Kana. Apalagi Joddy juga yakin hati Kana masih ada nama Adrian di sana. Joddy tidak mempermasalahkan itu. Karena bagaimanapun Adrian pernah menguasai hati Kana.
"Tapi aku penasaran sama kamu, Kak. Dari kapan kamu suka sama aku?" tanya Kana tangannya sibuk mengaduk - aduk kuah sop hasil masakan Mbok Asih, ART Jihan.
Joddy menopang dagunya lalu pandangannya lurus ke arah Kana. "Sejak siang di mana kamu pulang sekolah dengan pipi chubbymu yang kemerahan karena terkena panas, sambil merajuk karena Kanda tidak menjemputmu."
Kana menatap Joddy tak percaya." Sebentar, kamu suka sama aku sejak aku SMP Kak?Bukannya kamu sering main ke rumah waktu aku masih SMP? "
" Iya, tapi benar-benar suka kamu udah kelas 3 SMA dan pacaran sama siapa itu? Amar ya? "
Kana terkekeh." Iya, Amar. Kenapa gak bilang aja kalau naksir?"
"Kakak kamu pernah bilang kamu masih kecil buat pacaran. Giliran udah pantes dipacarin malah udah dilamar orang lain. Ya, udah gigit jari deh."
"Syukurin!" ledek Kana. "Tapi bukannya kamu pacarnya banyak, Kak?"
"Orang ngeliatnya begitu, padahal mereka hanya sekedar teman. Kamu juga tahu sendiri aku sama siapa aja ramah."
Kana mencibir, ramah dan PHP nyaris sama. Kana bahkan masih ingat apa yang dikatakan Laras sebelum dia pergi ke Jerman. Bertahun-tahun dia mencoba menarik perhatian dan mencoba mengambil hati Joddy tapi tidak pernah berhasil. Kana yakin Laras adalah salah satu korban PHP Joddy.
"Kamu sendiri gimana?" Joddy balik menatap Kana.
"Aku kenapa?"
.
"Satu pertanyaan untuk pertanyaan yang sama. Sejak kapan suka sama aku?"
Kana berdehem, dia sedikit malu mengingat di mana dia menyukai pria yang jauh lebih tua darinya itu. "Sejak Kakak beliin aku mantel bulu."
"Itu kan kamu udah SMA kelas 3 kan ya? Kado ulang tahun kamu ke-17 tahun yang kamu mau ke Korea tapi gak jadi?"
__ADS_1
Kana cemberut saat Joddy mengingatkannya tentang masa di mana Kana tergila-gila pada Lee Min Ho o artis Korea yang saat itu sedang viral-viralnya, sampai - sampai dia berniat membuat paspor dan menabung untuk pergi ke negara pria tampan itu, sayangnya, semua gagal karena Gufron tidak mengizinkannya.
"Kenapa kamu gak jujur naksir aku juga?"
"Karena kupikir kamu lebih menyukai wanita dewasa, apalah aku yang bedakkan aja masih pakai bedak bayi."
Joddy terkekeh lalu mengambil tangan Kana yang sejak tadi sibuk mengaduk makanan tanpa berniat menyantapnya. "Itu masa lalu. Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Dengan siapa aku dan kamu pernah menjalani kehidupan, jadikan itu kenangan dan pelajaran hidup. Aku tidak akan memintamu untuk melupakan Adrian, karena dia ayah Ken dan selamanya akan tetap begitu. Tapi, aku masa depan kamu dan kamu harus melanjutkan hidup bersama masa depanmu ini. Sampai sini paham? " Joddy mengecup punggung tangan Kana lembut membuat semburat merah di pipi Kana terlihat Jelas. Joddy suka itu. Pipi merah Kana lah yang membuatnya jatuh cinta pertama kali dengan gadis yang 8 tahun lebih muda darinya itu.
" Bunda sama Om pacalan teluss! "
Sontak Joddy dan Kana melepaskan genggaman tangan mereka lalu menatap Ken dan Jihan dengan canggung. Untung, mbok Dar dan mbok Asih sedang di dapur kalau tidak, makin malah mereka.
"Kok Om manggilnya?Mulai sekarang kamu manggilnya Daddy. Seperti yang Oma ajarin tadi. " Jihan meralat panggilan Ken.
"Om Daddy?" Bocah 5 tahun itu mengernyit bingung membuat Jihan dan yang lainnya terkekeh geli.
"Daddy, Om-nya gak usah!" sambar Jihan.
"Ken manggil Om gak papa kok, sesuka Ken saja." Joddy mengangkat tubuh Ken lalu memangkunya.
"Kata Oma, Om mau jadi Ayahnya Ken ya?"
Joddy dan Kana saling berpandangan lalu mengangguk. "Iya, Ken keberatan gak, kalau Om jadi Ayahnya Ken. Tinggal bareng Ken bareng Bunda?"
"Mau! Ken sayang Om Daddy." Ken memeluk leher Joddy lalu mengecup pipinya lembut.
"Om, juga sayang banget sama Ken," balas Joddy mencium balik Ken sampai kegelian.
Dasar Ibu ini anak kecil sudah didoktrin! batin keduanya dengan gemas.
" Bu, Ibu!" Seluruh perhatian teralih pada Mbok Asih yang lari tergopoh-gopoh mendekati mereka.
"Ada apa, Mbok?" tanya Jihan keheranan.
"Maaf, Bu. Saya sudah berusaha melarangnya." Mbok Asih tertunduk ketakutan membuat Jihan dan yang lainnya mengernyit bingung.
"Maksudnya apa, Mbok?" tanya Jihan keheranan, dan pertanyaan mereka terjawab saat seorang pria berjalan dengan santai ke arah mereka.
Perubahan wajah Jihan terlihat dengan jelas. Wajah yang semula ceria berubah muram saat langkah lebar pria paruh baya itu mendekati mereka.
" Sedang pada kumpul ya?"
" Ngapain kamu ke sini?" ketus Jihan tak suka.
Heru menatap Joddy dan Jihan lalu pandangannya bertemu dengan Ken. "Apa itu anak kamu?" tanyanya pada Kana yang mengangguk pelan itu.
"Jawab, untuk apa kamu ke sini?!" seru Jihan merasa diabaikan.
"Aku pulang, ini masih rumahku juga kalau kamu lupa!"
__ADS_1
Jihan menatap Kana lembut lalu berkata, "Tolong ajak Ken melihat - lihat kamar Ferddy di lantai tiga banyak koleksi gundamnya."
Kana tertegun sejenak lalu mengangguk dan buru-buru membawa Ken pergi.
"Kenapa kamu tidak bilang Joddy lamaran? Kenapa acara sepenting itu kalian tidak memberitahuku?"protes Heru dengan wajah marah.
Jihan tertawa sarkas lalu menatap Heru tajam." Apa pedulimu? Acara itu memang penting untuk kami, bukan untukmu!"
" Jihan aku masih suami kamu dan sampai kapanpun Joddy dan Ferddy itu anakku. Semua hal yang menyangkut masa depan mereka aku juga harus tahu!"
"Mereka bukan urusan kamu semenjak kamu memilih pergi dengan wanita jahat itu! Bahkan ketika kalian dengan teganya menjebloskan aku ke penjara dan wanita itu membayar orang untuk menyakitiku di dalam sana, kamu sudah bukan suamiku lagi!Bukankah kamu juga bilang mau menceraikanku waktu kita bertemu di kantor polisi?"
"Aku minta maaf untuk itu. Aku terlalu dibutakan oleh-"
"Cukup Heru! Pergi dari rumahku. Rumah yang ayahku berikan sebagai hadiah pernikahanku dulu. Pergilah, bersama gundikmu itu!" Jihan benar-benar terlihat sangat marah, tangannya mengepal kuat. Tatapan matanya tajam menusuk.
"Jihan aku minta maaf. Aku benar-benar khilaf."
Jihan membuang ludah ke samping, dan itu sungguh melukai harga diri Heru sebagai seorang suami. "Kamu bilang khilaf? Dua tahun kamu berselingkuh dengan gundik itu sampai hamil dan bahkan kamu berhasil memanipulasiku untuk menutupi kebejatanmu dengan niat menjebak anakmu sendiri! Keterlaluan kamu Heru!"
"Oke, aku akui salah. Aku minta maaf untuk itu. Tolong beri kesempatan aku untuk memperbaiki semua, demi Joddy, demi Ferddy. Anak-anak kita!" Heru mengalihkan tatapannya pada Joddy yang sejak tadi hanya diam membisu melihat drama kedua orangtuanya.
"Mereka yang kamu sebut 'anak-anak' itu sudah besar mereka sudah tidak butuh kamu lagi!Jadi sekarang pergilah. Terimakasih untuk kunjungannya," usir Jihan.
Heru menghela napas lalu menatap Joddy dan Jihan bergantian. "Laras pergi ke Jerman tanpa berpamitan denganku."
Jihan tertawa lalu menatap Heru kasihan. "Lalu kamu datang ke mari dan berharap aku menerima kamu kembali? Silahkan bermimpi, Tuan Heru." Jihan tersenyum sinis lalu bergegas pergi meninggalkan Heru dan Joddy yang sejak tadi hanya diam.
"Joddy tunjukkan padanya pintu keluar, sepertinya dia lupa," teriak Jihan tanpa membalikkan badannya.
"Ibu kamu tidak akan mudah mudah memaafkan Ayah," desah Heru lelah.
Joddy mengamati pria paruh baya di depannya. Penampilannya memang sedikit berantakan. Tidak seperti biasanya. Pakaiannya pun terlihat kusut tidak disetrika beda dengan saat bersama ibunya. Semua kebutuhan remeh temeh selalu disediakan Jihan dengan baik.
Pria yang dulu dihormatinya tempat pertama kali Joddy mengenal apa itu yang namanya tanggung jawab berubah menjadi sosok yang 'menyeramkan' di mata Joddy.
"Bukan hanya Ibu, aku dan Ferddy pun sama."
Heru menatap Joddy tak percaya. Anak penurut yang dulu selalu menuruti perintah orangtuanya sepertinya telah berubah. Heru tidak menemukan lagi tatapan teduh dan hangat di kedua mata putranya ini.
"Ayah harus bagaimana, Joddy?"
"Seharusnya Ayah pikirkan resiko sebelum melakukan itu semua, sekarang silahkan berjuang keras membuktikan pada kami kalau Ayah memang layak untuk dipertahankan Ibu. Karena seperti yang Ayah tahu, memaafkan itu mudah tapi tidak untuk melupakan."
Heru menunduk, menatap lantai marmer di bawah kakinya.
" Aku tidak perlu mengantar Ayah kan? "
Joddy tersenyum lalu meninggalkan Heru begitu saja.
__ADS_1
******