
Pertama kali yang Kana lihat saat membuka matanya adalah ruangan yang serba putih dan bau cemara menyeruak di hidungnya. Kana menatap sekeliling, hanya ada seorang wanita berpakaian serba putih sedang mengecek botol infus. Hah? Botol infus? Itu berarti Kana ada di rumah sakit. Sebentar...sebentar seingat Kana dia sedang bertengkar dengan Joddy kemudian dia pingsan. Jadi, Joddy membawanya ke rumah sakit?
"Sudah sadar Bu? Gimana? Ibu sudah merasa baikan?" tanya suster dengan name tag Wulan di dadanya.
"Saya kenapa ya Sus?"
"Anda pingsan, Bu. Tekanan darah rendah dan dehidrasi," jelas suster tersenyum ramah. Lalu mengambil kotak berisi peralatan medis.
"Maaf, Bu. Saya ambil sampel darah ya, buat di tes HB nya."
Kana mengangguk dan membiarkan suster mengambil sampel- darahnya.
"Siapa yang bawa saya ke sini,Sus?" tanya Kana sesudah suster selesai mengambil sampel darahnya.
"Suami Ibu."
Kana mengernyit." Suami?"
Belum sempat suster itu menjawab pintu kamar terbuka, seorang pria berkacamata dengan kantong plastik di tangannya muncul.
"Itu suaminya, Bu!" seru suster itu lalu menyapa Joddy dan bergegas pergi setelah mengatakan hasil lab akan akan jadi beberapa menit kemudian dan dokter akan segera memeriksa ulang Kana.
"Hai," sapa Joddy tersenyum manis. Kana mengalihkan pandangannya saat mata mereka bertemu. Ah, sial kenapa jantung Kana berdegup kencang seperti ini? Jika terus-terusan begini maka benteng pertahanannya selama ini bisa hancur berantakan.
"Makan ya, aku belikan rendang hati sapi sama capcay. Dokter bilang tekanan darah kamu rendah dan kemungkinan HB kamu juga rendah. Aku searching di internet hati sapi bisa cepat menaikan HB, ini juga aku beli apel sama makanan buat Ken. Setelah infus kamu habis semoga kita bisa pulang." Joddy dengan cekatan mengeluarkan stereofoam kecil berisi makanan dengan alas daun pisang. Kana menelan ludah saat mencium aroma rendang hati sapi yang asapnya masih mengepul.
Entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa lapar padahal biasanya melihat makanan saja perutnya sudah bergejolak akan mengeluarkan isinya.
"Taruh saja. Aku bisa makan sendiri!"
"Tangan kanan kamu kan sedang diinfus. Aku suapin ya?"Joddy menyodorkan sendok di depan mulut Kana. Bau bumbu rendang langsung tercium, anehnya Kana tidak merasa mual. Apa karena anak ini tahu jika yang membawakan makanan adalah ayahnya?
"Aku bisa makan sendiri!" Kana menjauhkan tangan Joddy dengan cara menepisnya kasar. Joddy terpaku saat mendapat penolakan itu, tapi dia tidak mempermasalahkannya. Rasa sakit Kana pasti lebih besar
sakit yang dia rasakan karena penolakan Kana.
"Untuk apa kamu mengaku sebagai suamiku?" Kana menatap tajam pada Joddy.
"Mereka butuh data tentang kamu. Tidak mungkin aku bilang kamu seorang -" Ah, sial! Mulut Joddy kadang memang tidak bisa dia kontrol, lihatlah wajah muram Kana lah yang membuat Joddy urung melanjutkan kata-katanya
"Seorang janda hamil di luar nikah." Kana membuang muka begitu dia selesai bicara.
__ADS_1
Joddy memghela napas lalu meraih tangan Kana yang bebas dari jarum infus, sayangnya, masih sama Kana menepis tangan Joddy menolak keberadaannya.
"Kita buat kesepakatan. Kamu makan aku suapi dan aku akan menceritakan apa yang sudah terjadi. Bagaimana?" Lebih baik begini, Joddy tidak mau anak yang ada dalam kandungan Kana kenapa-kenapa. Dokter sudah mewanti-wanti pada Joddy agar Kana menjaga kandungannya mengingat dia punya riwayat keguguran anak pertamanya.
Kana terdiam sejenak menimbang tawaran Joddy. Dia lapar tapi dia gengsi untuk makan di depan Joddy. "Terserah." Ah, kali ini biarin sajalah dia mengesampingkan harga dirinya. Perutnya lapar dan dia memang sedang ingin makan rendang itu.
Joddy tersenyum lalu menyodorkan sendok yang tadi ditolak Kana. Kana menerima suapan Joddy lalu mengunyahnya perlahan. Ini enak sekali!
"Lagi!" Kana tanpa sadar meminta suapan keduanya pada Joddy padahal masih ada sedikit makanan di mulutny.
Joddy tersenyum geli. "Enak ya?" tanya Joddy setelah berhasil memberikan suapan keduanya, tanpa sadar Kana mengangguk dan tersenyum sejenak dia lupa kalau sedang marah pada Joddy. Dan begitu dia sadar, Kana langsung mengubah raut wajahnya yang tadinya tersenyum menjadi muram kembali.
"Aku sudah punya semua bukti yang menunjukkan malam itu bukan Laras yang bersamaku, tapi kamu." Joddy memulai ceritanya, tangannya dengan gesit menyuapkan makanan ke mulut Kana.
"CCTV di apartemen membuktikan semuanya. Laras datang pagi hari. Entah apa yang kalian bicarakan kemudian dia pergi. Mungkin dia melihat kondisi kita dan punya ide untuk menjebakku dengan mengundang pria lain setelah kamu pergi untuk membuat bukti seolah-olah aku dan dia melakukan perbuatan itu. Setelah dia yakin cukup bukti dia menelepon Ibu."
"Untuk apa dia melakukan itu?"
"Untuk menutupi kebusukannya."
Kana mengernyit tak mengerti.
"Ternyata dia sudah hamil sebelum kejadian aku mabuk saat itu. Ayah dari anak itu Ayahku." Tatapan Joddy menerawang ke luar jendela.
Joddy mengangguk. "Mereka menjalin hubungan di belakang Ibu dan itu sudah berjalan selama 1 tahun, entah bagaimana bisa Ayah yang dulu begitu mencintai Ibu berubah seperti itu." Joddy memberikan suapan terakhirnya pada Kana.
"Dia ingin menjebakku agar aku menikah dengannya mengaku sebagai ayah dari anak yang dia kandung dan perselingkuhan mereka bisa aman."
Kana terdiam tak percaya dengan apa yang baru saja Joddy ceritakan padanya."Bagaimana hubungan Ayah dan Ibu sekarang?"
"Ayah pergi dengan Laras, dia lebih memilih wanita itu dibanding Ibu. Ibu masih sakit hati, setiap malam dia menangisi Ayah. Dia sangat terpukul dengan apa yang dia alami. Hatinya hancur melihat pria yang puluhan tahun dia dampingi mulai dari nol lebih memilih wanita lain. Jadi, atas nama Ibu aku benar-benar minta maaf Kana. Maafkan atas kesalahan yang Ibu lakukan ke kamu. Dia sudah mendapatkan duakali lipat balasan dari apa yang dia lakukan ke kamu. Dia kehilangan suami dan kehilangan kebahagiannya."
Kana hanya diam menunduk dia binggung apakah bisa dia memaafkan Jihan setelah semua hal yamg dia lakukan pada Kana.
"Kamu tidak harus memaafkannya sekarang Kana. Aku tahu rasa sakit yang kamu rasakan tidak mudah hilang begitu saja." Joddy meletakkan kotak makanan yang sudah kosong di atas nakas lalu dengan hati-hati mengenggam tangan Kana. Joddy was-was Kana akan menolaknya lagi. Tapi ternyata tidak ada penolakan dari Kana.
"Saat ini aku cuma minta, tolong kasih aku kesempatan untuk menebus kesalahan aku ke kamu, Kana. Biarkan aku menjaga kamu, Ken dan anak kita." Joddy menatap ke arah perut Kana yang terlihat masih rata.
Kana menatap Joddy lalu melepaskan tangannya dari genggaman Joddy." Tidak semudah itu," kata Kana lirih tepat saat pintu kamar terbuka dan seorang dokter masuk ke dalam kamar dengan seorang suster di belakangnya.
"Selamat sore Bu. Gimana sudah enakkan?"tanya dokter
__ADS_1
Kana mengangguk pelan.
"Kita ke ruang periksa ya, kita USG janinnya. Dokter Gina tersenyum lalu meminta suster membantu Kana beranjak dari duduknya.
Sesampai di ruang periksa Kana diminta berbaring. "Lho mana suaminya kok gak ikut masuk?" tanya Dokter Gina saat melihat Joddy hanya menunggu di luar.
Kana tergeragap saat dokter meminta suster memanggil Joddy.
"Masih grogi ya Pak? Ini kan sudah anak ketiga,"goda dokter Gina begitu melihat Joddy masuk dengan salah tingkah.
"Nah, kita lihat ya. Dihitung dari hari terakhir Ibu haid, usia kehamilan Ibu sekitar 8 minggu. Ukuran janinnya sekitar 22mm sudah mulai terbentuk wajah, hidung dan anggota tubuh yang lain." Dokter Hera menggerak-gerakkan probe di permukaan kulit Kana. Kana melirik Joddy yang terlihat takjub saat melihat layar USG bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.
Melihat itu, hati Kana menjadi tersentuh. Dulu waktu hamil Azura pun Kana melihat Adrian juga berkaca-kaca saat melihat hasil USG. Apakah memang setiap ayah akan bereaksi yang sama setiap melihat calon anak pertama mereka?
"Itu anak saya, Dok?" tanya Joddy dengan ekspresi takjub dan mata yang berkaca-kaca.
Dokter Gina mengernyit keheranan. "Bukannya ini anak ketiga Bapak? Harusnya sudah tidak kaget."
Joddy gelagapan lalu menatap Kana dan dokter salah tingkah. "Soalnya anak yang kedua jaraknya cukup jauh, Dok. Jadi, ya saya sudah lupa." Joddy berusaha setenang mungkin agar dokter tidak membahasnya lagi.
"Oh, seperti itu." Dokter Gina tersenyum lalu menatap kedua pasangan itu bergantian." Janinnya sehat ya Pak, Bu. Detak jantung sudah terdengar dan air ketubannya juga normal. " Dokter selesai melakukan USG lalu mencetak hasilnya dan menyerahkan pada Joddy yang langsung menerimanya dengan senyum lebar. Kana merapikan baju dibantu suster yang dengan telaten membantu Kana bangun.
"Hanya saja, mohon ya Bu diperhatikan pola makanya. Tekanan darah Ibu rendah juga sesuai hasil lab kadar HB Ibu juga kurang. Makan makanan yang mengandung zat besi tinggi ya Bu. Sayuran hijau, buah juga hati sapi atau ayam bisa untuk meningkatkan HB."
"Ada pantangan makan, Dok?" tanya Joddy.
"Sebenarnya tidak ada pantangan. Hanya saja memang untuk makanan-makanan tertentu harus diperhatikan porsinya. Seperti durian itu boleh tapi dengan porsi cukup saja." Dokter Gina tersenyum.
"Selain itu untuk aktivitas seksualnya juga tetap boleh lhoo," imbuh Dokter Gina membuat Joddy tersedak ludahnya sendiri wajahnya merah semerah tomat. Kana memilih menunduk menahan malu.
"Tapi mohon diperhatikan gaya dan ritmenya ya,Pak. Jangan pakai gaya patah-patah apalagi ngebor karena masih rentan masih trimester pertama." Dokter Gina semakin bersemangat menggoda, membuat Joddy salah tingkah.
"Baiklah, ini saya tuliskan resep vitaminnya silahkan ditebus di apotek. Ibu sudah boleh pulang karena infusnya sudah habis. " Dokter Gina tersenyum ramah lalu berpamitan untuk memeriksa pasien berikutnya.
"Dek,
foto USGnya boleh buat aku ya?" tanya Joddy tanpa menatap Kana dan fokus pada hasil USG yang sejak keluar dari kamar periksa sampai mereka berada di dalam mobil yang sengaja Joddy sewa selama di Jogja, pandangan Joddy tak lepad dengan kertas itu masih saja takjub dengan hasil USG itu.
Tanpa sadar Kana tersenyum, hatinya terasa menghangat saat Joddy menatap selembar kertas itu dengan takjub. Apakah ini pertanda hatinya yang semula dia buat beku sudah mulai mencair?
"Boleh."
__ADS_1
Joddy tersentak kaget saat mendengar suara lembut Kana dia lebih terkejut lagi saat Kana tersenyum ke arahnya. Apakah ini pertanda Kana-nya sudah kembali?
****