
Joddy terperanjat kaget saat melihat Kana membangunkannya. Bukan karena kaget dibangunkan tapi Joddy tak percaya saat melihat Kana menggunakan masker sewaktu membangunkannya.
Sebau itukah dia sampai-sampai Kana harus menutup hidung dia harus menyemprotkan parfum sampai setengah botol tapi anehnya tetap saja Kana menolak didekati olehnya. Joddy jadi berinisiatif memeriksakan Kana ke dokter, siapa tahu memang indera penciumannya terganggu.
"Dek, masa iya sih aku sebau itu? Ini aku udah mandi lagi lho!" Joddy memprotes Kana yang sibuk memakaikan baju Ken.
Kana sedikit menjauh dari suaminya padahal dia sudah memakai masker yang menutupi area hidungnya.
"Gak tahu, kamu baunya aneh aja, Kak. Aku jadi pusing nyium bau kamu. Nanti kamu ganti sabun aja!"
"Ini aku udah ganti sabun!" Joddy tak mau kalah, habis subuh tadi dia langsung ke mini market 24 jam yang ada di dekat rumahnya untuk sekedar membeli sabun dengan merek lain. Tapi tetap saja Kana menjauh.
"Ganti lagi. Baunya kayak Ken gini lho. Harum telon bikin rileks." Kana menyelipkan kancing bagian terakhir di baju Ken, lalu mencium pipi gempilnya.
"Ya kali, aku harus pakai minyak telon,Na!" Joddy makin kesal dibuatnya.
" Eh, iya bener. " Kana mengambil sebotol minyak bergambar bayi lalu menyerahkan pada Joddy.
"Coba deh, Kak, kamu pakai!"
Joddy mendelik tak suka. "Aku? Pakai telon? Gak salah, Na?" Yang benar saja usianya sudah 36 lho masa bau bayi.
"Ya, udah gak papa, kalau gak mau. Tapi nanti malam gantian kamu yang tidur sama Ken!" ancam Kana telak.
"Holeee, bobok ama Daddy!" seru Ken kegirangan. Joddy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu dengan sangat terpaksa dia mengambil botol itu dan bergegas pergi.
Tak berapa lama Joddy muncul sudah rapi dengan kemeja dan celana bahannya bersiap untuk pergi ke kantor. Aroma minyak telon menguar dari tubuhnya.
Kana membuka masker dan tersenyum. "Tuhkan! Baunya enak, bikin nyaman!" Kana memeluk Joddy menghirup aroma tubuh suaminya.
Joddy mengerutkan keningnya. "Kamu aneh deh, Na!" Tapi mau tak mau Joddy membalas pelukan Kana.
"Gak tahu nih, suka aja aroma telon bayi gini."Kana memejamkan matanya menikmati wangi tubuh suaminya.
Joddy tersenyum lalu mengecup pelipis Kana lembut sambil membayangkan yang tidak-tidak. Semalam aksi Joddy untuk melakukan yang 'mantap-mantap' gagal karena Kana yang memilih tidur bersama Ken. Siapa tahu pagi ini dia dapat sarapan spesial. Tanpa sadar Kecupan Joddy naik ke atas pipi lalu berhenti di bibir merah Kana. Untung Ken baru sarapan di bawah jadi tidak akan melihat perbuatan ayahnya yang sekarang sudah asik bermain dengan ibunya.
" Astaga Joddy!!" Tapi tidak untuk yang satu ini. Kana dan Joddy sama-sama menjauh saat mendengar teriakan melengking yang sangat familiar di telinganya.
"I-Ibu?" Joddy terlihat salah tingkah dan Kana hanya menunduk malu.
"Ya, ampun kalian ini! Anak dibiarkan sarapan sendiri ternyata malah pada 'enak-enak' di sini!" Jihan yang baru datang itu hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali turun ke lantai bawah membuat Kana dan Joddy saling pandang sebelum kemudian saling menyalahkan.
*
"Jadi, Ayah pulang besok?" tanya Joddy setelah mereka berada di ruang makan.
__ADS_1
Jihan mengangguk." Iya, makanya Ibu ke sini mau minta tolong Kana untuk nemenin Ibu belanja baju baru sama bahan masakan buat besok. Ibu mau bikin makanan kesukaan Ayah kamu." Jihan tersenyum antusias membuat Kana dan Joddy hanya saling bertukar pandang.
"Gak sibuk, kan, Na?" Kana menoleh ke arah Kana yang duduk di sampingnya.
"Tentu saja tidak, Bu."Kana tersenyum dia malah senang kalau bisa keluar rumah. Sungguh dia sudah bosan setengah mati jika terlalu lama di dalam rumah. Walaupun sebenarnya Kana agak kurang 'sreg' saat Jihan berkata akan membeli baju baru. Apalagi kalau bukan untuk menyambut pria pembohong itu!
"Mau belanja buat masak juga? Sekalian ya Na beli cumi asin," kata Joddy menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Cumi asin?Tumben?"
"Iya, kayaknya enak deh. Yang dimasak kayak Mama itu, tumis pakai cabe ijo." Joddy menelan liurnya saat membayangkan masakan mertuanya yang memang terkenal enak.
"Bilang aja pengen dimasakin Mama!" sindir Kana.
Joddy mengangguk."Itu tahu! Kamu beli bahannya ya, terus habis jemput Ken langsung ke rumah Mama aja. Nanti kujemput."
Kana hanya mengangguk patuh, sedang malas untuk berdebat.
"Kamu gak nginep di rumah Ibu aja, sekalian Ayah kamu kan mau pulang besok?" Jihan sedikit iri kalau Joddy dekat dengan mertuanya bukan apa-apa takut perhatiannya berkurang.
"Liat nanti deh Bu. Emang Ibu mau jemput Ayah di bandara?" tanya Joddy mengelap mulutnya dengan tisu setelah selesai sarapan.
"Enggak, Ayah gak mau dijemput karena sudah ada sopir kantor."
" Ibu tinggal duduk manis menyambut dia di rumah." Mata Jihan berbinar saat mengatakannya, kelihatannya dia sudah tidak sabar menyambut Heru. Kana menjadi semakin tidak tega melihatnya.
*
Joddy memijit pangkal hidungnya. Matanya terasa perih setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya, dilepasnya kacamata yang membingkai wajahnya lalu menyandarkan kepalanya sambil memutar-mutar kursinya.
"Bang, nih laporan bulan ini." Kevin sang asisten masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Hmm, taruh aja!" Joddy menunjuk tumpukan map yang belum selesai dia periksa.
Kevin mengamati atasannya itu dengan kening berkerut hidungnya pun mengendus-endus. "Gue kenapa bau bayi ya?"
"Gue pakai telon,"jawab Joddy lirih.
Kevin terlihat kaget tapi kemudian tertawa. "Lha, ngapain pake telon, Bang? Kek, bocah aja!" ledek Kevin terang-terangan.
"Kana pusing nyium bau gue, katanya bau banget, masa? Padahal gue udah mandi pakai sabun juga pake parfum. Giliran pakai minyak telon baru mau nempel."
Kevin terbahak lalu duduk di bangku kosong depan meja Joddy. "Itu Kana kenapa?"
"Gak tahu, gue malah was-was indera penciuman dia terganggu."Joddy memakai kacamatanya kembali.
__ADS_1
"Gue sampai mandi tiga kali tahu gak?! Anehnya, cuma gue yang bau,"
"Hamil kali!"
Joddy menatap Kevin."Korelasinya apaan bau badan sama hamil?" Joddy tersenyum cuek lalu meraih satu map berwarna maroon dan mulai membaca kertas di dalamnya.
"Kedengarannya memang aneh, tapi ada kok yang begitu istri gak suka bau suami karena lagi hamil sama kayak istri gue yang hamil anak ketiga. Tiap sama gue dia selalu mutah terpaksa 3 bulan pertama kami pisah kamar."Kevin menceritakan pengalamannya dengan gamblang membuat Joddy menghentikan pekerjaannya lalu termenung memikirkan semua yang dikatakan Kevin.
Apa benar Kana hamil? Tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Makan masih biasa, juga masih melakukan pekerjaan sehari-hari. Jadi kayaknya belum kalau hamil. Walaupun memang Kana belum datang bulan tapi memang biasanya tidak teratur.
Joddy tidak mau berharap, takut kecewa karena sepertinya masih jauh untuk hamil. Kana sendiri menolak untuk cepat hamil dalam waktu dekat, Joddy takut jika harus bertanya pada istrinya itu. Mungkin memang benar Kana sedang tidak enak badan, flu barangkali jadi penciumannya terganggu.
"Enggaklah! Flu doang kayaknya tuh anak." Joddy mengangkat bahunya cuek lalu sibuk meneruskan pekerjaannya.
"Ya siapa tahu aja, Bang. Coba beliin testpack!" usul Kevin.
"Gak deh, ntar dia ngambek lagi. Soalnya dia masih belum pengen hamil masih trauma dengan yang kemarin," gumam Joddy.
"Tapi Lo udah ngebet punya anak kan?"
Joddy mengangguk."Iya, tapi-"
Kata-kata Joddy terhenti waktu dia melihat ponselnya di meja berdering, ada nama istrinya di layar yang berkedip itu.
"Panjang umur!" Joddy menunjukan layar ponselnya lalu bergegas mengangkat telepon dari Kana itu.
"Yah, kenapa Sayang?" Joddy sengaja melembutkan suaranya sambil melirik Kevin yang langsung mencibir itu.
"....."
Wajah Joddy tiba-tiba menegang. "Oke, kamu share posisi kamu aku coba minta izin kantor buat ke sana. "
Joddy segera menutup pembicaraan dan mematikan ponselnya.
"Kenapa Bang?"tanya Kevin penasaran.
Joddy tak langsung menjawab dia bergegas beranjak dari duduknya tanpa berkata-kata.
*****
****Duh..kok pendek sih! Duh kok sedikit sih! Duh kok gantung!
hehehe sengaja**!
buat yang selalu baca makasih yaaa i love you. sehat selalu yaaa**
__ADS_1