Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Pohon di pinggir sungai


__ADS_3

Seperti apa yang dikatakan Kana, tidak mudah menghadapi orangtuanya. Terbukti begitu melihat Joddy mengantar Kana pulang, Gufron sudah menghadangnya di depan pintu rumah Kana dengan wajah garang tanpa senyum, memberi kesan dingin dan angkuh memberi tanda kalau pria separuh baya itu tidak menyukai keberadaan Joddy.


"Selamat sore, Om," sapa Joddy dengan senyum manisnya.


Gufron memandang sinis ke arah Joddy lalu menatap Kana.


"Masuk!" perintahnya pada putri kesayangannya itu.


Kana mengangguk lalu menatap ke arah Joddy, tersenyum dan mengucapkan kata 'semangat' tanpa suara sebelum masuk ke dalam rumah.


Kana mengernyit keheranan begitu masuk ke dalam rumah dan mendapati Kanda dan Nea yang sedang mengintip sambil berbisik-bisik sampai tidak menyadari kehadiran Kana. Mbok Dar yang tengah mengipasi Ken yang tertidur di sofa terkikik geli melihat kelakuan sepasang pengantin baru itu.


"Kalian ngapain?"


Kanda dan Nea nyaris terjungkal dari sofa tempat mereka mengintip begitu Kana menyapa. Keduanya tersenyum kikuk lalu kembali duduk dengan tenang di sofa. Pandangan keduanya tiba-tiba mengarah ke pintu. Saat Gufron masuk ke dalam rumah dengan Joddy yang berjalan di belakangnya.


"Mbok, tolong pindahkan Ken ke kamarnya." Gufron meminta pada Mbok Dar yang kemudian bergegas membawa tubuh kecil Ken pergi dari ruang tamu. Kanda dan Nea kemudian menyingkir memilih duduk di atas karpet.


"Waktumu hanya 10 menit untuk bicara." Gufron menatap tajam ke arah Joddy yang memilih duduk di tempat yang semula diduduki Kanda.


"Kamu juga duduk, Na." Dengan suara lembut Gufron menyuruh sang putri kesayangan duduk. Kana mengangguk lalu memilih duduk di samping Joddy.


"Duduk samping Papa!"


Kana tak jadi mendaratkan bokongnya di sisi Joddy begitu mendengar suara sedikit keras dari Gufron . Dia lalu duduk di samping Maya, sang ibu. Kanda terkikik geli melihat wajah Joddy yang tadinya senang menjadi muram karena tak jadi duduk di samping kekasihnya .


"Jadi, selama ini kamu menemui Kana di Jogja? Bahkan menginap?" Gufron menatap kesal ke arah Joddy.


"Saya minta maaf, Om. Saya memang salah, tapi saya tidak bisa jauh dari Kana." Joddy menatap Kana yang juga tengah menatap nya keduanya lalu bertukar senyum. Sayangnya, senyum Kana pudar begitu melihat Gufron meliriknya tajam.

__ADS_1


"Saya sudah dengar tentang semua yang terjadi pada keluarga kamu." Gufron lalu tertawa sinis.


"Masih teringat jelas bagaimana Ibu kamu dan tunangan kamu-"


"Mantan, Om," sela Joddy cepat, dia tidak akan sudi menjadi tunangan Medusa itu.


"Terserah apapun sebutannya, yang pasti penghinaan mereka masih saya ingat. Kami merawat Kana penuh kasih sayang tidak pernah sekalipun kami membentaknya. Tapi Ibu kamu yang bukan siapa-siapa, berani menyakiti hati anak kami yang sama saja menyakiti kami, orangtuanya. " Mata Gufron berkaca-kaca saat mengatakannya, membuat Kana mengenggam tangan pria paruh baya itu untuk menguatkannya.


"Tapi siapa mengira ternyata malah orangtua kamu yang tindakannya lebih hina dari anak saya. Tidak perlu saya mengingatkan kembali apa yang sudah terjadi pada orangtua kamu, kan?" Serangan telak Gufron melukai sedikit harga diri Joddy, tapi tidak masalah asal itu bisa membuatnya mendapat maaf dan restu Gufron.


" Saya tahu, Om. Saya minta maaf atas apa yang terjadi pada Kana. Saya tahu berat untuk memaafkan saya dan orangtua saya. Tapi saya mohon beri kesempatan saya untuk menebus kesalahan saya."


Gufron tertawa sumbang. "Kesempatan yang seperti apalagi yang kamu minta. Saya sudah pernah kasih kamu kesempatan tapi kamu sia-siaka begitu saja. Sudahlah, biarkan Kana dan anak-anaknya bahagia tanpa kamu."


Gufron masih saja berusaha menghentikan Joddy. Pria berkacamata itu menatap Kana yang menunduk dengan jari-jemari yang saling bertautan. Jelas sekali wanita itu ingin membantah tapi tak mampu karena rasa bersalahnya.


"Kamu pikir saya peduli? Maaf saja, setelah semua yang dilakukan pada putri saya, semenjak itu pula saya kehilangan 🍴 respect pada orangtua kamu."Kata-kata tajam Gufron mewakili semua sakit hatinya dan Joddy tidak bisa membantahnya.


" Pa, kasih saja satu kesempatan buat Joddy. Dia udah dari dulu menjaga hati buat Kana. Kanda yakin dia bisa menjaga Kana dan Ken dengan baik. Lagipula setiap orang punya kesalahan di masa lalu dan itu tidak bisa diubah." Kanda si pengantin baru yang sejak tadi hanya duduk diam memperhatikan akhirnya mulai bersuara.


Gufron tak menanggapi kata-kata Kanda . Memberi kesempatan pada anak ini lagi? Silahkan bermimpi!


" Tidak ada yang lebih baik menjaga Kana dan Ken selain almarhum Adrian."


Tenang tapi sungguh kalimat itu melukai harga diri Joddy. Dia dibandingkan dengan sahabatnya sendiri? Dan orang itu sudah meninggal.


"Itu pasti, Pak. Saya jelas tidak bisa dibandingkan dengan almarhum. Tapi saya yakin, saya bisa meneruskan tugas almarhum menjaga Kana dan Ken dengan lebih baik." Jangan pikir hanya dengan kata-kata itu Joddy akan mundur. Salah besar.


Gufron tersenyum meremehkan lalu melipat tangannya di depan dada."Lebih baik? Yakin kamu tidak seperti Ayah kamu? Seperti kita tahu, buah jatuh tak jauh dari pohonnya bukan?"

__ADS_1


Joddy mengepalkan kedua tangannya di atas lutut. Bertahun-tahun dia menjaga hati untuk putrinya masih saja diragukan kesetiaannya?


"Saya pastikan pohon saya di pinggir sungai Om, sehingga ketika buah jatuh maka dia akan terbawa jauh arus sungai." Seisi ruangan tertegun mendengar balasan Joddy.


Gufron langsung terdiam begitupula dengan Maya tapi berbeda dengan Kanda yang bertepuk tangan."Gue suka gaya lo, Bro!" Kanda langsung menutup mulutnya saat Gufron meliriknya tajam.


"Kasih saja kesempatan, Pa. Sepertinya kedua anak ini memang susah dipisahkan," bisik Maya tapi masih samar-samar terdengar di telinga seisi ruangan.


Joddy sedikit bernapas lega, Ibu Kana sepertinya mulai memihak padanya.


"Jangan merasa di atas angin dulu. Tidak mudah mendapatkan kepercayaan saya setelah apa yang Kana alami." Gufron ternyata tidak terpengaruh sama sekali dengan bisikan manis istrinya.


"Tapi mari kita lihat saja sejauh mana kamu membuktikan dan meyakinkan kalau kamu layak jadi suami Kana."


Joddy menatap Gufron penuh binar. Itu berarti Gufron memberikannya kesempatan padanya. Dia harus berjuang lebih keras lagi dan menunjukkan dia layak menjadi menantunya.


"Asal kamu tahu banyak kolega saya yang tertarik menjadikan Kana menantu mereka mau menerima Kana dengan segala kekurangannya. Jadi,kegagalan kamu tidak berpengaruh apa -apa pada Kana."


Joddy melirik calon mertuanya itu kesal. Maksudnya apa? Dia mau menjatuhkan mental Joddy, agar menyerah dan berhenti mengejar Kana? Tidak akan!


" Baiklah, waktu kamu habis. Silahkan pergi dari sini," usir Gufron pada Joddy lalu beranjak dari duduknya tak lupa dia menyuruh Kana untuk masuk ke dalam kamarnya.


Joddy menghela napas berat.


"Oh, ya satu lagi." Gufron menghentikan langkahnya lalu menatap Joddy. "Kamu yakin kan sungai yang membawa buah itu bukan sungai mati?"


Joddy mengumpat dalam hati. Seringai Gufron membuatnya ingin sekali menculik Kana hari ini juga.


*****

__ADS_1


__ADS_2