Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Tidak selingkuh!


__ADS_3

"Tapi Ibu rasa ini berlebihan."Jihan mengembalikan baju yang baru saja dia ambil dari gantungan.


"Yang ini terlalu sederhana." Nasib yang sama dialami baju kelima yang tadi Jihan ambil dari gantungannya. Kana menarik napas lelah tangannya memijit pangkal hidungnya. Dia sangat lelah setelah berkeliling mall untuk membantu Jihan mencari baju yang sesuai dengan keinginannya. Sudah sekitar 3 toko yang mereka datangi tapi tetap saja tidak ada yang sesuai dengan keinginan Jihan. Padahal sebelum ke sini mereka sudah mampir untuk belanja bahan makanan. Entah apa kabar daging beku yang ada di mobil.


"Yang ini bagaimana menurutmu, Na?" Jihan menunjukan sebuah gaun sederhana bermotif floral yang kurang pas digunakan untuk wanita seusia Jihan.


"Bagus Bu." Kana sudah terlalu lelah untuk mengatakan 'tidak', lebih baik berbohong sajalah. Dia sudah tidak sanggup kalau harus berkeliling mencari toko lain. Dia takut jika lagi-lagi Jihan tidak suka dengan pilihannya sendiri.


"Tapi masa bunga-bunga begini gak cocok deh buat nenek-nenek," keluh Jihan lalu meletakkan kembali di gantungan.


Kana hanya tersenyum kecut, ya ampun...harus sampai kapan dia menunggu Jihan memilih baju? Ribet memilih baju yang sayangnya hanya dia gunakan untuk menyambut pria pembohong itu?


"Kalau yang ini?" Jihan menunjukan baju terusan berwarna maroon.


Nah, yang ini cocok!


"Bagus banget Bu!" seru Kana, dalam hati dia berdoa semoga saja ini adalah pilihan terakhir Jihan.


"Ya sudah ini saja, gak perlu dicoba kayaknya udah pas!" seru Jihan membuat Kana mengucap syukur dalam hati. Akhirnya, dia bisa pulang ke rumah orangtuanya.


"Kana tunggu di kasir ya Bu," pamit Kana lalu berjalan lebih dulu menuju depan meja kasir, duduk di bangku kosong yang disediakan untuk para pengunjung.


Kana menatap sekeliling butik yang sepi dengan pengunjung. Maklum saja bukan weekend dan masih jam kerja jadi belum banyak pengunjung. Kana jarang sekali pergi belanja dia lebih suka pergi ke tempat makan atau tempat wisata. Butik? Dia kurang suka.


Kana menghela napas bosan lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar butik. Matanya menyipit saat dia seperti melihat seseorang yang terlihat familiar. Bukan seseorang saja, tapi dua orang. Kana beranjak dari duduknya saat dia tahu siapa dua orang yang sedang berjalan beriringan itu.


"Ayah?" Kana mengucek matanya memastikan apa yang dia lihat salah. Tapi tidak, itu benar Heru dan Laras. Tapi bukannya harusnya Heru pulang besok? Kana berdecak kesal.


Tentu saja pria tua itu bohong.


Jangan sampai Jihan melihat mereka berdua kalau sampai lihat, semua bisa....


"Mas Heru?!"


Gawat!


Kana menoleh ke arah Jihan yang rupanya sudah berdiri di samping Kana. Menatap lurus ke arah dua orang yang sedang berjalan beriringan dengan mesra itu.


"Bu?"


Jihan tak bergeming, tatapannya lurus ke arah dua pasang pria dan wanita yang saling bergandengan dengan senyum tak lepas dari bibir mereka.


"Aku tidak salah lihat kan, Na?" gumam Jihan dengan wajah pucat.


"Na, ayo kita ikuti mereka!" Jihan berjalan lebih dulu membuat Kana gelagapan dan tidak sempat mencegahnya, maka setengah berlari dia menyusul Jihan.


Mereka menjaga jarak, padahal bisa saja Jihan menangkap basah keduanya.Tapi sepertinya Jihan mempunyai rencana lain. Dia terus saja mengikuti Heru dan Laras tanpa banyak bicara. Wajahnya terlihat dingin.


"Kita ikuti mobil mereka!"


Sampai di parkiran Jihan bergegas masuk ke dalam mobil Kana menutup pintunya keras-keras. Mobil Kana yang memang terparkir tak jauh dari pintu masuk basement mall itu memudahkan mereka keluar lebih dulu lalu menunggu mobil Heru dan Laras keluar kemudian. Mereka tadi sempat melihat mobil yang ditumpangi Heru dan Laras saat keduanya menghampiri sebuah Lamborghini berwarna putih yang beruntung parkirnya cukup jauh dari mobil Kana sehingga bisa dipastikan mereka tidak akan melihat keberadaan Kana dan Jihan.


"Jaga jarak, Na."Jihan berkata pada Kana begitu mereka melihat mobil Heru keluar dari area parkir. Kana mengangguk lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang tak jauh dari mobil Heru.


"Teganya kamu Heru!" gumam Jihan. Kana hanya diam sambil melirik dan mengamati wajah mertuanya yang terlihat tegang. Kedua tangannya mengepal kuat. Matanya berkaca-kaca tapi tidak ada satu tetes pun air mata yang keluar dari kedua matanya.

__ADS_1


"Ternyata yang kamu katakan benar, Na."


Jihan terus saja menatap ke arah depan seakan takut jika matanya berkedip sekali saja mobil Heru akan menghilang dari pandangannya.


"Harusnya, Ibu percaya pada kamu dan mencoba mencari tahu kebenarannya. Harusnya Ibu tidak percaya begitu saja pada Heru." Suara Jihan mulai bergetar seperti menahan tangis. Kana tak banyak bicara dia memilih diam memberikan waktu pada Jihan untuk mengungkapkan semua yang dirasakannya.


Mobil Heru memasuki parkiran sebuah apartemen mewah. Kana tetap setia mengikutinya dari belakang.


"Kita di sini dulu!" Jihan tak langsung keluar dari mobil begitu mereka sampai diparkiran. Sepertinya Jihan memastikan jika Heru dan Laras benar-benar akan berada di apartemen itu. Setelah 10 menit menunggu akhirnya mereka berdua keluar dari mobil untuk mencari unit Laras. Berbekal informasi dari resepsionis mereka berhasil menemukan di mana Heru dan Laras berada. di sebuah unit apartemen di lantai 3.


Sebelum sampai di depan pintu tempat Laras dan Heru, Kana menelepon Joddy agar menyusulnya, karena Kana takut Heru atau Jihan akan hilang kendali.


"Kak!"


"....."


"Kamu cepat susul ke sini. Ibu melihat Ayah dan Laras!"


"..."


" Iya, aku share alamatnya."


Selesai menelepon, Kana akhirnya menyusul Jihan yang sudah berdiri tepat di depan pintu unit Laras.


Jihan tak langsung mengetuk atau memencet bel. Dia terdiam cukup lama seperti berpikir keras, sebelum akhirnya tangannya terulur menekan bel pintu.


"Bu,"panggil Kana menggenggam tangan Jihan yang hanya diam saja dengan mata lurus menatap ke arah pintu.


Pintu tidak juga terbuka. Jihan menekan bel sekali lagi dengan tangan gemetar. Kana tahu dengan pasti Jihan sedang menahan diri untuk tidak meluapkan segala emosinya.


"Ji-Jihan?" Heru benar-benar gugup dia bahkan tidak sempat untuk menutup pintu. Dia tak percaya melihat Jihan ada di hadapannya. Menatapnya dengan tatapan amarah dan penuh luka.


"Aku baru tahu kamu pulang ke Jakarta hari ini, maaf tidak bisa menjemput karena setahuku kamu baru pulang besok." Jihan berusaha mati-matian agar tidak menangis di depan Heru. Dia menelan segala lukanya demi terlihat tegar di depan suaminya.


"Jihan, aku bisa jelaskan!" Heru tahu Jihan sangat marah padanya.


Jihan tak sempat menyahut saat seorang wanita dengan baju seksinya muncul di belakang Heru.


"Siapa, Sayang?" Laras sedikit terkejut saat melihat Kana dan Jihan berada di depan apartemennya. Tapi dia segera menutupi rasa kagetnya dengan senyum angkuh.


"Oh, kalian? Sudah tahu di mana kami tinggal?" Laras tersenyum, tangannya menggelendot manja di lengan Heru.


Jihan mengepalkan tangannya saat melihat interaksi kedua orang itu. Sangat terlihat dia menahan mati-matian untuk tidak menarik rambut Laras sampai tercabut semua dari kulit kepalanya.


"Teganya kamu. Mas!" Jihan mendorong Heru sekuat tenaga sampai tubuhnya terhuyung ke belakang. Lalu meringsek masuk ke dalam apartemen Laras, tanpa sempat mereka cegah.


Mata Jihan nyalang mengamati keadaan ruangan di dalam apartemen Laras. Interior dan segala di dalamnya terkesan mewah. Pandangan Jihan terpaku pada sebuah foto yang terpampang di tembok. Foto sepasang pria dan wanita tengah berangkulan mesra dengan tatapan penuh cinta berlatar belakang pemandangan Bradenburg Gate. Sebuah tempat wisata di Jerman. Itu berarti mereka tetap berhubungan selama Laras di Jerman. Heru bahkan menyusulnya sampai ke sana? Astaga! Tega sekali mereka. Lalu kenapa tiba-tiba Heru datang padanya dan meminta rujuk?


Laras berjalan cepat ke arah foto itu lalu mengambil


dan membantingnya ke lantai. Bunyi nyaring akibat pecahan kaca yang berhamburan membuat seisi ruangan tercengang melihat kelakuan Jihan.


"Tante! Apa-apaan sih?! Datang-datang ngamuk! Tidak punya sopan santun, ini rumah orang!" seru Laras marah melihat apa yang dilakukan Jihan.


Jihan menatap Laras tajam lalu menghampirinya dan berdiri dengan tatapan nyalang tepat di depan Laras.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? Sopan santun? Siapa yang tidak punya sopan santun di sini? Kamu! Kamu tidak tahu diri! Perebut suami orang!" Jihan menuding tepat di depan wajah Laras.


Laras tersenyum sinis."Siapa yang merebut, suami kamu sendiri yang datang padaku!"


"Jika kamu tidak membuka pintu suamiku tidak akan datang padamu!"


Laras tertawa." Sudah aku bilang, suamimu itu cinta mati sama aku. Serapat apapun aku menutup pintu dia tetap akan datang padaku mendobrak pintunya."


Jihan menatap Heru yang sejak tadi hanya menunduk tak berani menatapnya. "Kenapa kamu lakukan ini padaku, Heru? Kenapa?!!!"


Heru mengangkat kepalanya tapi hanya menatap matanya tanpa berkata apa-apa.


"Kenapa kamu tega berbuat seperti ini?!!!Apa salahku ?"


Heru masih tak bergeming dari tempatnya berdiri.


"Jangan diam saja!!!"Jihan menghampiri Heru mendorong tubuhnya kuat-kuat.


"Maafkan aku Jihan," gumam Heru.


Membuat Jihan makin terbakar amarah."Aku gak butuh maaf dari kamu Heru aku cuma ingin tahu apa alasan kamu kenapa selingkuh dengan Laras! "


"Kami tidak selingkuh, Nenek tua!" sambar Laras membuat Kana yang sejak tadi hanya sebagai pendengar itu tak percaya Laras bisa sekasar itu.


"Mas, Jawab! Kenapa kamu minta rujuk tapi selingkuh sama dia?"Jihan mengabaikan kata-kata Laras. Heru hanya menunduk dia seperti tidak punya nyali untuk berhadapan dengan Jihan.


"Ke Bali urusan bisnis tapi nyatanya kamu malah berselingkuh dengan wanita murahan ini!"


"Sudah berulangkali aku bilang, kami tidak selingkuh!"


Laras berteriak seperti orang yang histeris.


"Ini tidak kamu katakan selingkuh!"Jihan menginjak foto yang tadi sudah dia banting.


"Kami memang tidak selingkuh kami sudah menikah,"kata Laras dengan tenang membuat Jihan membeku di tempatnya.


"Apa kamu bilang?" Jihan berharap dia salah dengar.


"Kurang jelas? KAMI-SUDAH-MENIKAH!"


Jihan menggeleng pelan tak percaya ke arah suaminya."Katakan itu tidak benar, Heru!!" Jihan mengguncang-guncangkan lengan Heru.


"Jangan diam saja!Katakan!" seru Jihan.


Heru mengangkat kepalanya lalu menatap mata Jihan lekat-lekat."Iya, kami sudah menikah."


"Kurang ajar!!!"Sebuah tangan lalu mendorong Heru kuat-kuat. Membuat tubuh pria itu tersungkur jatuh.


"Kak Joddy?!" seru Kana tertahan saat melihat siapa pelaku yang mendorong Heru. Joddy menatap Heru tajam sangat jelas ada kemarahan di dalam mata itu. Baru kali ini Kana melihat suaminya semarah itu.


***


**Updatenya lama, sedikit pula! gantung ah!


iya, sengaja memang! hehe terimakasih buat yang selalu baca. Tetap sehat ya! Love you!**

__ADS_1


__ADS_2