
Weekend kali ini Joddy dan Kana memutuskan untuk menginap di rumah Jihan walaupun sempat mendapat larangan dari Gufron yang meminta mereka menginap di rumahnya dengan alasan rindu pada Ken. Tapi Kana yakin bukan itu alasan sebenarnya. Gufron hanya takut Ken terlalu dekat dengan keluarga Joddy dan melupakannya padahal itu tidak akan pernah terjadi.
Terakhir kali Kana ke rumah orangtua Joddy adalah sebulan lalu itupun dia hanya menjemput Ken yang dititipkan pada Jihan. Rumah masa kecil Joddy berlantai dua dengan teras yang dihiasi banyak tanaman, halamannya pun luas. Membuat Ken leluasa bermain.
Mereka sedang berkumpul di teras rumah, Joddy dan Dipta yang juga kebetulan berkunjung sedang asik mengobrol, Ken sibuk bermain dengan kedua oma dan opanya alias Jihan dan Heru. Ferddy memilih bermain game di ruang tamu dia terkesan terpaksa datang ke rumah karena ada Heru sedangkan Kana memilih menikmati potongan buah sambil memperhatikan Heru.
Pertemuan sepihaknya dengan Heru dan Jihan masih menganggu pikirannya. Sampai saat Ini pun Kana belum berani menceritakan pada Joddy karena dia takut Joddy tak percaya. Dia tidak ada bukti, karena bodohnya Kana tidak merekam Heru dan Laras yang sedang bertemu.
Tapi kalau dilihat-lihat Heru dan Jihan seperti dua orang yang sudah berdamai, seperti tidak ada masalah dengan keduanya. Heru tampak begitu menyayangi Jihan. Perlakuan dan perhatiannya terlihat kembali seperti semula. Entah itu tulus atau hanya pura-pura Kana tidak bisa membedakan. Tapi kalau itu hanya pura-pura betapa jahatnya pria tua itu
"Dek!"
Kana terperanjat saat sebuah tangan menepuk bahunya bahkan dia hampir saja menjatuhkan piring kecil yang berisi potongan buah-buahan di tangannya.
"Bikin kaget!" Kana menepuk bahu Joddy yang sudah duduk di sampingnya dengan kekehan khas Joddy.
"Ngeliatin apa sih?" Joddy mencari arah tatapan Kana dan tersenyum saat sadar apa yang sedang Kana lihat. Jihan dan Heru sedang asik bermain tangkap bola dengan Ken. Joddy bersyukur, kedua orangtuanya menerima Ken seperti cucu kandung mereka sendiri.
"Mereka terlihat bahagia ya? Lihat Ken, ternyata cepat akrab dengan ayah dan ibu."
Kana menatap ke arah suaminya yang terlihat bahagia saat melihat ayah dan ibunya akur.
"Hem, iya." Walaupun sebenarnya hati kecil Kana ingin sekali berteriak Jika semua tidak seperti yang suaminya itu lihat.
"Aku bersyukur dan bahagia banget, Na. Akhirnya Ibu dan Ayah bisa akur lagi dan tidak jadi bercerai. Aku gak kebayang kalau mereka benar-benar pisah. Kamu tahu gak, Na. Aku selalu saja menganggap keluargaku itu keluarga sempurna. Ayah dan Ibu saling menyayangi, begitupun juga aku dan Ferddy. Walaupun mereka sempat mengalami masalah tapi aku benar-benar senang akhirnya mereka bisa kembali seperti semula."
Kana mengigit bibir bagian dalamnya, bagaimana jika Joddy tahu, kalau ayahnya ternyata tidak sebaik itu? Kalau ternyata ayahnya masih berhubungan dengan Laras?
Kana jadi bimbang dan makin tidak tega jika harus mengatakan yang sebenarnya pada Joddy. Melihat raut bahagia di wajah Jihan dan Joddy Kana semakin ragu untuk mengatakan yang terjadi sebenarnya.
"Dek!"
Kana tersentak kaget saat dengan gemas Joddy mencubit pipinya. "Sakit, Kak!"
"Kamu dari tadi ngelamun aja aku perhatiin?
Mikirin apa? Jatah nanti malam? Iya, aku kasih," goda Joddy sengaja membuat Kana salah tingkah.
"Astaga, kamu ini!" Kana menatap ke arah belakang Joddy memastikan Dipta tidak mendengar apa yang Joddy katakan barusan. Untunglah, Dipta sudah masuk ke dalam rumah, mungkin menemui Ferddy.
"Datang bulan kamu hari ini beres, kan?"
Kana menatap suaminya lagi lalu menggelengkan kepala, bahkan pria ini tahu kapan dia menstruasi dan selesai. Sungguh, bucin sejati.
"Kak, pikiran kamu itu gak jauh dari situ ya?"
"Habis mau gimana lagi? Kamu nagih," bisik Joddy di telinga Kana.
Wanita cantik itu refleks memukul pundaknya dengan wajah merah. Dia bisa pusing jika lama-lama berada di sini hanya berdua dengan suaminya. Libur seminggu tidak 'enak-enak' saja suaminya itu sudah kalang kabut tingkat kemesumannya naik berkali-kali lipat. Kana baru tahu pria yang 'terkekang' selama 35 tahun bisa menjadi pria yang mesum.
"Udah ah, aku mau mandi!" Kana beranjak dari duduk nya lebih baik dia akan simpan kebenaran ini untuk dirinya sendiri setidaknya untuk saat ini.
"Boleh ikut, gak?"
"Gak!!"
**
Jam dinding di kamar Joddy menunjukkan pukul 02.00 dini hari saat Kana terbangun dari tidurnya. Dilihatnya Joddy masih mendengkur halus setelah kelelahan 'olahraga' malam. Ken memilih tidur dengan Jihan seperti tahu daddy sambungnya itu ingin menguasai ibunya malam ini.
__ADS_1
Kana bergegas memungut kembali bajunya yang dilempar Joddy secara asal lalu memakainya. Rasa haus mendorongnya segera turun ke dapur untuk mengambil minuman.
Dapur terasa sepi, hanya terdengar suara jam yang berdetak memecah kesunyian. Kana bergegas mengambil gelas berukuran besar untuk mengisinya dengan air mineral yang ada di galon.
"Iya, aku juga kangen kamu, Sayang."
Gerakan tangan Kana yang bersiap menekan tombol galon terhenti saat sayup - sayup dia mendengar orang sedang bicara setengah berbisik.
"Semua aman, kamu tenang saja."
Kana berjalan mencari asal suara itu, langkahnya berhenti saat dia melihat pria paruh baya sedang menelepon di bawah anak tangga dengan suara berbisik.
Kana merapatkan tubuhnya di tembok agar tidak ketahuan, untuk mencuri dengar apa yang sedang dilakukan Heru.
"Iya, Sayang, besok kita akan ketemu."
"...."
"Iya kita besok liburan, kamu mau ke Bali, besok kita akan ke sana."
"...."
"Iya, kamu tenang saja, aku akan bilang ke Jihan ada kepentingan ke luar kota beberapa hari. Ayolah, kita bisa habiskan waktu sepuasnya di sana kamu gak perlu khawatir."
"...."
"Sayang, kamu harus ngertiin aku. Aku gak bisa sering-sering menginap di tempat kamu, Jihan bisa curiga. Please, Sayang. Kamu sabar ya. Aku sayang kamu."
Kana mengepalkan tangannya kuat-kuat
Saat mendengar semua pembicaraan Heru di telepon sungguh pria tidak punya hati. Tega sekali dia seperti itu, padahal istri dan anaknya sudah berusaha menerima dan memberi kesempatan tapi kenapa Heru tega melakukan itu?
"Kak Joddy!" desis Kana lalu seperti diingatkan keberadaan Heru, Kana menarik tangan Joddy menjauh lalu membimbingnya ke dapur.
"Kamu ngapain, Na tadi?"
"Aku mau ke dapur."
"Tapi-"
"Berisik! Aku mau bikin mie, kamu mau?" Kana mengalihkan perhatian Joddy, mengambil sebungkus mie goreng. Walaupun sebenarnya dia tidak merasa lapar sama sekali tapi demi agar Joddy -tidak curiga-.
"Ngapain makan mie pagi buta begini?"
"Siapa tau ntar ada yang minta nambah, biasanya kan gitu, masuk waktu subuh ngajakin lagi." Astaga, Kana. Kalau tidak karena agar Joddy tidak curiga mana mau dia bicara se-seduktif ini.
"Oh, boleh deh telurnya dua biar tambah strong!" seru Joddy terlihat sangat bersemangat.
Kana mendecih. nah, lihat kan baru dipancing seperti itu saja pria 'tua' itu sudah semangat dan lupa akan kejadian tadi.
Kana menggelengkan kepala pelan lalu mengambil telur di kulkas. Harus Kana akui, ibu mertuanya benar-benar telaten buktinya isi kulkas penuh, dapur sebelum tidur dibersihkan. Sungguh, Heru kurang bersyukur mendapat istri sebaik itu.
"Kok cuma satu, kamu gak bikin?" tanya Joddy.
"Aku buah aja. Tiba-tiba kenyang liat permintaan kamu?" Kana menyalakan kompor dan mulai memasak.
"Kalau aku gak kenyang-kenyang kalau belum makan kamu." Tiba-tiba saja Joddy sudah berada di belakangnya, memeluk tubuhnya erat. Membuat Kana risih karena bisa jadi Heru yang sedang ada di ruang tamu menyadari keberadaan mereka. Ah, sudah pastilah Heru akan tahu keberadaan mereka jelas-jelas lampu dapur menyala.
"Kita balik ke kamar saja, gak usah makan aku gak lapar dan aku tahu kamu juga gak lapar." Tangan Joddy terulur mematikan kompor lalu membalikkan badan Kana agar bisa berhadapan dengannya.
__ADS_1
"Yuk, ngamar lagi!" Joddy tersenyum penuh arti dibarengi dengan reaksi salah satu bagian tubuhnya yang Kana hafal betul apa artinya itu.
"Kamu ini, Kak. Gak ada puasnya!"
"Namanya juga seminggu puasa." Joddy tanpa basa basi mengecup sudut bibir Kana seduktif bahkan tangannya mulai bergeriliya ke sana kemari.
"Hem...hem!"
Suara deheman yang berat membuat Joddy dan Kana refleks saling menjauh.
"Kalian berdua ini mentang-mentang masih bau pengantin baru," sindir Heru yang sudah ada di depan mereka. Entah sejak kapan.
"Eh, Ayah."Joddy menggaruk tengkuknya salah tingkah sedangkan Kana hanya diam menatap Heru tanpa ekspresi.
" Kalian ngapain jam segini berduaan di dapur? "tanya Heru melipat tangannya di depan dada. Joddy melirik Kana melihat reaksi istrinya yang terlihat biasa saja.
"Haus Yah," sahut Joddy asal, Kana hanya mengangguk menyetujui jawaban suaminya.
"Kompak banget haus aja berdua," goda Heru.
"Kebetulan sama-sama haus, Yah. Jadi malu karena kepergok Ayah. Berasa pasangan selingkuh yang lagi digerebek satpol PP aja ya, kita Kak?" sahut Kana sengaja menyindir ayah mertuanya. Matanya melirik Heru menunggu reaksi pria itu. Tapi pria itu tidak menunjukkan reaksi apapun, tidak sadar jika Kana sedang menyindirnya.
"Ayah sendiri ngapain? Kebangun?" tanya Joddy.
"Iya, Ayah kebangun karena sama seperti kalian, haus."
Bohong!
Kana memperhatikan Heru yang berjalan mengambil gelas lalu menuangkan segelas air putih.
"Wuidih, haus karena sama kayak kita gak, Yah?Biasa nganten baru?" goda Joddy menarik turunkan alisnya.
Heru hanya terkekeh geli. "Yah, begitulah! Maklumi saja Ayah dan Ibu kan udah lama gak ketemu."
Bohong!
Kana diam-diam tersenyum sinis tak percaya dengan semua omong kosong yang Heru katakan.
"Joddy seneng, akhirnya Ibu dan Ayah bisa sama-sama lagi. Ferddy juga pasti senang tapi anak itu terlalu gengsi untuk mengatakannya secara langsung."
Kana bisa melihat bagaimana bahagianya Joddy saat mengatakan itu. Betapa dia sangat mencintai kedua orangtuanya. Padahal kenyataannya Heru belum berubah. Kenapa Joddy tidak sadar kalau ayahnya itu bohong?
" Ayah juga senang, Joddy. Kamu mau memberi kesempatan lagi pada Ayah kamu ini terimakasih, Nak. Ayah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kalian berikan." Heru menepuk pundak Joddy seolah-olah meyakinkan jika dia benar-benar sudah berubah.
"Sama-sama, Yah."
"Ya, sudah Ayah kembali ke kamar takut Ibu kamu nyariin." Heru tersenyum lalu bergegas pergi.
Kana tersenyum sinis. "Pembohong!" gumamnya pelan tapi masih bisa di dengar Joddy.
"Siapa?" tanya Joddy.
Kana tergeragap lalu tersenyum tipis. "Kamu lah, katanya lapar pengen makan aku?" Lebih baik sedikit agresif agar Joddy tidak curiga padanya, dan lihat saja pria tua itu tersenyum penuh semangat.
"Yuklah! Gas!" Joddy menarik tangan Kana untuk mengajaknya kembali ke kamar dan bisa dipastikan mereka akan bangun kesiangan lagi.
"Dasar!"
****
__ADS_1