
Joddy terpaku sesaat ketika Kana dengan kasar menepis tangannya yang terulur ke arahnya dengan maksud membantu Kana bangun dari tempat tidur. Wajah Kana kelihatan marah, dengan bulir-bulir air mata yang membasahi kedua pipinya. Kana merasa terhina dengan perlakuan Joddy padanya. Dia marah, kecewa dan merasa kotor. Joddy memperlakukan seolah-olah dia adalah wanita murahan yang bisa diajak berkencan kapan saja.
Memang mereka tidak sampai melakukan ‘itu’ tapi tetap saja apa yang dilakukan Joddy melukai harga dirinya sebagai wanita.
“Dek, maafkan aku.” Joddy menarik pergelangan tangan Kana tapi lagi-lagi dengan kasar Kana menepisnya lalu menjauh dari Joddy. Dihapusnya air mata yang membasahi kedua pipi dengan
kasar.
“Kana.”Joddy mencoba meraih lengan Kana lagi, tapi dengan cepat pula Kana menjauh sebisa mungkin dia akan menghindar dari sentuhan Joddy.
“Jangan sentuh aku! Pergi!” Setelah itu, Kana menutup mulut dengan telapak tangannya mencoba agar tidak mengeluarkan isakan di depan Joddy.
“Kana maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu atau-”
“Kamu melakukannya, Kak! Kamu sudah menyakitiku!” sambar Kana cepat, membuat Joddy tercekat. Apakah yang dia lakukan tadi sudah benar-benar keterlaluan sampai-sampai Kana semarah ini padanya? Atau ini adalah bentuk kemarahan yang sama yang seharusnya Kana tunjukan saat kejadian malam itu?
“Maafkan aku Kana, aku hanya ingin kamu berkata jujur kalau malam itu memang kamu yang bersamaku bukan Laras,” balas Joddy. Dia memang tidak bermaksud menyakiti Kana, dia hanya ingin Kana mengatakan yang sebenarnya kalau dia wanita yang bersamanya malam itu, karena Joddy yakin wanita itu benar-benar Kana.
“Aku sudah berkata jujur, bukan aku wanita yang bersamamu, dan apa yang sudah kamu lakukan tadi sudah menyakitiku. Jadi, sekarang pergi dari hadapanku jangan pernah temui aku dan Ken lagi!”
Joddy menggeleng kuat-kuat. Tidak, dia tidak akan pernah terima dengan permintaan Kana karena jika harus berhenti menemui Kana dan Ken dia tidak bisa. Keduanya sangat berarti untuk Joddy. Joddy juga sudah berjanji pada Adrian untuk menjaga keduanya.
“Pergi, Kak!” usir Kana. Sayangnya, Joddy sama sekali tak bergeming dari tempatnya.
“Oke, terserah! Aku harap setelah aku keluar dari toilet, kamu sudah tidak ada di kamar ini.” Selesai bicara Kana bergegas ke kamar mandi membuka lalu membanting pintunya keras-keras.
Joddy mengacak rambutnya gusar. Berbagai sumpah serapah dia ucapkan dalam hati untuk dirinya sendiri. Dia menyesali kebodohannya sendiri karena sudah melakukan tindakan yang melukai harga diri Kana. Sungguh, Joddy menyesal sudah melakukan itu. Ingin sekali rasanya dia mendobrak pintu itu lalu memeluk Kana dan meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan. Tapi untuk saat ini sepertinya Kana tidak akan memaafkannya. Dia lebih baik pergi dan membiarkannya sendiri dulu, tapi Joddy tidak akan menyerah begitu saja. Dia tetap akan berjuang untuk mendapatkan Kana kembali, tidak akan semudah itu dia menyerah dan berhenti begitu saja. Kana dan Ken pasti akan menjadi miliknya.
Kana baru meninggalkan kamar pengantin setengah jam kemudian. Nyaris dia melewatkan sesi foto keluarga dan kerabat. Ada perasaan kesal ketika giliran Joddy berfoto dengan Laras. Walaupun tidak berdampingan dan hanya di kiri-kanan pengantin, tetap saja Kana tak suka. Harusnya Kana yang ada di sana saat Joddy berfoto bukan Laras.
“Na, kamu baik-baik aja?" tegur Moli yang tidak sengaja menangkap raut muram Kana saat melihat Joddy dan Laras naik pelaminan untuk berswa foto.
"Baik-baik saja."
Moli mencibir. Halah bohong banget.
__ADS_1
"Tadi kemana? Dicariin Om sama Tante tau!" Moli menarik kursi lalu duduk di samping Kana yang sejak tadi asik memperhatikan para kerabat sedang berfoto.
“Aku tidur sebentar capek banget!” Kana mencoba tersenyum sewajar mungkin. Membiarkan tangan oli terulur menyentuh keningnya.
“Gak panas tuh,” komentarnya lalu mengamati Kana lebih teliti, Kana bersyukur tadi sempat memperbaiki make upnya karena sudah kelihatan luntur akibat perbuatan Joddy tadi. Dia juga lega sempat menutup kiss mark yang Joddy tinggalkan di kulit lehernya yang putih bersih dengan make-up-nya ternyata kebiasaannya suka berdandan di kelas waktu sekolah dulu berguna juga di saat-saat tak terduga seperti ini.
“Aku gak sakit Moli, cuma kecapekan saja.” Kana sedikit menjauh dari Moli, takut-takut Moli curiga dan tahu apa yang dia lakukan bersama Joddy di kamar pengantin Kanda tadi. Beberapa detik dia sempat terhanyut dan terbuai dengan apa yang dilakukan Joddy tadi tapi dia cepat tersadar jika yang dilakukannya adalah kesalahan maka sekuat tenaga dia melawan dan menolak Joddy. Kana tahu Joddy hanya memancingnya untuk berkata jujur, dan nyaris saja Kana melakukannya tapi dia tersadar jika dia mengatakannya maka pertahanannya untuk menjauh dari Joddy bisa-bisa gagal karena itu akan menjadi alasan Joddy untuk tetap bersamanya.
“Kirain sakit ngeliat ada yang mesra.” Moli mengarahkan telunjuknya ke arah Joddy dan Laras yang sedang mengobrol dengan salah satu kolega Joddy. Tampak.Joddy yang tertawa lepas seperti tidak terjadi apa-apa satu jam yang lalu. Kana mendengus, pria di mana saja sama.
"Terserah dia mau ngapain udah bukan urusan aku. " Kana mengambil es krim sisa Ken dan memakannya pelan, berharap bisa mendinginkan hatinya.
"Tapi aku heran deh, Na. Kenapa Joddy kok bisa lengket sama Nyi Pelet itu?"
Kana mengangkat bahu. "Entahlah." Bisa jadi itu hanya cara Joddy untuk memancing Kana bereaksi terhadapnya. Marah, protes, tidak terima atau semacamnya yang bisa membuktikan kalau Kana masih menyimpan perasaan untuknya.
"Tapi tadi Joddy sempat ninggalin Si Laras itu sendiri kayak orang cengo, kasihan banget tahu enggak?" Moli tertawa, tidak menunjukkan rasa simpati, berbanding terbalik dengan kata 'kasihan' yang sempat dia ucapkan tadi.
"Mondar-mandir nanya Joddy kemana padahal yang ditanya keluarga Si Nea ya gak kenal Joddy lah. Yakali, Si Joddy itu Deddy Corbuzer. Seriusan kalau kamu tadi liat dia itu kayak anak anak ayam nyari induk semangnya yang lagi bercinta sama jantannya."
"Bisa jadi Joddy lengket sama wanita cuma buat manasin kamu, Na. Joddy kan suka kamu udah dari zamannya kamu masih pacaran sama Amar, masa iya segampang itu lupain kamu."
Tepat. Kana juga berpikir seperti itu. Apalagi Joddy tahu kalau malam itu yang bersamanya adalah Kana.
"Eh, mereka nyamper." Moli menyikut lengan Kana mengalihkan perhatian Kana, dagunya menunjuk ke arah dua orang yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Hai, Kana! Maaf ya baru bisa menyapamu. Soalnya dari tadi Joddy mengajakku keliling berkenalan dengan teman-temannya semasa kuliah." Nada bicara Laras terdengar dibuat-buat. Moli yang mendengarnya saja sampai memutar bola mata dan memasang ekspresi jijik.
Kana hanya tersenyum tipis mengabaikan tatapan Joddy yang sedari tadi menghunus ke arahnya.
"Terimakasih sudah datang." Kana mencoba menyembunyikan perasaan marah dan tak sukanya saat melihat tangan Laras bergelayut manja di lengan Joddy dan si empunya lengan hanya diam saja. Oh, ayolah Kana jangan terbawa perasaan. Keputusanmu sudah tepat untuk menjauh dari Joddy dan membiarkannya bersama dengan wanita lain.
"Kana, aku lupa mau bilang sesuatu. Bulan depan kami akan tunangan, kamu bisa kan datang?" Laras tersenyum manis sengaja sekali dia ingin menunjukan jika dialah pemenangnya. Moli mencibir sinis.
"Tidak. Dia tidak akan datang ke acara yang tidak terlalu penting karena kami akan berlibur ke Kanada." Itu bukan Moli yang menjawab apalagi Kana, melainkan pria yang di tangan kirinya memegang kamera dan tangan kanannya sudah merangkul bahu Kana dari belakang.
__ADS_1
"Iya kan, Sayang?" Thomas mengedip ke arah Kana yang speechless karena mendengar kata-kata Thomas. Kanada darimana? Nea dan Kanda saja hanya liburan ke Jogja.
"Bener banget, oiya aku udah beliin titipan kamu, Na. Bikini dengan model two pieces." Moli yang menyahut. Dia memang sudah tahu kalau Kana meminta Thomas menjadi pacar pura-puranya jadi sekalian saja dia masuk ke dalam permainan ini.
Kana melotot ke arah Moli. Apa-apan sih Moli ini? Bikini apaan?
Joddy menatap Kana tajam seolah-olah memastikan kalau apa yang dibilang Thomas dan Moli itu tidak benar? Jangankan ke Singapura dengan pria lain, ke kota lain saja Joddy tidak akan rela dan apa tadi? Bikini? Yang benar saja?
"Wah, liburan? Keren banget sih kalian? Kayaknya besok kita juga harus liburan juga, ya kan, Sayang?" Laras menarik lengan Joddy mendekat ke arahnya. Joddy tak merespon. Tangannya mengepal kuat saat Thomas mengacak rambut Kana yang sudah tergerai dan disambut senyum manis di bibir mungil Kana. Bibir yang beberapa menit lalu dia nikmati manisnya.
Sial, membayangkannya saja sudah membuat sesuatu di bawah sana bangun.
"Idih, ikut-ikutan aja!" sindir Moli mendengus, tak lupa lirikan tajam dia berikan pada Laras yang tak acuh itu. Kana berdehem memberi alarm pada Moli agar tidak mengibarkan bendera perang pada Laras.
"Oiya,ngomong-ngomong kalian kapan mau nikahnya?" tanya Laras. Mendadak suasana menjadi cangung. Kana dan Thomas hanya saling lirik.
"Kenapa? Kamu masih ragu? Atau orangtua kamu keberatan karena status dia?" Laras terang-terangan menunjuk Kana dengan tatapan mengejeknya.
Joddy melirik Laras tajam isyarat kalau dia tidak suka dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Oh, tenang saja. Mama dan Papaku suka dan tidak mempermasalahkan status Kana, apalagi ada Ken yang lucu dan menggemaskan. Kami tidak mau terburu-buru mau menikmati pacaran dulu. Ya, kan Sayang?" balas Thomas mengelus punggung Kana lalu mengecup pucuk kepala Kana yang sebenarnya merasa risih dan bersalah pada istri Thomas. Walaupun Thomas bilang istrinya sudah tahu kalau Kana memintanya berpura-pura tetap saja Kana tidak enak hati.
Melihat tangan Thomas yang menyentuh punggung dan mencium pucuk kepala Kana, membuat darah Joddy merasa mendidih. Kekesalan yang sudah Joddy tahan-tahan sejak tadi akhirnya sudah tidak bisa dia bendung lagi. Tanpa bisa dicegah Joddy menarik kerah baju Thomas lalu memukul wajahnya.
Refleks para tamu yang tinggal beberapa itu menjerit histeris melihat Thomas tersungkur jatuh. Untung saja kameranya bisa dia selamatkan kalau tidak bisa habis dia kena omel Kanda.
"Jangan pernah sentuh Kana!"ancam Joddy dengan mata nyalang. Kana yang terlalu shock itu hanya bisa terpaku di tempatnya dia tidak percaya seorang Joddy bisa lepas kendali seperti itu.
"Siapa lo? Urus aja calon istri lo! Kana urusan gue!" Thomas tak mau kalah, membuat Joddy semakin termakan amarah dia sudah bersiap menyerang Thomas lagi tapi Kana mencegahnya.
"Cukup! Jangan bikin rusuh di pernikahan Kakakku." Kana menangkis tangan Joddy yang sudah terangkat ke udara. Mata mereka berdua saling bertemu. Waktu seakan berhenti. Ingin rasanya Joddy memeluk Kana membawanya pergi dari tempat ini kalau perlu ke belahan bumi lain.
"Benar kata Bang Thomas. Urus calon istri kamu saja." Kana yang pertama kali memutus kontak mata mereka. " Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Lupakan aku dan menikahlah dengan Laras." Selesai bicara Kana berbalik untuk membantu Thomas lalu mengajaknya pergi meninggalkan Joddy yang menatapnya nanar.
*********
__ADS_1