
"Lo tahu dari mana Bang, kalau Nea pernah aborsi?" Kana meletakkan secangkir kopi di sisi Kanda saat mereka sedang beristirahat di gazebu belakang rumahnya. Mereka baru saja sampai di Jakarta dan langsung ke rumah Kana karena Kanda merengek tidak mau pulang ke rumah orangtuanya dan benar-benar berniat ingin tinggal di rumah Kana.
"Kenalan gue. Gue punya temen dosen di tempat kuliah Nea. Kebetulan temen gue itu teman tongkrongannya Fahri pacar Nea selama di Jogja."
"What? Nea punya pacar, dan dia hamil sama pacarnya itu?" Joddy bahkan langsung menegakkan tubuhnya saat mendengar apa yang Kanda katakan.
"Iya, kaget kan lo?"
"Tapi lo tetep mau nikahin dia?"
"Gue tahu setelah nikah sama dia." Kanda lalu berbaring dengan mengangkat satu kaki yang ditumpukan pada kaki yang lain.
"Jadi, Nea udah tahu dong kalau lo tahu dia pernah aborsi?" Kana duduk di samping Joddy yang disambut Joddy dengan senang gembira karena bisa memeluk dari belakang istrinya itu. Kanda yang melihat Itu memaki keduanya dalam hati.
Mereka, tidak tahu sitkon banget sih!
"Belum. Gue gak tega buka aib dia."
"Gak tega apa masih sayang?" tanya Kana, tangannya menepuk tangan Joddy yang mengelus punggungnya lembut.
Kanda tak menjawab.
"Udah, lo bicarain baik-baik dulu sama Nea. Jangan gampang bilang pisah. Hati-hati, bisa termasuk jatuh talak lho. Lagipula apa kata nyokap-bokap kalau tahu anaknya mo cerai." Joddy berusaha membuat kakak iparnya berubah pikiran.
"Gue yakin mereka mengerti. Daripada anaknya terluka dalam. Mending pisah cari yang lain. Duda keren macam gue gak ada yang berani nolak."
Kana dan Joddy hanya saling berpandangan.
"Gue baru tahu, ada orang yang bangga karena cerai," sindir Kana lalu menggeleng pelan.
"Lha kebanyakan begitu kalau pria, mah. Apalagi masih muda dan punya usaha fotografi sukses kayak gue. Tanya aja laki lo?" Kanda menunjuk Joddy dengan arah dagunya membuat pria itu gelagapan apalagi Kana benar-benar menatapnya..
"Lha, kenapa gue dibawa-bawa?!" Joddy tak terima.
Kanda tersenyum mengejek melihat wajah Joddy yang panik. "Kana cuma mau tahu pendapat lo, gimana kalau lo jadi duda apa mau cari atau tetap cinta sama dia." Kanda sengaja makin membuat panas suasana.
"Apaan lo! Naudzubilah! Itu sama aja lo doain gue jadi duda!" Ingin rasanya Joddy memaki dengan sumpah serapahnya kalau saja dia tidak ingat kalau Kanda adalah kakak iparnya.
"Ihh, jahat banget sih lo, Bang!" seru Kana berbalik marah pada kakaknya membuat Joddy tersenyum lega.
Kanda melambaikan tangannya acuh berharap mereka diam. Kepalanya sedang dipenuhi banyak pikiran. Dia tidak setangguh seperti apa yang beberapa detik dia bilang.
__ADS_1
Bercerai? Apa dia benar-benar akan menceraikan wanita yang dia cintai. Eh, cinta? Apa dia masih mencintai wanita itu? Setelah apa yang Nea lakukan padanya.
"Sebenarnya apa alasan paling mendasar yang membuat lo pengen banget pisah sama Nea? Dulu aja lo ngejarnya udah kayak ngejar layangan putus," sindir Kana mengingat betapa setia ya pria itu pada sahabatnya.
"Ken."
Kana mengernyit bingung.
"Sebenarnya banyak alasan yang membuat gue mengambil keputusan itu tapi kejadian yang menimpa Ken kemarin membuat gue yakin pisah sama dia. Gue udah liat CCTV, di situ gue liat Ken nyaris tenggelam dan Nea dengan santainya duduk sambil minum teh. Gue gak tahu apa yang ada dipikiran Nea kenapa tega sekali pada Ken."
"Mungkin dia bipolar ê berkepribadian ganda," sahut Joddy.
"Enggak, ah. Semenjak temenan sama dia gak ada yang aneh kok!" sambar Kana.
"Ya, itu sih pintar-pintarnya dia berkamuflase!" Joddy tersenyum sinis saat mengingat semua yang Nea lakukan apalagi hampir mengancam nyawa Ken.
"Jangan suudzon kamu, Kak!"
"Lha kenyataannya begitu, kan?"
"Kamu ngomong gitu bukan karena habis difitnah pacaran sama Moli, kan?" tuduh Kana.
"Kamu masih bela dia aja, setelah apa yang semua dia lakukan pada kita!" sindir Joddy tak suka.
"Woi, woi! Kenapa jadi kalian berdua yang ribut sih? Di sini gue lho yang lagi puyeng!" sela Kanda menyela perdebatan suami-istri di depannya.
Kana dan Joddy sontak diam, menatap takut ke arah wajah Kanda yang terlihat garang.
"Lagian lo sendiri kan yang bucin sama dia, sampai baru nikah di umur setua ini," seru Joddy.
Kanda mencibir, "Ye, dia gak ngaca! Lo sendiri apakabar Pak?Emang lo nikah di usia muda? Lo, kan juga nunggu adek gue!"
Joddy mengutuk dirinya, dia baru ingat kalau dia pun sama nasibnya dengan Kanda menikah di usia yang sudah sangat matang karena menunggu wanita pujaannya.
Kana terkikik geli saat melihat wajah Joddy karena termakan omongannya sendiri.
"Pikirin baik-baik dulu, Bang. Udah keputusan lo nikah sama Nea jadi lo harus terima semua tentang dirinya." Kana beranjak dari duduknya, dia harus melihat Ken apakah sudah bangun dari tidurnya.
"Termasuk semua kebohongan dia dan apa yang sudah dia lakukan pada Ken?" Kanda ikut beringsut duduk.
Kana terdiam sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Memang melupakan itu tidak semudah kita memaafkan, tapi kita juga harus ingat kitapun bukan orang suci yang gak pernah melakukan kesalahan. Memberi kesempatan pada orang untuk berubah tidak ada salahnya juga."
__ADS_1
Kanda menggeleng pelan. "Susah. Gue gak mau berharap pada dia untuk berubah, takut kecewa. Apa yang dia lakukan pada Kenzo itu sangat keterlaluan. Gue gak tahu betapa hancurnya Ibu Rahayu jika terjadi sesuatu pada Ken. Bagaimanapun Ken satu-satunya 'kenangan' yang Adrian tinggalkan untuk mereka dan untuk kita juga. "
Kana terdiam, hatinya mendadak mencelos waktu mengingat tentang suaminya yang sudah meninggal itu. Benar kata Kanda, Ken memang satu-satunya peninggalan Ian yang sangat berharga untuknya dan juga untuk keluarga Adrian, karena Adrian adalah anak tunggal.
"Menyakiti Ken hanya untuk menyakitimu adalah alasan terjahat. Gue gak yakin Nea gak melakukannya lagi jika merasa kesal sama lo."
Kana lagi-lagi tak membabil. Tapi melihat kecenderungan Nea yang bertingkat seperti psyhco, bisa jadi yang dikatakan Kanda benar.
" Ya, intinya lo harus bener-bener mikirin ini. Ingat ya, ini keputusan yang gak main-main."Joddy mengingatkan.
" Iye, tenang aja. Udah ye, gue mau molor. Kalian mau di sini apa pulang ke apartemen?" Kanda mengusap wajahnya lelah.
" Apartemen! "
" Di sini! "
Kana dan Joddy menjawab bersamaan lalu menatap satu sama lain tak suka dengan jawaban masing-masing.
"Ini harus bener-bener kalian pikirin." Kanda sengaja memutar balikan kata-kata Joddy.
"Kasian Ken kalau kita pulang ke apartemen," kata Kana pada suaminya.
"Gue juga heran, emang kenapa kalau lo tinggal di sini? Karena ini rumah Ian, ya?" tebak Kanda yang membuat Joddy salah tingkah.
"Bukan begitu juga, ya! Gue maunya tinggal di rumah baru. Biar rumah ini ditinggali Ken kalau dia sudah dewasa besok." Joddy beralasan, Kanda mencibir tak percaya begitu saja.
"Malam ini kalian tidur di kamar tamu aja, biar gue yang tidur di kamar utama." Kanda ikut beranjak dari duduknya tepat saat ponsel di saku celananya berdering.
"Siapa?" tanya Kana saat melihat kakaknya mengernyit bingung.
"Gak tahu, kayak nomor rumah." Kanda mengedikan bahu sebelum akhirnya menerima telepon.
"Iya, saya suaminya!"
"...."
"Baik, saya segera ke sana?"
"Kenapa Bang?" tanya Kana saat melihat wajah pias Kanda.
"Nea, ada di rumah sakit. Dia baru saja mencoba bunuh diri."
__ADS_1
"Hah?"
*****